Letak Harapan

Gadis itu menghela napas panjang setelah melihat pengumuman kelulusannya. Bibirnya membentuk lengkung tipis, tersenyum. Dia tak lulus, tapi anehnya ada rasa lega yang muncul. Mengalahkan rasa kecewa yg seharusnya lebih banyak muncul.

Matanya memejam. Membawa dia pada memori lampau beberapa tahun yang lalu. Saat dia teringat kembali dengan doa-doanya di masa lalu. Dulu di setiap akhir solatnya, dia selalu berdoa untuk keinginannya. Apabila keinginanya terkabul, dia berharap hal itu bisa menambah ketakwaannya, bisa membuatnya lebih rajin beribadah, membuatnya menjadi orang yg lebih bermanfaat kepada lingkungan. Dia sadar, karena doa itulah dia berhasil mendapat apa yang diinginkan.

Awalnya memang dia menjalankan seperti apa yang ada dalam doanya. Dia bersyukur, dia meningkatkan ibadahnya, dia semangat membantu orang lain. Tapi ternyata selalu saja ada distraksi pada setiap kebaikan. Setelah beberapa waktu berlalu, fokusnya tak lagi pada doanya itu. Dia kini lebih disibukkan dengan hal lain, yang membuat ibadahnya turun, membuat dia lupa bersyukur.

Jadi kali ini biarlah gadis itu memeluk erat rasa kecewanya. Menerima dengan ikhlas dan lapang dada. Bahwa rasa kecewa tidak selalu untuk ditangisi, tidak selalu untuk disesali. Justru untuk bermuhasabah diri dan bertanya pada diri, sudah benarkah letak harapan selama ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s