Balasan yang Segera Terlihat

Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan saya dan teman-teman bahwa apa saja yang kita lakukan sebenernya akan mendapatkan balasan yang setimpal. Hanya sebenernya kita tidak tau apakah balasan itu akan langsung diberikan kepada kita di dunia ini baik di waktu yang dekat atau lama, atau balasan tersebut ditunda untuk diberikan di hari pembalasan nanti. Berikut ini beberapa pengalaman saya pribadi, khususnya dalam perjalanan umroh saya, mengenai balasan yang segera terlihat akibat perbuatan saya.

  • Perbuatan: Di bandara Jogja, saat sedang menunggu pesawat yang delay, kami (saya, adik dan orang tua saya) masing-masing diberikan nasi kotak oleh pihak travel sebagai kompensasi kami menunggu delay pesawat yang terlalu lama (awalnya jadwal keberangkatan jam 8 di delay menjadi jam 12). Namun, karena kami sudah sarapan di rumah dan masih merasa kenyang, kami memutuskan memberikan 2 nasi kotak kepada petugas kebersihan bandara. Menjelang masuk ke pesawat (pukul 11) ternyata pihak pesawat juga memberikan kompensasi berupa nasi kotak. Kami pun melakukan hal yang sama terhadap 4 nasi kotak yang kami dapatkan. Sebanyak 2 nasi kotak kami berikan kepada orang lain dan 2 nasi kotak lainnya kami makan bersama.
  • Balasan : Saat itu kami sedang makan malam di hotel Mekah yang kami tempati. Di tempat makannya ternyata dibagi menjadi 2 bagian, yaitu satu tempat untuk jamaah Indonesia sedangkan tempat lainnya untuk jamaah India. Meja jamaah Indonesia terlihat sudah penuh, akhirnya kami memberanikan diri untuk duduk di meja bagian jamaah India (karena saat itu hanya sedikit orang India yang sedang makan dan memang masih ada tempat kosong yang bisa kami tempati). Kami tetap mengambil jatah menu yang sudah disiapkan untuk jamaah Indonesia tetapi hanya membawa makanan tersebut untuk dimakan di meja bagian jamaah India. Saat kami makan, seorang staf dapur asal India memberikan kami sepiring makanan India dan berkata. “Try it! It’s sweet” Dia menyuruh kami untuk mencicipi makanan tersebut. Saya segera mengamati makanan tersebut dan ternyata itu adalah olahan sayur pare. “I know it! It’s not sweet” ucap saya kepadanya. Dia pun tertawa dan sadar bahwa kami tidak terjebak dengan tipuannya. Walaupun begitu, tetap saja bapak saya mencoba makanan tersebut kemudian ekspresi “pahit” segera tergambar di wajahnya yang menyebabkan orang India yang sedang makan di sana tertawa. Setelah itu dia memberikan kami makanan lain yaitu ikan serta kerupuk khas India. Kemudian dia menawarkan kami untuk mencicipi makanan India di lain kesempatan. Keesokan harinya, tepatnya saat makan malam, staf India lainnya juga menyodorkan kami makanan India. Awalnya memberikan kami satu porsi lengkap makanan India. Lalu kami memakannya bersama dan memberikan komentar terbatas dalam bahasa Inggris “It’s good! Nice!” Dia pun menawarkan kami untuk menambah, tetapi kami tolak karena kami sudah kenyang. Hingga hampir setiap malam, kami selalu diberikan “cicipan” menu makanan India. Anehnya dia seakan cuma memberikan makanan itu kepada kami, melewati orang Indonesia yang sedang makan juga di meja yang sama dengan kami dan memberikan makanan India tersebut kepada kami. Alhamdulillah, mungkin ini balasan kami akibat memberi nasi kotak kami kepada orang lain saat kami masih di bandara Jogja. Saat hari kepulangan, kami pun memberikan staf dapur India itu snack kecil yang kami bawa dari Indonesia dan dia segera menerimanya dengan senang hati.

  • Perbuatan : Kebiasaan setiap mendekati waktu azan di bagian jamaah perempuan tepatnya di Masjidil Haram adalah masih banyak jamaah yang berkeliaran untuk mencari shaf solat yang masih kosong. Suatu hari menjelang sholat maghrib, ada 2 orang Ibu yang sibuk berjalan di antara jamaah yang sudah duduk menunggu waktu maghrib. Kelihatannya kedua ibu tersebut sedang mencari shaf kosong. Ibu yang satu mendapatkan satu tempat di sebelah saya sedangkan ibu yang lainnya masih mencari lagi. Namun kemudian ibu lainnya kembali dan meminta saya untuk menggeser duduk agar dia dapat shaf sholat. Saya pun segera bergeser sedikit memberikan tempat agar ibu tersebut dapat shaf. Sebenarnya shaf kami sudah sempit, tapi saya berpikir semoga nanti saat sholat masih bisa bergeser sehingga shafnya tidak terlalu sempit. Si Ibu segera mengucapkan “terima kasih” dengan bahasanya kepada kami.
  • Balasan: Tepat setelah sholat maghrib itu, kami tidak pulang ke hotel untuk sekalian menunggu sholat Isya. Saya yang sudah mencoba untuk tidak tidur, ternyata tidak bisa menahan kantuk dan menyusul adik dan ibu saya yang lebih dulu tertidur. Menjelang waktu Isya, saya dibangunkan oleh Ibu dan kami pun pergi keluar dari shaf untuk mengambil wudhu. Seusai mengambil wudhu kami melihat shaf kami tadi sudah diambil oleh orang lain. Lalu kami berusaha mencari shaf yang lain, hingga terlihat dua orang perempuan berwajah Arab memanggil kami dengan isyarat tangannya, menandakan bahwa kami bisa sholat di dekatnya. Alhamdulillah, setelah memberikan shaf kepada orang lain, kami juga diberikan shaf sholat.

  • Perbuatan : Pintu kamar hotel sebelah kamar kami menginap hampir selalu terbuka. Ibu mengira bahwa dari pintu tersebut memang masih ada pintu lagi menuju pintu kamar hotel. Akhirnya karena penasaran kenapa pintu tersebut selalu terbuka sedangkan kami tau ada orang yang menginap di sana, Ibu mencoba melihat ke dalam pintu tersebut dan ternyata di dalamnya sudah langsung kamar. Adegan itu langsung spontan membuat kami berkomentar “Ih, ini kenapa sih pintunya selalu dibuka gini”
  • Balasan : Beberapa hari kemudian, kunci pintu kamar kami rusak. Hal itu membuat kami harus memanggil petugas setiap kali kami ingin masuk ke kamar. Entah mengapa saya teringat kembali peristiwa pintu kamar sebelah yang sering terbuka pintunya. Oh ya, mungkin saja pintu kamar hotelnya juga rusak sehingga harus selalu dibuka. Mungkin ini juga akibat komentar kami dulu yang sebenernya cuma komentar biasa tanpa maksud apapun, tapi justru lewat ini Allah mengingatkan kami agar lebih menjaga komentar atau ucapan kami dan agar kami senantiasa berhusnudzon dengan segala sesuatu.

  • Perbuatan : Setelah beberapa hari di Masjidil Haram saya pernah bertanya kepada Ibu saya “Bu, di sini pernah ada orang yang pingsan ga sih? Kok kayak semuanya aman terkendali ya” Apa memang di sini semua orang dijaga Allah, pikir saya waktu itu. Ibu saya menjawab “Ya seharusnya pernahlah, apalagi di keramaian seperti ini.”
  • Balasan : Beberapa hari setelah saya bertanya tersebut, Allah pun menunjukkan jawaban atas pertanyaan saya tersebut tepat di depan mata saya. Saat itu saya sedang masuk pintu Masjidil Haram dan di depan saya terlihat seorang perempuan yang tergelatak tak sadarkan diri, dengan ada beberapa petugas yang membantunya dan membubarkan massa yang penasaran. “Tuh, katanya mau liat orang pingsan, akhirnya dilihatin Allah kan” ucap Ibu saya. Wah padahal cuma ngomong asal ternyata langsung dilihatin Allah.

Sekian beberapa pengalaman dari saya. Mungkin teman-teman juga punya beberapa perbuatan yang bisa langsung dilihat balasannya, atau balasannya baru terlihat beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian, atau setelah dipikir-pikir baru sadar ternyata ini balasan dari perbuatan X yang dulu dilakukan. Kalaupun memang belum terlihat balasannya di dunia ini, ingat masih ada balasan di akhirat dan ingatlah bahwa Allah adalah hakim yang seadil-adilnya. Jadi teruslah melakukan perbuatan baik, jangan pernah lelah, jangan pernah iri dengan orang lain, karena yakinlah perbuatan itu pasti akan diberikan balasan yang setimpal bahkan mungkin lebih oleh Allah Swt.

Dari beberapa perbuatan saya di atas juga memberikan pelajaran kepada saya pribadi, bahwa jangan asal bicara, apalagi waktu itu saya sedang berada di tanah suci Mekah. Di sana itu seakan semua ucapan menjadi doa, semua ucapan bisa segera terkabul. Makanya biasanya sebelum berangkat haji/umroh, maka akan disuruh oleh ustadz agar kita dapat mengontrol bicara kita, bicara yang  baik-baik, hindari membicarakan yang jelek. Kalaupun terlintas di hati atau pikiran kita pikiran yang buruk segeralah beristighfar. Kemudian dari sini juga, saya ingat pesan salah seorang ustadz yang saya tonton kajiannya di youtube “Dengan mengeluarkan sesuatu di jalan Allah, malah mendatangkan respon yang baik.” Kalau umumnya jargon orang-orang itu “menabung pangkal kaya” maka untuk umat Muslim kata menabung di sana seharusnya diganti dengan “memberi di jalan Allah”. Iya, memberi di jalan Allah adalah bisnis yang paling menguntungkan. Dengan memberi di jalan Allah, bukan menghilangkan rezeki kita tetapi justru mendatangkan rezeki yang lebih banyak lagi. Makanya kalo memberi, berusahalah memberikan yang terbaik di jalan Allah. Misalnya kita punya uang 1000 sampai 100.000 di dompet kita, biasanya yang kita berikan ke celengan masjid kok yang 1000 rupiah, 1000 rupiah yang sudah lecek dan jelek lagi. Kemudian dengan 1000 yang sudah lecek itu kita berdoa kepada Allah meminta kesuksesan, meminta kesehatan, meminta rezeki yang banyak, dan meminta macam-macam. Duh apa ga malu sama Allah 😦 Makanya yok mulai sekarang kita berlatih untuk memberikan apa saja yang terbaik yang kita miliki di jalan Allah. Dengan keyakinan bahwa apa yang kita berikan kepada orang lain di jalan Allah tak akan pernah sia-sia dan justru akan kembali kepada kita karena Allah sendirilah yang sudah menjaminnya.

Advertisements

4 thoughts on “Balasan yang Segera Terlihat

  1. Gadung Giri June 4, 2017 / 1:21 pm

    hebatnya perkataan dan perbuatan. untung ga iseng ada alien apa enggak ya.. 😶

    • saniarifa June 4, 2017 / 10:23 am

      Mungkin bisa dicoba lain kali 😂

      • Gadung Giri June 4, 2017 / 10:24 am

        😀 moga engga coba coba yang bikin tidak nyaman ah… moga lancar dan diterima ibadah dan doa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s