Posted in experience, feeling, Islam, Sharing, Travelling, trip

Kiriman Allah Menuju Raudhoh, Pertemuan Tak Terduga Dengan Muslimah Aljazair

“رب صدفة خير من ألف ميعاد”

Perkataan ini disebutkannya saat kami hendak keluar dari gerbang pagar Masjid Nabawi. Perkataan yang artinya bahwa suatu kejadian yang tidak direncanakan bisa lebih baik dari seribu pertemuan yang sudah direncanakan. “Coincidence might be better than a thousand of appointments” Saya setuju sembari menambahkan ucapan bahwa memang Allah yang menakdirkan pertemuan kami, bahwa Allah senantiasa mempertemukan orang-orang baik. Dan pertemuan kami dengannya adalah takdir terbaik Allah.

Setelah keluar dari kunjungan pertama ke raudhoh (tulisan tentang ke raudhoh sebelumnya bisa di baca di sini), saya merasa belum puas menyampaikan doa-doa saya. Rasanya saya ingin kembali masuk ke raudhoh. Bahkan saya berniat untuk berlatih mengucapkan doa-doa apa saja yang akan saya sampaikan di raudhoh. Akhirnya saya, ibu saya dan adik saya memutuskan untuk memasuki raudhoh lagi. Hari itu, kami sengaja makan malam setelah maghrib (biasanya setelah isya) kemudian kembali ke Masjid Nabawi dan mengambil shaf sholat isya di daerah dekat raudhoh. Sesudah sholat Isya kami segera menuju tempat raudhoh. Ternyata tempat raudhoh belum dibuka. Mungkin masih diatur dan dikondisikan mengingat raudhoh adalah tempat shaf sholat jamaah laki-laki.

Kami mencari spot untuk duduk menunggu, namun ternyata ada suara yang memanggil ke arah kami “Ibu! Ibu!” Ternyata sumber suara itu adalah dari seorang laskar perempuan yang sedang memegang papan bertuliskan “kumpulan berbahasa melayu” Dia memanggil kami dan bertanya kepada kami “Raudhoh?” Kami segera mengangguk. “Duduk, duduk” aksen arabnya yang masih terdengar sedikit lucu bagi saya yang mendengarnya, namun cukup memberi pengertian kepada kami bahwa dia menyuruh kami duduk dengan kumpulan jamaah perempuan lainnya. Untuk mendapatkan keberkahan memasuki raudhoh serta mengikuti aturan yang ada, kami pun menuruti perintah laskar perempuan itu. Duduk bersama jamaah perempuan “kumpulan berbahasa melayu” yang kebanyakan memang diisi oleh orang Indonesia dan orang Malaysia.

Di sebelah kami juga terdapat kelompok jamaah perempuan lain yang dari mukanya saya tebak adalah kelompok orang turki. Cukup lama kami menunggu di sana hingga pintu raudhoh telah dibuka dan terlihat beberapa orang segera berjalan cepat hingga berlari menuju ke dalamnya. Namun, laskar yang memimpin kami tetap menyuruh kami duduk. Terlihat kelompok jamaah perempuan tetangga sudah mulai berdiri dan masuk ke arah lokasi raudhoh.

Rasanya lama sekali menunggu giliran kami maju. Namun alhamdulillah jamaah kumpulan berbahasa melayu ini masih tetap sabar menunggu giliran. Menurut pengamatan saya secara umum jamaah Indonesia adalah jamaah yang paling patuh. Berbeda dengan jamaah lain yang apabila disuruh duduk justru tidak patuh dan memaksa pergi berdiri hingga berani mendorong. Mungkin sekitar setengah jam sampai sejam setelah sholat Isya, akhirnya laskar kami dengan tangannya mengisyaratkan kami untuk berdiri dan memimpin kami berjalan menujut ke dekat raudhoh. Namun, kami tidak langsung masuk ke raudhoh, kami disuruh duduk kembali menunggu giliran lagi untuk dipersilahkan ke raudhoh. “Duduk, duduk” Oke, baik, mari kita duduk lagi.

Keramaian khas raudhoh sudah terdengar dari tempat kami duduk menunggu. Saat kami menunggu, saya melihat seorang perempuan yang jelas-jelas bukan tipe muka kumpulan berbahasa melayu sedang berdoa sambil duduk dengan khusyuk bahkan sambil meneteskan air mata. Adik saya yang duduk tepat bersebelahan dengannya menanyakan asal perempuan ini. Ternyata dia berasal dari Aljazair dan sekarang tinggal di Dubai. Hanya dalam waktu beberapa menit, saya juga sudah ikut mengobrol asik dengannya menggunakan bahasa inggris. Dia bercerita bahwa dia tidak tau di mana letak tepatnya raudhoh makanya dia sudah berdoa terlebih dahulu. Kami yang sudah punya pengalaman ke raudhoh sebelumnya memberitaunya informasi tentang raudhoh serta memberikan tips-tips dari ustadzah yang sebelumnya membimbing kami ke raudhoh.

Obrolan kami lumayan banyak hingga harus diberhentikan dulu karena laskar perempuan di depan kami menyuruh kami berdiri. Menandakan bahwa kami boleh mulai memasuki raudhoh. Seperti biasa, semua orang langsung berdiri dan mulai saling mendorong. Saya, adik saya dan ibu saya langsung berpegangan tangan dan masuk ke raudhoh bersama. Saya berdiri paling depan, mencari jalan menuju shaf pertama di raudhoh. Saat sekilas saya melihat kebelakang untuk memastikan bahwa adik dan ibu saya memang mengikuti, ternyata saya masih melihat sosok muslimah Aljazair itu ikut memegang tangan ibu saya.

Kami pun berada di shaf terdepan, namun kali ini ternyata untuk menunaikan sholat lebih susah dibandingkan saat dibimbing ustadzah. Mencoba mengikuti apa yang dilakukan ustadzah, dengan bahasa terbatas saya meminta kepada seorang jamaah untuk gantian sholat, bilang “insyaAllah qabul”. Kami juga mencoba mengingatkan jamaah yang meratap hingga mengusap dan mencium batas raudhoh laki-laki dan perempuan seakan mengagungkannya secara berlebihan. Di sini ibu saya juga sempat didorong dan dimarahi oleh seorang jamaah perempuan, entah mungkin karena kami memintanya gantian.

Di tengah keramaian untuk mencari spot sholat, Souad, nama perempuan Aljazair itu yang masih ikut bersama kami tadi langsung mengambil inisiatif untuk sholat. Kami yang melihat dia sudah mulai sholat segera membentuk pagar dengan rangkaian tangan kami untuk menghalangi agar orang-orang tidak melewatinya. Setelah selesai sholat, dia menyuruh ibu saya untuk sholat, kami lanjut menahan orang-orang agar tidak melewati Ibu yang sedang sholat. “Sholli sholli” saya ucapakan pada orang yang ingin lewat di depan Ibu. Berbeda dengan Souad, dengan tenaganya yang lebih kuat dia menahan dorongan orang-orang dan bisa menjelaskan dengan kemampuan bahasa arabnya agar orang-orang jangan lewat. “Tell her to make it quick” Souad berbicara kepadaku agar menyuruh ibu sholat lebih cepat. Setelah Ibu sholat kemudian bergantian dengan adik saya dan kemudian saya.

Awalnya, saya berencana untuk segera mengambil jalan keluar dari raudhoh setelah kami semua sholat. Namun, Souad yang memang sangat baik hati mempersilahkan jamaah lain untuk sholat di tempat kami tadi. Kami pun berusaha melindungi perempuan yang sholat itu. Hingga ada 2 orang jamaah Indonesia yang melihat kami membantu jamaah asal negara lain, meminta tolong untuk dia diberikan kesempatan sholat juga. “Bu, nanti jagain saya juga ya” Kami mempersilahkan mereka sholat hingga selesai untuk kemudian kami selesai dan berjalan ke arah exit.

Saya berpisah dengan ibu saya dan adik saya. Kali ini tangan saya digenggam Souad dan dia menuntun saya mencari jalan keluar. Di sini saya merasakan tenaganya yang kuat sehingga kami melewati keramaian jamaah dengan mudah. Kami bertemu kembali di dekat tempat keluar raudhoh. Melihat tempat yang kosong, akhirnya kami melaksanakan sholat lagi di sana. Kali ini 2 orang jamaah Indonesia yang tadi kami bantu, juga membantu kami sholat dengan menghalangi agar orang-orang tak lewat di depan kami. Alhamdulillah kami bisa sholat 2 kali di raudhoh, meski saya hanya sekali karena melihat keramaian yang tak memungkinkan lagi untuk sholat.

Akhirnya kami pun keluar ke arah exit, dan benar-benar berada di luar area raudhoh. Mengucap Alhamdulillah karena bisa diberi kesempatan ke raudhoh (lagi). Perjalanan ke luar Masjid Nabawi kami habiskan dengan mengobrol banyak hal dengan Souad. Sebelum keluar pintu gerbang Masjid Nabawi, kami mencari air zam-zam dulu. Ternyata beberapa tempat air zam-zam sudah habis. Kemudian kami mencari air zam-zam lagi. Alhamdulillah saya menemukan tempat yang masih berisi dan memanggil yang lain ke tempat saya. Saat saya, adik saya, dan ibu saya sudah mengambil air zam-zam, Souad kembali dengan 3 gelas air zam zam yang rencananya akan diberikan kepada kami. Melihat kami sudah memegang gelas zam-zam masing-masing, akhirnya dia dengan baik hatinya memberikan gelas air zam-zam itu kepada orang lain yang terlihat sedang mencari air zam-zam juga.  Ga ngerti lagi, ini orang baiknya kebangetan.

Setelah itu kami pun pulang, namun ternyata Souad meletakkan sandalnya di pintu gerbang yang berbeda dengan pintu gerbang tempat kami keluar. Berbeda dengan kami yang sudah sengaja menyimpan sandal masing-masing di dalam tas kami. Dia mencoba mengingat pintu gerbang yang dia masuki dan kami juga berusaha membantunya mencari gerbang yang dia maksud. Meski akhirnya kami tetap bertanya kepada petugas untuk menuju pintu gerbang tersebut.

Pintu gerbang tempat Souad menaruh sandalnya adalah gerbang Umar bin Khattab, gerbang yang biasa kami masuki untuk melaksanakan sholat. Sayangnya setelah kami sampai di gerbang tersebut, pintu gerbangnya sudah ditutup. Souad pun memutuskan untuk membiarkan sandalnya di sana, dan berjalan ke hotelnya tanpa alas kaki. Dengan ikhlas dia berkata “I will search it tomorrow or I will just tell my husband to buy me another sandal” Dia juga berkata “I hope no one see me without sandal” kami menyakinkannya bahwa sepertinya tidak ada orang yang akan benar-benar memperhatikan dia tanpa sandal, so it’s okay. Sebelum keluar masjid Nabawi, kami tak lupa mengambil foto selfie terlebih dahulu. Dia juga memberikan nomornya agar kami dapat mengirimkan foto tersebut dan menjaga silaturahim.

Di saat itulah dia menyebutkan bahwa dia merasa sangat beruntung bertemu dengan kami. Kami juga berterima kasih kepadanya dan merasa sangat senang bertemu dengannya. Kemudian kami berjalan kembali ke hotel. Souad lebih dulu sampai di hotelnya. Kami mengucapkan salam perpisahan, kemudian cipika cipiki 4x (katanya biar khas orang Arab), berharap semoga bisa ketemu lagi saat sholat Fajar/Subuh keesokan harinya. Namun, ternyata kami tidak bertemu lagi pagi harinya. Dalam pesannya melalui WA, dia mengirimkan pesan yang sangat so sweet…..

It was very nice to meet you yesterday… I had fun and thanks for your help :* :* Hope to see you again and big kisssss to your mum 😉

Oh yea have a nice trip and enjoy your Umrah… us we’re leaving to dubai going back home 😦 I didn’t find my Sandal… I just bought a new one 😉 Talk to you later and this is my emirates number maybe you fly to dubai so you can come over to my house you’re welcome. Have a lovely Umrah ❤ ❤ <3″

PhotoGrid_1494080184189
Thank you Souad 🙂 Hope we can meet again someday (fotonya sengaja di blur)

 

 

Advertisements