Keping-keping Memori Masa Kecil

Pagi hari menggenggam tangan Ibu saat berjalan menuju taman kanak-kanak untuk pertama kalinya. Ditunggui ibu dari pagi hingga TK usai. Hingga beberapa hari setelahnya sudah tidak lagi ditunggui, justru menyuruh ibu pulang. Siang harinya bersama sang kakak pergi menuju tempat mengaji di tempat yang sama dengan taman kanak-kanak. Dulu anak-anak masih dengan bebasnya berpergian, berjalan kaki, tanpa orang tua khawatir berlebihan terhadap anaknya.

Berteriak memanggil teman di depan pagar rumahnya untuk mengajak bermain bersama, entah bermain sepeda, bermain kelereng, petak umpet, benteng, cak engkleng, layang-layang, lari-larian, dan lain-lain. Menunggu hingga sang teman keluar rumah atau sang ibu menjawab bahwa teman masih tidur atau masih ada kegiatan lain sehingga tidak bisa ikut bermain. Begitu juga dengan mengajak mengaji. “Main yuuk” “Ngaji dak?” Itulah teriakanku dulu di depan rumah teman-teman masa kecilku atau apa yang aku dengar dari dalam rumahku. Dulu tidak ada handphone untuk memberitau sang teman bahwa aku sudah di depan rumah.

Bermain di dalam kelas TPA (Taman Pendidikan Al-Quran). Dari sekadar bermain bermacam-macam permainan tepuk tangan (domikado, abcd, dll), ampar-ampar pisang, sembunyi kertas, hingga pernah bermain kasti dari kertas bekas yang diremas dan dibentuk menjadi “bola kasti” dengan kayu dari kaki meja yang patah menjadi pemukulnya. Kalau aku dan teman-teman yang perempuan juga tak lupa bertukar kertas orji dan kertas binder. Ada banyak macam jenis kertasnya, ada yg biasa, ori, harvest, dan kertas berbentuk. Dulu banyak sekali jenis-jenis permainan bahkan dari barang-barang sekitar bisa terinspirasi untum membuat mainan baru.

Bermain di halaman masjid karena saat itu masjid sedang direnovasi. Gundukan pasir dan gundukan batu membuat kami tertarik untuk segera melangkahkan kaki-kaki kecil kami ke sana. Mendaki gundukan pasir yang kami anggap sebagai mendaki gunung, mencari “harta karun” di tengah gundukan batu. Padahal hanya mencari batu-batu yang unik saja.

Mencari capung-capung kecil di sela-sela tumbuhan di parit kecil dekat masjid seusai pulang mengaji. Kadang mengadu sang capung, membawanya ke rumah untuk dijadikan hewan peliharaan yang padahal tak bisa bertahan satu hari saja, atau langsung melepaskannya ke alam bebas setelah berhasil ditangkap. Mencari biji kecil yang apabila bijinya terkena air akan langsung meletus. Menyentuh putri malu untuk selanjutnya apabila daun putri malu tertutup, langsung tersenyum, seperti ada kesan puas tersendiri yang muncul dari dalam diri karema berhasil membuat sang putri menjadi malu.

Saat Ramadhan tiba, seusai solat Subuh, anak-anak berjalan kaki keliling kompleks bahkan pernah hingga ke kompleks sebelah dan ke terminal yang jaraknya lumayan jauh. Bertemu dengan anak-anak kompleks lain yang juga berjalan-jalan. Entah tujuannya apa, saat itu aku hanya ikutan kakakku dan teman-temannya. Sepertinya berjalan-jalan bersama terlihat seru.

Kala hujan turun, justru bergembira meminta izin kepada Ibu untuk mandi hujan. Merajuk apabila tidak diizinkan. Berlari-larian dengan anak-anak lain diterpa air hujan. Terkadang mandi di atas rumah, karena saat itu di atas rumah masih lahan kosong belum ada rumah tingkat 2.


Tentu masih banyak kepingan lain yang terlintas dalam pikiranku selain beberapa keping yang aku tulis di atas. Keping-keping memori masa kecil itu berdatangan saat aku mengunjungi rumah lamaku, yang sekarang sudah dijual ke orang lain. Melihat rumah-rumah tetanggaku yang semuanya sudah berubah. Melihat rumah dari ujung ke ujung jalan, mengingat semua tetangga di sepanjang jalan dan bertanya-tanya kabar mereka sekarang.

Aku sempat tinggal kurang lebih selama 12 tahun di rumah lamaku itu. Saat aku kelas 1 SMP, keluargaku pindah ke dalam kompleks perusahaan, yang lingkungannya sangat berbeda dengan lingkungan rumah lamaku. Di kompleks perusahaan ini, semua orang lebih sering mengurung diri di dalam rumah, sore hari tidak ada anak-anak yang keluar rumah untuk bermain bersama, tidak ada ibu-ibu yang keluar sekadar untuk ngerumpi atau mengawasi anak-anaknya bermain. Aku tak mengenal tetanggaku di sepanjang jalan, paling aku hanya tau tentang mereka apabila Ibu dan Bapak bercerita tentang mereka. Ditambah lagi saat aku kelas 3 SMA, aku harus pindah rumah lagi, tetap di kompleks perusahaan namun di jalan yang berbeda. Kesibukanku di kelas 3 SMA hingga lingkungan rumah yang memang cenderung apatis, membuatku tidak mengenal tetanggaku bahkan aku tak tau tetangga samping dan depan rumahku. Pun saat ini, rumah di sampingku sudah tidak ada lagi penghuninya karena orang-orang juga sudah pindah ke rumah baru lagi. Kami juga akan segera meninggalkan rumah sekarang, karena Bapak sudah pensiun, sudah tidak ada hak lagi untuk menempati rumah di kompleks perusahaan.

Aku menulis postingan ini karena aku bersyukur bahwa masa kecilku bahagia. Bukan masa kecil yang tidak bahagia. Aku tak tau bila aku sudah tinggal di komplek perusahaan sejak kecil, mungkin masa kecilku tidak akan semaksimal saat masa kecilku di lingkungan rumah pertamaku. Aku menikmati masa kecilku. Bisa bermain bersama teman-teman, bergerak aktif, berlarian, bermain permainan tradisional, pergi berjalan kaki menuju TPA. Aku juga berharap semua pengalaman masa kecilku itu bisa dirasakan oleh anak-anak yang hidup di zaman sekarang. Tidak hanya berkutat di depan televisi atau bermain game di layar handphone atau tablet.

PS: nulis ini jadi bikin baper, jadi sadar kalo diri ini sudah tak kecil lagi :”)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s