Posted in Uncategorized

Budaya “Dulang”

Tulisan ini terinspirasi dari seorang dokter yang menjadi instruktur saat saya dan teman-teman melakukan field visit ICU di salah satu rumah sakit di Jogja.  Ternyata dokternya adalah dokter alumni FK UGM angkatan 2003. Jadilah selain menjelaskan tentang ICU, beliau banyak sharing tentang UGM dan juga tentang pengalaman beliau. Beliau bercerita bahwa di tahun 2003 (di angkatannya), mulai dijalankan sistem PBL (Problem-Based Learning) di FK UGM. Intinya sistem PBL ini membuat sistem belajar lebih terfokus pada mahasiswa (student-centered), mahasiswa harus belajar dari masalah yang ada dan berusaha menemukan solusinya. Namun, yang terasa berbeda adalah di sini mahasiswa tidak lagi didulang. (ngomongin dulang jadi inget makanan, jadi inget masa kecil yg sering banget didulang bapak/ibu. Sekarang udah ga didulang lagi :”) Oke back to topic. Sebelum sistem PBL, mahasiswa diberikan materi bertumpuk-tumpuk tak terkira banyaknya dan “dipaksa” untuk mempelajari semuanya karena kalau tidak belajar semuanya, maka ancamannya adalah nilai ujian bakal jelek. Jadilah mahasiswa harus mempelajari semuanya.

Nah, kalo sistem PBL, mahasiswa harus lebih aktif untuk belajar sendiri dari sumber-sumber lain. Jadi, dosen hanya memberikan kuliah singkat 1 jam padahal materinya banyak tak terkira dan memang fungsinya hanya untuk memantik mahasiswa belajar lebih dalam, belajar sendiri. Bisa dari textbook, ebook, jurnal, internet dan lain-lain. Dari pengakuan dokternya ternyata sistem PBL ini memiliki kekurangan. Kenapa? Karena tipikal orang Indonesia itu senangnya di dulang. Liat saja sejak SD, kita selalu didulangin materi oleh guru, diberi tau buku pelajaran yang digunakan, disuruh mempelajari topik tertentu untuk ulangan. Nah, karena sudah terbiasa didulang, maka untuk makan sendiri pun menjadi lebih susah.

Makanya dengan sistem PBL ini, walaupun mahasiswa disuruh makan sendiri, tapi tetap saja mahasiswa hanya makan yang didulang dosen. Mahasiswa menganggap bahwa mempelajari “sedikit” materi yang dijelaskan dosen selama kuliah saja sudah cukup. Alhasil dokternya bilang: dokter yg angkatannya belum menerapkan sistem PBL lebih banyak ilmunya dibanding dokter yg angkatannya sudah menerapkan sistem PBL. Karena sebelum sistem PBL, mahasiswa didulang dan “dipaksa” mempelajari lebih banyak materi yang memang sudah diberikan. Paling tidak, karena sudah pernah membaca, saat jadi dokter akan teringat bahwa memang dulu pernah belajar tentang hal tersebut. Berbeda dengan sistem PBL, dimana waktu 1 jam kuliah dosen sangat kurang untuk mempelajari materi yang diberikan, sehingga mahasiswa disuruh mendalami sendiri materi yang diberikan. Sayangnya jarang sekali mahasiswa mendalami materi yang diberikan dengan membaca textbook, ebook, jurnal dan referensi lainnya karena mempelajari materi yang diberikan dosen saja sudah alhamdulillah kalo bisa paham ._.v Jadi kadang saat di prakteknya, saat dipertemukan dengan kasus, mahasiswa merasa belum belajar karena memang tidak dijelaskan dosen. Sebenernya tergantung masing-masing individu sih, gimana cara beradaptasi dari fase makan yang biasanya didulang terus jadi makan sendiri. Kalo SD, SMP, SMA biasa didulang, jadi kuliah harus bisa makan sendiri. Harus bisa memanajemen sendiri dan memilih mana referensi yang seharusnya dibaca, mana materi yang harus lebih didalami.

Oh ya, satu lagi pesan dokternya yang waktu itu bener-bener aku catet adalah memanfaatkan koas sebaik mungkin. Kalo bisa harus aktif, kalo ada yang ga ngerti tanya ke dokter, residen, perawat, dan belajar lagi. Biasanya pas koas juga karena langsung dihadapkan dengan kasus nyata/ dengan pasien biasanya materi yang dipelajari jadi lebih inget. Nasihat dokternya cukup meningkatkan tekadku buat memanfaatkan waktu koas dengan sebaik-sebaiknya. Mungkin ini karena emang sadar diri aja sih, aku sekarang udah tahun tua, udah ga bisa menyesali yg terjadi, jadi yang terjadi biarlah terjadi. Sekarang, harus semangat menatap masa depan. Istilah gaulnya harus move on. Semangat!

Nb : lagi ngecek draft terus ketemu tulisan lama ini. Ya udah, daripada dibuang sayang, mending di posting aja.

Advertisements

6 thoughts on “Budaya “Dulang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s