Posted in Islam, Sharing, Travelling

Sholat di Dalam Kereta

Jam di handphoneku menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Berarti kurang lebih aku sudah tertidur selama 4 jam. Tentu saja tidak senyenyak tidurku biasanya karena aku terbangun di sela-sela tidurku. Membetulkan jaket yang kugunakan sebagai selimut, memeriksa handphone yang sedang di charge, melihat beberapa social media hanya untuk sekadar melihat apakah ada hal penting.

Melihat jam yang masih menunjukkan pukul 03.00 dini hari, aku berencana memejamkan mata lagi. Setidaknya masih satu jam lagi memasuki waktu subuh. Saat ini, aku berada di kereta perjalanan dari Jogja ke Bandung. Perjalanan malam kali ini mengharuskanku melewati waktu Subuh di kereta. Perjalanan dari pukul 11.00 hingga pukul 07.00. Akhirnya setelah terlelap sebentar, aku terbangun lagi dan waktu di jam tanganku menunjukkan pukul 04.15. Aku tidak tahu di daerah mana tepatnya posisiku sekarang, tapi aku memperkirakan bahwa ini sudah waktu subuh. Kulepaskan jaketku dan aku berdiri menuju kamar kecil di bagian belakang gerbong, yang terdekat dengan kursiku, kursi nomor 13, barisan kursi paling belakang dari gerbong kereta.

Setelah mengambil air wudhu, aku kembali ke tempat dudukku. Kulihat ada seseorang wanita yang berada beberapa baris di depan kursiku menggunakan mukena dan solat subuh. Aku pun menggunakan mukena dan menunaikan kewajibanku untuk solat dua rakaat, solat Subuh. Solat Subuh aku lakukan dalam keadaan duduk, meski aku tak tahu apakah cara solat dudukku ini benar atau tidak. Sepengetahuanku, saat sholat dalam keadaan duduk, yang harus dilakukan adalah tetap melakukan gerakan solat biasanya dengan menyesuaikan posisi duduk. Rukuk yang diisyaratkan dengan menundukkan kepala, sujud yang juga diisyaratkan dengan menundukkan kepala tetapi lebih dalam daripada rukuk dan gerakan-gerakan lain yang bisa disesuaikan dalam posisi duduk.

Terlihat beberapa orang yang duduk di kursi barisan depan juga sholat. Aku tau mereka sholat karena mereka baru saja kembali dari kamar kecil dan kembali duduk ke tempat duduk sembari menggunakan mukena. Namun, hanya tiga orang perempuan yang teramati olehku menggunakan mukena dan sisanya laki-laki. Di sampingku terlihat dua penumpang perempuan, yang satu menggunakan kerudung dan yang satu tidak. Keduanya nampak terlelap dalam tidurnya. Oh mungkin mereka memang sedang dalam keadaan tidak solat, begitu batinku dalam hati. Namun empat baris kursi di depanku, semua penumpangnya adalah laki-laki dan tak terlihat mereka beranjak ke kamar kecil untuk mengambil wudhu dan melakukan sholat Subuh. Mataku memandang ke depan hingga pintu gerbong depan. Dari pengamatanku hanya ada sekitar total 6 orang yang beranjak ke kamar kecil kemudian kembali ke tempat duduk mereka. Maka aku dapat memperkirakan bahwa mereka baru saja mengambil air wudhu untuk melaksanakan solat Subuh.

Keresahanku muncul di saat waktu sudah menunjukkan pukul 5 lewat. Tak terlihat lagi orang-orang yang menuju kamar kecil dan kembali ke tempat duduknya. Orang-orang malah menarik selimut lebih tinggi dan memejamkan matanya. Dalam satu gerbong kereta, kira-kira ada 50 orang penumpang. Dari 50 orang penumpang itu, yang teramati olehku dan kuperkirakan bahwa mereka melakukan solat Subuh hanya 6 orang. Lalu, kemana 44 orang lainnya? Entahlah. Semoga saja mereka memang wanita yang sedang tidak wajib sholat, non muslim, anak-anak yang belum baligh, atau jangan-jangan mereka orang gila? Naudzubillah. Padahal, solat adalah kewajban seorang muslim dan perkara pertama yang akan ditanyakan saat hari penghisaban  adalah tentang sholat. Sayangnya, orang-orang (termasuk diriku) masih terlalai dengan kehidupan dunia dan melupakan tujuan utama hidupnya.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

Rasanya aku ingin mendengar ada pengumuman di kereta yang memberitahukan bahwa “telah masuk waktu Subuh, untuk muslim dipersilahkan solat Subuh”. Aku ingin berjalan dari gerbong satu ke gerbong yang lain membangunkan orang-orang dan bertanya “Permisi, apakah anda muslim? Apakah anda sudah solat Subuh?” Tapi aku masih terlalu ragu dan takut untuk melakukan itu. Maafkan aku Ya Allah, maafkan atas imanku yang masih lemah ini, biarlah keresahan ini aku jadikan tulisan dan berharap semoga semua Muslim di luar sana (termasuk diriku) terus berpegang teguh pada agamaMu dalam keadaan apapun. Aamiin.

-Selasa, 29 Jan ’15 pukul 05.30. Ditulis di dalam kereta perjalanan Jogja-Bandung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s