Posted in experience, Islam, Sharing, Travelling, trip

Raudhoh, Menyampaikan Doa di Taman Surga

Ada sebuah tempat mustajab di masjid Nabawi di mana doa-doa yang disampaikan di sana akan dikabulkan oleh Allah Swt. Tempat itu adalah Raudhoh atau Taman Surga atau Taman Nabi. Raudhoh ini luasnya kecil dibandingkan dengan luas masjid Nabawi sekarang, dan lokasinya berada di antara mimbar dan rumah Nabi Muhammad atau bisa dibilang raudhoh ini berada di lokasi bangunan asli masjid Nabawi yang dulu dibangun pada masa Nabi.

Sebagaimana Rasulullah bersabda:

“Antara mimbarku dan rumahku merupakan taman dari taman-taman syurga” (HR. Al Bukhari & Muslim)

Raudhoh ini sangat diminati oleh semua jamaah haji dan umroh karena keistimewaannya tentang terkabulnya doa yang disampaikan di sini. Sebenernya lokasi raudhoh ini merupakan bagian dari shaf laki-laki, sehingga hanya terbuka untuk jamaah perempuan di jam-jam tertentu, yaitu setelah sholat subuh, setelah sholat zuhur dan setelah sholat isya.

Alhamdulillah selama saya di masjid Nabawi, saya bisa menginjakkan kaki 2 kali ke Raudhoh. Tentu dengan izin Allah dan dengan perjuangan yang bukan main. Kali ini saya akan menuliskan tentang kunjungan pertama saya ke raudhoh. Rombongan travel saya bersepakat untuk mengunjungi raudhoh pada hari pertama kami tiba di Madinah tepatnya setelah sholat Isya dengan dipandu oleh seorang ustadzah yang memang sudah lama tinggal di Madinah. Setelah sholat isya dan makan malam, kami berkumpul di lobi hotel untuk bersama-sama pergi ke raudhoh.

Ustadzah yang memandu kami kelihatan sangat profesional. Beliau memberi kami pengarahan terlebih dahulu sebelum ke raudhoh, membimbing kami berdoa dan menjelaskan segala macam tentang raudhoh serta tips-tips bagaimana agar bisa sholat di Raudhoh dan setidaknya tidak terganggu dengan desakan orang lain atau orang lain yang lewat saat kami sedang sholat. Setelah masuk ke masjid Nabawi kami sholat tahiyatul masjid dulu, kemudian menuju ke tempat raudhoh.

Keramaian sudah terlihat saat kami masih berjalan menuju ke arah raudhoh. Beberapa jamaah perempuan duduk menunggu giliran pemanggilan untuk dipersilahkan ke raudhoh. Jangan bayangkan duduk menunggu di sini seperti duduk tertib sedang menunggu iqamah sholat. It’s a big No! Duduk menunggu di sini maksudnya adalah duduk sangat rapat antar jamaah dengan beberapa jamaah yang saling mendorong. Bahkan bila ada yang menyerobot untuk menuju ke depan, semuanya segera ramai melarang dan menghalangi. Kami yang sebenernya juga termasuk pihak yang sedikit menyerobot sempat dimarahi oleh jamaah lainnya, tapi ustadzah kami segera menyuruh kami duduk dan diam menunggu.

Di depan kami, ada laskar perempuan (sebutan saya untuk perempuan pengurus masjid yang bertugas mengatur jamaah perempuan untuk masuk ke raudhoh) yang saling merangkaikan tangannya untuk membuat benteng manusia. Sebab bila tidak seperti ini, ada beberapa jamaah yang mendesak dan memaksa untuk segera masuk ke raudhoh. Padahal di raudhoh sangat ramai dan berdesak-desakan.

Luas raudhoh yang diberikan di bagian perempuan kurang lebih hanya seukuran 5×5 m (ini cuma perkiraan saya). Ukuran yang sempit ini harus bisa menampung beribu-ribu jamaah perempuan yang berebut ingin sholat dan menyampaikan doanya di sana. Oleh karena itu adanya laskar perempuan sangat membantu untuk mengatur jamaah yang masuk dan keluar raudhoh, karena kalau tidak ada, maka aksi dorong-mendorong akan lebih parah lagi demi masuk ke raudhoh. Raudhoh memiliki warna karpet sajadah yang berbeda dengan warna kerpet sajadah di bagian masjid nabawi lainnya. Mungkin memang disengaja agar orang-orang bahwa tempat itu adalah raudhoh, tempat antara mimbar dan rumah Nabi. Apabila umumnya warna karpet sajadah di masjid nabawi adalah merah maka warna karpet sajadah di raudhoh adalah hijau.

Sembari menunggu dalam kerumunan jamaah perempuan yang masih duduk, ustadzah kami membimbing kami untuk membaca doa salam ketika berada di makam Rasulullah Saw, doa salam kepada Abu Bakar As Sidiq dan juga doa salam kepada Umar bin Khattab. Setelah beberapa lama menunggu, laskar perempuan memberi isyarat agar jamaah perempuan berdiri dan mereka pun membuka rangkaian tangan mereka. Isyarat diperbolehkannya menuju raudhoh segera mengundang semangat jamaah perempuan yang sedang duduk dan akhirnya aksi berebutan serta saling mendorong tak bisa dielakkan. Semua orang memaksa menuju raudhoh. Kebanyakan orang yang melakukan pendorongan adalah orang yang memang memiliki perawakan tinggi besar dan kebanyakan orang yang menjadi korban terdorong adalah perawakan pendek kecil, termasuk orang-orang Indonesia.

Dengan mengikuti arahan ustadzah, kami ikut melangkah maju namun tidak langsung menuju raudhoh. Kami menuju spot terdekat raudhoh yang sajadahnya masih berwarna merah dan menunggu di sana. “Sabar ya, kita tunggu dulu kalau keadaannya sudah agak tenang” Ustadzah menyuruh kami  duduk untuk menunggu perintah selanjutnya kapan kami akan masuk ke raudhoh. Dari tempat kami menunggu tedengar teriakan para jemaah perempuan. Bahkan saat itu ada yang teriakannya melengking kesakitan, entahlah mungkin ada yang tak sengaja terinjak atau memang khas perempuan yang ribut saling mendorong untuk mendapatkan tempat sholat di raudhoh.

Melihat keadaan ini justru membawa pikiranku tentang bagaimana Nabi Muhammad melihat umatnya yang seperti ini. Mungkin di satu sisi beliau akan bangga melihat banyak sekali umatnya yang bersemangat mengunjungi taman surga dan ingin menyampaikan doa di sana. Tapi di sisi lain saya  juga berpikir apakah Nabi Muhammad tidak sedih bila melihat umatnya saling dorong-mendorong untuk memasuki taman surga.

Setelah melihat keadaan yang cukup memungkinkan untuk masuk ke raudhoh, ustadzah menyuruh kami bersiap dan berdiri. Tips dari ustadzah adalah jangan solat dulu sebelum sampai di shaf pertama. Karena bila kami sholat tapi bukan di shaf pertama, kemungkinan untuk dilewati dan terinjak orang lain lebih besar dibandingkan bila kami sholat di shaf pertama. Ustadzah memimpinn jalan di depan dengan kami saling berpegangan mengikuti langkah ustadzah melewati keramaian orang-orang di raudhoh. Di perjalanan ke shaf pertama ada seseorang yang mempersilahkan saya sholat, sebenernya saya ingin sholat tapi saya urungkan niat karena tadi kesepakatan dengan ustadzah lebih baik mengambil shaf pertama agar lebih aman. Raudhoh yang diberikan untuk jamaah perempuan memang kecil tapi rasanya jalan menuju ke shaf pertama sangat jauh. Di tengah jalan menuju ke shaf pertama, kami harus terus mengikuti ustadzah, kami harus tahan dengan dorongan dan desakan dari orang lain, kami juga harus mencari jalan lain bila ada yang sedang sholat, kami juga sempat melewati di depan jamaah yang sedang sholat (hal ini biasa terjadi di masjid nabawi, tidak hanya di raudhohnya saja), dan kami juga harus berhati-hati untuk tidak menginjak orang (karena kebanyakan orang yang sujud bisa saja terinjak baik sengaja tau tidak sengaja).

Setelah berjalan melewati keramaian, kami pun tiba di shaf pertama. “InsyaAllah qobul” disebutkan ustadzah kepada jamaah yang sudah sholat tetapi masih berdoa terlalu lama, sekaligus sebagai tanda agar bisa segera gantian sholat dengan kami. Kemudian ustadzah juga berteriak “haram” kepada jamaah yang terlihat terlalu berlebihan dalam berdoa hingga memegangi dan mencium dinding pembatas shaf laki-laki dan perempuan. Mungkin takutnya syirik, padahal kan disuruhnya sholat dan berdoa di raudhoh bukannya berdoa dan malah menciumi dinding pembatas secara berlebihan. Akhirnya kami berhasil mendapatkan 4 tempat di shaf sholat depan. Tentu saja masih dengan keadaan yang sangat ramai, alhamdulillah ustadzah bisa menghalangi orang yang mau lewat di depan kami saat sholat. Kami segera bergantian sholat sekaligus membantu ustadzah untuk menghalangi agar orang-orang tidak lewat di depan kami saat kami sholat. Tips lain dari ustadzah adalah ustadzah menyarankan kami berdoa saat sujud atau setelah salam kami bisa sujud lagi untuk menyampaikan doa-doa kami. Karena bila kami menyampaikan doa-doa dalam duduk, maka kebanyakan jamaah lain segera meminta gantian dan mendorong-dorong kami. Malah lebih baik kami menengadahkan tangan sambil berdiri sembari menyampaikan doa-doa kami.

Akhirnya tiba giliran saya melaksanakan solat. Setelah Allahuakbar tak terasa air mata saya mengalir. Perasaan yang muncul bercampur antara terharu, sedih, bahagia dan bersyukur. Saya melaksanakan solat sunah hajat 2 rakaat di tengah keramian dan desakan orang-orang. Mengikuti tips dari ustadzah maka setelah saya salam, saya segera bersujud kembali dan menyampaikan doa-doa saya serta tak lupa saya menyampaikan titipan doa dari teman-teman saya. Sayangnya saya merasa bahwa saya tidak bisa menyampaikan doa dengan tenang di sana, karena faktor keramaian dan harus segera bergantian dengan orang lain. Berbeda dengan doa yang saya sampaikan setelah sholat wajib atau setelah sholat tahajud, maka doa yang saya sampaikan di sini terkesan tidak teratur. Bila biasanya saya menyebut atau memuji Allah terlebih dahulu sebelum menyampaikan doa, maka sekarang saya segera menyebutkan hajat saya tanpa basa-basi. Rasanya ucapan yang banyak saya sebutkan adalah “Ya Allah, semoga……….” Saya terus mengulang-ulang doa saya untuk kemudian berdiri dan mempersilahkan yang lain untuk solat.

Setelah semua anggota rombongan selesai solat, kami mengambil jalan keluar. Bahkan untuk mengambil jalan keluar saja kami harus berdesak-desakan karena di sepanjang jalan ada yang sholat, ada yang baru mau masuk ke shaf pertama. Suasananya sangat berantakan. Setelah kami keluar dari daerah karpet hijau, kami minggir sebentar dan ustadzah menunjukkan kami tempat mimbar nabi dan serta bekas lokasi rumah nabi. Ustadzah juga menunjukkan makam Abu Bakar dan Umar, tempat bilal azan, serta menunjukkan kubah berwarna hijau yang merupakan tanda kubah awal dibangunnya masjid nabawi. Begitulah perjuangan pertama sayamemasuki raudhoh. Untuk cerita selanjutnya akan saya tuliskan mengenai perjuangan kedua memasuki raudhoh yang lumayan spesial.

Advertisements

One thought on “Raudhoh, Menyampaikan Doa di Taman Surga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s