Posted in feeling, heart, Sharing

Bagaimana Manusia Tau?

Salah satu hal menarik dari sesi skills lab tadi adalah salah seorang temanku menanyakan kepada dokter tentang hal ini. Bagaimana caranya agar kita bisa berbuat baik? Karena terkadang kebaikan menurut versi orang itu berbeda-beda, ada yg menganggap melakukan A adalah hal yang baik, tapi yang lain justru menganggap melakukan A adalah hal yang buruk. Jadi bagaimana kita harus bersikap?

Ya, kamu jangan menggunakan derajat kebaikan orang lain. Itu bisa berarti kamu belum punya ukuran baik menurutmu. Kalo udah punya ukuran baikmu sendiri, ngapain repot-repot mikirin orang lain. Kurang lebih ini jawaban langsung dari dokternya. *fyi, topik skills lab kali ini adalah tentang pemeriksaan kelainan/penyakiy mental minor dan tadi sekalian konsultasi gratis dengan dokternya tentang masalah apa saja khususnya masalah kejiwaan.

Entah kenapa setelah mendengar ini aku justru terfikir tentang derajat kebaikan itu sendiri. Bagaimana manusia menilai sesuatu sebagai hal yang baik? Bagaimana manusia mengetahui kalau sesuatu itu adalah hal yang buruk? Sekarang, izinkan saya bertanya kepada Anda. Apakah mencuri hal yang baik? Pertanyaan ini sangat mudah, dan saya rasa kebanyakan orang akan menjawab tidak. Sekarang, saya ingin bertanya lagi. Apakah menolong orang yang sedang kesusahan merupakan hal yang baik? Jawabannya? Iya. Saya rasa kebanyakan orang juga akan menjawab iya.

Sekilas, terlihat jelas bukan? Mana yang baik dan mana yang buruk. Namun, bagaimana manusia tau? Apakah ukuran baik-buruk itu dinilai dari mayoritas suara? Apakah mencuri dapat disebut hal yang baik apabila 99% orang mengatakan itu adalah hal yang baik? Lantas apakah menolong orang lain menjadi hal yang buruk apabila 99% orang mengatakan itu adalah hal buruk? Tentu saja tidak.

Lalu, bagaimana manusia tau? Bahwa mencuri adalah hal yang buruk dan menolong adalah hal yang baik. Tidak peduli bangsanya apa, sukunya apa, tinggalnya di mana, berbahasa apa, agamanya apa, warna kulitnya apa; maka kebanyakan orang tau bahwa  menolong adalah perbuatan baik dan mencuri adalah perbuatan buruk.

Lalu, bagaimana manusia tau? Padahal tidak ada yang mengajari manusia. Ternyata dari sinilah teringat sebuah kalimat bahwa manusia itu diciptakan dengan fitrahnya. Tidak peduli perbedaan yang ada, manusia akan selalu sesuai dengan fitrahnya.

Sebenarnya, mencuri dan menolong merupakan contoh yang sangat ekstrim dan jelas. Dan hidup tentu tidak sekadar tentang mencuri dan menolong. Masih banyak hal lain yang terkadang membuat manusia bertanya-tanya tentang apakah ini baik atau apakah ini buruk?

Di saat orang-orang sibuk mencari tentang makna kebaikan, versi kebaikan mana yang harus diikuti, maka saya merasa sangat beruntung telah dijadikan seorang Muslim. Mengapa? Karena saya tak  akan bingung mencari kebaikan versi siapa yang harus saya ikuti. Apakah kebaikan versi kamu, kebaikan versi dia, kebaikan versi kalian, kebaikan versi mereka, atau justru kebaikan versi saya sendiri. Saya tidak perlu bingung. Di tengah semua persepsi orang-orang tentang kebaikan, maka hanya ada satu kebaikan yang harus saya ikuti. Kebaikan versi Islam. Jadi, setiap kali saya bingung apakah ini berbuat baik atau tidak, saya selalu tau ke mana harus bertanya. Bukan ke kamu, bukan ke dia, bukan ke kalian, bukan ke mereka, tapi kepada Islam lewat Al Quran dan Sunnah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s