Atheis = Setengah Islam

Hayo pada mikir apa setelah baca judulnya. Jangan mikir yang aneh-aneh dulu ya, lebih baik dibaca dulu sampe abis baru deh dipersilahkan buat komentar. Sebenernya ini tulisan yang terinspirasi dari ceramahnya Dr. Zakir Naik tentang peran seorang muslim yang berada dalam lingkungan non-muslim. Untuk lebih jelasnya bisa ditonton di sini. Videonya dalam bahasa inggris belum ada subtitle, mungkin bisa dicari yang ada subtitlenya, tapi udah pada pinter bahasa inggris juga kan ya jadi langsung pasang telinga dan fokus dengerin aja.

Nah, yang ingin aku sampaikan itu sebenernya fokus di durasi sekitar 1 jam lewat 6 menit dari video di atas (durasi videonya panjang sampe 2 jam setengah). Di bagian ini, Dr. Zakir naik sedang membahas tentang dakwah kepada atheis. Dr Zakir Naik berkata kalau beliau bertemu atheis, beliau malah memberikan selamat kepada orang-orang atheis. Kenapa? Karena dibandingkan dengan non muslim yang beragama –yang  kebanyakan mereka hanya mengikuti agama orang tua (termasuk banyak juga muslim yang mengikuti agama orang tua), para atheis ini patut diberikan selamat karena ini bisa membuktikan bahwa setidaknya mereka berfikir tentang Tuhan. Bisa saja orang atheis ini berasal dari keluarga yang memang beragama (non muslim), tetapi setelah berfikir mereka menjadi tidak setuju dengan adanya Tuhan. Ya, intinya ucapan selamat diberikan karena mereka sudah berfikir.

Faktor lain kenapa mereka diberi selamat adalah karena berarti bisa dikatakan bahwa atheis telah menyelesaikan setengah bagian dari syahadat yaitu “La ila ha” yang artinya tidak ada tuhan. Tinggal ditambah “illallah” maka terucap sudah sesuai dengan syahadat dalam agama Islam. Ini lebih ke latar belakang mengapa saya menulis judul di atas.

Jadi, kebanyakan orang-orang tersebut menjadi atheis karena mereka lebih percaya kebada ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk itulah di bawah ini terdapat beberapa pertanyaan yang bisa ditanyakan kepada mereka.

Pertanyaan pembuka untuk mereka adalah seperti ini “Jika ada suatu benda (alat) di dunia ini yang belum pernah Anda lihat sama sekali. Siapakah orang pertama yang tahu dan dapat memberi tahu anda tentang mekanisme dan penggunaan alat ini?”

Coba tanyakan pada diri anda masing-masing pertanyaan di atas. Apa jawaban anda? Jujur, saat saya mendengar pertanyaan itu saya akan menjawab pembuat alat tersebut. Mungkin jawaban Anda bisa penciptanya, pabrik yang membuatnya, produsen. Intinya jawabannya sama. Yang tau tentang tentang alat tersebut, bahan-bahan pembuatnya, cara menggunakannya tentu saja adalah si pembuat alat tersebut.

Kemudian simpan jawaban mereka tanpa memberikan komentar untuk membiarkan mereka berfikir lagi, lanjutkan dengan memberikan pertanyaan lainnya “Bagaimana dunia ini ada?”

Mungkin jawaban mereka yang memang menuhankan ilmu pengetahuan bisa seperti ini : Pada awalnya dunia ini berasal dari suatu objek yaitu nebulla, hingga kemudian terjadi reaksi big bang dan BAM! terbentuklah galaksi, bintang-bintang, planet, matahari, dan juga bumi ini. Teori ini bisa jadi merupakan jawaban dari para ilmuwan yang didapatkan pada abad ke 20 atau sekitar 50 sampai 100 tahun yang lalu.

Tapi, tahukah Anda? Ternyata teori tersebut telah disebutkan di dalam Al Quran (1400 tahun yang lalu) di Surat Al Anbiya 21:30 yang berbunyi  “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya……” 

Kemudian tanyakan bagaimana Al Quran dapat menyebutkan hal tersebut?

Pertanyaan selanjutnya yang bisa ditanyakan adalah ” Apakah bentuk bumi yang sekarang menjadi tempat tinggal kita ini?”

Berdasarkan ilmu pengetahuan, awalnya manusia percaya bahwa bumi itu datar hingga di tahun 1577 Sir Francis Drake berlayar dengan kapal dan berhasil membuktikan bahwa bumi ini bulat.

Dalam Al-Quran disebutkan tentang bentuk bumi bulat 1400 tahun lalu yaitu di surat An Naziat 79:30 yang berarti “Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya”  Bisa diartikan sebagai dihamparkan atau telur, bahwa bumi memang nyatanya berbentuk bulat seperti telur.

Bagaimana Al Quran dapat menyebutkan hal tersebut? Mungkin saja orang Atheis tersebut berkilah dan dapat menjawab “Ah, itu karena Muhammad seseorang yang memang pintar”

Maka tanyakan lagi pertanyaan selanjutnya yaitu tentang cahaya bulan “Dari mana sumber cahaya bulan? Apakah cahayanya berasal dari bulan itu sendiri atau direfleksikan dari yang lain?” Dulu dikatakan bahwa cahaya bulan memang berasal dari bulan sendiri tetapi belakangan ini ditemukan bahwa cahaya bulan itu bukanlah berasal dari bulan itu sendiri tapi mendapat refleksi cahaya dari cahaya matahari. Hal ini disebutkan dalam Al Quran 1400 tahun lalu di surat Al Furqan 25:61 yang berbunyi ” Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.”

Bahkan pengetahuan tentang matahari yang berputar di axisnya sendiri juga terdapat dalam Al Quran surat Al Anbiya 21:33.

Sadar atau tidak pengetahuan tentang siklus air pun sudah dituliskan dengan sangat lengkap oleh Allah di dalam Al Quran dalam beberapa ayat di bawah ini:

An Nur 24:43 “ Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”

Ar Rum 30:48 “Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.”

Az zumar 39:21  yang artinya “Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.”

Ar Rum 30:24  “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.

Al Mu’minun 23:18 yang berbunti “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.”

Ditambah dengan surat-surat berikut ini yang bisa dilihat sendiri yaitu Ar Ra’d 13:17, Al A’raf 7:57, Al Furqan 25:48-49, Fatir 35:9, Qaf 50:9-11, Al Waqi’ah 56:68-70, Al Mulk 67:30, At Tariq 86:11.

Maka tanyakan lagi siapakah yang bisa menuliskan tentang semua ini di Al Quran?

Di dalam Al Quran juga terdapat ilmu tentang geologi, dimana sekarang diketahui bahwa yang membuat bumi stabil adalah karena adanya gunung-gunung. Hal ini dituliskan dalam Al Quran Surat An-Naba 78:6-7, dan Al Anbiya 21:31.

Dalam Oseanologi, ditemukan bahwa terdapat dua tipe air (tawar lagi segar dan asin lagi pahit), dan mengapa kedua jenis air tersebut tidak tercampur? Karena memang diciptakan batas yang menghalangi seperti yang disebutkan dalam Surat Al Furqan 25:53.

Dalam ilmu biologi,  ditemukan bahwa air adalah penyusun terbanyak dari suatu makhluk hidup dan ini telah disebutkan dalam Al Quran yaitu Surat An-Nur 24:45 dan Al-Furqan 25:54.

Di botany, bahwa tumbuhan pun ternyata memang mempunyai seks laki-laki dan perempuan yaitu disebutkan dalam Al Quran surat Thaha 20:53 dan Ar-Ra’d 13:3.

Begitu pula di bidang embryologi yaitu tentang asal mula manusia disebutkan dalam Surat Al-Mu’minun 23: 12-14

Siapa yang bisa menuliskan ini di Al Quran?

Maka, jawabannya adalah Sang Pencipta. Allah Yang Maha Mengetahui segalanya. Allah yang dapat menjalankan semua mekanisme kehidupan ini. Mulai dari satu titik pasir yang tak terlihat hingga ke satu galaksi luas yang tak berbatas. Allah Yang Maha Mengatur segalanya.

Maka pengakuan atheis tentang “tidak ada tuhan” itu sebenernya akan menjadi benar dan sempurna apabila di belakangnya di tambahkan “selain Allah”. La ila ha illallah. Tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah. Karena agama Islam tidak hanya mengajarkan untuk sekedar percaya atau beriman saja, namun juga mengajak manusia untuk berfikir. Sehingga dengan berfikir dapat menemukan tujuan dan makna dari kehidupan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s