Posted in experience, Kisah, Sharing, Travelling, trip

Perjalanan Ini (Ternyata) Nyata

Ini cerita tentang perjalanan yang tidak biasa. Perjalanan yang memberikan pengalaman baru serta pelajaran berharga darinya. Perjalanan yang rasanya tidak percaya bahwa aku pernah melewatinya. Perjalanan yang menyeramkan, menegangkan, menakutkan dan menyedihkan. Mungkin terkesan lebay dan tidak nyata. Namun, biarlah, agar dapat dikenang sepanjang masa. Mengapa tidak mencoba untuk dibaca?

Cerita ini dimulai dari perjalanan dengan tujuan ke desa tempat KaLAM FK UGM mengadakan Idul Adha, yaitu di desa Plampang 3, Kecamatan Kokap, Kulonprogo. Menurut google maps, desa ini kurang lebih berjarak sekitar 45 km dari daerah UGM. Sesuai dengan rundown acara, semua panitia sudah harus berkumpul di FK hari Rabu, pukul 16.00 untuk naik bus dan pergi bersama ke lokasi. Namun, aku tidak ikut rombongan, aku memilih nebeng salah satu mobil teman. Rencananya kami akan pergi setelah Maghrib karena aku masih ada jadwal praktikum PAI hingga pukul 17.00 hari itu.

Maghrib pun tiba. Aku segera menunaikan solat Maghrib dan pergi ke kosan D, karena temanku, G, yang membawa mobil akan menjemputku di sana. Namun ternyata, mobil temanku “rewel” hingga akhirnya kami baru bisa berangkat kira-kira pukul 20.00. Oh ya, kami di sini maksudnya adalah aku, temenku yang bawa mobil, serta 3 temenku yang nebeng juga, jadi totalnya kami berlima. Di perjalanan, kami menikmati makan malam yang dimasak dan dibawakan oleh G. Menunya cumi, lengkap dengan nasinya. Enak banget, udah lama ga makan cumi :’) G keren banget deh pokoknya, udah baik hati, suka masak, pinter, bisa nyetir mobil (Her awesome driver-skill will be revealed soon).  Selain G, temenku D juga bawa makanan, bawa makaroni schotel, dan rasanya juga enak :9 Terimakasih ya teman-teman yang sudah mengisi perut di saat perut ini membutuhkan. Seeing them make me feels like I’m just a little girl on her twenty so I think I’m not a little girl any more but I still choose to buy food rather than cook by myself. Don’t poor me, please.

Lanjut cerita perjalanan lagi. Awal perjalanan, kami melewati jalan yang normal, lurus, lebar dan masih ada lampu di kanan-kiri jalan. Namun, setelah beberapa lama, kami mulai memasuki jalan yang menyeramkan. Lebih dari mendaki gunung, lewati lembah. Kami juga melewati jalan rusak berkelok-kelok yang menanjak (jalan khas pegunungan), menembus kabut, menanjak jalan berpasir, di sebelah kanan kami tebing dan di sebelah kiri jurang ditambah lagi rumah penduduk yang sangat jarang dan sepi, dan semua ini kami lewati dalam keadaan gelap. Hanya lampu mobil yang menjadi satu-satunya penerang jalan.

Dan ini bagian cerita tentang kehebatan driver-skill temanku. Setelah beberapa lama, akhirnya kami merasa bahwa jalan ini -menanjak, menurun, berkelok- seperti tidak ada habisnya. Sempat beberapa kali kami berniat untuk bertanya kepada penduduk sekitar apakah kami berada di jalan yang benar. Namun, di keadaan gelap malam seperti itu sulit sekali menemukan orang-orang yang masih berada di luar rumah. Kalaupun ada, itu seperti rombongan pemuda atau bapak-bapak yang mungkin memang sedang ada acara malam, seperti rapat kepala keluarga atau apa sajalah kegiatannya. Memilih untuk bertanya sepertinya juga pilihan yang cukup menyeramkan dan berisiko. Akhirnya dengan tetap percaya jalan rekomendasi google maps, kami terus melaju hingga kami menemui kabut. Saat itu sekitar pukul 21.00, mobil kami masuk ke dalam kabut, memandang ke depan hanya terlihat putih. Jalanan di depan mobil tidak terlihat, hanya bisa memperkirakan apakah jalan di depan lurus atau belok. G bahkan sudah menyalakan lampu pijar mobil namun tidak terlalu membantu. Inilah momen menyeramkan dan menegangkan pertama dalam perjalanan ini. Di tengah jalan yang berkelok, menanjak dan menurun, mobil kami berusaha melewati kabut malam tersebut. Rasanya tak ada habisnya hingga kabut mulai menipis.

Alhamdulillah, kabut tersebut mulai berkurang, diiringi dengan jalan yang sekarang kebanyakan menurun. Sepertinya memang saat itu kami sedang berada di puncak gunung, dan mulai menuruni gunung sehingga intensitas kabut mulai berkurang dan akhirnya menghilang. Keesokan kami tahu kalau kami memang melewati gunung, yaitu gunung ijo. Google maps menunjukkan 11 menit lagi perkiraan kami sampai di tempat tujuan. Namun, masalah datang saat D yang menjadi pemandu jalan dengan google maps berkata “Eh, G sepertinya kita harus muter deh, kita udah di luar jalur maps” Sebenernya google maps memang memberi perintah untuk belok kanan, namun kami tidak menemukan belokan ke kanan. Mungkin karena gelap. Akhirnya, kami memutar balik. Untungnya, ada tempat atau lahan di pinggir jalan yang cukup untuk mobil memutar balik.

“Nah, seharusnya ada belokan di sekitar sini,” ucap temanku saat mencocokkan lokasi mobil dengan google maps. Namun, di pinggir jalan kami tidak menemukan belokan yang layak untuk mobil dan sinyal gps mulai menghilang. Memang ada belokan jalan menurun seperti itu, tapi kami ragu untuk terus melaju menuju jalan itu karena kelihatannya jalan itu sempit dan tidak layak untuk dilewati mobil. Akhirnya mobil kami berhenti di pinggir jalan dan mencoba bertanya dengan penduduk. Di pinggir jalan tersebut, memang ada rumah penduduk namun terlihat sepi. Aku, G dan S turun. S melihat seorang pemuda yang kebetulan duduk di depan rumah, dan mencoba bertanya kepadanya. Saat ini pukul 21.30. Kaki mas nya menginjak tanah kok :”

“Mas, tau jalan menuju desa plampang, tidak?”

“Wah, desa plampang, masih jauh mbak, masih sekitar 20 km”

Aku yang mendengar 20 km, rasanya sudah ingin menyerah. Lebih baik kita berhenti saja dulu, tidur di mobil atau mencoba menginap di rumah warga yang ada. Kami berada di pertengahan, ingin kembali ke Jogja tapi kami harus melewati jalan berkabut itu lagi, ingin terus melaju tapi kami tersesat dan tidak tau jalan selanjutnya.

“Kok, bisa mbak jam segini perginya? Ini udah malem sama jalannya susah juga mbak”

“Iya mas, soalnya tadi kami memang perginya ga bareng dengan yang lain”

Mas tersebut juga bertanya kenapa memilih jalan ini. Dia berkata memang bisa sih melewati jalan ini tapi seharusnya ada jalan yang lebih baik lagi dibanding jalan yang kami pilih. Sinyal GPS dari hape G juga sudah hilang total. Menghubungi teman-teman juga tidak bisa karena sinyal yang jelek. Kemudian mas nya mengeluarkan kalimat -membawa secercah harapan “Di sini ada wifi kok mbak” Hal yang sulit dipercaya, di daerah seperti ini masih ada yang punya wifi. Cool! Akhirnya kami menggunakan wifi tersebut. Sampe sekarang pun, aku masih ingat nama wifi dan passwordnya. Nama wifi : Aris. Password : praptosupaswot (Ya, ini emang beneran paswotnya kok ._.v) Siapa tau ada yang mau wifi gratis dateng aja ke rumah Mas (yang kami tidak tahu namanya, tapi melihat dari nama wifi nya, kami beri saja namanya Aris) Mas Aris :p Dengan menggunakan wifi, kami mencari ulang lokasi tujuan dan google maps tetap menunjukkan jalan yang lama bahkan menampilkan waktu untuk mencapai lokasi tujuan tinggal 5 menit lagi. Yak, google maps memang terkadang seringkali menyesatkan. Moral value : jangan percaya sepenuhnya kepada sesuatu atau seseorang apabila kau tak bisa menahan rasa kecewa yang didapat apabila ternyata orang atau sesuatu yang kau percaya itu mengkhianatimu. Memang yang wajib dipercaya sepenuhnya hanya Allah Swt.

“Ini desa plampangnya desa plampang berapa dulu mbak? Kalo yang paling dekat dari sini sih plampang 3. Tapi penduduknya sedikit di sana. Nanti kalo memang benar plampang 3, saya dan teman saya tunjukin jalannya aja” Mas tersebut bertanya, dan mencoba menawarkan solusi.

Waktu itu kami belum tau desa plampang berapa yang menjadi lokasi tujuan kami, kami hanya tau sebatas desa plampang yang ada di kecamatan kokap, kulonprogo. Kami mana tahu kalau desa plampang ada banyak! Setelah M berusaha menscroll chat di grup line akhirnya kami tau desa plampang berapa.

“Nah, iya mas bener plampang 3!” teriakanku terdengar cukup gembira, meski rasa takut masih ada.

“Oh ya udah saya ambil motor dulu, biar saya tunjukin jalannya. Mbaknya bisa tidak bawa mobilnya? Atau mau saya saja yang bawa?”

“InsyaAllah bisa mas” G menjawab.

Menyerahkan mobil untuk dibawa mas tersebut juga agak berisiko dan bukan pilihan yang baik. Melihat kemampuan G yang tadi sudah berhasil melewati jalan berkelok-menanjak-menurun-berkabut, sepertinya G masih bisa membawa mobilnya sendiri. What an awesome-driver, right!

Akhirnya, mas Aris menyalakan motornya dan bersiap di depan mobil kami. Setelah mobil siap, dia dan temannya bermotor di depan dan mobil kami mengikuti mereka. Di sini terjadi momen menyeramkan dan menegangkan yang kedua. Momen yang berada tepat di jalan berkerikil/berpasir yang menanjak dan agak berkelok. Mobil G tidak bisa melewati jalan itu. Ban mobil hanya berputar di tempat tanpa ada progress untuk maju, klakson sudah dibunyikan untuk memberi tanda kepada kedua mas di depan kalau kami ada masalah. Keadaan makin parah dengan keluarnya asap dari bagian depan mobil. Entahlah, sampai sekarang rasanya seperti mimpi, rasanya tidak percaya kami baru saja melewati jalan yang seperti itu. Akhirnya G memilih untuk memundurkan mobilnya sedikit untuk mengambil ancang-ancang lagi agar mobil dapat menanjak jalan tersebut.

“Stop, jangan mundur lagi!”

Aku yang memperhatikan pemandangan di belakang mobil segera berteriak panik. Bayangkan pemandangan di belakang mobil kami adalah satu pohon dan jurang yang entah tak tahu seberapa dalamnya. G mencoba memajukan mobilnya lagi dan menginjak gas. Alhamdulillah, mobil dapat menanjak melewati jalan tersebut. Alhamdulillah. Sungguh rasa syukur yang sebanyak-banyaknya. Saat mengetik ini pun aku masih terbayang pemandangan menyeramkan di belakang mobil. Apa jadinya kalo mobil terus berjalan ke belakang. Naudzubillah min dzalik.

Kejadian menegangkan itu lewat. Mas Aris dan mas Prapto (nama buatan) berhenti di depan kerumunan kecil orang-orang. Kami mencoba mengenali kerumunan kecil tersebut dan setelah mengenali salah satu panitia, kami langsung berteriak gembira. Alhamdulillah. Akhirnya kami bertemu dengan panitia yang lain. Kami menemukan teman-teman panitia ikhwan yang sedang memasang spanduk Qalbu. Ucapan terima kasih kami ucapkan sebanyak-banyaknya kepada Mas Aris dan Mas Prapto yang telah menunjukkan jalan hingga sampai kepada teman-teman panitia. Kami segera memberikan imbalan “terima kasih” kepada mereka, namun mereka menolak dan berkata bahwa mereka ikhlas menolong. Hingga kami agak memaksa, barulah mereka menerima imbalan “terima kasih” kami.

Mungkin imbalan terima kasih kami tidak banyak, dan semoga Allah membalas kebaikan mereka. Dari sini aku belajar bahwa masih banyak orang yang meski mereka tinggal di daerah agak pedalaman namun tidak mengikis rasa peduli mereka. Mereka justru dengan mudahnya mengulurkan tangan mereka, menawarkan solusi, mencoba membantu dengan rasa ikhlas. Tidak seperti beberapa masyarakat perkotaan. Masyarakat yang seharusnya sudah lebih maju tapi justru mundur dalam hal kepedulian. Masyarakat yang semakin individualis, yang semakin tidak peduli dengan keadaan sekitarnya, yang semakin enggan membantu karena merasa tidak mendapat apa-apa dengan membantu. Ya, setidaknya aku mendapat pelajaran dari kejadian ini. Bahwa setiap masalah selalu datang dengan solusinya. Jadi, tetaplah percaya.

Kedua mas tersebut pergi dan kami bertemu dengan panitia. Namun, bukannya diterima, kami justru merasa “diusir” dan disuruh mencari rumah warga terdekat untuk mencari parkiran mobil. Kenapa? Karena menurut mereka mobil kami apabila turun ke desa tidak bisa parkir. Jalanan menuju ke desanya memang menurun ke bawah dan jalan berpasir. Akhirnya karena kami memang tidak tahu bagaimana jalan dan keadaan desanya, kami bukannya turun ke jalan arah desa, tapi justru terus melaju mencoba mencari rumah warga untuk menitipkan mobil. Namun, setelah beberapa lama, kami tidak menemukan rumah warga, kami hanya menemukan pohon-pohon di pinggir jalan. Ada sih rumah kecil, tapi tidak layak parkir juga. Akhirnya mobil maju lagi hingga ada motor dari belakang yang menghentikan kami. Itu motor salah seorang panitia. Menanyakan kami mau pergi ke mana, mungkin dia heran karena kami justru menjauhi desa lokasi idul adha KaLAM. Kami bilang saja kami mencari parkiran. Dia sebenarnya bermotor ingin menjemput mobil lain yang juga baru sampai di lokasi. Akhirnya kami memutuskan untuk memarkirkan mobil kami di sebuah rumah warga sambil menunggu. Saat mobil di parkir, dua buah mobil terlihat melaju di depan kami menuju lokasi desa Idul Adha. Itu adalah dua mobil panitia yang lain.

Tidak lama kemudian, bapak yang rumahnya kami tumpangi parkir, keluar. G yang bisa berbahasa jawa keluar dan menjelaskan keadaan, kenapa sampai bisa mobil kami numpang di rumahnya. Setelah beberapa lama menunggu mungkin bisa setengah jam lebih, tak ada tanda-tanda dari panitia lain. Kami heran karena kedua mobil panitia tadi juga tidak kembali padahal katanya sudah tidak ada parkiran lagi di desanya. S segera mencoba menghubungi panitia yang ada di desa, meminta bantuan, mencoba menghubungi orang-orang yang kira-kira masih punya sinyal. Sinyal memang menjadi masalah tersendiri di sini. Setelah menunggu cukup lama, kami pun dijemput panitia yang lain dan parkiran masih ada. Mungkin memang di bagian halaman masjidnya sudah susah untuk parkir mobil, tapi di depan rumah penduduk tempat akhwat menginap sudah lebih dari cukup untuk sekadar parkir satu mobil kecil. dan lagi menurutku parkir di jalan juga tidak mengapa, tidak menghalangi mobilitas kendaraan lain, mengingat keadaan penduduk yang kebanyakan transportasinya adalah motor dan sekalipun ada yang punya mobil siapa coba yang mau jalan di tengah malam ini. Akhirnya (ini beneran akhir), mobil kami di parkir di depan rumah penduduk yang dijadikan tempat akhwat menginap. Melihat panitia akhwat yang lain rasanya terharu. Setelah perjalanan panjang ini, kami sampai di tujuan.

Sekian dulu cerita perjalanan kali ini.  And fyi, kami pulang dengan jalan yang benar pada hari Kamis, pukul 16.00. Mobil kami bersama dengan 3 mobil lainnya kembali ke Jogja. Jalan yang kami pilih tentu saja bukan jalan kami pergi. Jalan pegunungannya kira-kira hanya 15-20 menit dan itu tidak separah jalan yang kami lewati saat pergi. Kami juga menemukan banyak rumah warga di kanan kiri jalan. Selanjutnya, kami menemukan rel kereta api dan menemukan jalan raya yang lebar, luas, aspal, halus, sangat berbanding terbalik dengan jalan pergi :’) Cukup membuat kami terhibur dan tertawa sepanjang perjalanan pulang mengingat kebodohan kami memilih jalan pergi, padahal ada jalan yang jauh lebih mudah seperti ini. Perjalanan kali ini ditutup dengan makan bareng di bakmi legendaris, bakmi Kadin. What a long story, yet happy ending!

Advertisements

One thought on “Perjalanan Ini (Ternyata) Nyata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s