Seminar Kepenulisan Tere Liye (2)

Nah, ini lanjutan dari tulisan seminar kepenulisan tere liye bagian pertama yang bisa dibaca di sini ya.

Setelah menyuruh semua peserta menulis satu paragfraf yang ada kata “hitam”nya, beliau pun mulai masuk ke materi dari slide presentasi yang telah beliau siapkan. Materi pertama tentang menulis kolom. Bang Tere juga bercerita bahwa tulisannya pertama kali dipublikasi di koran kompas saat beliau SMA (kalo ga salah ya, kalo salah ya paling saat beliau kuliah :p). Beliau bercerita bahwa rasanya senang sekali tulisan beliau bisa dipublikasikan di koran nasional yang sangat terkenal itu. Namun, dibalik semua itu beliau telah mengalami pahitnya penolakan sebanyak 15 kali. Bayangin aja deh rasanya ditolak 15 kali gimana? Alasan ditolaknya itu banyak banget deh, mulai dari “maaf tulisan anda tidak relevan dengan masyarakat” “maaf tulisan anda tidak sesuai dengan format kami” “maaf tulisan anda bla bla bla” sampe “maaf kolom untuk tulisan anda tidak tersedia” Alasan paling terakhir ini sebenernya yg paling sakit. Kenapa? Soalnya tulisan yang dibuat itu sebenernya topiknya udah bagus, udah relevan, udah sesuai format tapi karena penulis lain yang lebih punya nama sudah mengambil jatah kolom tulisan itu di koran jadi tulisannya ga bisa diterbitin. Tapi, Bang Tere terus memperbaiki tulisannya dan ga kenal lelah mengirim tulisannya ke koran kompas. Intinya teruslah menulis, jangan pernah menyerah dan jangan takut ditolak berkali-kali.

Oke, terus lanjut lagi. Bang Tere Liye pun menyuruh kami menulis lagi. Perintah beliau yaitu tulislah satu paragraf yang ada kata “mulut”nya. Saya tidak mau ada tulisan yang bilang mulut itu untuk bicara, mulut untuk makan dst dst yang intinya sudut pandangnya itu biasa saja. Akhirnya para peserta, termasuk aku, mulai menulis paragraf dan di sinilah di antara beberapa peserta yang dibacakan, ada dua peserta yang diberi hadiah karena menulis dengan sudut pandang yang berbeda. Hadiahnya adalah novel tere liye, kalo ga salah liat sih novel negeri para bedebah.

Setelah itu, lanjut lagi ke materi di slide tentang menulis buku. Beliau juga bercerita bahwa novelnya yang berjudul hafalan sholat delisa yang best seller, sekarang sudah menembus cetak ulang sebanyak 25 kali, sudah difilmkan, dan ditayangkan berulang-ulang- ternyata pernah ditolak 2 kali. Alasannya ada yang bilang “maaf kami sudah menerbitkan beberapa buku tentang tsunami dan semua buku itu tidak laku” Mendengar alasan itu tentu saja Bang Tere tidak pantang menyerah. Beliau mencari penerbit lain dan akhirnya lihatlah sendiri bagaimana kesuksesan novel hafalan sholat delisa. Kalo memang mau buku kita diterbitkan, yang pertama harus dilakukan adalah selesaikan bukunya! Ga mungkin penerbit mau menerima cuma satu bab, dua bab, atau buku yang belum selesai. Terus lakukan riset tentang penerbit itu sendiri. Buku-buku yang diterbitkan biasanya genre apa, buku best sellernya apa. dll. Jangan lupa diikutin juga aturan yang diberikan penerbit, misalnya disuruh kirim dalam bentuk hardcopy, ya berarti harus kita print, ga boleh ngeyel minta dikirim lewat email.

Terus beliau juga bercerita kenapa kadang kalo kita udah kirim naskah ke penerbit tapi lama banget dibales atau diresponnya. Hal ini terjadi karena tugas editor itu banyak banget. Misalnya nih ya, editor itu punya prioritas tugas contohnya mengedit buku Tere Liye terbaru yang harus terbit akhir bulan ini. Jadi, naskah-naskah baru yang masuk ke penerbit itu kadang terbengkalai di tumpukan naskah yang masuk. Kalo editornya lagi bosen ngerjain tugas prioritasnya barulah dia baca naskah-naskah yang masuk. Satu naskah dibaca, diliat judulnya, dibaca 1 bab, kalo kurang menarik biasanya langsung ga dilanjutin. Terus kalo editornya udah bosen baca naskah baru, dia lanjut lagi ngerjain prioritasnya. Editor juga manusia, jadi ga mungkin juga semua naskah yang masuk hari itu (bisa sampe 200 naskah per hari dan dibagi-bagi ke beberapa editor) selesai semua dibaca. Jadi kalo emang naskahnya direspon lama itu wajar.

Terus aku lanjutin sama pesan-pesan yang beliau sampaikan aja ya….

Rajinlah menulis, tulis apapun itu setiap hari selama 6 bulan. Nanti kamu bakal dapet gaya menulismu sendiri. Kamu juga bisa melihat kembali ke 6 bulan sebelumnya, dan melihat bagaimana perkembanganmu menulis.

Waktu menanam pohon terbaik itu 20 tahun yang lalu, karena sekarang pohonnya sudah tumbuh besar, rindang, berbuah, dan tentunya memberikan banyak manfaat. Tapi, kalo 20 tahun lalu saja, kita bahkan belum lahir, atau usia kita masih kecil, tenang! Karena masih ada waktu menanam pohon terbaik selain 20 tahun yang lalu yaitu dimulai dari sekarang. Menulis juga gitu,mulailah dari sekarang, dan bahkan ga sampe 20 tahun lagi, mungkin sekitar 5-6 tahun lagi kau akan melihat dan merasakan hasilnya

Yang terakhir tentang motivasi. Motivasi ini penting karena bisa jadi penyemangat dan penguat mental kita untuk menjadi penulis. Bang Tere mencontohkan salah satu motivasi menulisnya adalah saat melihat anak-anak. Beliau berpikir tentang apa yang akan anak-anak ini baca, sehingga beliau pun ingin menyediakan tulisan-tulisan yang baik sebagai bacaan anak-anak tersebut (tentu saja terlepas dari akan dibaca atau tidaknya karya beliau). Nah, motivasi itu bisa kita temukan di dalam diri kita masing-masing. Jadi kalo lagi lelah, kita bisa melihat ke dalam diri kita masing-masing dan menyalakan motivasi kita kembali.

Sekian sharing kali ini tentang Seminar Kepenulisan 🙂

Advertisements

One thought on “Seminar Kepenulisan Tere Liye (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s