Sudah Sampai Mana?

Anak kecil itu terlihat berjalan pelan dengan tas di belakang punggungnya. Berhenti sebentar di depan pagar masjid, terlihat ragu. Mungkin dia heran karena yang terlihat dari depan pagar masjid hanya teman-temannya yang perempuan. Dimana teman yang laki-laki? Dia tak mau sendirian menjadi santri laki-laki. Tak lama, keluar seorang anak laki-laki dari dalam masjid. Anak kecil itu tersenyum, ternyata ada temannya. Dia segera berlari ke dalam pagar masjid menuju temannya tadi.

Sore ini adalah jadwal mengaji di Taman Pendidikan Al- Quran (TPA) masjid. Beberapa anak sudah datang dari tadi. Ada yang berjalan kaki, ada yang bersepeda dan ada juga yang diantar orang tua menggunakan sepeda motor. Semuanya terlihat ceria sambil melangkah masuk ke dalam masjid.

Selang beberapa menit terlihat motor yang dikendarai oleh seorang pria. Keliatannya dia adalah ustad pengajar TPA. Karena saat dia duduk di teras masjid, anak-anak segera datang mengerumuninya. Membawa Al Quran di tangan masing-masing. Mereka segera duduk melingkar menunggu pengajian dimulai. Seketika ada rasa iri melihat mereka yang dari kecil sudah semangat belajar Al Quran.

Ustad membuka dengan salam diiringi oleh jawaban serentak dari anak-anak. Terlihat sang ustad menyampaikan beberapa kalimat. Kemudian masing-masing anak mulai membuka Al Quran. Suara mereka cukup besar hingga terdengar ke luar masjid. Terdengar bacaan taawudz dan basmallah.

“Wad dhuha”

“Wad dhuha”

Sang ustad awalnya memimpin bacaan yang selanjutnya diikuti dengan kompak oleh anak-anak tadi. Terdengar kalimat “Wad dhuha” diulangi beberapa kali oleh mereka. Dilanjutkan dengan beberapa ayat setelahnya, yang juga diulangi beberapa kali. Entahlah, mungkin mereka mengulanginya untuk melancarkan bacaan atau mungkin juga sekaligus agar hafal suratnya. Setelah itu, terdengar bacaan surat At Tin yang juga dibacakan secara bersama-sama.

Mataku seakan tak berkedip melihat anak-anak kecil yang semangat belajar Al Quran itu. Telingaku juga tak bosan untuk mendengarkan ayat-ayat Al Quran yang mereka bacakan. Melihat dan mendengar mereka membuat hatiku terketuk.

Lebih tepatnya bertanya-tanya. Tentang interaksiku dengan Al Quran. Sudah sampai mana?

Selama ini aku selalu sibuk dengan urusan pekerjaanku. Aku yang berstatus karyawan baru di perusahaan bergengsi di kota, sangat semangat untuk bekerja. Kegiatan harianku hanya berfokus pada pekerjaanku. Bangun, kerja, pulang, tidur. Fase yang berulang setiap harinya. Hingga rasa bosan pada pekerjaanku akhirnya datang. Membuatku hari ini mengambil jam kerja lebih cepat. Pulang lebih cepat, padahal tak ada kegiatan khusus yang aku lakukan. Aku hanya ingin beristirahat dari jenuhnya pekerjaanku.

Sore itu aku memilih duduk di balkon rumah kontrakanku. Mengamati sekeliling. Aku tak pernah tau bila ada anak-anak kecil yang mengaji di TPA masjid depan kontrakanku, karena aku selalu tiba maghrib di kontrakan.

Mungkin ini cara Allah mengingatkanku. Membuatku mengamati sekelompok anak kecil yang semangat belajar Al Quran. Ah iya, Al Quran? Sudah sampai mana interaksiku dengannya?

Sungguh, sore itu menjadi titik perenungan hidupku. Memikirkan lagi mau dibawa kemana sebenernya hidupku ini? Mengapa aku terlalu sibuk dengan urusan pekerjaanku? Bahkan tak punya waktu untuk membaca Al Quran. Tak punya waktu untuk belajar ilmu agama. Padahal sebenarnya waktu bukanlah milikku, bahkan aku tak tau sampai kapan waktu yang aku punya di dunia ini.

Mungkin rasa jenuh pada pekerjaanku ini sengaja dikirimkan oleh Allah untuk menyadarkanku. Karena selama ini aku selalu semangat dalam urusan duniaku. Aku selalu berusaha menjadi yang paling baik dalam pekerjaanku. Aku selalu bisa menjawab pertanyaan atasanku bila ditanyai tentang masalah pekerjaan. Namun bila ditanyakan sudah sampai mana perjuanganku untuk menggapai surgaNya. Aku malu. Aku tak tau. Entah sampai mana.

Sore itu, setelah berpikir dan merenungi tentang hidupku, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil wudhu. Aku segera menunaikan solat Asar, dilanjutkan dengan membaca Al Quran dan terjemahannya. Aku memang tak tau sudah sampai mana perjuanganku menggapai surgaNya, tapi aku bertekad dalam hati bahwa aku ingin mulai. Aku ingin mulai belajar ilmu agamaku, belajar Al Quran, aku sungguh ingin memperjuangkan tempatku di surga. Iya mumpung belum terlambat, bisikku pada diri sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s