Posted in experience, Travelling

Bandung dan Kendaraan Umumnya

Setelah sekian lama menetap di kota Jogja yang free angkot, kini aku berada di Bandung yang sangat penuh dengan angkutan umum. Hampir dua tahun setengah ini, aku sudah tidak pernah lagi naik kendaraan umum terutama angkot. Pertama karena kendaraan umum yang ada di Jogja adalah Trans Jogja yang hanya berjalan di jalurnya dan berhenti di tempat khususnya (bahkan hingga sekarang aku belum pernah merasakan naik trans jogja), kedua meskipun ada angkot tetap saja jumlahnya tidak banyak (mungkin hanya sekitar 1-2) itupun bukan seperti rupa angkot tapi lebih mirip seperti bus mini atau kopaja. Sehingga selama di Jogja, aku lebih memilih mengendarai kendaraan bermotor sendiri untuk masalah mobilitasku.

Kedatanganku ke Bandung mengingatkanku pada kota asalku, Palembang, dan membawaku pada masa laluku, tepatnya masa lalu tentang angkot. Dulu masa SMP dan SMA, aku terbiasa naik angkot. Kini, kenangan itu datang kembali saat aku menaiki angkot. Meski ada perbedaan yang kurasakan, kebanyakan penumpang angkot di Bandung kalau ingin berhenti bilangnya “kiri, kiri” tapi kalo di Palembang biasanya “stop depan pak” atau “stop pak” (Ini hanya hasil pengamatanku, meskipun setiap orang juga punya style sendiri-sendiri buat berhentiin angkot, what’s your style? :p) Terus kalo angkot di Palembang tarifnya sama entah kamu naik dari rute awal dan turun di rute akhir angkot atau turun di manapun, sedangkan di Bandung kalo kamu naik dari rute awal sampe rute akhir biasanya harganya lebih mahal. Intinya angkot di Bandung tergantung jarak yang kamu tempuh, berkisar 2000-5000 rupiah.

Sebenarnya tujuanku tidak ke kota Bandungnya, tapi lebih ke Jatinangor tempat kos adikku. Setibanya di stasiun Bandung, aku dan adikku, yang memang sudah berencana untuk menjemputku, memesan taksi ke pool travel di Baltos. Travel kami pilih karena aku membawa koper berukuran gajah sehingga bisa ditaruh di bagasi travel. Sebenarnya selain travel, kami juga bisa naik bus damri menuju ke Jatinangor, tapi entahlah rasanya lebih enak naik travel. Jarak stasiun dan Baltos bisa dibilang lumayan dekat, kira-kira 15-20 menit. Setibanya di baltos, kami segera menghampiri pool travel Arnes yang akan menuju ke Jatinangor. Perjalanan terasa cepat karena kami melewati jalan tol dan sekitar satu jam lebih kami sudah tiba di Jatinangor. Oh ya, harga travel dari Bandung ke Jatinangor sebesar 20.000 rupiah.

Selama di Jatinangor (dan Bandung), aku sudah mencicipi beberapa kendaraan umum yaitu travel, bus damri, dan beberapa jurusan angkot. Sebelum berpergian, kami biasa googling terlebih dahulu tujuan kami, kemudian melihat maps dan melihat jalur angkot atau kendaraan yang bisa kami naiki. Pernah aku dan adikku berencana pergi makan siang. Namun, angkot yang kami tahu, tidak sampai ke tempat makan tujuan kami. Akhirnya kami mencari tau berapa jarak tempat pemberhentian terakhir angkot itu dengan tujuan tempat kami makan. Maps menunjukkan jarak 3 km. “wah, 3 km, kayaknya bisa jalan aja nih, jalan yok dek” Aku mengajak adikku untuk berjalan dan dia setuju. Aku bersemangat jalan karena selama ini sudah jarang sekali berolahraga. Setelah turun dari tempat pemberhentian terakhir angkot, aku dan adikku mulai berjalan kaki. Saat itu jam menunjukkan pukul 12.00, jarak yang (baru kami sadari setelah berjalan) jauh ditambah lagi terik matahari harus kami lawan demi mencapai tempat makan tujuan. Ditambah  lagi perkiraan maps, bila kami berjalan maka kami akan sampai di tempat makan dalam waktu 40 menit. Sebenarnya saat kami berjalan, banyak supir angkot yang membunyikan klakson, memberi tanda “apakah ingin naik?” namun kami tetap berjalan dengan alasan, gapapa kan abis capek jalan langsung makan. Iya gapapa kok. Aku sih beneran gapapa tapi entah adikku yang dari ekspresi mukanya jelas menunjukkan apa-apa. Dia sih bilangnya kalo jarak perjalanannya gapapa, tapi panasya itu yang ga nahan. Dia sampe pake payung biar ga kena terik matahari.

Ada lagi perjalanan dengan tujuan ke BIP. Dari jatinangor, kami naik bus damri, terus berhenti di suatu tempat (entahlah daerah apa) kemudian dengan informasi yg sudah dicari adikku, kami berjalan lagi menyebrang perempatan dan berharap ada angkot yang bisa ke BIP. Sebenarnya kalo dari maps, kami sudah berada di jalan yang sama dengan BIP, tinggal lurus saja terus sampai, namun maps menunjukkan jarak 3 km (lagi) Hahaha. Karena tidak mau mengulangi perjalanan kaki sejauh itu lagi, akhirnya kami bertanya pada seorang bapak penjaga sebuah gedung, ternyata bapaknya juga tidak tau karena dia bukan orang angkot, tapi bapak ini mencoba menyetop suatu angkot (yang dia tau arahnya lurus) dan bertanya kepada supirnya apakah angkot tersebut sampai ke BIP. Ternyata tidak, angkotnya berbelok dan tidak lurus ke BIP, sehingga kami disuruh turun saat dia berbelok dan melanjutkan angkot jurusan yang lain. Di angkot tersebut, supirnya sempat bertanya kepada adikku tentang jurusan adikku di unpad dan dia bercerita kalau anaknya juga kuliah di unpad jurusan kedokteran angkatan 2013 (seangkatan denganku). Akhirnya angkot berbelok dan kami disuruh naik angkot jurusan lain, tapi melihat maps jarak dari tempat kami turun dan BIP tinggal 500 m akhirnya kami memutuskan untuk berjalan. Tidak mengapa, 500 m masih bisa kami tempuh kok yang penting dinikmatin aja proses berjalannya. Akhirnya gedung BIP pun terlihat. Alhamdulilah.

Ya begitulah perjalanan di Bandung, intinya banyak banget angkot di Bandung. Harus rajin-rajin nanya sama sekitar, atau tanya dulu ke supir angkotnya apakah benar dia melewati tujuan yang kita inginkan. Tenang, orang di luar sana insyaAllah baik-baik kok, tapi mungkin emang harus selektif juga mau nanya ke siapa. That’s all for this post. Salam penjelajah Bandung dengan angkot.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s