Ketika Tikus Datang

Tulisan ini hanya tulisan iseng yang tepat aku buat setelah beberapa menit berhasil “mengusir” tikus di rumah. Dan tentunya bukan aku yang berhasil mengusir tikusnya.

Kejadian itu diawali saat aku duduk di depan laptop, bermain Disney Magic Kingdoms, melihat ke arah depan tepatnya ke pintu kamar. Terlihat gerakan pelan dari makhluk berwarna abu-abu. Sekilas terlihat seperti cicak dengan ukuran raksasa, namun setelah otakku memproses makhluk apa yang baru saja aku lihat, kemudian sang otak segera memerintahkan mulutku untuk berteriak panik, memanggil teman sekamar dan segera memeluk bantal yang memang saat itu berada di dekatku.

Temanku juga membuat reaksi yang sama denganku ketika melihat makhluk itu, berteriak. Jadilah kolaborasi teriak dan panik memenuhi kamar. Ya, kami hanyalah dua wanita biasa yang tak berani untuk memulai serangan pada makhluk abu-abu kecil dengan ekornya yang panjang dan kaki kecilnya yang lincah. Alhasil, kami segera mengunci pintu kamar dan membiarkan tikus itu menjelajah ruang tengah (sekaligus ruang dapur). Membuat kami parno sendiri saat keluar dari kamar, berteriak tanpa alasan padahal hanya karena tiupan angin yang membuat bagian baju tidurku bergerak dan menyentuh kaki.

Kira-kira 1 jam lebih, kami bisa tenang di dalam kamar, hingga temanku yang satu lagi menuju dapur. Terdengar teriakannya. Feelingku sudah mengatakan bahwa dia juga melihat makhluk kecil tersebut. Dan ternyata benar, segera terdengar pintu kamar kami diketuk dan dia memanggil kami berdua. Aku segera membuka pintu kamar. Melihat makhluk kecil itu menari-nari di bawah tempat mencuci piring membuatku makin ngeri dan menambah kepanikan di dapur. Aku segera memutar otak mencari suatu papan atau sejenisnya yang bisa digunakan untuk menutupi ruangan kecil di bawah tempat mencuci piring itu. Dengan tujuan agar tikusnya tidak kabur. Aku segera berpikir begini karena aku sering melihat Ibu dan Bapak yang sedang “memburu” tikus  di rumah melakukan hal seperti ini. Mengurangi jangkauan tikus agar lebih mudah ditangkap.

Akhirnya satu papan tripleks yang ada di atas kasur-dua-tingkat di kamar kami berhasil kami jadikan korban untuk mengurangi lahan tikus bergerak. Kedua ujung papan tripleks kami sangga dengan rice cooker. Ya, kami berusaha semaksimal mungkin untuk membangun pertahanan. Setidaknya kami berhasil membuat jangkauan tikus lebih sempit.

Pertolongan pun datang saat tetangga sebelah datang dengan membawa senjatanya, sapu. Saat pertolongan datang, situasi berubah, kami yang berada dalam mode bertahan kini sudah berubah menjadi mode menyerang, meski mode menyerangnya berasal dari kedua tetangga kami yang datang.

Penyerangan mulai dijalankan, dengan memegang sapu, tetangga kami mulai masuk ke medan perang, dan melihat lawan untuk selanjutnya berkomentar: Tikusnya kecil. Meminta kami mengambilkan serokan. Aku segera mengirim serokan kepada mereka. Serangan pun dimulai. Papan tripleks yang tadi digunakan untuk menutupi areanya, dibuka dan keluarlah musuh kecil kami. Makhluk kecil abu-abu yang dengan kaki kecilnya lincah bergerak sekarang menuju ruang tamu dan dengan suara mendecitnya yang membuat keadaan semakin horor. Padahal aku dan satu temanku sedang menyelamatkan diri ke ruang tamu. Karena kami masih dibawah kendali panik, kami segera naik ke atas kursi, berteriak ketakutan, melihat tetangga kami yang membawa musuh kami di atas serokan dan segera menuju pintu keluar. *Kalo diinget-inget, emang konyol banget sih, tapi namanya juga panik dan takut, udah ga peduli lagi sama rasa malu, udah ga peduli lagi kalo perbuatan naik ke atas kursi dan dilihat tetangga itu ternyata perbuatan konyol.

Ya, setidaknya musuh kecil itu telah pergi. Meskipun masih meninggalkanku yang parno sendiri, siapa tau masih ada keluarganya yang tertinggal. Semoga tidak ada.

Advertisements

2 thoughts on “Ketika Tikus Datang

  1. Jejak Parmantos March 26, 2016 / 4:20 pm

    Lah bukannya dikampus sering berkesperimen dengan tikus (mencit) ya? masih parno aja haha

    • saniarifa March 26, 2016 / 11:06 pm

      Beda mas, kan kalo di kampus tikusnya jinak (?) Udah ditaruh di tempatnya terus tinggal disuntik, nah klo yg tikus kemaren bisa lari dgn lincah kan tetep aja serem ._.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s