Kejamnya Jakarta

Judul ini aku pilih di saat aku pertama kali menaiki KRL atau kereta rel listrik atau commuter line atau nama lainnya. Jujur, naik KRL itu enak banget bisa menjangkau segala penjuru Jabodetabek dengan waktu yang singkat (dibanding naik mobil) dan harganya yang sangat murah. Cukup dengan 2000 rupiah sudah bisa menempuh berkilo-kilometer ke tempat tujuan.

Nah, terus kenapa dengan naik KRL, aku malah membahas kejamnya Jakarta. Semua itu terjadi karena pengalaman pertamaku menaiki KRL terjadi di rush hour atau di waktu sibuk. Aku yang berencana untuk pergi ke kedutaan besar Jepang dari Depok, disarankan tanteku untuk naik KRL saja. Karena KRL itu ga ada yang namanya macet, jadi dibanding naik mobil mending naik KRL. Sebenarnya tanteku sudah bertanya pukul berapa aku akan pergi dan aku menjawab pagi hari.

Tanteku menyarankan jangan terlalu pagi dan dia mulai bercerita tentang kejamnya KRL di pagi hari terutama dari pukul 6 hingga pukul 8 atau 9. Siap-siap aja masuknya susah, bakal banyak orang-orang yang memaksa masuk, saling mendorong, udah kayak nyawa jadi taruhan, bahkan untuk ngambil sesuatu di dalam tas ransel aja udah ga bisa karena ga bisa berbalik badan ke belakang. Aku yang mendengarkan deskripsi tanteku hanya bisa terdiam dengan mulut menganga. Sebegitukah? Sampe-sampe aku googling “rush hour krl” biar bisa ngebayangin sekejam apa semua ini.

Hingga akhirnya tepat hari Senin pukul 8, aku yang ditemani tanteku menuju stasiun depok baru, membeli tiket dan menunggu kereta tujuanku di peron 1 atau 2 ya (lupa), pokoknya yang ke arah jakarta aja. Oh ya, enaknya KRL itu ada 2 gerbong yang didesain khusus hanya untuk penumpang wanita, yaitu gerbong paling awal (gerbong 1) dan gerbong paling akhir (gerbong 8). Jadi, tanteku segera mengajak menunggu di bagian di mana gerbong satu akan tepat berhenti di depan tempat kami menunggu.

Kereta tujuanku akhirnya datang dan kisah ini dimulai. Semua deskripsi yang dikatakan oleh tanteku benar sekali adanya. Bisa masuk saja sudah untung. Jangan harap dapat tempat duduk. Bahkan di perjalanan ada beberapa orang yang tidak bisa masuk karena sudah tidak kuat memaksa dan mendorong orang-orang di dalam kereta untuk lebih masuk lagi. Aku yang mendapat tempat di sudut dekat pintu harus merelakan tubuhku makin terdorong ke sudut, apalagi di stasiun manggarai. Semuanya sudah seperti tawuran. “Bu, ada yang keluar dong!” “Ga bisa, ini udah ga cukup lagi!” “Aduh!” “Udah ga bisa masuk lagi!” “Jangan maksa, Bu!” Aku yang berdiri di sudut pintu hanya bisa terdiam mencoba bertahan agar tidak terdorong lebih tersudut, memegang kuat besi panjang yang aku jadikan pegangan sejak aku naik tadi. Ya, dan selama perjalanan itulah aku terus membatin kejamnya Jakarta.

Ternyata kekejaman Jakarta yang aku liat selama ini mungkin hanya sebagian kecilnya saja. Tidak hanya di jalanan yang memang sudah terkenal dengan macetnya, yang mengharuskan orang-orang bersabar melawan emosinya. Pun ternyata di KRL juga ada, kekejaman lain Jakarta yang bisa meningkatkan emosi, berdesak-desakan dengan taruhan nyawa, dan harus terus melatih kesabaran. Hanya demi apa? Hanya demi kepentingan dari masing-masing individu. Mungkin ada yang mau kerja, mau sekolah, mau belanja, mau ngurus visa (kayak aku) dan kesibukan lainnya.

Jakarta, ternyata meskipun kau megah dengan banyak gedung tinggi di dalamnya, meski kau terhormat karena menjadi ibu kota negara, meski kau sempurna karena semua orang ingin datang kepadamu tetapi kau menyimpan kekejaman. Kekejaman yang makin menumpulkan rasa kepedulian terhadap sesama. Membuat orang-orang di dalamnya hanya peduli pada diri masing-masing. Yang penting urusanku selesai, yang penting urusanku berhasil, yang penting aku tidak terlambat. Aku ingin mengucapkan ini kepadamu “Selamat atas semua keberhasilanmu, tapi aku mohon jangan kau korbankan manusia di dalamnya untuk tak lagi saling peduli.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s