Posted in experience, Islam, Sharing, Travelling, trip

Masjid Nabawi, Tempat Mengambil Pelajaran dari Keberagaman Umat Muslim

Kunjungan ke sebuah masjid selalu bisa mendatangkan ketenangan tersendiri bagi seorang hamba yang memang sedang mencari jawaban atas suatu kegelisahan. Namun kunjungan ke Masjid Nabawi memberikan lebih dari itu. Di sana kamu dapat melihat jejak-jejak kehidupan dan perjuangan Rasulullah, belajar mengagumi keberagaman ciptaan Allah, serta menyampaikan doa yang insyaAllah terkabul di taman surga.

Melanjutkan cerita perjalanan sebelumnya, jadi dari bandara Jeddah menuju Madinah menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam. Kami berangkat pukul 3 pagi dan tiba di Madinah pukul 8 pagi. Setibanya di Madinah, kami segera check in hotel, makan kemudian membenahi diri dan pergi ke masjid Nabawi. Masjid yang selalu saya rindukan meski belum pernah mengunjunginya. Mungkin efek karena mendengarkan serunya Sirah Nabawiyah yang disampaikan Ustad Khalid dalam video ceramahnya, bisa membuat diri ini selalu merindukan untuk datang ke masjid ini. Masjid di mana di dalamnya terletak makam Rasulullah Saw.

Jarak dari hotel saya menuju Masjid Nabawi bisa dibilang cukup dekat yaitu sekitar 5-10 menit berjalan kaki. Melihat payung khas Masjid Nabawi dari kejauhan, cukup membuat hati saya tak henti-hentinya menyampaikan rasa syukur karena diberikan kesempatan oleh Allah untuk bisa menginjakkan kaki ini di salah satu masjid mulia. Masjid yang selama ini cuma bisa saya liat lewat gambar, akhinya bisa saya kunjungi secara langsung. Saat itu payung khas masjid sedang terbuka karena memang cuacanya sangat terik dan panas. Tak lupa saya mengambil momen ini bersama ibu, bapak, dan adik saya.

Kemudian bapak berpisah untuk masuk ke masjid bagian laki-laki, sedangkan saya, ibu dan adik saya menuju bagian sholat jamaah perempuan. Kami memasuki pintu gerbang Umar bin Khattab, pemandangan awal saat saya memasuki ini adalah pemandangan masjid yang megah, sejuk dan terlihat barisan tempat air minum zam-zam di sepanjang jalan masuk ke masjidnya. Saat itu masjid masih tidak terlalu ramai, mungkin karena masih pagi, jadi kami dengan leluasa bisa mencari tempat untuk melaksanakan sholat tahiyatul masjid yang kemudian dilanjutkan sholat dhuha. Kami juga segera mengambil segelas air zam-zam untuk diminum.

Menjelang satu jam azan zuhur, jamaah lain mulai berdatangan memenuhi shaf-shaf sholat hingga semua shaf terlihat penuh, dan beberapa jamaah harus sholat di luar atau di teras masjid. Jangan bayangkan teras masjid yang kecil dan terbatas, teras masjid Nabawi itu sangat luas, yaitu area dengan payung khasnya yang terbuka untuk menghalangi panas dan teriknya sinar matahari serta di sana juga sudah disedikan karpet sajadah untuk sholat. Jadi cukup nyaman juga sholat di terasnya walau memang tidak sesejuk di dalam masjidnya yang memang dilengkapi dengan fasilitas pendingin ruangan.

Oh ya tentang keberagaman umat Muslim, di sini benar-benar terlihat segala macamnya perbedaannya, tapi yang penting tujuannya tetap satu yang mengesakan Allah. Dimulai dari model pakaiannya, ada yang pake jubah, ada yang pake rok, ada yang pake cadar/niqab, bahkan sampe nutupin semuanya ga kelihatan apa-apa lagi, ada yang pake mukena, ada yang pake kerudung model langsungan atau bergo, ada yang pashmina, dan lain-lain. Kebanyakan jamaah perempuan di sini langsung sholat dengan pakaian yang sedang dikenakan, jadi tidak seperti di Indonesia yang kebanyakan memakai mukena dulu untuk sholat. Sebenernya ada yang saya heran yaitu ada jamaah perempuan yang sholat namun tidak menutupi kakinya. Bukankah kaki itu aurat ya? Pengen nanya ke orangnya tapi terkendala bahasa dan takut malah salah ngomong. Akhirnya karena melihat lumayan banyak jamaah yang tidak menutupi kakinya saat solat, saya berpikiran mungkin mereka meyakini bahwa kaki memang bukan aurat. Wallahualam (Yang tau tentang ini, please tell me). Selain itu ada juga beberapa perbedaan kecil dalam gerakan sholatnya, namun bisa saya maklumi karena di Indonesia pun bisa saya temukan perbedaan kecil dalam gerakan sholat, misal apakah menggerakkan jari telunjuk saat tasyahud akhir, kemudian tangan yang masih bersedekap saat berdiri setelah rukuk, dan sebagainya.

Dari sini, saya jadi bisa mengambil pelajaran, bahwa kita tidak bisa langsung mengambil atau mengikuti apa yang kita lihat, kita harus menyeleksinya. Kita juga tidak boleh hanya membenarkan apa yang kita lakukan kemudian menyalahkan semua apa yang orang lain lakukan. Dan di sini yang paling saya sadari adalah pentingnya ilmu sebelum beramal. Jadi ngerasa kalo ilmu tentang agama ini masih sangat dangkal. Soalnya kita ga bisa ikut-ikutan aja apa yang dilakuin orang lain. Misal contohnya di kasus saya adalah banyak jamaah yang langsung berdiri sholat lagi setelah sholat wajib. Lantas apakah saya ikut-ikutan berdiri padahal saya tidak tahu kenapa mereka berdiri. Tidak, saya tetap duduk, menjalani apa yang saya tau yaitu tetap duduk dan berdoa setelah sholat. Saya juga tidak menyalahkan apa yang mereka lakukan karena berbeda dengan saya. Saya mencari tau dan ternyata setelah saya bertanya, setelah saya tau ilmunya, saya tau bahwa mereka berdiri untuk melaksanakan sholat jenazah. Makanya penting banget ilmu sebelum beramal. Jangan cuma karena mayoritas orang melakukan itu, maka kita dengan mudah melakukannya juga. Big No!

That’s why dalam Islam diberikan Al Quran dan Sunnah, agar seseorang menjalankan ibadahnya berdasarkan kedua pedoman tersebut, bukan asal-asalan. Selain itu syarat diterimanya amalan seorang muslim ada 2 yaitu niat yang ikhlas karena Allah dan benar. Nah, benar di sini maksudnya kita harus tau ilmunya dulu, kita harus tau kalo itu memang ada di pedoman kita, baru deh kita lakuin.

Setelah sholat Zuhur, kami kembali ke hotel untuk makan siang. Kemudian kembali lagi ke Masjid Nabawi untuk sholat Asar. Sayangnya setelah sholat Asar, rasa kantuk yang begitu hebat mendatangi, mungkin pengaruh jetlag juga. Perbedaan waktu 4 jam di mana Indonesia lebih cepat 4 jam. Jadi kalo dipikir-pikir, saat waktu asar di Madinah, maka sudah waktu Isya di Indonsia atau sudah malam yang wajar bila rasa kantuk mulai menyerang. Ditambah lagi efek lelah perjalanan, akhirnya karena tak sanggup menahan kantuk, setelah sholat Asar kami tidur dulu. Sebenernya tau kalo ga baik tidur setelah asar, tapi semoga tidur ini bisa menjadikan sholat maghrib dan sholat Isya kami nanti ga ngantuk lagi. Apalagi setelah sholat Isya, kami akan ke raudhoh, ke tempat mustajabnya doa, di mana doa-doa yang disampakan di sana akan dikabulkan oleh Allah Swt. Sekian tulisan kali ini, ditunggu tulisan selanjutnya yang akan membahas tentang raudhoh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s