Posted in experience, Japan

Belajar dari Kakek-Nenek

Hari itu, Selasa, 26 Januari 2016, aku pergi ke head office Eisai Jepang seperti biasa untuk menjalani program internship AIESEC. Sebenernya tidak ada jadwal khusus untukku hari ini, jadi aku bisa bermesraan dengan laptop pinjaman dari Eisai mengerjakan beberapa tugas internship. Ditambah lagi karyawan di departemenku ditempatkan terlihat sangat sibuk membahas beberapa rencana ke depan: meeting tiada henti dari pagi sampe siang. Pagi itu aku mendapat tawaran untuk ikut pergi dengan 2 orang karyawan untuk mengunjungi nursery house for elder (semacam panti jompo gitu) pukul 2 siang. Aku langsung mengiyakan karena memang tidak ada jadwal hari ini dan aku selalu tertarik untuk mencoba hal-hal baru. Lagipula daripada seharian duduk di depan laptop, lebih baik jalan-jalan keluar kan ya 🙂

Kurang lebih pukul 2, kami bertiga berangkat dari head office Eisai. Pertama, kami menaiki taksi setelah itu lanjut kereta dan berjalan menuju lokasi. Anak dari pemilik panti jompo menemui kami di depan stasiun dan memandu kami menuju panti jompo tersebut. Sebelum berkeliling di panti jompo, kami melakukan meeting yang membahas tentang kerjasama Eisai dengan panti jompo. Tentu saja aku hanya terdiam dengan percakapan mereka yang berbahasa Jepang. Meski begitu aku mendengarkan dengan antusias, sesekali ikut mengangguk, tersenyum dan ikut tertawa. Anak dari pemilik panti jompo itu bisa berbahasa Inggris sehingga aku dipersilahkan untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Setelah itu, dia menjelaskan secara singkat tentang panti jomponya itu.

Kemudian kami mulai berkeliling panti jompo. Dimulai dari lantai 1 gedung pertama, terlihat 3 nenek sedang duduk di kursi yang mengitari meja. Anak dari pemilik panti jompo itu mendekati salah satu, mendekatkan mulutnya ke telinga sang nenek dan bertanya “nan sai desuka” Aku masih bisa mengerti, bahwa dia menanyakan umur sang nenek. And guess what?! Umurnya 103 tahun. Subhanallah. Dengan umur segitu, sang nenek masih bisa berjalan sendiri! Lagi-lagi aku hanya bisa mengamati tanpa ikut berkomunikasi. Tapi aku tetap menyesuaikan dengan situasi, mengikuti kedua karyawan lainnya yang menundukkan kepalanya (tau kan ya cara orang Jepang memberi salam) dan mengucapkan konnichiwa dan arigatou gozaimasu sambil memberikan senyuman terbaikku. Semoga mereka tau maksud senyumku. Hahaha, maksudnya walaupun aku diem, ga bisa banyak ngomong Jepang, aku tetep peduli dan mau berinteraksi dengan mereka.

Dilanjutkan ke lantai ke 2 dari gedung pertama. Kami menaiki tangga dan karyawan Eisai memberitahuku bahwa di sini tidak ada elevator, jadi para kakek dan nenek yang ada di sini harus lewat tangga dan yeah, mereka masih bisa! Fyi aja, Jepang itu kota yang ramah dengan orang-orang disabilitas. Di setiap stasiun pasti ada elevator dan disetiap kereta ada tempat khusus untuk orang-orang yang disabilitas, misalnya yang pake kursi roda. Terus aku juga liat sendiri kalo orang yang pake kursi roda mau masuk atau keluar kereta bakal ada petugas kereta yang memasang papan besi untuk menutupi celah antara platform dan kereta biar kursi rodanya bisa lewat. Pokoknya ga bisa berhenti salut dengan negara satu ini. Oh ya, lanjut ke lantai 2. Jadi di lantai 2 ini adalah apartemen kakek dan nenek yang ada di sini. Waktu ngeliat ke dalam apartemennya, wow, bagus banget! Fasilitasnya lengkap, ada AC, TV, kamar mandi dalem, kasur, lemari, beranda di luar (kalo kosan, ini udah yang paling mahal kali wkwk)

Di sini, aku mengunjungi dua kamar. “Ojamashimasu” kami masuk ke dalam kamar seorang nenek dan dengan semangat sang nenek membuka pintu ke luar beranda kamar dan mulai bercerita. Lagi-lagi, aku hanya bisa mendengarkan. Beberapa kata yang bisa aku tangkap adalah “hanabi” dan”mieru”, jadi sepengertianku sang nenek mau menjelaskan kalo dari jendela kamarnya itu pemandangannya bagus dan bisa terlihat kembang api. Kemudian ke kamar nenek yang kedua. Di dalam kamar, sang nenek terlihat sedang menonton TV dan saat kami masuk dia juga mulai berkomunikasi dengan karyawan eisai. Karyawan Eisai dengan baik hati mentranslate apa yang dikatakan sang nenek. Ternyata, sang nenek berkata bahwa dia bangga bisa menjaga toilet di kamarnya selalu bersih. Ups, jadi merasa tersindir. Anak pemilik panti jompo pun mengenalkanku kepada sang nenek, berkata “Indonesia kara kimasu” dan aku mengulanginya. “Hai, Indonesia kara kimasu” Kemudian terjadilah beberapa percakapan singkat aku dengan sang nenek. Karyawan Eisai dengan baik hati menterjemahkan perkataan nenek. Sang nenek bertanya padaku berapa lama di Jepang, bagaimana tinggal di Jepang. Aku menjawab dengan bahasa Jepang sebisaku “roku shukan” “nihon wa sugoi desu” dan neneknya berbicara beberapa kalimat dibalas dengan anggukan dan “hai” yang keluar dari mulutku. Kemudian neneknya bertanya lagi “kamu masih single” Eeeeeeh, kok pertanyaannya hahaha. And at last, this really touch me and I feel like want to shed my tears, ketika karyawan Eisai bilang ke neneknya kalo aku bakalan jadi dokter terus neneknya bilang “ganbatte ne! ganbatte kudasai” Huaaaaaaa, langsung aku nunduk-nunduk bilang “arigatou gozaimasu” Entahlah rasanya sangat sesuatu disemangatin sang nenek :’) Di umurnya yang udah segitu, dia masih terlihat ceria bahkan nyemangatin aku. Huaaaaaaaa, jadi orang tipe “feeling” emang gini sih. Dikit-dikit baper. Terus sempet dijelasin juga kalo sang nenek ini ga ada keluarga, cuma ada saudara perempuan, dan sebelum ke panti jompo ini, sang nenek tinggal sendiri dan ga bisa jalan, jadi cuma bisa berbaring di tempat tidur. Sudah banyak dokter, perawat atau tenaga kesehatan lainnya yang dateng buat bantu dan ngobatin tapi semuanya menyerah sampe akhirnya sang nenek diserakan ke panti jompo ini dan sekarang udah bisa gerakin tubuhnya. Tadi aja dia lagi duduk nonton TV kan :’)

Oke, terus lanjut ke lantai pertama dari gedung kedua. Nah, di sini terlihat sekitar 8 orang lansia. 3 orang duduk di kursi depan TV dan 5 orang lainnya duduk mengitari meja panjang dengan memegang kartu di tangan masing-masing. Aku segera tertarik melihat permainan kartu dan bertanya-tanya mereka lagi main apa ya pake kartu remi? Apa mungkin main cangkul, 41, tepuk nyamuk, poker. Aku segera berdiri di dekat meja mereka bermain, memperhatikan. Menganalisis sebentar apa yang mereka mainkan dan aku langsung tau jenis permainan apa yang mereka mainkan! Jadi, mereka bermain mengurutkan kartu sesuai gambarnya dan angka dari tertinggi ke terendah. Apabila di tangannya ada kartu yang sesuai, mereka mengeluarkannya dan menyusun kartunya di meja. Terlihat salah seorang nenek telah menghabisi kartu di tangannya dan dia bertepuk tangan gembira karena dia telah “menang”. Aku pun ikut bertepuk tangan. Aku mengamati hingga mereka selesai bermain kartu (emang bentar lagi selesai sih) dan ikut bertepuk tangan karena semua kartu sudah tersusun dengan rapi. Nah, di sini baper juga, rasanya pengen nangis. It’s only a small things, yang mungkin bagiku itu bukan mainan, cuma nyusun kartu dari tertinggi sampe terendah terus dikelompokin sesuai gambarnya, but I can feel their happiness. Ya, di sini aku belajar terkadang hal sederhana sudah cukup untuk membuat bahagia.

playing-cards
Nah, gambar ini beneran persis kayak permainan mereka. Iya, mereka mainnya nyusun kartu sesuai gambar dan urutan.

Nenek di dekatku bertanya sesuatu dengan bahasa Jepang, namun aku tak mengerti “sumimasen, nihonggo wa wakarimasen”. Cuma bisa ngomong gitu soalnya kedua karyawan eisai juga sedang berkomunikasi dengan yang lain, jadi tidak ada yang bisa membantuku menterjemahkan perkataan sang nenek. Di kelompok lansia yang main kartu ini, ada seorang lansia yang pernah ke Indonesia. Jadi saat aku dikenalkan, sang kakek langsung bertanya “nan ji desuka” Awalnya heran kenapa dia nanyain jam, terus tiba-tiba kakeknya bilang “Selamat Sore” Waaaaaaah, langsung aku respon selamat sore dan bilang “sugoi!”. “Douzo” Seorang nenek mempersilahkanku duduk di salah satu kursi yang kosong. Aku duduk di samping kakek yang pernah ke Indonesia. Alhamdulillah, saat itu karyawan Eisai sudah selesai mengobrol dan membantuku mentranslate perkataan sang kakek. Kakeknya nanyain aku dari kota apa? “Jakarta?” “Bali” Terus aku cuma bisa bilang jakarta sama bali sambil geleng-geleng. “Jakarta janai?” kakeknya nanya lagi dan aku bales “hai, jakarta janai”. Aku bilang aja aku dari Palembang meski aku tau kayaknya kakeknya juga gatau di mana Palembang. hehe Dia juga cerita kalo dia punya rumah di Bali dan suka ngambil foto-foto di Bali. Yes, Bali is really that famous!

Terus lanjut ke lantai 2 ya. Jadi di sini juga ada beberapa kamar. Masuk ke salah satu kamar seorang kakek. “Ojamashimasu” Di dalem kamarnya, bersih dan barang-barang tersusun rapi. Bahkan di kamar yang aku kunjungi ini, ada satu kotak khusus buat origami bentuk burung. Pokoknya semua kamar di sini bersih dan rapi banget. Kalo inget kamar sendiri, ya udah jelas sih bersih dan rapinya. Jelas kalah.

Akhirnya, kunjungan kami hari itu berakhir. Kami kembali ke tempat meeting pertama tadi dan mengambil foto bersama. Seneng banget berkesempatan mengunjungi salah satu panti jompo di Jepang dan sedikit berinteraksi dengan orang-orang di sana. Meski ga bisa bahasa Jepang, tapi komunikasi masih bisa berjalan. Bahkan saat kami pamit, salah seorang kakek melambaikan tangannya dan aku membalasnya dengan lambaian tangan juga. Banyak belajar lagi dari pengalaman hari ini. Dukungan lingkungan, termasuk keluarga, teman-teman, atau kelompok sangat dibutuhkan dan memang bisa memberi pengaruh dalam hal kesehatan, terutama kepada lansia. Entahlah, rasanya juga kagum sama orang yang buat rumah untuk lansia yang bisa memfasilitasi para lansia itu untuk melakukan kegiatan bersama, bermain bersama. At least mereka ga bakal ngerasa kesepian, apalagi kalo yang ga ada keluarga. Pesan yang bisa diambil dari sini juga selalu hormati dan sayangi orang tua kita. Bukan cuma kita yang tumbuh dewasa, tapi orang tua kita juga! Kemudian pesan lain yang juga ga kalah penting adalah tentang kebahagiaan. Bahagia itu sederhana. Bahkan dari hal-hal kecil di dalam hidup kita, kita bisa bahagia, sepanjang kita mensyukurinya.

20160126_163306
This is our picture 🙂
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s