Meluruskan Niat

Air mata ini sudah tak terbendung lagi. Dalam kegelapan malam, aku menangis, aku menyadari betapa banyak dosa yang telah aku lakukan, baik itu sengaja atau tidak sengaja. Karena sungguh aku manusia yang tak luput dari dosa.

Kini, aku sadar bahwa rasa takutku selama ini salah. Aku takut mendapat nilai kecil, aku takut mengecewakan orang tuaku, keluargaku, aku takut dengan pendapat orang lain tentang diriku, aku takut dengan kebijakan yang padahal kebijakan itu bertentangan dengan Islam. Semua perasaan takut ini terpikirkan berulang-ulang, membuatku semakin lemah dan lupa bahwa seharusnya rasa takut ini hanya berhak aku berikan pada diriNya.

Ya, aku seharusnya hanya takut pada Allah Swt. Sang Maha Pencipta yang telah menciptakan diriku ini dengan sempurna serta dengan kemurahan hatiNya memberikan banyak anugerah padaku. Dan sungguh aku tak akan bisa menghitung semua nikmatNya yang telah diberikan kepadaku. Bahkan nikmat udara ini pun seringkali aku abaikan dan begitu sedikit sekali aku bersyukur. Belum lagi nikmat penglihatan, pendengaran yang selama ini aku gunakan tanpa aku berpikir siapa sesungguhnya yang memberikan semua nikmat ini. Tanpa berpikir untuk apa dan untuk siapa seharusnya aku menggunakan semua nikmat ini. Semua nikmat ini aku gunakan seenaknya saja.

My dear brother and sister
It’s time to change inside
Open your eyes
Don’t throw away what’s right aside
Before the day comes
When there’s nowhere to run and hide
Now ask yourself, cause Allah watching you?
Is He satisfied?
Is Allah satisfied?
Is Allah satisfied?

Meminjam sebagian lirik “awaken” maher zain dimana di sana terdapat suatu pertanyaan yang menyentuh hati dan memang perlu untuk direnungkan. Is Allah satisfied? Apakah Allah puas? Sungguh apakah Allah puas melihat segala amalanku di dunia ini? Apakah kelak saat di hari perhitungan nanti, Allah akan mempersilahkan diriku memasuki surgaNya atau justru melemparkan diriku ke api neraka 😦

Apakah Allah puas?
Ini memang pertanyaan yang seharusnya selalu aku tanyakan dalam setiap detik hidupku. Dalam segala tindakanku, dalam setiap perilaku.

Oleh karena itu, berhubungan dengan judul post kali ini maka disini aku berniat untuk meluruskan niatku. Mengevaluasi niat-niat terdahulu yang mungkin aku niatkan pada hal lain selain diriNya. Yang aku niatkan bukan untuk mencapai RidhoNya. Yang aku niatkan bukan sebagai rasa syukur atas nikmat yang telah diberikanNya. Karena kini aku tahu suatu perbuatan itu haruslah dilakukan dengan niat yang benar yaitu karena Allah ta’ala.

Semoga kita selalu senantiasa melingkupi semua perbuatan kita dengan meniatkan hanya pada Allah Swt. Aamiin 🙂

Notes: Begitupun di saat aku belajar -di mana aku seringkali merasa lelah dan hilang semangat- aku menemukan alasanku belajar yaitu karena ingin mensyukuri segala pemberianNya padaku. Otak, mata, mulut, telinga, tangan, kaki, dan segala nikmatNya yang lain ini akan aku pergunakan sebaik mungkin dalam mencari ilmu karena aku tahu inilah salah satu caraku untuk mensyukuri nikmatNya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s