Posted in Kisah, menulis, writing

Karena Itu Pasti

Gadis itu masih diam memandang selempang cumlaude yang baru saja dia dapatkan tadi pagi. Hari ini merupakan hari wisudanya. Dia telah resmi menjadi seorang sarjana teknik dari salah satu universitas ternama. Tentu saja dia senang sekali sudah mencapai salah satu mimpinya. Namun, dia justru teringat pada peristiwa yang benar-benar masih membekas di memorinya dan sampai sekarang masih meninggalkan luka di hatinya.

Satu bulan yang lalu, tepat di hari pernikahan sepupunya, gadis itu dan mamanya mendatangi pesta pernikahan itu. Sudah lama tidak ada kumpul keluarga besar, sehingga apabila ada kesempatan seperti pernikahan kali ini, semua keluarga diharapkan hadir sekaligus untuk reuni keluarga besar. Dia yang berkuliah di luar kota menyempatkan hadir, meski berarti dia harus merelakan seminar internasional yang sangat ingin dia ikuti. “Ayo kapan lagi Ra, sekalian kumpul sama keluarga juga,” kata-kata mamanya di telpon akhirnya membuatnya memesan tiket pulang.

Pesta pernikahan sepupunya bisa dibilang merupakan pesta pernikahan yang sangat megah, berada di gedung yang mewah, dengan tamu undangan yang sangat banyak, serta hidangan makanan yang sangat enak dan jangan lupakan juga sepupunya yang sangat cantik seperti seorang putri raja yang sedang duduk di kursi mempelai wanita.

“Ma, rame banget ya yg datang ke sini. Banyak ucapannya lagi,”ucap Ra kepada mamanya setelah melihat kemegahan pernikahan ini.

“Iya, orang tua pasangan mbakmu itu orang penting. Makanya ini pesta pernikahannya gede banget. Tamu-tamu nya juga orang terkenal. Tapi tau ga apa yang mama pikirin?

“Apa Ma?”

“Ternyata manusia itu banyak banget ya!”

“Eh? Kirain apaan. Wajar manusia pasti banyaklah di dunia. Mama sih sukanya di rumah doang.”

“Bukan gitu Ra, tapi ini bikin mama jadi berpikir lebih dalam. Manusia di dunia ini emang banyak banget dan itu semuanya ciptaan Allah. Dan Allah ga pernah main-main kalo menciptakan manusia, tapi sayangnya manusia masih suka main-main, ga serius ngejalanin hidup di dunia ini. Padahal semua perilaku manusia itu dicatat dan Allah tau semuanya. Makanya kadang mama kepikiran kalo lagi ada acara rame-rame kayak gini, terus ada bencana, semuanya bisa langsung hilang dalam sekejap.”

“Ih, mama pikirannya serem banget. Ini lagi berbahagia jangan ngomongin gitu dong ma!”

“Lah, kenapa? Kan mama mikir doang Ra. Kamu inget ga siapa orang mukmin yang paling cerdas di dunia ini? Pernah mama bilang lho”

“Inget ma, orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik dalam mempersiapkan kematiannya, kan?”

“Bener! Makanya mama harap kamu bisa jadi orang cerdas yang selalu ingat mati dan mempersiapkannya, Ra. Kita emang gatau kapan kita mati, tapi yang kita tau mati itu pasti. Ga ada yang kekal di dunia ini. Jangan sampe kita lalai, kalopun berbahagia secukupnya aja, pun bersedih juga secukupnya aja. Kalo dapet rezeki ya disyukuri, kalo ada masalah harus bersabar dan yakin pasti ada jalan keluarnya. Yang pasti kita harus inget terus tujuan hidup kita apa. Apa coba tujuan hidup kita?”mama memang seperti ini, seringkali mengingatkan Ra dengan petuah-petuahnya.

“Adz-Dzariyat ayat 56, hayo apa ma?”

“Lho malah nanya balik ke mama, inget ga arti ayatnya apa?”

“Haha iya inget kok ma. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu, kan? Ra tau mama ngomong gini kode banget deh, nyuruh sholat ya?”

“Nah tuh pinter, yaudah yok kita solat Zuhur dulu, nanti kalo udah, kita ke sini lagi kumpul sama yang lain”

Azan Zuhur memang baru berkumandang beberap menit yang lalu. Ra dan mamanya menuju mushola yang terletak di sebelah gedung pernikahan. Mengambil wudhu dan sholat zuhur, ikut menjadi makmum dari jamaah yang sedang sholat. Bila dibandingkan dengan jumlah tamu undangan yang hadir, maka yang terlihat sholat di mushola hanya sedikit. Ya tapi mungkin memang beberapa ada yang sholat di rumah mengingat waktu Zuhur masih panjang.

“Enak kan kalo udah sholat. Rasanya tenang,”ucap mama kepada Ra yang sedang memakai sepatu.

Ra tersenyum dan mengangguk setuju. Seusai sholat keduanya kembali ke gedung utama. Beberapa tamu undangan masih membuat antrian untuk bersalaman dan mengucapkan selamat kepada pengantin dan orang tuanya, beberapa ada yang mengantri di tempat hidangan makanan, serta beberapa yang lain duduk menyantap makanan yang telah diambil. Ra dan mamanya menuju ke bagian VIP, ke salah satu meja bundar tempat keluarga lainnya berkumpul. Mamanya mulai mengobrol dengan tante dan pamannya. Sementara Ra ikut duduk, menjawab satu-dua hal bila dirinya ditanya dan lebih tertarik bermain dengan handphonenya.

Tiba-tiba terasa guncangan hebat dan terdengar suara berdebam keras dari sisi kiri ruangan. Semua orang panik, orang-orang di antrian segera kocar-kacir berlarian. Tidak butuh 5 detik untuk Ra menyadari bahwa sedang terjadi gempa. Lampu gantung di ruangan berayun kencang, beberapa bahkan jatuh membuat kerusuhan semakin menjadi-jadi. Tiang besar penyangga gedung yang terlihat kokoh mulai retak dan hancur terbelah. Keadaan semakin tak karuan. Ra sangat panik, mencoba mencari mamanya yang tadi sedang mengantri mengambil makanan. Orang-orang berlarian di sekitarnya. Dalam kepanikannya, dia masih bisa berpikir cepat untuk segera berlindung di bawah meja bundar terdekat.

“La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah”

Masih berlindung di bawah meja, Ra berusaha mengucap syahadat dan istighfar. Duh, apa yang tadi mamanya bilang. Kita memang tidak tau kapan kematian menjemput, tapi yang kita tau mati itu pasti. Ra sangat takut. Apakah sekarang waktunya? Guncangan dahsyat masih terus terasa, hingga ujung matanya menangkap sosok mamanya yang sedang berlari menuntun anak kecil menuju ke orang tua si anak. PRANG. Lampu gantung besar di tengah ruangan jatuh menimpa tubuh mamanya. Seketika pembicaraan Ra dengan mamanya tadi terus mengulang di kepalanya. Tentang kematian yang pasti. Tentang kapan saja Allah bisa mengambil nyawa makhluknya. Tentang bencana yang bisa datang kapan saja dan menghilangkan semuanya dalam sekejap.

Ra berlari menuju mamanya. Berteriak histeris, tapi tak ada jawaban dari mamanya. Anak kecil yang dituntun mamanya tadi juga terkulai di samping tubuh mamanya. Dia tak peduli tentang gempa susulan atau apapun itu. Yang dia tau sekarang tubuh mamanya tergeletak di depannya, tanpa suara. Ya Allah, apakah sekarang waktunya? Ra mulai menguasai diri, teriakannya berkurang, namun dia tak bisa membendung air matanya yang terus mengalir. Ya Allah, apakah memang sekarang waktunya? Dan hari itu resmi dia menjadi seorang yatim piatu.

Satu bulan bukan waktu yang cukup untuk melupakan segala trauma yang dia alami. Meski begitu dia selalu ingat petuah terakhir mamanya. Tentang jangan lalai, jangan melupakan tujuan hidup, tentang berbahagia dan bersedih secukupnya. Meski susah dia berusaha melanjutkan hidupnya, menerima segala takdir Allah. Rasanya ingin sekali dia marah, tapi tak ada gunanya.

Pun saat wisuda hari ini, di mana orang-orang ramai berkumpul dengan perasaan berbahagia, dia justru teringat kematian. Berbicara dengan temannya bagaimana bila sekarang terjadi bencana. Membuat temannya bergidik ngeri. Jangan ngomong gitulah. Memberikan respon yang sama saat mamanya juga berbicara tentang kematian di hari yang seharusnya menjadi hari berbahagia.

Di malam hari wisudanya itu, dia memandang selempang cumlaudenya, beralih ke toga di meja kamarnya lalu beralih lagi memandang ke pigura foto, yang berisi foto dia dan mamanya saat memasuki gedung pernikahan sepupunya. Di foto itu tampak dia dan mamanya tersenyum bahagia, ikut merayakan kebahagiaan hari pernikahan sepupunya, tanpa tau bahwa beberapa menit ke depan, semua kebahagiaan berubah menjadi kesedihan. Tanpa tau ajal mamanya semakin dekat.

“Ma, hari ini Ra lulus.”

Diambilnya pigura foto kecil itu.

“Tapi rasanya hampa, Ma. Ra pengen mama di sini, bangga melihat Ra dengan baju wisuda dan toga.”Air matanya mulai menetes setelah tadi pagi dia berusaha mati-matian menahannya.

“Maafin Ra yang kadang masih belum bisa mengikhlaskan kepergian Mama. Tapi Ra janji, Ra akan selalu mendoakan mama. Terimakasih atas petuah-petuah mama. Terimakasih untuk selalu mengingatkan Ra akan kematian yang pasti. Semoga nanti kita bisa ketemu lagi di surgaNya ya Ma.”

Advertisements

4 thoughts on “Karena Itu Pasti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s