Menyebrang Sumatera-Jawa Naik “Hotel”

Sebenarnya aku ingin menulis ini sejak hari pertama perjalanan ini dimulai. Aku berniat  untuk mengabadikan perjalanan ini dalam tulisan setiap harinya. Namun, ternyata waktu dan kesempatan lebih sering membuatku melakukan hal lain dibanding menulis catatan perjalanan ini. Akhirnya baru sekarang, setelah perjalanan ini usai, aku sempatkan waktu untuk menulis catatan perjalanan ini.

Tepatnya hari Sabtu, 8 Agustus 2015, pukul 6 pagi, aku dan kedua orangtuaku sudah berada di dalam mobil menuju pelabuhan Bakauheni. Setelah memastikan kondisi rumah aman serta berdoa kepada Allah meminta kelancaran perjalanan, Bapak mulai membawa mobil melaju di sunyinya Kota Palembang pagi hari. Perjalanan lancar karena jalanan masih lengang, bahkan dari rumahku menuju Jembatan Ampera yang biasanya harus ditempuh dengan waktu 30 menit kini cukup ditempuh dengan waktu 10 menit saja.

See you later, Ampera!

Perjalanan Palembang-Pelabuhan Bakauheni kali ini memerlukan waktu sekitar 10 jam. Biasanya kalau musim liburan atau lebaran, bisa lebih lama lagi karena…… tau lah ya, semua orang tiba-tiba ingin mudik. Perjalanan ini melewati beberapa daerah yaitu Indralaya, Kayu Agung, Lubuk Siberuk, Tugu Mulyo, Tulang Bawang, Seputih Banyak dan lain-lain. Rute yang kami ambil tidak melewati kota Lampung.

2
Di kanan-kiri jalan ini perkebunan kelapa sawit. Serasa jalan miliki sendiri

Kira-kira pukul setengah 5 sore, mobil kami sudah mendekati pelabuhan Bakauheni. Pemandangan di kanan kiri mobil yang tadinya hutan, pemukiman penduduk sekarang telah berubah menjadi lautan biru.

3
Here we come, Bakauheni!

Alhamdulillah, sudah sampai di ujung selatan pulau Sumatera. Fyi, tarif mobil untuk menyebrangi Selat Sunda ini adalah 347 ribu. Tarifnya tergantung jenis kendaraan juga, bisa diliat lebih jelas disini. Menurutku sih ini cukup mahal tapi kalo mau hitung-hitungan dibanding naik bus, pesawat, ya ini jadinya lebih murah. 350 ribu rupiah untuk 3 orang, dan bisa lebih murah lagi kalo orang di dalam mobilnya banyak. Soalnya yang dikenakan tarifnya itu per mobil bukan per orang.

4
Welcome Pelabuhan Penyebrangan Bakauheni

Setelah membayar tiket masuk kapal untuk menyebrangi selat sunda, beberapa petugas mengarahkan mobil kami menuju ke dermaga 4. Dari kejauhan sudah terlihat kapal yang akan membawa kami menyebrangi lautan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera. Mobil langsung disuruh naik menuju tempat parkir mobil. Nah setiap naik kapal ini selalu ada rasa was was gitu soalnya saat memasuki kapal harus hati-hati. Jalannya menanjak curam dan sempit jadi kalo bukan professional driver ya kudu hati-hati banget deh. Atau kalo takut minta jasa aja buat valet parking. Hahaha ga deng, ga ada jasa valet parking di kapal.

5
Kapalnya udah keliatan. Biasanya kalo rame antrean mobil masuk kapalnya bisa penuh banget.

Setelah mobil berhenti dan menempati posisi yang sudah disediakan, aku dan Ibu turun duluan untuk masuk ke kapal. Nah, kali ini ada yang spesial dari kapalnya. Kapalnya itu mewah banget deh. Bisa dibilang mirip hotel, asrama, bahkan ada bagian yang kalo kata Ibu bisa dibilang mirip rumah sakit.

10
Ini tempat parkirnya. Lapang banget, ga kayak musim mudik yang ramenya minta ampun

Jadi, ceritanya kekaguman pertama aku itu muncul saat mencari tangga untuk naik ke deck kapal bagian atas. Saat mencari jalan, aku dan ibu dipanggil sama petugas. “Bu, kalo mau naik lewat sini. Silahkan.” Petugas itu menyapa ramah sembari menunjukkan arah ke pintu kecil. Memasuki pintu kecil itu, aku menemukan eskalator di dalamnya. Rasanya mau ngucek mata dulu, jangan-jangan salah liat, tapi emang bener itu yang aku liat eskalator. Entah emang aku yang kampungan atau emang kapalnya udah berubah bagus kayak gini semua, tapi melihat eskalator di dalem kapal itu kayak…… wow, sesuatu. Soalnya biasanya aku naik ke deck atas pake tangga manual. Ini udah kayak di mall-mall aja ada eskalator.

6
Udah kayak kapal pesiar mewah ada eskalatornya :3 That’s my mother~

Di kapal, aku ga lupa foto-foto terus di sini juga ngeliat sunset.

7
Sunset from Selat Sunda
9
Deck kapal yang paling atas

Oke, jadi setelah naik dari eskalator tadi, ada pintu lagi. Nah, pintunya ini bukan pintu biasa. Jenis pintunya ini pintu kaca otomatis. Jadi kalo ada orang berdiri di depan pintu, pintunya langsung kebuka. Emang kayak hotel atau mall kan. Setelah memasuki pintu itu, pemandangan selanjutnya adalah lobby hotel. Ehm, beneran mirip lobby hotel deh. Ada kursi-kursi sofa gitu, terus ada pusat informasi, ada meja dan kursi santai terus juga ada jasa charger gratis. Sayangnya di bagian ini ga aku ambil fotonya. Bisa dibayangin sendiri lah ya.

“Silahkan, Bu. Kalo mau lesehan bisa masuk ke dalam lagi” Itu kata-kara petugas yang saat itu lagi jagain pintu masuknya. Jadi, setelah dari lobby tadi, memang ada pintu kaca otomatis lagi. Ini bagian yang kata Ibu mirip rumah sakit. Soalnya kenapa? Masuk-masuk ke ruangan itu udah ngeliat orang berbaring di slot-slot yang emang udah diatur sedemikian rupa.

14
“Ruang lesehan” Udah diatur pake sekat-sekat gitu jadi tinggal dipilih mau yang mana

Nih, foto ruangannya lebih detail lagi. Terserah kita mau duduk, lesehan, lesehan sambil makan, berbaring, tengkurap, guling-guling, loncat-loncat. Nah, di “ruang lesehan” ini, kami makan nasi padang yang tadi sempat dibeli sebelum naik kapal.

15
Yang warna oren itu bantalnya. Tinggal dipilih mau tiduran macem apa

1617

Meliihat kapalnya kayak gini, aku langsung pengen menjelajah bagian lain kapal-kapal ini. Pokoknya banyak banget ruangan lainnya, ada tempat bermain anak-anak, ruang kelas (gatau buat apa, tulisan di pintunya sih ruang kelas), ruang pengemudi, deck kapal, mushola dan lain-lain.

13
Lengkap ruangannya!

Oh ya, karena melihat mushollanya lumayan bagus (pake AC segala!), kami pun berniat solat Maghrib-jama’-Isya di kapal. Eh, saat mau mulai sholat udah terdengar pengumuman. “Kepada para penumpang kapal, diharapkan bersiap-siap dan masuk ke kendaraannya kembali karena kapal akan segera mendarat” Aku sama Ibu sih ya tetep lanjut sholat karena biasanya paling ga kalo ada pengumuman itu, 15 menit setelahnya kapal memang benar-benar sudah menepi dan penumpang dipersilahkan untuk turun dari kapal. Setelah solat, kami langsung ke mobil. Dan emang pas banget. Mobil-mobil lain lagi pada antre buat turun dari kapal. Baru kali ini, naik kapal rasanya cepet banget nyampe, biasanya sih bosen nungguin ga nyampe-nyampe. Kali ini malah kalo mau lama-lama di kapal juga gapapa ^^v

11
Nah, ini mushollanya. Kiblatnya tergantung tujuan kapal. Kiblat saat kapal menuju pelabuhan Bakauheni bertolak belaknag dengan kiblat kapal menuju pelabuhan Merak

Kira-kira pukul 19.00, mobil menapakkan rodanya di Pulau Jawa. Beberapa kilometer setelah keluar pelabuhan Merak, langsung disambut oleh Gerbang Tol Merak. Alhamdulillah, akhirnya sampe Pulau Jawa.

19
Welcome Gerbang Tol Merak
Advertisements

One thought on “Menyebrang Sumatera-Jawa Naik “Hotel”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s