Posted in experience, Sharing, Travelling, trip

Tentang Belanja di Arab

Kalau biasanya cerita perjalanan saya di Arab identik dengan perjalanan spiritual, peningkatan iman, memperbanyak ibadah, maka kali ini saya akan menceritakan sisi yang lainnya yaitu tentang shopping atau belanja di Arab. Namanya juga wanita, kalo ada toko atau mall atau pasar tapi belum belanja rasanya belum afdol. Padahal sebenernya cuma cuci mata dan ga selalu beli juga karena harus inget anggaran negara yang tersedia. Hehe.

Belanja di Arab, khususnya di Mekah, Madinah dan Jeddah bisa dibilang gampang dalam hal komunikasinya karena kebanyakan penjual di sana sudah ahli berbahasa Indonesia. Di Madinah, saat kami berjalan dari hotel menuju Masjid Nabawi maka pemandangan di sebelah kanan-kiri adalah berbagai macam toko mulai dari minimarket, toko oleh-oleh, toko kurma, toko baju gamis, jubah, sajadah, dan lain-lain. Uniknya setiap kami lewat, maka para penjualnya persis seperti para penjual di pasar beringharjo, pasar 16 (di Palembang), pasar tanah abang yaitu mereka mulai menawarkan dagangannya dan karena mereka tau kami orang Indonesia mereka mulai berteriak “Ayo liat-liat dulu, Bu” “Pinarak” “Kadiyek” “Liat sini dulu Bu” “Liat gratis”

Waduh! Ga ngerti lagi mereka belajar gitu dari mana. Bahkan ada lagi celotehan unik dari penjualnya bila melihat kami lewat. “Indonesia bagus, semoga Allah selalu bersama kalian” “Indonesia cantik” “Syahrini” “Ayu ting ting” “Kacamata” (ini mungkin karena saya dan ibu pake kacamata) “Liat-liat dulu Bu, harga tanah abang” “Indonesia pendek” “Hidung pesek” Pernah juga saat saya sedang mengeluarkan hape karena ingin mengambil foto keadaan pasar di Mekah maka si penjual berkata “Indonesia semua selfie” Padahal saya jelas-jelas bukan lagi selfie, ya walau tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia sudah terkenal dengan selfienya :p Gapapa kan ya asal selfie jalan, ibadahnya juga jalan dong, dan insyaAllah lebih lancar ibadahnya daripada selfienya. Selain itu hampir setiap kali saya keluar-masuk dari hotel Mekah, maka penjual di toko sebelah hotel saya selalu bertanya “Indonesia apa kabar? Liat-liat dulu”

Ada lagi pengalaman saat di Madinah, yaitu saat saya, bapak, ibu, dan adik saya melewati toko-toko hendak membeli sajadah, maka penjualnya mulai beraksi menyalami bapak saya. Awalnya bertanya “apa kabar?” yang kemudian genggaman tangan bapak tidak dilepas dan bapak seakan dipaksa serta ditarik ke dalam tokonya sambil berkata “ayo liat-liat dulu pak”. Kebanyakan penjualnya memang laki-laki malah kayaknya ga ada yang perempuan (cuma pernah liat perempuan jadi bagian kasir di supermarket) jadinya berani menarik tangan bapak saya. Soalnya kalo kami kan bukan mahram, jadi ga mungkin ditarik paling cuma bisa dipanggil pake mulut mereka yang senantiasa ngomong “Ayo liat-liat dulu, bu”. Selain itu menurut saya, para penjual di Madinah ini terkesan memaksa, walau ga semua sih. Jadi misalnya kami lagi liat-liat gamis, terus menunjuk suatu gamis yang cukup menarik dan kami bertanya harganya, kemudian dilanjutkan tawar-menawar harga. Nah walau kami belum setuju dengan harganya, si penjualnya ini langsung melipat gamisnya, masukin ke plastik dan sambil bilang harga gamis yang dia deal, misal 80 real, terus bilang “80 real halal”. Lha padahal kami juga belum deal dengan harganya dan belum tentu jadi beli itu. Gimana sih bang, harga belum deal, model baju belum deal, ukuran bajunya belum deal, udah main halal-halal aja -_-“

Kalo tentang harga ternyata belanja di Arab sama saja dengan belanja di pasar-pasar tradisional di Indonesia. Harus pinter-pinter nawar. Untung ada Ibu saya yang memang sudah ahli menawar dan saya yang hanya ikut berperan untuk mengajak Ibu pergi mencari toko lain bila harganya memang tak bisa dikurangi lagi. Pernah suatu kali kami mencari sajadah, setelah berkeliling maka kami tau bahwa harga pasaran sajadah yang ingin kami beli adalah 25 real. Kami berusaha menawar, ada beberapa penjual yang tidak mau harganya turun, tapi ada yang mau turun menjadi 20. Hingga akhirnya kami bertemu dengan penjual yang mau menurunkan harganya menjadi 18 real (itupun sudah dengan tawar-menawar yang sangat heboh). Awalnya dia mau memberikan harga 20 real, tapi karena kami berjalan menjauh akhirnya dia berteriak “18 real halal”. Tapi kami yang gengsi bukannya berbalik badan karena diberi harga murah tapi tetap pergi untuk mencari tempat lain. Siapa tau ada yang lebih murah. Setelah berkeliling ternyata hanya di sana tadi tempat termurah yang mau menurunkan harga menjadi 18 real. Walau sedikit malu karena harus kembali lagi (padahal kan tadi udah dipanggil tapi kami tetap melengos pergi), namun dengan muka tembok kami berjalan lagi dan membeli sajadah di sana. Penjualnya ngomong bahasa Arab sama temennya yang sayangnya tak bisa kami pahami. Karena ada perasaan ga enak kami pun mengira bahwa mereka lagi ngomongin kami “tuh kan apa dibilang, akhirnya balik lagi ke sini juga” Haha gatau sih ngomongin kami atau ga. Lumayan bisa dapet harga 18 real :p

Oh ya ada lagi penjual yang sepertinya kemampuan berhitung dalam bahasa Indonesianya hanya sampai angka 10. Jadi saat kami bertanya berapa harganya, dia menjawab sepuluh dua real. Sempat bingung maksud bapaknya apa nih, apa kalo beli 2 harganya sepuluh real. Ternyata setelah kami berpikir lagi maksud bapaknya adalah harga barang yang dijual itu dua belas real. Iya maksudnya sepuluh dua real itu sama dengan 12 real. Haha ini lucu sih.

Nah itu dia beberapa pengalaman saya berbelanja di Arab. Pesan saya pintar-pintarlah menawar, walau memang sulit karena kita gatau berapa harga pasaran suatu barang, tapi gapapa tawarlah serendah-rendahnya. Karena rasanya ga enak kalo ternyata tau harga di toko lain lebih murah, agak sakit hati karena kemahalan. Merasa tertipu gitu jadinya. Takutnya karena penjualnya tau kita orang Indonesia jadinya harga barangnya dimahalin makanya harus pinter nawar. Selain itu kalo banyak waktu, jalan-jalan dan kunjungi semua tokonya, termasuk toko yang di dalam gedung, buat perbandingan harga. Kami juga baru sadar di hari terakhir di Madinah kalo ternyata bin dawood itu adalah department store yang di dalamnya ada banyak toko-toko. Soalnya kalo dari luar mirip bangunan hotel di sekitarnya. Oh ya, tidak perlu juga berpura-pura jadi orang Arab karena penjualnya udah tau kalo kita dari Indonesia, kecuali kamu emang pinter ngomong bahasa Arab. Soalnya saya mencoba nanya pake bahasa Arab “ini berapa harganya” sama coba menawar pake bahasa Arab seadanya, malah penjualnya jawab pake bahasa Indonesia. Fail banget haha. Mengenai perbandingan harga di Mekah dan Madinah, beberapa orang yang saya tanya berkata bahwa harga di Madinah lebih murah daripada di Mekah. Walau saya tidak sempat membuktikannya sendiri. Selamat berbelanja di Arab. Yang harus diingat adalah belanja boleh lancar, tapi ibadah harus lebih lancar ya!

Advertisements

5 thoughts on “Tentang Belanja di Arab

  1. Itu beneran mb yang sampe ngomong Ayu Tingting? Hha jan kebangeten. Kalo asal masukin barang yg mau dibeli, padahal blm deal, itu emang kebiasaan org arab hha. Kalo sy nawar, trus sy kalah dlm tawar-menawar, kadang lngsung tak tinggal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s