Posted in feeling, heart, Self, Sharing, Uncategorized

Dibalik Semua Tentang

Belakangan ini banyak kejadian yang menambah beban pikiran. Tapi yang mau aku share bukan tentang apa aja pikiranku yg riweuh itu tapi tentang beberapa pelajaran yang bisa aku ambil dari beberapa kejadian tersebut:

1. Tentang ga lulus osce kompre. Hari itu aku membuka notif line teman-temanku yang pesannya berisi “eh gimana hasilnya?” Dari pesan itu aku tau bahwa pengumuman osce kompre sudah keluar. Aku langsung membuka grup angkatan dan ternyata memang benar bahwa hasil osce kompre sudah keluar, lengkap dengan gambar pengumumuan hasil osce yang difoto oleh salah satu teman angkatanku. Setiap gambar aku buka, melihat sekilas untuk mencari namaku dan ternyata hasilnya aku tidak lulus. Iya secepat itu. Sepertinya baru saja tadi hidupku penuh dengan harapan dan doa-doa agar lulus osce tapi ternyata dalam waktu semenit harapan itu langsung hilang. Well, namanya juga hidup ya, ga mungkin setiap harapanmu terkabul. Aku masih dengan mekanisme pertahanan menerima dan berusaha menghibur diri. Setelah tau aku tidak lulus, hal yang aku lakukan pertama adalah memberi kabar kepada ibu bapak.

“Bu, aku ga lulus osce. Maaf ya”

Pesanku singkat, karena aku sebenernya tak tega memberi tau kabar tentang ketidaklulusanku. Aku merasa bersalah dan aku takut mengecewakan orang tuaku. Tidak lama dari itu, hapeku berdering, dengan segera aku menarik tombol hijau di layar. Di ujung sana terdengar suara ibuku.

“Yaudah gapapa mbak. Semangat terus. Santai aja, dijalanin semuanya, emang udah ada waktunya masing-masing kan. Jangan lupa doanya dibanyakin terus, tahajudnya juga.”

Seketika rasa bersalah itu berubah menjadi haru. Bagaimana tidak, orang tuaku tidak marah, tidak menyampaikan rasa kecewanya, namun justru menghiburku, membesarkan hatiku. Dan semoga kekosongan waktu menunggu koas bisa aku isi dengan rencana-rencanaku yang pada akhirnya dapat menambah tingkat ketakwaanku kepadaNya.

Selain itu masih ada lagi pelajaran yg bisa diambil dari ketidaklulusanku ini yaitu tentang meremehkan. Jujur, stase osce yang harus aku ulang bisa dibilang stase yang “mudah” karena sejak tahun pertama stase itu selalu ada. Walau memang pemeriksaannya harus lebih lengkap di osce kompre ini. Stase ini selalu menjadi stase favoritku. Aku merasa sudah bisa dan aku tidak mengikuti sesi latihan stase ini. Ya, aku tau, aku terlalu meremehkan. Mungkin karena ini Allah ingin memberikan pelajaran padaku bahwa jangan pernah meremehkan sesuatu. Rasanya masih sakit hati setiap belajar ulang stase ini, dan aku masih saja mengutuk kebodohan diri yang tidak bisa mendiagnosis penyakit dengan benar. Alhamdulillah sekarang sudah bisa menerima rasa sakit hati itu. Jangan pernah meremehkan ilmu, apalagi ilmu ini nantinya akan aku gunakan untuk berhadapan dengan manusia #selfreminder

2. Tentang hakikat melepaskan (dan takdir). Ada suatu peristiwa sederhana yang mengingatkanku tentang hakikat melepaskan. Waktu itu kira-kira 2 bulan yang lalu, aku ninggalin suatu barang milikku di suatu tempat. Waktu mau pulang baru inget kalo aku ninggalin di tempat itu. Karena males ngambilnya, akhirnya aku berencana buat ngambil barang itu keesokan harinya aja, eh terus lupa lagi. Ya udah akhirnya aku melepaskan barang itu. Paling ntar ada yang ngambil atau ada yg buang, pikirku dulu. Beberapa hari yang lalu aku pun ke tempat itu lagi (tempatnya emang jarang aku datengin), dan aku melihat sesuatu yang familiar. Ternyata barang yang aku tinggalin dan sudah aku relakan sejak 2 bulan yang lalu masih ada di situ, di tempat yang persis saat aku ninggalin barang itu. Sederhana banget sih emang hehe. Tapi cukup mengingatkan tentang iman kepada takdir.

“Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.” Umar Bin Khattab .

3. Tentang rasa hampa dan ketenangan. Ada saatnya perasaanmu serasa kosong. Rasanya ada lubang yang membuka lebar di hatimu, tapi kau tak tahu bagaimana menutup kembali lubang itu. Rasanya ada sesuatu yang hilang. Kau tak tau pergi ke mana, kau tak tau apa yang kurang, kau tak tau harus berbuat apa. Dan setiap perasaan itu muncul seperti ada rasa rindu yang menghujam. Setiap kali perasaan itu datang aku mencoba meyibukkan diriku, mendengarkan lagu, mencoba menonton film, mencoba mengobrol, mencoba jalan-jalan namun tetap saja perasaan hampa itu ada. Hingga akhirnya aku mencoba untuk mengunjungi rumahNya. Sudah lama memang sejak terakhir kali aku ke sana. Ternyata memang benar apa yang dikatakan temanku di jepang dulu bahwa saat dia memasuki bangunan suci itu ada rasa ketenangan yang muncul. Padahal dia bukan seorang muslim. Saat langkah pertama memasukinya, aku mencoba mencari rasa yang bisa menutupi lubang di hati ini dan ternyata benar rasa tenang inilah yang aku cari. Padahal aku hanya diam, hanya duduk tenang, entah berfikir tentang banyak hal tapi aku merasa tenang dan aku merasa bersyukur seiring dengan tarikan nafasku. Membasuh muka dan anggota gerak dengan air, bersujud, membaca sabdaNya. Bisa dibilang hanya kegiatan “sederhana” tapi sangat berarti. Dan kini aku tau ke mana harus pergi setiap perasaan hampa itu datang.

4. Tentang manusia dan perasaan. Tenang, ini bukan tentang cinta-cintaan atau perasaan menye-menye yang aku juga ga tau maksudnya gimana perasaan menye-menye itu ._. Ini lebih ke bagaimana berinteraksi dengan makhluk ciptaan Allah yang dianugerakan akal…… dan juga rasa. Bisa juga ini karena efek baca buku How to Win Friends and Influence People atau di versi bahasa Indonesia judulnya Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain karya Dale Carnegie. Bukunya bagus dan seru. Sebenernya kalo dari yang aku tangkep beberapa poin penting dalam buku ini adalah tentang bagaimana cara kita memposisikan diri kita pada orang lain atau menjadikan diri kita sebagai orang lain. Kita selalu boleh melihat sudut pandang dari kita sendiri, tetapi jangan lupa untuk melihat dari sudut pandang orang lain juga. Kenapa mereka berbuat itu? Bagaimana perasaan mereka? Apa yang sebenernya mereka inginkan? Ya, jangan lupakan pikirkan dan rasakan juga tentang mereka. Manusia itu makhluk yang kompleks dan setiap individu punya kompleksitasnya masing-masing. Makanya ilmu tentang berinteraksi dengan manusia adalah ilmu yang sangat penting karena tak bisa kita elakkan bahwa di dalam hidup ini kita akan selalu berinteraksi.

5. Tentang hidup sederhana. Waktu itu lagi dengan Ibu dan random aja ngegosip ngobrolin tentang orang yang bangga karena anaknya bisa hidup sederhana. Nah, konsep hidup sederhana ini juga diajarin Ibu kepada kami, anak-anaknya. “Hidup kaya tuh ga butuh latihan, hidup prihatin yang butuh. Semua orang kalo udah kaya, ya enak, tinggal dengan mudah menikmati semuanya. Kalo dari kaya ke miskin baru susah” Ga persis, tapi kira-kira gitu kata Ibu. Hidup sederhana bukan berarti kamu ga bisa nikmatin apa yang kamu punya, tapi kamu bisa mengoptimalkan apa yang kamu punya dan mensyukurinya (teori sendiri ini mah). Soalnya kita ga tau kapan Allah kasih kita rezeki yang banyak, dana kapan pula kita diuji dengan dikuranginya rezeki kita. Jadi, kalo misalnya kita udah biasa hidup kaya terus tiba-tiba diuji Allah dengan kemiskinan, takutnya kita ga bisa hidup. Tapi kalo misalnya kita udah terbiasa dengan hidup sederhana, terus tiba-tiba dikasih Allah rezeki jadi orang kaya, ya tinggal terserah kita mau hidup sederhana atau mau hidup kaya.

Dah selesai. Iya gitu aja. Sekian dan terimakasih yang sudah merelakan waktunya buat baca sampe sini..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s