Posted in experience, Islam, Sharing, Travelling, trip

A Journey to Jeddah, Awal Melatih Kesabaran

Too many words in mind waiting to be typed, but don’t have chance to write. Now finally the chance has came, so let me start my story. Tulisan ini sekadar untuk bercerita tentang perjalanan saya beberapa hari terakhir yaitu pergi ke kota Nabi Muhammad Saw., Mekah dan Madinah. Dengan tujuan sebagai pengingat untuk diri sendiri agar bisa dibaca lagi di lain waktu dan sebagai tempat sharing pengalaman bagi yang mau membacanya. InsyaAllah bakal nulis tentang topik yang lainnya juga. So, stay tune! :p

Sabtu, 12 April 2017, merupakan hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh kami sekeluarga untuk mengadakan perjalanan ke Arab tepatnya ke Mekah dan Madinah. Sebenernya kami sekeluarga berlima ingin berangkat semua tetapi karena alasan pekerjaan kakak saya yang masih sulit mengambil cuti panjang, akhirnya cuma kami berempat yang berangkat. Doain aja ya semoga kakak saya bisa segera menyusul berangkat ke sana juga. Aamiin. Alhamdulillahnya Jumat malam, kakak saya memang sedang pulang ke Jogja untuk mengikuti lari maraton 21 K hari minggunya, jadi hari Sabtu pagi dia bisa mengantar kami ke bandara.

Nah mengapa judul tulisan ini awal melatih kesabaran? Karena perjalanan kali ini bukan hanya perjalanan kosong, namun adalah perjalanan spesial, perjalanan spiritual menuju ke baitullah. Dan tentu saja di sana nanti, saya harus lebih bisa meningkatkan kesabaran saya dan menahan diri saya untuk melakukan hal yang tidak atau kurang baik. Makanya mungkin dari awal perjalanan ini, Allah sudah memberikan ujian kesabaran untuk kami.

Kami tiba di bandara Jogja pukul 6.30 pagi. Setelah berpamitan dengan kakak saya, kami segera menuju rombongan yang terlihat berpakaian seragam batik hijau terang di depan pintu masuk keberangkatan bandara. Sesampainya di sana, salah satu staf agen tour & travel menghampiri bapak saya dan menyampaikan ujian kesabaran pertama kami. “Pak, pesawatnya di delay menjadi jam 12 nggih” Saya yang mendengar kabar itu langsung speechless. Pesawat kami seharusnya berangkat pukul 8, makanya kami sudah disuruh ke bandara paling tidak pukul 7. Saat mendengar kabar itu, ingin rasanya menelpon kakak saya lagi, meminta dijemput lagi untuk kemudian diantar lagi ke bandara siang nanti. Tapi ya ga mungkin juga kakak saya bolak-balik. Sabar, sabar, bukannya udah biasa juga kuliah diresched mendadak.

Ujian kesabaran kedua adalah kami harus tetap menunggu di luar, di depan pintu keberangkatan karena masih harus menunggu ketua rombongan yang masih belum datang. Beliau ternyata baru datang pukul 11, mungkin beliau memang sudah tau kalo pesawatnya di delay. Agak kesel juga sih, masa anggotanya yang nungguin ketua, panas-panasan lagi. Tapi demi melihat anggota lain yang kelihatannya nurut-nurut aja nunggu di luar, saya juga berusaha menyabarkan diri. Padahal kalo dipikir-pikir sekarang, seharusnya kami bisa saja masuk duluan ke ruang tunggu karena pasport kami sudah dibagikan. Yasudah ambil hikmahnya aja, ternyata dalam menunggu itu saya justru diberi kesempatan untuk sholat dhuha dulu di mushola bandara dan bisa bersedekah makanan (pihak tour and travel memberikan “kompensasi” makanan karena pesawat kami di delay, tapi karena saya sudah kenyang dengan sarapan di rumah, makanannya bisa saya berikan ke orang lain).

Setelah ketua rombongan datang, akhirnya kami masuk bersama ke ruang tunggu dan tak lama kemudian, pukul 12, panggilan pesawat kami pun terdengar. Perjalanan Jogja-Kuala Lumpur menghabiskan waktu 2 jam, namun karena perbedaan waktu 1 jam lebih cepat di KL, kami tiba di sana pukul 4 waktu KL. Kami harus segera bergegas untuk check in pesawat KL ke Jeddah, namun ternyata antrian imigrasi di KLIA tidak bisa bekerja sama. Kami harus bersabar menunggu antrian yang mungkin bisa menghabiskan waktu sekitar setengah sampai satu jam, untuk kemudian berpindah bandara dari KLIA 2 ke KLIA 1 dengan kereta KLIA transit. Untungnya dari pihak tour & travel sudah ada yang membantu mencheck-inkan kami. Pukul 19.30 waktu setempat pesawat kami yaitu Saudi Arabian airline berangkat dari KL menuju Jeddah. Perjalanan menghabiskan waktu sekitar 8 jam, dan kami tiba di bandara Jeddah pukul 23 waktu Jeddah.

Sesampainya di Jeddah ujian kesabaran kembali datang, kami disuruh naik bus untuk berpindah terminal, tetapi bus yang kami naiki berhenti cukup lama di tengah perjalanan. Pintu bus tidak terbuka, namun tidak ada pengumuman yang terdengar. Kami juga tidak bisa bertanya ke supir kenapa kami disuruh menunggu karena ada penghalang kaca antara bagian supir dan penumpang. Jadilah kami disuruh menunggu lagi tanpa kepastian. Setelah menunggu entah berapa lama, bus berjalan lagi dan berhenti. Pintu bus terbuka dan kami digiring kembali menuju ruang tunggu. Dari informasi yang kudengar, kami disuruh menunggu (lagi) di ruang tunggu karena antrian imigrasi masih sangat panjang, jadi dibanding kami mengantri berdiri di imigrasi lebih baik kami menunggu dulu di ruang tunggu.

Pukul 01.30 pagi, akhirnya jamaah Indonesia dipanggil untuk disuruh mengantri di bagian imigrasi. Prosesi imigrasi baru selesai pukul 02.30 (gatau juga kenapa bisa selama ini -_-). Jadi inget kata ustad pembimbing saya, entah kenapa imigrasi di Jeddah tuh sepertinya diusahakan biar bisa cepat tapi jadinya malah lambat. Well, sabar, sabar, yang penting Alhamdulillah selesai juga di bagian imigrasi.

Oh ya, ada peristiwa yang saya ingat yaitu saat kami mengantri (lagi) untuk pengecekan pasport saat ke luar bandara, salah satu petugas bertanya “Indonesia?” Ibu saya yang saat itu sedang ditanya segera mengangguk. “Indonesia pendek” petugas tersebut memberikan pasport ibu saya sembari melihat rombongan Indonesia yang mengantri. Hahaha, sabar- sabar. Lagian petugasnya juga cuma menerangkan fakta yang ada kalo orang Indonesia itu pendek-pendek, dan emang bener sih karena perbandingannya sama orang turki, afrika, pakistan yang emang badannya tinggi besar.

Akhirnya setelah proses mengantri yang tiada habisnya, pukul 03.00 kami masuk ke bus untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Madinah. Alhamdulillah meski banyak ujian kesabarannya tapi kami bisa naik ke bus menuju ke Madinah sudah membuat saya lebih bersyukur lagi. Bersyukur karena ternyata diri ini sudah lebih dekat menuju daerah hijrahnya Nabi Muhammad Saw. dan akan segera tiba di sana. Madinah, here we come 🙂

Advertisements

3 thoughts on “A Journey to Jeddah, Awal Melatih Kesabaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s