Posted in college, experience, Sharing

Birokrasi, Benci tapi (terpaksa) Butuh

Saya benci dia, tapi saya harus tetap hidup di dalamnya. Kalimat ini cukup menggambarkan judul postingan saya kali ini. Jujur, kebencian itu dimulai sejak kuliah karena memang saya lebih mengenal birokrasi di jaman kuliah. Saya benci birokrasi tapi mau bagaimanapun rasa benci itu muncul, saya harus tetap mengikuti alur birokrasi yang ada, hingga mungkin akhirnya sekarang saya sudah bisa menerima kebencian itu.

Bermula saat saya berada di tahun pertama kuliah dan entah bagaimana saya ditunjuk menjadi seorang sekretaris di suatu acara. Sepertinya menjadi sekretaris asik deh. Itu pikiran saya pada awalnya. Bahkan kepanitiaan pertama saya di FK, saya juga menjadi sie KSK (kesekretariatan) karena ya itu, saya pikir berurusan dengan hal-hal yang berbau sekretaris itu asik.

Dan ternyata semua itu salah besar. Menjadi sekretaris memang sangat “asik” hingga membuat saya menanamkan rasa benci pada birokrasi. Namun, karena saat itu saya diamanahi untuk menjadi sekretaris acara, saya berusaha menunjukkan tanggung jawab saya.

Jadi, apa sebenarnya yang saya benci dari birokrasi? Entahlah, mungkin lebih baik saya bercerita.

Saat saya menjadi sekretaris di acara tersebut saya harus membuat proposal, surat-menyurat, laporan pertanggungjawaban dan sejenisnya. Namun, ternyata membuat itu semua tidak sesimpel yang saya bayangkan. Terutama di bagian tanda tangan. Ya, menjadi sekretaris rasanya seperti menjadi pengemis tanda tangan. Padahal diri sendiri justru ga pernah tanda tangan. Menghubungi orang-orang yang namanya tertera di lembar pengesahan, menyesuaikan jadwal mereka dan jadwal saya untuk janjian bertemu, menunggu beberapa lama agar ditandangani. Meminta tanda tangan juga harus berurutan sesuai kasta yang ada. Jadi biasanya yang paling pertama diminta tanda tangan adalah ketua acara, ini biasanya memang yang paling mudah karena biasanya kita sederajat dan kalo terdesak bisa dengan mudah minta izin untuk dipalsukan. Setelah ketua acara, lanjut ke ketua organisasi, saat tahun pertama ini lumayan sulit karena ketua organisasi adalah kakak tingkat walaupun sebenernya ga sulit-sulit amat sih. Nah, setelah mendapatkan tanda tangan ketua, dilanjutkan dengan meminta tanda tangan ketua BEM dan ketua senat. Ini lumayan memakan waktu lama karena proposal atau surat harus diperiksa dulu dan disetujui oleh sekretaris BEM barulah ketua BEM menandatanganinya. Hambatannya kadang sekretaris BEM tidak langsung memeriksa dan ketua BEMnya juga sibuk jadi tidak bisa sehari langsung jadi padahal tinggal tanda tangan doang. Setelah itu barulah sampai ke kasta yang paling tinggi yaitu wakil dekan. Wakil dekan yang paling spesial. Masukin proposalnya dulu ke kantor pusat tata usaha (KPTU) kemudian dua hari kemudian (yang kadang lebih dari dua hari) proposal atau surat sudah ditanda tangani dan akhirnya urusan proposal selesai. Wah, kalo gitu doang mudah dong? Cuma minta tanda tangan mudah lah ya. Hmm, saya sarankan silahkan mencoba jadi sekretaris 🙂

Masih ditambah lagi jika ada kesalahan yang kadang hanya kesalahan kecil, misal kurang gelar di nama, atau kurang titik dan salahnya di halaman lembar pengesahan dan baru disadari saat surat dimasukkan ke KPTU maka harus mengulang print lembar pengesahan dan mengemis tanda tangan ulang dari ketua acara hingga ketua BEM. Ini baru masalah proposal dan surat, belum lagi kalau yang diurus adalah peminjaman tempat. Untuk surat peminjaman tempat, setelah prosesi tanda tangan maka harus di acc dulu di pihak akademik, kemudian ke bagian sarana dan prasarana untuk mengeblok ruangan, kemudian di fotokopi untuk tembusan ke satpam, penjaga ruangan dan disimpan pribadi. Semua itu tidak boleh melewati deadline yang ada. Begitu juga dengan mengurus perizinan akademik, langkahnya panjang. Silahkan dicoba sendiri agar lebih mendalami….

Oh ya, mengapa di awal saya mengatakan saya benci tetapi saya harus tetap hidup di dalamnya? Karena entah mengapa tiba-tiba sekarang saya sedang diamanahi menjadi sekretaris umum. Padahal saya sudah berniat untuk tidak dekat-dekat lagi dengan yang namanya birokrasi. Sepertinya takdir berkata lain, saya yang benci birokrasi malah diberikan kesempatan untuk mengenal lebih dekat birokrasi itu sendiri. Menjadi sekretaris sama halnya dengan secara rela mengorbankan diri ini bercengkrama dengan birokrasi.

Alhamdulillahnya, ternyata kebencian saya kepada birokrasi justru memberikan saya banyak pelajaran. Saya menjadi terbiasa untuk mengurus hal-hal dengan mandiri (emang ada yang mau nemenin saya ngurusin berlembar-lembar kertas itu), saya jadi mengenal (at least mengetahui) orang-orang di FK terutama yang berperan dalam birokasi FK, saya melatih kemampuan komunikasi saya baik kepada teman setingkat, kepada kakak tingkat, kepada karyawan di FK, serta secara otomatis saya juga melatih kesabaran dan ketahanan saya, untuk sabar menunggu surat keluar, menyempatkan waktu di sela-sela jadwal kuliah untuk mengunjungi KPTU tercinta agar dapat memasukkan surat tepat waktu, bolak-balik gedung KPTU-tempat fotokopi.

Setidaknya birokrasi ga jelek-jelek amat kok, banyak pelajaran yang bisa diambil darinya. Perlahan rasa benci itu sudah memudar dan hilang. Justru sekarang saya menikmati bermain dengan birokrasi. Saya menikmati proses-prosesnya, mulai dari awal membuat surat hingga dilempar ke sana sini hanya demi memasukkan surat. Kebencian dan kekesalan saya dengan birokrasi sempat membuat saya bermimpi untuk membuat alur birokrasi yang lebih mudah, cepat dan lancar, meski belum terpikirkan cara konkretnya secara mendalam. Namun mungkin itu karena saya belum mengetahui seluk beluk birokrasi itu sendiri, karena terkadang yang kita lihat belum tentu menggambarkan semua hal. Masih ada latar belakang yang memang belum kita ketahui. Tetap saja saya berharap semoga birokrasi ke depannya makin mudah, lancar, teratur dan tidak membuat orang-orang seperti saya makin banyak. Benci tapi terpaksa butuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s