Posted in Self

Izinkan Aku Menyelam, Bukan Tenggelam

Well, udah lama ga update blog lagi. Akhirnya sempat untuk menulis lagi (sok sibuk). Mau bilang alasannya ga ada waktu sih alasan klasik banget ya. Admit it, kalo aku dikasih waktu lebih dari 24 jam sehari juga mungkin tetep aja selalu ngerasa kurang waktu. Jadi masalahnya bukan di waktu, tapi di diri aku bagaimana bisa mengefisienkan waktu. Dan sebenernya topik di postigan ini jelas bukan tentang bagaimana mengatur waktu dengan efisien. Toh, aku sendiri aja belum bisa jadi penguasa waktu. Oke, sebelum kebanyakan out of topic, kita mulai aja topiknya.

Emang topik sebenernya apa sih?

Hmm, apa ya. Topiknya adalah menyelam bukan tenggelam. Udah ah, kelamaan mikirin topik yang bener, takutnya tulisan ini gak selesai dan akhirnya terbengkalai di draft seperti tulisan-tulisan lainnya.

Hidup sebagai mahasiswa kedokteran itu ternyata susah ya. Siapa juga bilang mudah. Sebenernya sih enak, enak banget, mempelajari diri sendiri. Mempelajari kehidupan. Mempelajari homeostasis atau keseimbangan. Mempelajari mekanisme terjadinya segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia dimulai dari yang tidak terlihat prosesnya hingga yang terlihat (contoh reflek defekasi). Mempelajari organ-organ tubuh, berteman akrab dengan cadaver. Dan pasti akan lebih banyak lagi yang dipelajari di tahun2 berikutnya.

Nah, masalahnya hal-hal yang enak itu gak selalu didapat dengan mudah. Contohnya ga mungkin langsung inget-ngerti-paham sampe ke akar-akarnya tentang suatu topik hanya dengan dateng lecture terus fokus dengerin dosen. Sekalipun lecturenya udah dijelasin sejelas-jelasnya, masih perlu yang namanya baca buku, mempelajari ulang, belajar kelompok dan lain-lain. Ya iyalah, semua pelajaran ga cuma di kedokteran juga gini sih sebenernya -_- Iya sih, tapi pokoknya beda. Maksudnya sistem belajar di SMA dengan di kedokteran (mungkin begitu juga dengan fakultas-fakultas lain) itu beda bangetlah. Intinya hijrah dari SMA ke kuliah itu emang harus pinter adaptasi. Aku ngomongnya di kedokteran ya, soalnya aku juga ga tau sistem di fakultas lain gimana.

Nah, jadi di kedokteran itu sistemnya, sistem murid yang harus lebih aktif atau istilahnya SCL (Student Centered Learning). Awalnya sih aku masih santai-santai aja soalnya di jaman SMA dulu, kalo menurut aku sih kalo udah fokus di kelas, rajin ngerjain tugas, belajar waktu mau ulangan, udah bisa dibilang cukup (murid durhaka) ^_^v Lah, kalo sekarang mau rajin masuk lecture, praktikum ikut terus, skills lab ga pernah absen, pokoknya segala jadwal kuliah yang ada diikuti itu, tetep aja gak akan cukup. Emang bener deh harus lebih mandiri, aktif, dan gak bisa nunggu guru nyuruh baru dikerjain.

Oke, jadi apa hubungannya dengan judul postingan ini?

Intinya judul postingan di atas bisa jadi pesan, semangat, motivasi dalam menuntut ilmu. Dalamnya lautan ilmu itu gak akan pernah terjangkau meski kita telah menamatkan segala buku di dunia ini. Cakupan ilmu itu sangat luas, uncountable, dan akan selalu ada ilmu-ilmu terbaru. Dan gak tau bener atau salah (soalnya belum pernah baca referensinya secara langsung), manusia itu hanya menggunakan sedikit persen (<10%) dari seluruh kemampuan otaknya. Maka dari itu, postingan ini cuma jadi pengingat diri, kalau menuntut ilmu itu jangan sampe tenggelam, tapi yang benar menuntut ilmu itu harus menyelam. Bayangin aja seorang penyelam yang tenggelam. Niat awalnya menyelam adalah ingin melihat dan menjelajahi keindahan alam bawah laut, eh tapi waktu dia udah nyelem, dia justru tenggelam. Jangan sampe deh.

Oleh karenanya, aku berdoa semoga aku bisa menjadi seorang penuntut ilmu yang terus menyelam, yang terus bisa melihat dan menjelajahi keindahan ilmu pengetahuan, yang tidak akan pernah puas dan akan terus mencari dasar dari laut ilmu pengetahuan, meski aku tahu aku tak pernah bisa menjelajahi semua lautan itu. Namun, biarlah. Dengan menyelami lautan ilmu pengetahuan ini justru akan mengingatkanku bahwa apa yang kumiliki tidak ada apa-apanya dengan yang dimiliki Sang Maha Pencipta, apa yang aku ketahui tidak akan pernah sebanding dengan pengetahuanNya. Dengan menyelami ilmu pengetahuan, aku tau akan selalu ada yang seseorang yang lebih tahu, akan selalu ada Sang Maha Mengetahui di titik paling puncak pengetahuan.

Jadi, ayo bersama-sama menyelami ilmu pengetahuan, bukan justru tenggelam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s