Bandung-Nganjuk, (Gagal) Jadi Supir Cadangan

Perjalanan Bandung-Nganjuk dimulai pada hari Selasa, 11 Agustus, pukul 20.00. Perjalanan malam hari ini dipilih agar sampai Nganjuk bisa siang hari. Nah, perjalanan kali ini selain aku, Ibu, dan Bapak, ketambahan 2 personil lagi yaitu adik saya yang sebelumnya sudah di Bandung sama Bude. Barang-barang yang dibawa hampir sama banyaknya dengan barang-barang dari Palembang ke Bandung. Alhasil kursi belakang harus dilipat biar barang-barangnya cukup. Bapak tetap bertindak sebagai supir dan aku juga tetap bertindak sebagai asisten supir. Aku duduk di depan, diharapkan untuk tidak tidur dan bisa membantu Bapak melihat jalan, membaca tanda-tanda jalan, dan lain-lain yang berhubungan dengan keperluan Bapak sebagai supir.

Pukul 20.00 kami melaju menuju jalan tol Padalarang. Rute yang ditempuh untuk menuju Nganjuk adalah jalur Pantura. Jalur Pantura memang lebih panjang dari jalur selatan, namun kelebihannya adalah jalur pantura memiliki lebih banyak tol. Tol terbaru yaitu Cipali juga ada di jalur pantura, jadi sekalian coba lewat tol baru ini. Pukul 21.00, mobil kami memasuki gerbang tol Cikopo. Tol yang memiliki panjang 116,75 km ini berhasil ditempuh dengan waktu satu jam.

20150811_210356
Gerbang Tol CIKOPO. Masuk gerbang tol ini pukul 21.00
20150811_221256
Gerbang tol PALIMANAN. Satu jam setelah masuk gerbang cikopo, ga kerasa udah sampe di gerbang keluar~

Perjalanan dilanjutkan dengan jalan-jalan selanjutnya (ga terlalu hafal). Pokoknya kebanyakan jalan tol terus keluar ke Brebes. Jalan di Brebes bukan jalan tol tapi jalannya lebar dan lancar. Pukul 12.00, aku sudah tak bisa menahan rasa kantuk. Akhirnya tanpa aku sadari aku mulai tertidur, meninggalkan Bapak sendirian yang masih terjaga. Tidurku tidak nyenyak, setiap satu jam aku terbangun. Seingatku Bapak berhenti dulu di tempat peristirahatan atau pom bonsin buat tidur sebentar. Kemudian melanjutkan perjalanan lagi hingga waktu Subuh tiba. Kira-kira pukul 05.00 pagi, kami berhenti di pom bensin dan melaksanakan sholat Subuh.

Perjalanan dilanjutkan lagi, kami juga tak lupa berhenti dulu untuk mengisi perut dengan sarapan bubur (kalo ga salah, sarapan bubur di Ngawi). Selanjutnya melanjutkan perjalanan. Nah, mulai dari Ngawi ini, aku yang mulai mengambil alih setir mobil. Aku duduk di kursi pengemudi dan Bapak duduk di kursi depan penumpang. Saat bertemu pertigaan, tidak ada tanda yang terlihat untuk menuju ke Nganjuk. Ternyata, tandanya baru terlihat dekat dengan pertigaan itu, jadi yang seharusnya belok kanan, aku justru mengambil jalan ke kiri. Di sini, akhirnya diputuskan untuk memutar kendaraan. Namun sayangnya, jalannya tidak terlalu lebar sehingga meskipun setir sudah diputar full, mobilnya masih harus mundur dulu barulah memutar ke depan lagi. Dalam posisi menahan rem agar tidak menabrak pohon di pinggir jalan, aku memindahkan gigi ke R, tapi sayangnya jalanannya menurun ke depan. Alhasil aku yang masih belum bisa memperkirakan menginjak-kopling-lepas-sedikit-kemudian-menginjak-gas sebesar apa, hanya bisa terdiam menginjak rem. Menghalangi kendaraan lain yang ingin lewat. Malu banget rasanya, maaf ya pengguna kendaraan yang jalannya terganggu. Jadi, solusinya bagaimana? Solusinya bapak langsung pindah ke kursi pengemudi dan aku pindah ke kursi depan. Alhamdulillah, mobilnya berhasil melewati proses pemutaran dengan selamat ^^v

Kemudian, selang beberapa kilometer, aku menjadi pengemudi lagi. Nah, kali ini ada suatu insiden lagi. DI jalanan, ada polisi yang sedang mengatur acara. Jadi, mobilku disuruh berhenti terlebih dahulu untuk menunggu mobil yang keluar dari bangunan di sebelah kiri jalan. Setelah itu pak polisi memberikan tanda silahkan jalan. Yak, sudah masuk gigi satu dan…….. jeng jeng jeng jeng, mobilnya bukan berjalan justru mesinnya mati. Mesinnya segera aku nyalain lagi, dan Alhamdulilah bisa melaju. Padahal pak polisinya sudah mulai berjalan mendekat ke mobil kami, mungkin heran kenapa mobilnya ga jalan-jalan. Fyuh.

Setelah memasuki kabupaten Nganjuk, supirnya ganti lagi jadi Bapak. Jadi aku bawa mobilnya cuma bentar doang. Bisa dibilang belum sukses jadi supir cadangan. Hehe. Alhamdulillah pukul 11.00 siang sampai di rumah Mbah. Mbah hebat banget deh pokoknya, umurnya udah hampir 90 (Mbah lupa tahun lahirnya ._.), beliau juga masih sehat, masih suka ngobrol (malah yang lebih banyak cerita itu mbah, dengan bahasa Jawa nya yang aku berusaha meraba-raba artinya, tapi kayaknya kalo sering sama Mbah bisa bahasa Jawa juga nih), udah punya 20an cicit (bukan cucu!), dan selalu ceria. Semoga Mbah umurnya berkah. Aamiin.  Oh ya, di rumah Mbah juga masih tradisional banget, lantainya bagian depan itu keramik tapi keramik jaman baheula, nah bagian belakangnya itu masih tanah keras (atau semen?) gitu, jadi harus pake sandal di dalem rumahnya, terus kalo mau masak air masih pake tungku kayak gambar di bawah ini. Mbah bilang kalo beliau mau mandi air hangat ya masak airnya pake ini. Cool!

20150812_123941
Tungku jaman baheula. Masih pake arang, terus dikipasin dulu sampe apinya nyala baru deh masak airnya.
Advertisements

One thought on “Bandung-Nganjuk, (Gagal) Jadi Supir Cadangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s