Kisah Seorang Pemburu (analogi)

Aku ingin bercerita tentang seorang pemburu. Seorang pemburu yang super hebat. Hati-hati saja bila kau masuk ke sarang pemburu itu. Seakan matanya dapat melihat hingga sudut pandang 100 km, hingga ke sudut-sudut jalan, di ketinggian semak, hingga di kegelapan malam dia mampu mendapatkan mangsanya. Satu hal yang bisa kau ambil contoh dari pemburu ini, dia optimis sekali. Dan lihatlah, aduhai keren sekali gayanya berburu. Membawa peralatan lengkap, senapan super canggih, berlari lebih kencang dari mangsanya, yang pasti dia harus mendapatkan setidaknya seekor mangsa dalam masa berburunya. Apapun itu, sekurus apapun daging mangsanya, dia rela untuk meringkus mangsanya, padahal gizi apa yang didapat dari tulang dan kulit mangsanya. Oh ya, mungkin dia bisa menjadikan kulit tersebut sebagai jaket untuk dirinya dalam musim dingin.

Sungguh, dia tak peduli dengan mangsanya. Mau tua, muda, yang baru lahir, hingga yang akan mati pun rela dia tembak semuanya selama peluru masih bertengger di senapannya. Dan lihat kali ini, anak burung yang baru bisa terbang itu ia tembak. Padahal baru beberapa jam yang lalu ibu si anak burung itu memuji kemampuan terbangnya, dan dia ingin sekali menunjukkan teknik terbang terbarunya saat ibunya pulang nanti. Namun, sayang sekali nyawa si burung itu berakhir dalam genggaman si pemburu hebat ini.

Sebenarnya tulisan ini hanya sebuah analogi yang tidak mirip seutuhnya dengan keadaan nyata. Biarlah bila suatu saat nanti aku membaca tulisan ini, aku akan teringat dengan kejadian “itu”. Aku hanya ingin menekankan cerita tentang “si pemburu” ini. Boleh saja salut dengan kegigihan si pemburu ini mencari mangsa, namun apa salahnya bila seharusnya dia melihat mangsanya dulu. Mungkin cita-cita si anak burung tadi bisa tersampaikan. Mungkin bila si pemburu tadi tidak mengambil nyawa si anak burung, ibunya dapat tersenyum melihat anaknya yang begitu antusias untuk belajar terbang. Dan sekarang, lihatlah pemburu itu berkata “Wah, sial! Mangsa yang kutembak masih kecil. Untungnya, masih bisa kujual walaupun dengan harga murah” Ya itulah kisah si pemburu yang hebat berbiadab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s