Posted in Islam, Sharing

Dilema Upload Foto

Tulisan ini dibuat karena terinspirasi oleh fenomena orang-orang jaman sekarang yang dengan mudahnya mengupload foto, terutama foto diri sendiri, ke media sosial. Harus kuakui aku pun masih begitu (sekarang sudah mulai berusaha mengurangi). Iya prosesi upload foto itu seakan memunculkan aturan semu bahwa membagikan setiap jengkal kehidupan kita di media sosial adalah kewajiban, padahal tidak sama sekali. Bahkan ada yang setiap detik kegiatannya di upload dan diberitahukan kepada orang lain, tanpa berpikir apakah memang layak upload atau tidak. Mungkin karena mengupload foto juga sudah dianggap sebagai eksistensi diri, kalo tidak mengupload foto merasa ga gaul, merasa kuper, merasa ga hebat. Prosesi upload foto pun bisa menjadi sarana untuk bersaing, entah makna apa yang tersimpan di balik foto yang di upload. Mungkin ada rasa ingin menunjukkan keberhasilan diri, ada rasa ingin dipuji karena cantik/ganteng/keren, yang sangat rawan dengan rasa sombong. Ada juga yang sengaja ingin menunjukkan kehidupannya secara terbuka, tapi setelah orang-orang mulai berkomentar tentang hidupnya, justru marah, bilang “urus saja hidupmu sendiri”. Padahal siapa yang mulai, membuka hidupnya untuk orang lain tapi tak menerima bila kritik berdatangan. Huft.

Menulis tentang topik ini mengingatkanku sewaktu aku ikut program magang di Jepang. Di Jepang itu terutama di perusahaan tempat aku bekerja dibatasi banget buat upload foto. Dari awal aku bekerja magang di perusahaannya aku sudah di wanti-wanti, bahkan ada di dalam aturan dan perjanjian tertulisnya bahwa tidak boleh mengupload foto orang lain (maksudnya foto karyawan di perusahaan itu), tidak boleh mengupload foto ruangan kerja atau ruangan di dalam perusahaan. Kalaupun ingin upload maka harus jelas dulu tujuannya apa, di upload ke mana dan yang pasti harus izin dulu ke perusahaannya. Waduh awalnya aku kesel banget, padahal kan mau upload kegiatanku ngapain aja tapi ya gabisa karena aku harus menaati peraturan (tuh kan mau sombong sih, makanya ga boleh ._.v). Walau pada akhirnya aku paham kenapa ada aturan ini dan emang penting ada aturan ini. Nah makanya waktu aku di Jepang aku cuma upload foto perusahaan dari luar, ga upload foto ruangan kerja, ga upload foto bareng dengan orang lain, dan akhirnya foto-foto yang diupload ya foto diri sendiri atau foto tempat/bangunan yang aku kunjungi.

Pernah sekali aku menulis di blog ini tentang pengalamanku berkunjung ke nursery house atau panti jomponya Jepang, kemudian aku ingin mengupload foto bersama di sana. Ya ampun izinnya ribet banget, aku harus bilang dulu ke pembimbingku, kemudian dia harus izin ke bagian hukum perusahaan, dan harus konfirmasi ke pihak pantinya. Sebenernya aku bisa sih langsung main upload aja, tapi sebagai warga Indonesia yg menaati peraturan (apalagi ini lagi di negara orang) aku menghormati dan berusaha mengikuti aturan yang berlaku dalam masa aku magang di sana. Walau pada akhirnya foto tersebut boleh di upload, rasanya lebih lega aja karena upload fotonya sudah legal. Oh ya, ada lagi foto aku bersama salah satu pasien kanker di rumah sakit. Karena sangat menjaga privasi pasien, bahkan aku sendiri pun tidak dibolehkan menyimpan file fotonya. Mungkin khawatir juga kalo aku sembarangan upload, padahal ga kok, kan biar jadi kenang-kenangan pribadi buatku aja. Ya tapi begitulah nyatanya.

Dan di Indonesia? Justru sangat berbanding terbalik. Semua orang berlomba selfie, berlomba memamerkan kelebihan, kecantikan, ketampanan, bahkan yang lebainya lagi ngantri toilet aja dipamerin, di upload ke media sosial. Akhirnya diri ini juga jadi terpengaruh dan ikut2an 😦 Padahal harus hati-hati kalo upload foto ke media sosial, banyak bahayanya, apalagi buat perempuan muslim. Kalo upload foto ga menutup aurat otomatis dosa, kalo upload foto yg menutup aurat pun harus ditanya dulu tujuannya apa. Karena seharusnya kan perempuan muslim yg baik itu yg bisa menjaga pandangan, yg bisa membantu laki-laki untuk menjaga pandangan mereka. Terus bisa bahaya juga misalnya ada yg hasad dengan kecantikannya bisa kena penyakit ain. Bisa juga fotonya di edit2 yg ga bener, dll. Naudzubillah.

Makanya tulisan ini jujur untuk pengingat diri sendiri. Berfoto itu gapapa, tapi saat foto itu di upload ke sosial media, maka seharusnya ada pertanyaan yg ditanyakan ke diri sendiri. Tujuan upload fotonya apa? Yang bakal liat fotonya siapa aja? Kalo cuma karena pengen dapet like yg banyak, dipuji cantik/ganteng, maka lebih baik ga usah di upload. *ngomong ke diri sendiri -> Jadi inget ya, sebelum upload foto, tanya dulu ke diri sendiri, tujuannya apa? Kalo ada sedikit aja unsur sombongnya, unsur pamernya, atau yg berpotensi bikin jadi sombong atau pamer, lebih baik ga usah upload, oke?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s