Posted in experience, Japan, Sharing, Travelling, trip

Perjalanan ke Jepang

Jumat, 8 Januari 2016 menjadi hari yang bersejarah bagiku. Karena dalam hari itu ada beberapa hal yang pertama kali aku lakukan dalam hidupku. Hari ini aku pertama kali pergi ke luar negeri (fyi, sejak dari di kandungan sampai sekarang aku belum pernah pergi ke luar negeri meski itu negara tetangga sekalipun, baik malaysia atau singapura). Aku pergi ke luar negeri sendirian :’) mencicipi rasanya naik pesawat internasional, solat di bandara kuala lumpur dan masih banyak lagi hal-hal yang aku lakukan pertama kali di hari ini. Jadi lebih baik aku mulai bercerita. *Peringatan! Ceritanya panjang, jangan bosen bacanya ya ._.v

Pukul 05.00 pagi aku diantar om dan tanteku dari Depok ke Bandara dan perjalanan pagi itu memakan waktu 1,5 jam. Setelah mengantarku sampai ke depan pintu bandara, om dan tanteku pulang dan aku masuk untuk check in. Keadaan bandara pagi itu cukup ramai (kayaknya bandara emang selalu ramai deh), ditambah lagi terlihat rombongan (seperti rombongan umroh) berseragam oren cerah. Setelah check in, aku segera menuju ruang tunggu keberangkatan internasional. Saat itu pukul 07.00 dan aku masih harus menunggu 1,5 jam lagi untuk berangkat ke kuala lumpur. Dengan fasilitas free wifi aku menginformasikan kepada orang tuaku dan mengabari teman-temanku via line bahwa hari ini aku akan berangkat ke Jepang.

Sekitar pukul 08.15, panggilan untuk masuk ke pesawat mulai terdengar. Terlihat rombongan umroh tadi juga bersiap-siap. Mereka juga berada di pesawat yang sama denganku. Keadaan di dalam pesawat sama saja dengan pesawat domestik yaitu dalam satu baris ada 6 kursi yang dipisah oleh tempat berjalan. Penerbangan berlangsung sekitar 2 jam, namun waktu di Malaysia saat aku tiba sudah menunjukkan pukul 11.30 karena perbedaan waktu antara Malaysia dan Indonesia adalah 1 jam.

20160108_082227
Ini pesawat yang aku naiki untuk transit dulu ke Kuala Lumpur

Setelah turun dari pesawat, aku dan penumpang lainnya berjalan cukup jauh untuk menuju ke tempat pengambilan bagasi atau loket penerbangan transit. Setibanya di depan loket, aku segera memberikan boarding pass dan ternyata gerbang keberangkatanku adalah gerbang P10. Saat hendak menutup pintu lift, terlihat seorang wanita yang juga ingin naik lift sehingga aku menahan pintu lift. Di sanalah, aku berkenalan dengan wanita itu. Namanya Marni, nama asli Indonesia kan? Ternyata dia lahir di Jogja dan punya rumah di Bantul tapi dia sudah terbiasa berbahasa Inggris, jadi aku dan dia berdialog dengan bahasa Inggris. Kami saling bertanya tujuan masing-masing dan ternyata dia berencana untuk pergi ke Hongkong.

S : Are you alone?

M : Yes, I’m alone. But I’m not lonely *laugh*

S : *laugh too* Ah yes, me too!

Hanya dengan percakapan sederhana sudah cukup untuk membuat kami tertawa. Ternyata berpergian sendirian memang mampu mengenalkanmu pada orang-orang baru. Kemudian dia menawarkan untuk berfoto dan tentu saja aku segera menyetujuinya.

20160108_110604
Foto di depan salah satu toko yang ada di Kuala Lumpur International Airport

Setelah berfoto kami pergi ke tempat money changer, aku memang belum sempat menukarkan uangku di Indonesia. Di dekat tempat money changer terlihat tanda kubah masjid dan tanda panah, pasti itu tanda musholla. Aku menyuruh Marni untuk duluan dan berkata kalau aku ingin solat terlebih dahulu. Musholla di KLIA keren banget! Iyasih, Malaysia juga mayoritas muslim jadi mencari musholla bukan hal yang susah.

Sesampainya di musholla aku ingin menunaikan sholat Zuhur, but wait! Aku segera mengambil handphone membuka aplikasi muslim pro dan merubah tempat menjadi Kuala Lumpur. Ternyata saat itu belum masuk waktu Zuhur. Azan Zuhur masih pukul 13.30. Alhasil, aku tidak jadi solat Zuhur dan aku segera keluar dan berencana untuk menunggu terlebih dahulu di ruang tunggu P10. Alhamdulillah dalam perjalananku menuju P10, aku sempat melewati musholla yang berarti aku bisa solat di sana. Tidak perlu ke musholla awal yang tadi aku masuki.

Sekitar pukul 12.30, aku sudah berada di depan pintu ruang P10, namun ternyata ruangannya belum dibuka. Akhirnya aku menunggu di kursi yang disediakan di depan ruang 10. Kira-kira pukul 13.15, aku pergi ke musholla yang tadi aku lewati. Mushollanya cukup kecil dibandingkan mushoola yang aku masuki pertama kali tadi. Namun bagusnya tetap sama dan ruangannya serta tempat wudhunya benar-benar dipisah antara pria dan wanita.Jadi ga cuma toilet aja yang dipisah, musholla pun juga dipisah disini. Cool!

Setelah sholat, aku membeli roti untuk mengisi perut dan kemudian kembali lagi ke ruang P10. Ruangannya sudah dibuka dan di sini dilakukan pengecekan pasport. Petugas yang melihat-lihat pasportku bertanya kabar baik? Mungkin dia bertanya karena aku menggunakan hijab dan wajahku terlihat wajah asia, jadi aku jawab saja Alhamdulillah baik. Nah, di sini sempat terjadi sedikit masalah. Petugasnya bertanya padaku

P : Do you have alien card?

S: Alien card? What is it? I only have Indonesian ID card.

P: No, it’s alien card from Japan

Akhirnya percakapan terjadi cukup panjang dan alhamdulillah tanpa menunjukkan alien card atau apapun itu, aku segera dipersilahkan lewat. Mungkin karena antrian di belakangku juga sudah cukup ramai. Di sini, aku sempat cemas dan terpikirkan bagaimana bila aku tidak diizinkan masuk Jepang karena tidak punya alien card yang membuatku langsung googling tentang alien card segera setelah aku duduk. Dari hasil pencarianku alien card Japan itu diberikan kepada orang yang menetap cukup lama di Jepang, tapi aku tidak menemukan penjelasan yang lebih dalam sehingga aku berharap aku memang tidak butuh alien card. I’m not an alien, I’m a human! HAHA

Aku menunggu kurang lebih selama 1 jam dan sekitar pukul 14.20 terdengar pengumuman pemanggilan penumpang yang akan berangkat ke bandara Haneda. Oh ya, di ruang tunggu ini berkumpul segala macam jenis manusia mulai dari wajah asia hingga wajah kaukasian. Mulai dari yang pendek hingga  tinggi menjulang. Mulai dari yang rambutnya hitam hingga pirang ataupun menggunakan hijab sepertiku. Bahasa yang terdengar juga bermacan macam. Aku pun mengantri menuju pintu masuk pesawat, dan ternyata tipe pesawat yang aku naiki berbeda. Ini pesawat dengan kapasitas besar, jadi satu baris ada 9 kursi, 3 kursi di kiri, di tengah, dan di kanan. Nah, ini dia pesawat internasional! Penumpang di belakangku adalah dua orang gadis Jepang dan mereka dengan lancarnya berbicara bahasa Jepang, paling yang aku mengerti hanya beberapa patah kata seperti nani, soudesuka, arigatou dan lain-lain. And I felt like getting closer to Japan.

Perjalanan Kuala Lumpur ke Tokyo memakan waktu kira-kira 7 jam dengan perbedaan waktu KL dan Tokyo 1 jam. Selama perjalanan memang terasa membosankan, saat melihat jam tangan baru beberapa menit berlalu, namun untungnya aku menyiapkan buku, handphone, laptop untuk digunakan. Awalnya aku membaca, kemudian melihat handphone juga untuk membaca. Semua jendela pesawat sudah ditutup kecuali jendelaku. Aku masih membutuhkan penerangan alamai dari luar jendela untuk membaca. Penumpang di sampingku terlihat sudah tertidur dan aku juga mencoba untuk tidur setelah cukup lama membaca. Namun, aku tidak bisa tidur hingga yang dapat aku lakukan hanyalah mengamati ke luar jendela. Keindahan langit biru dan awan putih di udara dengan ketinggian yang entahlah berapa sangat aku kagumi dan tak lupa aku mengucap Alhamdulillah untuk semua itu. Langit pun mulai berubah warna. Sang matahari memberikan tanda kepada bulan untuk bergantian bekerja. Sunset dari jendela pesawat benar-benar mengagumkan. Bahkan setiap 5-10 menit sekali aku mengabadikan foto-foto itu dan alhasil aku gabungkan fotonya seperti di bawah ini.

PhotoGrid_1452282945224
Bagus banget, kan?!

Meski terasa lama, waktu tetap berjalan, hingga akhirnya pengumuman kenakan sabuk pengaman dan pemberitahuan pesawat akan segera mendarat terdengar dari speaker. Waktu menunjukkan pukul 21.45. Jendela pesawat segera aku buka dan seketika rasa lelah dan bosan duduk selama 7 jam semuanya hilang setelah melihat indahnya gemerlap lampu dari atas pesawat. Masih dengan rasa tidak percaya, aku akhirnya bisa segera menuju ke salah satu negara yang memang sudah lama ingin aku kunjungi. Jarak pesawat semakin dekat dengan daratan, dan semakin bagus dan meriah pula gemerlap lampu yang terlihat. MasyaAllah

You have arrived in Tokyo International airport, the time shown 22.00, and the temperature is 9 degree Celsius ……………………

Terdengar pengumuman dari speaker dan mataku tak bisa beranjak dari jendela pesawat. Terlihat tulisan berhiaskan lampu merah yaitu Tokyo International Airport. Ya Allah, terima kasih. Pesawat pun berhenti sempurna, semua penumpang segera beranjak dari tempat duduk masing-masing dan mengambil barang di bagasi kabin. Aku juga segera beranjak dan mengambil tas punggungku, berjalan ke luar pintu pesawat. Sayangnya aku langsung dihubungkan dengan bagian dalam bandara Haneda jadi tidak sempat mengambil foto dengan latar belakang Tokyo International Airport atau dengan latar pesawat yang aku naiki, seperti foto yang sedang hits sekarang ini. Namun, apalah arti foto hits itu , yang penting aku bersyukur bisa sampai dengan selamat di negeri sakura ini.

Setelah berjalan cukup lama, aku tiba di tempat pengecekan pasport. Dan yang aku kagumi lagi dari bandara Jepang, kita tidak perlu meletakkan barang bawaan kita, mengeluarkan hp dari saku celana, melepaskan jam dan menaruhnya ke dalam tempat pengecekan barang-barang. Kita hanya tinggal berjalan biasa dan semuanya (termasuk barang bawaanmu) sudah terekam semua lewat mesin canggih. Memang Jepang sangat pantas disebut negara dengan teknologi yang paling maju. Pengecekan pasport berjalan lancar, kecemasan tentang alien card yang sempat dipermasalahkan di KLIA tadi ternyata tidak dipermasalahkan di sini. Setelah itu aku menunggu bagasi dan mengambil bagasi. Kemudian aku berusaha menggunakan free wifi haneda airport untuk menghubungi panitia AIESEC jepang yang berencana untuk menjemputku di bandara. Namun, ada sedikit masalah saat menyambungkan wifi dan sedikit memakan waktu lama walau akhirnya handphoneku tetap tersambung dengan wifi.

Aku putuskan untuk segera keluar dan menemui panitia AIESEC di luar. Terlihat beberapa orang menunggu di depan pintu kedatangan dengan memegang kertas putih bertuliskan nama, namun aku tak melihat namaku di sana. Akhirnya aku menghubungi via line, dan aku mengenali seseorang di sana yang aku perkirakan adalah panitia AIESEC jepang. Akhirnya aku menghampiri kedua orang dari AIESEC tersebut dan mereka juga berjalan mendekat ke arahku. Aku berbasa-basi bertanya apakah sudah lama menunggu, dan meminta maaf (ini minta maaf beneran kok, ga basa-basi) karena sudah membuat mereka lama menunggu.

Hmm ternyata ceritanya panjang, tapi sebentar lagi selesai kok. Oke lanjut! Mereka membelikanku tiket pasmo untuk menaiki kereta menuju apartemenku. Beberapa kali berganti kereta dan aku sadar sepertinya bila sendirian mungkin aku bisa tersesat karena tulisan di sekitarku semuanya kanji. Aku masih bisa membaca hiragana dan katakana, namun kanji? Aku menyerah. Hanya beberapa kata kanji yang aku tau. Baik mari skip perjalanan selama di kereta dan segera buat cerita ini berakhir. Waktu menujukkan hampir tengah malam dan aku tiba di apartemen dengan selamat. Alhamdulillah. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan.

Sekian cerita perjalanan Jepang, ternyata panjang juga ya. Hahaha. Nantikan cerita yang lain (if I have time to write another story).

Advertisements

3 thoughts on “Perjalanan ke Jepang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s