Mungkin Sedihku Salah

Tulisan ini menginap selama 2 tahun di draft saya dan saya rasa cukup untuk di publish sebagai pengingat bagi penulis sendiri dan bagi orang lain.

Malam ini setelah bergumul dengan checklist anatominya, dia lelah. Dia mencoba untuk tidur tapi tidak bisa. Mungkin memang salahnya tadi meminum terlalu banyak kopi. Satu cangkir langsung dilahap dalam satu tegukan. Ternyata kafein bekerja sempurna dengan sistem tubuhnya. Membuat ia lama terjaga. Padahal ia berniat terjaga untuk belajar anatomi. Namun, dia lelah.

Mulailah ia berselancar di dunia maya. Melihat website yang rutin selalu dikunjunginya kebanyakan media sosial. Setelah itu ia membuka youtubemencari suatu video motivasi, video tentang mimpi, perjuangan dan semacamnya. Hingga terbersit dalam pikirannya suatu kata kunci. Don’t be sad. Itulah yang ia ketikkan pada kotak pencarian di youtube. Alhasil dia mendapatkan beberapa video. Dibukanya video teratas dari jejeran video yang ditampilkan.

Mulailah ia menonton video itu. Judul video itu justru memberikan efek terbalik pada dirinya. Video don’t be sad itu justru membuat ia menangis. Ia bersedih. Bagaimanalah suatu video yang justru berpesan jangan bersedih kini membuatnya bersedih. Terisak. Dia menyesal. Dia menangis. Dia yang masih mencari sesuatu untuk kekosongan dirinya itu dibuat sadar. Ya, dia sadar diri. Ternyata begitu jauhnya dia dengan Sang Pencipta. Begitu kecilnya dia dengan Yang Maha Besar. Begitu penuh tubuhnya dengan lumuran dosa, yang terus saja ia lakukan.

Dunia yang seharusnya menjadi tempat sementara ini justru membuat dia melupakan Sang Pencipta. Dia justru sedih saat hasil nilai ujian anatominya kecil. Dia justru sedih saat melihat hasil CBTnya tidak sesuai harapannya. Dia justru sedih saat semua urusan dunia itu membuatnya kecewa. Kini dia berpikir pernahkah dia bersedih saat dia terlambat memenuhi panggilanNya. Pernahkan dia bersedih saat dia tak pernah lagi membaca pedoman hidupnya Al-Quran. Pernahkah dia bersedih untuk urusan akhiratNya.

Malam itu pun dia berdoa, bersimpuh kepada Sang Pencipta, meminta agar hatinya selalu dikuatkan dan terikat pada diriNya. Meminta agar dia selalu ingat tujuan hidupnya. Meminta agar dia tau mana yang seharunsya menjadi prioritas dan mana yang seharusnya hanya menjadi angin lalu. Ya, semoga doa-doanya sampai kepada Sang Pencipta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s