Memahami Ujian Hidup

“Katanya Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Lalu kenapa manusia masih saja merasa bahwa ujian hidupnya terasa amat berat?”

Aku terdiam. Pertanyaan temanku itu ikut membuatku berpikir. Aku segera membuka aplikasi Al Quran di hapeku. Melihat terjemahan surah Al Baqarah ayat terakhir, di mana memang benar bahwa dalam ayat tersebut dituliskan “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya……

Kalimat terjemahan itu aku baca berulang kali, berusaha untuk memahami maknanya. Namun bukannya mengerti aku justru makin bertanya-tanya: Sebenarnya apa maksud Allah menurunkan ayat ini? Padahal di luar sana, banyak manusia yang sering merasa bahwa cobaan atau beban hidup yang dideritanya terasa amat berat bahkan mereka merasa tak sanggup menghadapinya.

“Kamu juga pernah merasakan begitu bukan? Merasa ujian hidup yang kamu alami sangat berat”

Aku segera mengangguk setuju menanggapi pernyataannya. Iya, tentu saja aku pernah merasa ujian hidupku amat berat.

“Dulu, aku juga sering bertanya-tanya kenapa Allah menurunkan ayat tersebut. Padahal jelas-jelas aku tak sanggup dengan ujian hidup yang aku dapatkan. Namun setelah semua ujian tersebut sekarang terbukti bisa aku lewati, aku jadi sadar bahwa manusia seringkali tidak mengerti dengan kadar kesanggupan dirinya sendiri. Lalu siapa yang lebih mengerti? Ternyata yang lebih mengerti itu Allah.”

“Hmm, coba sekarang kamu baca lanjutan terjemahan dari ayat tersebut. Itu akan membuatmu lebih paham”

Aku menurutinya untuk melanjutkan membaca terjemahan ayat “Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…

Berbeda dengan perkataannya, aku justru tidak mengerti maksud kalimat terjemahan lanjutan ini. Melihat wajahku dengan ekspresi yang masih kebingungan, temanku segera melanjutkan penjelasannya.

“Ujian diberikan bukan untuk kita nilai berat ringannya. Itulah maksud Allah berkata di dalam Al Quran, bahwa Allah tidak membebani seseorang sesuai kesanggupannya. Saat mendapat ujian dalam hidup, tugas kita bukan menilai apakah ujian ini terasa berat atau ringan, bukan untuk menilai apakah ujian ini sanggup dilewati atau tidak. Bukan itu. Sepanjang kamu yakin kita ini ciptaan Allah, maka yakinlah bahwa Allah memang tau ciptaanNya, Allah sudah tau bahwa kita sanggup.”

“Jadi, berhentilah menilai berat ringannya suatu ujian, dan fokuslah pada tindakan yang kamu lakukan: kebajikan atau kejahatan. Jika kamu melakukan kebajikan maka kamu akan mendapat pahala, sebaliknya jika kamu melakukan kejahatan maka kamu akan mendapat dosa.”

“Aku tau praktiknya tidak segampang yang aku katakan, makanya kita butuh latihan berulang kali. Itulah mengapa selama hidup kita akan selalu mendapatkan ujian, agar kita terlatih. Kamu boleh bersedih saat mendapat ujian tapi jangan sampai berlarut-larut. Ajari hatimu untuk terus menumbuhkan keyakinan bahwa ujian ini tidak seberat yang kamu bayangkan, yakinkan hatimu bahwa kamu pasti sanggup melewatinya. Setelah itu berlatihlah untuk sabar, berlatihlah untuk fokus mencari jalan keluar, berlatihlah untuk terus menggantungkan harapan pada Allah. Berlatihlah untuk terus melakukan kebajikan. Sehingga dengan begitu, semoga di akhir nanti, pahalamu akan menggunung karena kebajikan yang kamu lakukan saat mendapat ujian hidup.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s