Posted in experience, Japan, Travelling, trip

Perjalanan ke Osaka-Kyoto (part 1)

Keluarlah dari zona nyamanmu karena kamu akan belajar banyak hal di luar sana. Di zona nyamanmu, tentu kamu akan merasa nyaman, tapi sayangnya dirimu kurang berkembang. Kamu merasa sudah cukup dengan apa yang kamu punya. Padahal banyak sekali potensi dirimu yang bisa kamu dapatkan jika kamu keluar dari zona nyaman.

Seperti pengalamanku saat pergi ke Osaka dari Tokyo. Sendirian. Literally being a solo traveller. Di negeri yang asing, yang bahasanya hanya sangat sedikit aku mengerti. Jadi ceritanya begini, aku yang saat itu sedang magang di salah satu perusahaan di Tokyo tertarik untuk pergi ke Osaka. Alhamdulillah ada seorang temanku yang sedang kuliah di Osaka sehingga di Osaka nanti aku bisa menumpang di apartemennya. Jarak antara Tokyo ke Osaka kurang lebih seperti jarak Jakarta-Yogyakarta. Begitu juga dengan daerahnya, kalo diibaratkan maka Tokyo itu ibarat Jakarta, ibu kota negara, kota metropolitan yang sangat maju dan padat dengan kesibukan masyarakatnya. Sedangkan Kyoto itu ibarat Yogyakarta, kota yang juga maju namun masih banyak budaya dan bangunan bersejarahnya. Kalo di Yogyakarta masih banyak candi, maka di Kyoto itu masih banyak kuil.

Waktuku yang hanya 6 minggu di Jepang, tidak mau kusia-siakan begitu saja. Aku ingin pergi menjelajah dan ingin pergi ke banyak tempat, sekalian lagi di Jepang kan ya. Setelah meminta pendapat dan meminta izin dari orang tuaku, aku pun memutuskan untuk pergi ke Osaka. Alhamdulillah “gaji” magangku selama di Jepang masih bisa aku gunakan untuk berjalan-jalan, meski aku juga tetap harus memperhitungkan dan harus bisa meminimalisir pengeluaran.

Dimulailah pencarian informasi tentang bagaimana cara berangkat dari Tokyo ke Osaka. Aku mencari di google, meminta pendapat teman-teman kantorku, meminta pendapat temanku yang di Osaka, juga meminta pendapat temanku yang orang Jepang. Beberapa saran berhasil aku dapatkan. Kalau dari teman kantorku, maka mereka menyarakan aku untuk naik shinkasen karena sangat nyaman dan cepat. Wah pengen banget sih naik shinkansen tapi kendalanya satu yaitu harga. Kalo temen kantor sih wajar menawarkan untuk naik shinkansen karena mereka kan udah punya gaji sendiri dan udah biasa naik shinkansen. Opsi lainnya adalah naik bus, dan pada akhirnya opsi inilah yang aku ambil. Kenapa? Alasan paling utama adalah karena harganya terjangkau. Meski teman kantorku menyarankan jangan naik bus karena risiko bahayanya lebih besar daripada naik shinkansen, apalagi dia juga memberi tauku bahwa baru-baru ini ada kecelakaan bus malam yang mengakibatkan korban 14 orang meninggal, tapi setelah aku bertanya dengan temanku yang orang Jepang, ia berkata bahwa naik bus di Jepang itu aman dan juga nyaman. Ya jadi bismillah saja aku akhirnya memilih naik bus.

Setelah menetapkan pilihan untuk naik bus, aku membuka website bus resmi Jepang (willer express) dan aku memesan bus malam jurusan Tokyo-Osaka. Aku benar-benar memanfaatkan waktuku semaksimal mungkin. Karena selama magang di Jepang waktu liburku hanya weekend, maka aku memilih pergi dengan bus dari Tokyo Jumat malam dan kembali lagi dari Osaka minggu malam. Saat membuka websitenya aku bersyukur karena websitenya menggunakan bahasa Inggris sehingga aku lebih mudah memahaminya. Ternyata banyak sekali pilihan jenis bus di sana. Ada bus yang berkapasitas 20 orang, 30 orang, ada bus dengan fasilitas charger, toilet, tempat duduk yang luas (wide seat), tempat duduk yang membedakan wanita dan pria (ladies seat privacy), ada bus yang khusus wanita (women only), ada yang difasilitasi selimut, ada gorden pemisah antar kursi, dan banyak pilihan fasilitas lainnya. Dengan berbagai pertimbangan aku akhirnya memilih salah satu jenis bus dengan fasilitas 3 seats row, wide seat, ladies seat policy, yang ada chargernya, ada gorden pemisah, dan ada selimutnya. Aku melakukan pembayaran di Lawson, salah satu minimarket yang paling dekat dengan apartemenku di Tokyo. Ada mesin khusus untuk melakukan pembayaran tiket bus dan rasanya lama sekali bagiku berdiri di depan mesin itu. Alasannya karena mesinnya menggunakan bahasa Jepang, sehingga aku harus bolak-balik melihat petunjuk pembayaran di hape dan mencocokkannya dengan tulisan yang ada di mesin.

Tibalah hari Jumat yang ditunggu-tunggu, setelah pulang dari kantor pukul 6 sore aku segera kembali ke apartemen dan berkemas untuk pergi ke Osaka. Kalau tidak salah keberangkatan bus ku sekitar pukul  9, jadi aku masih punya cukup waktu. Pukul 8 malam, aku keluar dari apartemen dan berjalan ke Stasiun Kajibashi Tokyo sambil menarik koper kecilku. Entah kenapa waktu itu tidak ada perasaan takut untuk pergi sendirian, naik bus malam, padahal itu di negara lain. Mungkin karena keinginanku buat berpetualang lebih besar. Halah. Aku terus berjalan menuju Stasiun Tokyo. Dari jauh aku sudah melihat tulisan JR bus station yang membuatku berasumsi di sinilah tempat aku menaiki bus. Setelah tiba di sana, aku segera bertanya pada salah satu petugas (tentu dengan bahasa jepangku yang terbatas dibantu dengan bahasa tarzan) dan menunjukkan tiketku. Ternyata dia menyuruhku untuk berjalan ke arah stasiun kajibashi yang jaraknya kurang lebih 500 m dari JR bus station.

Waduh, mulai muncul rasa cemas nih. Aku masih terus berjalan meski dilingkupi rasa cemas apakah aku akan menemukan stasiun kajibasshi tokyo. Tak lama aku berjalan, terlihat tulisan yang menunjukkan ke arah Tokyo International Forum dan seingatku saat aku mencari lokasi stasiun kajibashi di google maps maka letaknya berdekatan dengan Tokyo International Forum itu. Kecemasanku perlahan menghilang saat aku melihat tiang petunjuk dengan lambang bus dan P. Aku segera bertanya pada petugas di sana. “Kajibashi?” “Hai, kajibasihi parking” Alhamdulillah sampe juga di stasiunnya. Baru nyampe stasiunnya aja udah seneng. hehe

Aku masuk ke dalam ruang tunggu yang telah disediakan, lalu bertanya pada bagian informasi dan aku disuruh menunggu hingga bus ku datang. Jadi di dalam ruang tunggu tersebut, ada layar yang memberitahukan kedatangan bus. Setiap ada informasi bus yang datang di layar tersebut, aku segera melihat tiketku dan menyamakan merk bus di tiketku dan yang tertera di layar. Tak lama, layar tersebut menunjukkan nomor bus ku. Terlihat beberapa orang keluar dari ruang tunggu menuju parkiran bus. Aku mengikuti keramaian orang yang keluar tersebut dan ikut mengantri masuk bus.

Di depan pintu bus, ada seorang petugas yang memegang secarik kertas. Saat aku tiba di depannya, dia menanyakan namaku. Aku memberitahu namaku, kemudian dia melihat kertas yang dipegangnya tersebut dan menyebutkan nomor kursiku yaitu 8A. Wah baru pertama kali naik bus di Jepang bener-bener langsung kagum sama sistemnya yang teratur banget dan penumpangnya yang masuk bus dengan tertib. Jadi, kertas yang dipegang petugas itu berisi nama penumpang dan nomor kursinya. Kursiku adalah urutan kursi paling akhir di dekat jendela dan kursi di sampingku adalah milik seorang mbak-mbak orang Jepang. Sepertinya ini karena aku memilih bus dengan “ladies seat policy” jadi untuk perempuan maka dipilihkan kursi yang bersebelahan dengan perempuan juga. Top banget deh, jadi merasa lebih aman.

Aku meletakkan tasku di bagian atas kursi dan duduk. Wanita yang duduk di sebelahku terlihat mengatur kursinya sedangkan aku hanya bisa duduk diam, lalu melihat pamflet tentang cara penggunaan kursi bus ini. Jujur ini kursi bus nya beda banget dengan bus di Indonesia, kursi bus ini bisa diatur sedemikian rupa dan senyaman mungkin. Selain sandaran kursi yang memang bisa dimiringkan hingga kursinya hampir menjadi seperti kasur, ada juga bantalan kaki. Jadi saat memanjangkan kaki akan lebih nyaman. Pokoknya top banget deh, kalo menurutku ini bus rasa pesawat. Hehe. Melihatku yang kebingungan sambil memperhatikan pamflet dan tombol pengatur kursinya, wanita Jepang di sebelahku bertanya “Wakaru?” Aku segera menggelengkan kepala dan menjawab “Wakarimasen” Tanpa aku minta dia pun segera membantuku mengatur kursiku, dia menjelaskan padaku tombol-tombol yang ada di kursi. Setelah selesai aku segera mengucapkan terima kasih padanya. Emang bener deh orang Jepang ramah-ramah dan baik-baik banget. Kemudian dia menarik gorden di antara kursi kami, ya mungkin dia butuh privasi.

Tak terasa aku pun tertidur dengan nyenyak, rasanya benar-benar beda dengan naik bus di Indonesia. Di sini jalanannya mulus, kursinya juga nyaman dan luas sehingga sangat mudah bagiku yang memang sudah lelah, untuk segera tidur dengan pulas. Entah pukul berapa aku terbangun, tapi rasanya aku sudah merasa segar dan cukup tidur. Hingga waktu menunjukkan pukul 05.30 aku segera berwudhu dengan tayamum dan menjalankan sholat subuh sambil duduk. Pukul 06.30 aku mendengar pengumuman dengan kata-kata Umeda. Umeda adalah nama stasiun tujuanku di Osaka. Untuk menyakinkan apakah benar pengumuman yang aku dengar, maka aku bertanya pada wanita di sampingku lagi. Dan ternyata benar, pengumuman tadi maksudnya menunjukkan bahwa bus akan segera tiba di Umeda. Yeay, Alhamdulillah akhirnya sampe juga Osaka. Baru cerita berangkatnya aja udah panjang ya. Okedeh sekian dulu cerita perjalanan Osaka-Kyoto part 1. Nanti insyaAllah kalo sempet bakal dilanjutin dengan part 2 tentang jalan-jalan di Osaka dan Kyotonya. Anyway, thanks for everyone yang sudah baca 🙂

Advertisements

11 thoughts on “Perjalanan ke Osaka-Kyoto (part 1)

  1. Pingback: life in letters

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s