Keajaiban itu Sederhana

Ini hanya salah satu cerita di masa SMA. Tepatnya di saat aku menduduki kelas XII dan hampir semua orang yang berada di tingkat ini sedang memasuki fase sibuk, rajin belajar, dan galau-galaunya memilih langkah ke depan untuk hidupnya. Namun, tenang saja postingan kali ini justru bukan tentang itu. Bukan tentang galau langkah hidup ke depan.

Ini tentang suatu keajaiban yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku tidak tahu apakah kalian –yang membaca- setuju bahwa ini adalah keajaiban, mungkin kalian bisa menilai setelah membacanya. Setidaknya bagiku iya ini adalah keajaiban dan aku hanya ingin menuliskan ini untuk berbagi sekaligus sebagai pengingat. Tulisan ini aku edit dari jurnal harianku yang dulu sempat aku tulis dan masih aku simpan hingga sekarang. Mari flashback.

Kamis, 7 Maret 2013.

Apa yang spesial dari hari ini? Mungkin tidak ada. Hari ini hanya ada ujian praktek kesenian. Sebagai siswa kelas XII, sudah menjadi kebiasaan di sekolahku untuk mengambil nilai praktek kesenian dengan cara membuat lagu dan mengaransemen lagu, serta menampilkan lagu tersebut di hari ujian. Ya, tepatnya di hari ini.

Dalam pengambilan nilai ujian praktek kesenian ini, siswa-siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dan satu kelompok terdiri atas 4 siswa. Kelompokku sendiri itu ada aku, F, E, dan B. F menjadi satu-satunya laki-laki di kelompokku. Aku lupa bagaimana sistem pembagian kelompoknya. Namun, aku bersyukur sekelompok dengan mereka meski kami latihan sangat mendadak, yaitu H-1. Memang hari sebelumnya, Rabu, kelompokku baru mulai latihan, padahal kelompok lain sudah ada yang mulai latihan dari hari Senin. Awalnya ide lagu ini dari F yang sedang memainkan nadanya di gitar, kemudian E mulai mencari not angkanya dengan keyboard. Yes, my friends are awesome! Akhirnya not angkanya ketemu dan bisa dibilang cukup mudah, cuma dengan 4 not angka kami sudah bisa memainkan lagu kami yaitu 2/ (angka 2 dicoret miring) 2 1 dan 6/. Not tersebut diulang-ulang dan terciptalah lagu  yang akan kami mainkan.

Melihat not angka yang sangat simpel tersebut, pernah ada pikiran bahwa mungkin sebaiknya kami tambahkan not lain agar tidak terlalu monoton. Masalahnya kami melihat kelompok lain yang konsul dengan guru kesenian, ada yang dikomentari bahwa nada mereka terlalu monoton dan disarankan untuk menambah nada lagi. Namun, saat kami mencari guru kesenian, ternyata kami tidak menemukan beliau dan akhirnya kami memutuskan untuk tetap menggunakan nada “monoton” itu sebagai lagu kami keesokan harinya. Di akhir Rabu ini, kami memutuskan bahwa E bermain keyboard, B bermain pianika, F bermain gitar, dan aku sendiri bermain perkusi sederhana.

Hari ujian pun tiba. Ujian dilaksanakan di aula sekolahku dan setiap kelas sudah dibagi untuk waktu tampilnya. Saat masih persiapan dan untungnya kelas kami bukan kelas pertama yang tampil, kami menyempatkan diri untuk berkonsultasi dengan guru kesenian karena memang kami belum pernah konsultasi sekalipun dengan beliau. Ternyata…………… beliau berkata dengan tenangnya bahwa nada kami itu salah. Beliau berkomentar bahwa tidak ada nada 2/ di C=do dan kami disuruh untuk merevisi secepatnya.

Well, aku sendiri ga ngerti masalah gitu-gituan. Apa maksudnya nada 2/ ga ada di C=do, apa kami harus mengganti nada dasarnya, entahlah. Aku tidak mengerti, yang aku mengerti hanyalah dum dum tak dum dum tak suara perkusi yang memang sudah aku latih. Mendengar komentar beliau rasanya bimbang, sedih, galau, bingsal semuanya bergabung yang akhirnya pecah menjadi satu tangisan. Aku sama E nangis, aku tidak tau B menangis atau tidak. Yang pasti F tidak menangis. Setelah kusadari sekarang rasanya aku juga bingung kenapa hal semacam ini bisa buat nangis. Namun setelah kutelaah ulang, mungkin wajar saja kami menangis. Hari itu ujian, kelas kami tampil beberapa saat lagi, namun usaha yang kami lakukan salah, ditambah lagi komentar guru kesenianku yang berkata “Ini kalau dimainkan, minimal tidak akan benar.” Bagaimana tidak, dalam beberapa jam lagi kami tampil dan semuanya salah.

Setelah melewati masa tangisan itu dan menyadari bahwa tidak ada gunanya kami menangis, akhirnya kelompokku meminta bantuan teman yang lain yang lebih ahli dalam hal permusikan. Kami meminta tolong R dan Ed, minta dicarikan sebenernya nada yang kami gunakan itu do = apa? Alhamdulillah, setelah Ed mencari akhirnya kami berhasil menemukan nada do kami yaitu Eb = do (baca : E mol sama dengan do). Apa-apan itu Eb=do, bahkan kunci Eb saja aku tidak tahu. Sempat kami berpendapat bahwa lebih baik praktikum kimia, berikan semua larutan, akan kami kerjakan dengan baik –dibanding praktek kesenian ini yang kami (khususnya aku) ga ngerti mana yang benar, mana yang salah. Poor me.

Setelah menemukan Eb = do, lagu (melodi) dadakan kami yang baru pun selesai. Penggantian personil untuk memainkan instrumen juga dilakukan. E yang tadinya bermain keyboard jadi bermain pianika, B yang tadinya pianika jadi bermain bel, aku dan F tetap. Aku tetap bermain perkusi dan F tetap gitar. Kami juga sempat konsul dengan teman-teman yang lebih dewa dalam penulisan partitur, karena semua partitur termasuk caraku memainkan perkusi juga harus ditulis dengan kotak yang berarti seberapa besar atau seberapa kuat pukulan perkusi itu. Ya, aku baru tahu ternyata semua ini complicated. Sangat rumit.

Kelas XII PSIA 3 selesai tampil, dan akhirnya giliran kelasku, XII PSIA 7 tampil di depan. Terburu-buru kami melengkapi partitur kami dan tanpa mengecek ulang di metronom kami menuliskan tempo yang kami pakai yaitu 100. Latihan dengan sistem dadakan dan dengan barang pinjaman dari kelompok lain, akhirnya kami dipanggil untuk tampil di panggung aula. Sebelum tampil, kami berdoa terlebih dahulu, semoga penampilan kami bisa semaksimal mungkin. Kami sadar diri dan berlapang dada apabila menerima komentar yang jelek. Intinya kami ingin bermain dengan benar dan setidaknya kami tidak perlu ikut remediasi.

Penampilan kami selesai, dan aku sadar sepertinya aku mengalami beberapa miss. Benar saja komentar yang keluar dari mulut guru kesenianku adalah “Benarnya terpecahkan. Seratus” Ya, sudah kuduga hanya satu bagian dari kami berempat yang benar. Begitu aku berpikir setelah mendengar komentar guruku tersebut. Aku mendengarnya sebagai “benarnya terpecahkan satu” Pardon my pendengaran. Temanku, E, justru berpikir komentar tersebut maksudnya tidak ada yang benar, semua yang benar pecah dan intinya kami semua salah. Penonton bertepuk tangan, menguatkan hati kami.

Aku menunggu komentar lanjutan dari guru kesenianku. Namun beliau hanya diam diiringi dengan tepukan yang makin riuh dari penonton. Hah? Kenapa? Apa maksud semua ini? Ternyata, kelompokku mendapatkan nilai 100. Nilai sempurna. Kelompok pertama yang mendapatkan nilai 100. Rasanya tidak mungkin. Sangat tidak bisa dipercaya. It’s so unbeliaveble! It feels like I suddenly got 1 billion money. Mungkin terlalu berlebihan, tapi rasa senang itu memuncak. We jump and hug to express our happiness. Semua ini memang sebuah keajaiban. Kami yang baru latihan H-1, kami yang ganti nada, kami yang langsung mendadak ganti mainin instrumennya, kami yang baru tau gimana harmoninya, kami yang baru tau gimana perkusinya, kami yang ga punya modal dan hanya bisa pinjem alat dari temen-temen yang lain, kami yang buru-buru menulis partiturnya. Alhamdulillah for everything. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?

Sekian.

Bingung juga mau nulis moral valuenya. Intinya selama kita yakin, selama kita percaya, selama kita berusaha, keajaiban itu insyaAllah pasti akan datang. Terkadang memang tidak di waktu yang kita inginkan, tapi datang di waktu yang tepat dan seringkali tak terduga. Hanya saja itu, tetaplah bersabar dalam keyakinan, kepercayaan, dan selalu berusaha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s