Fase Air dan Api

Seringkali saya menemui diri saya dalam dua keadaan yang sangat bertolak belakang. Di satu waktu, saya benar-benar bersemangat melakukan pekerjaan saya, saya merencanakan dan membuat jadwal harian, mengerjakan amalan harian dengan teratur, mendengarkan lecture dengan antusias, mengikuti praktikum dengan semangat, rajin beres-beres dan rasanya hidup saya menemukan keteraturannya. Namun, di waktu yang lain, saya merasa malas dan tidak mood, meninggalkan amalan harian yang biasanya saya lakukan, mendengarkan lecture seadanya, menunda-nunda pekerjaan, dan di saat inilah saya menemukan hidup saya keteteran, berantakan. Rasanya seakan semua masalah menumpuk dan diri saya enggan untuk menemukan solusinya. Di saat-saat yang kedua inilah, saya dapat mengatakan bahwa saya sedang berada dalam fase air.

Kenapa saya sebut fase air? Karena saya rasa sifat air yang tenang cukup menggambarkan saya dalam fase ini. Saya kadang terlalu santai menghadapi semuanya, menjalani hari-hari dengan biasa, layaknya air yang hanya bisa mengalir mengikuti arus sungai,  hingga akhirnya mengalir ke tempat yang lebih rendah. Saya menjadi deadliner, layaknya air yang baru berbelok saat memang waktunya arus berbelok. Sayangnya saya terjebak dalam fase air ini bisa berlangsung cukup lama, 1 minggu bahkan lebih. Alhasil, perencanaan awal yang sudah saya susun sedemikian rupa harus diulang kembali setiap saya berada dalam fase api. Ya, otomatis fase lainnya adalah fase api. Fase di mana saya selalu bersemangat  dan antusias layaknya api yang ingin selalu membakar aapa saja yang berada di dekatnya. Dalam fase ini, saya selalu antusias untuk menyusun mimpi dan rencana saya, menuliskan to do list apa yang seharusnya saya lakukan untuk mencapai mimpi-mimpi yang sudah saya tuliskan.

Entahlah, analogi dari fase air dan api ini hanyalah teori saya pribadi yang ingin berbagi sedikit kegelisahannya. Mungkin di dalam hidup memang harus ada fase air dan api, tapi terkadang terlalu lama berada di fase air bisa membuat saya terlalu santai dan tanpa sadar membuat hidup saya jatuh layaknya air yang selalu mencari tempat rendah. Membuat hidup saya tidak teratur.

Hingga akhirnya pikiran saya membawa saya pada beberapa pertanyaan? Kenapa saya membiarkan fase air menguasai diri saya? Pintu gerbang mana yang saya lewati sehingga saya sekarang berada di fase air ini? Apa yang harus saya lakukan untuk keluar dari fase ini? Mengapa hidup saya berantakan dan tidak teratur?

Namun, dengan beberapa pertanyaan tersebut, saya justru menemukan pertanyaan baru lagi, tetapi bukan tentang fase air, melainkan tentang lawannya yaitu fase api. Apa yang membuat saya bisa berada pada fase api?

Dan sepertinya pertanyaan ini lebih mudah untuk saya jawab. Saya bisa berada di fase api karena saya bangun lebih awal. Saya sadar setelah belakangan ini saya bangun terlambat. Beberapa to do list harian saya ada yang tidak bisa saya contreng karena memang waktu melaksanakannya sudah terlambat, hingga akhirnya saya kehilangan motivasi untuk menjalankan to do list harian saya yang lain. Namun, saat saya bangun lebih awal, saya berhasil mencontreng satu poin teratas pada to do list harian saya dan alhasil saya lebih semangat untuk menjalani to do list harian saya yang berikutnya. Bangun lebih awal juga membuat hidup saya teratur, tidak diburu tugas, lebih produktif, dapat menemukan solusi dari masalah dan entah kenapa bangun lebih awal dan melakukan kegiatan pertama pada to do list harian saya selalu membawa ketenangan tersendiri bagi saya.

“The number one tip to be productive is to wake up early!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s