Posted in college, experience

Aksi Pertamaku

Tak pernah terpikirkan olehku bahwa aku bisa berdiri di keramaian ini. Ikut dalam dalam kerumunan penyampaian aspirasi. Menuntut hak yang selama ini tak pernah didapat meski kewajiban telah dilaksanakan. Menyuarakan keluhan-keluhan yang selama ini hanya di read saja. Meski aku hanya sebagai saksi dalam semua keramaian hari itu, namun aku tak pernah menyesal melangkahkan kaki menuju keramaian massa yang berjuang melawan kebijakan penguasa yang semena-mena.

Siang itu sekitar pukul 12, tepatnya setelah salat Zuhur, akhirnya aku dan teman-temanku memutuskan melangkahkan kaki menuju gedung sang penguasa. Dengan alasan yang mungkin tak begitu penting, hanya ingin melihat bagaimana keadaan di sana secara langsung. Kami juga tak tau harus berbuat apa di sana, selain itu kami masih ada jadwal tutorial pukul 13.00, jadi kami harus segera kembali ke fakultas. Ternyata kerumunan yang tadinya kami lihat melalui foto-foto di sosial media justru berkurang. Alasannya? Simpel, karena saat itu adalah jam ishoma, massa yang berkumpul sedang bubar untuk solat Zuhur atau mungkin juga sedang makan.

Aku dan ketiga temanku bertemu teman lain dari fakultasku yang sudah tiba di sana lebih dulu, berbincang-bincang hingga akhirnya kami dipanggil untuk menjadi tim medis dadakan, menuju ke satu ruangan, meski di ruangan itu kami pun juga tak melakukan apa-apa. Malah disuruh keluar karena terlalu memenuhi ruangan. Baiklah. Kami duduk di tangga di dekat ruangan utama. Hingga terdengar suara yang menginformasikan bahwa sang penguasa mau pulang. Seketika api di dalam jiwa juga ikut membara. Bagaimana bisa dia pulang tanpa menemui massa, tanpa memberikan respon. Aku dan temanku mengikuti ke arah keramaian berjalan. Katanya sih mau menuju ke arah mobil sang penguasa, entah benar atau tidak. Tapi tujuan kami bukan ke sana, melainkan kembali ke fakultas karena waktu hampir menunjukkan pukul 13.00.

Ternyata setelah sampai di fakultas menunggu dosen, jadwalnya diresched. Agak menyesal karena seharusnya kami tidak perlu kembali ke fakultas. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 14.00. Segera aku dan temanku kembali ke keramaian massa di rumah sang penguasa. Kali ini kami juga disuruh membantu tim medis, meski sebenarnya itu hanya titel belaka karena kami memang bukan tim resmi dan kami hanya duduk-duduk sambil menunggu keramaian massa mulai bersuara lagi. Akhirnya setelah pukul 14 lewat, suara dari massa keramaian dimulai lagi.

Kemudian, aku menjadi saksi saat momen sang penguasa dengan baju putih yang dikenakannya akhirnya keluar menemui keramaian massa. Namun, ternyata hanya sebentar saja karena rombongan baju putih itu segera berbalik badan, tak mau melanjutkan bicara hanya karena kami dirasa tak menghargainya. Oke. Baiklah. Mungkin memang kami emosi. Lha, tapi sebenarnya siapa yang lebih berhak marah?

Azan asar pun tiba, aku dan teman-temanku salat Asar dulu. Pesta rakyat yang kata sang penguasa adalah “simulasi aksi” atau “praktikum berdemonstrasi” atau apapun istilah yang dibuat-buatnya masih tetap panas membara. Hingga saat kami kembali dari solat Asar, keramaian massa makin bertambah. Rasanya senang melihat banyak orang yang mau ikut peduli meski sekedar meramaikan saja, ya sama sepertiku. Kemudian konferensi pers dengan salah satu perwakilan dari keramaian massa dimulai, menyampaikan bahwa ini bukanlah simulasi demo atau praktikum demonstrasi, ini murni aksi untuk menyampaikan aspirasi rakyat, untuk menyampaikan keluhan-keluhan penting yang selama ini hanya didengar saja.

Momen yang paling penting adalah saat semua keramaian massa disuruh duduk, “panggung” di depan dikosongkan, kursi putih ditarik untuk menyambut kedatangan sang penguasa dan tentu saja mendengar respon jawaban darinya tentang tuntutan yang telah diajukan. Sesekali emosi menguap, namun kami ingat kami masih bertata krama, jadi setiap kali ada orang yang ingin mulai berteriak marah (karena jawaban dari sang penguasa yang memang mengundang emosi), maka yang lain mengeluarkan suara “sssssstt” mendiamkan memberi tanda bahwa kita harus tetap tenang. Akhirnya semua tuntutan yang diberikan tak hanya diread saja, tapi juga di balas. Jawaban semua tuntutan diklarifikasi, bahkan bila jawaban tuntutan belum bisa dijawab saat itu juga, sang penguasa langsung diberikan deadline agar tak lagi menunda-nunda.

Jujur, baru pertama kali aku mengikuti aksi seperti ini. Namun, aku tak menyesal. Aku senang bisa berpartisipasi meski hanya sebagai saksi. Aku kagum kepada mereka yang peduli dan mau bergerak padahal apa yang mereka dapatkan. Mereka justru membela hak-hak orang lain yang tertindas, mengubah aturan yang tak lagi masuk akal. Aku sadar bahwa kita mahasiswa, tak bisa hanya diam saja.

Advertisements

4 thoughts on “Aksi Pertamaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s