Posted in experience, feeling, Islam, Sharing, Travelling, trip

Kiriman Allah Menuju Raudhoh, Pertemuan Tak Terduga Dengan Muslimah Aljazair

“رب صدفة خير من ألف ميعاد”

Perkataan ini disebutkannya saat kami hendak keluar dari gerbang pagar Masjid Nabawi. Perkataan yang artinya bahwa suatu kejadian yang tidak direncanakan bisa lebih baik dari seribu pertemuan yang sudah direncanakan. “Coincidence might be better than a thousand of appointments” Saya setuju sembari menambahkan ucapan bahwa memang Allah yang menakdirkan pertemuan kami, bahwa Allah senantiasa mempertemukan orang-orang baik. Dan pertemuan kami dengannya adalah takdir terbaik Allah.

Setelah keluar dari kunjungan pertama ke raudhoh (tulisan tentang ke raudhoh sebelumnya bisa di baca di sini), saya merasa belum puas menyampaikan doa-doa saya. Rasanya saya ingin kembali masuk ke raudhoh. Bahkan saya berniat untuk berlatih mengucapkan doa-doa apa saja yang akan saya sampaikan di raudhoh. Akhirnya saya, ibu saya dan adik saya memutuskan untuk memasuki raudhoh lagi. Hari itu, kami sengaja makan malam setelah maghrib (biasanya setelah isya) kemudian kembali ke Masjid Nabawi dan mengambil shaf sholat isya di daerah dekat raudhoh. Sesudah sholat Isya kami segera menuju tempat raudhoh. Ternyata tempat raudhoh belum dibuka. Mungkin masih diatur dan dikondisikan mengingat raudhoh adalah tempat shaf sholat jamaah laki-laki.

Kami mencari spot untuk duduk menunggu, namun ternyata ada suara yang memanggil ke arah kami “Ibu! Ibu!” Ternyata sumber suara itu adalah dari seorang laskar perempuan yang sedang memegang papan bertuliskan “kumpulan berbahasa melayu” Dia memanggil kami dan bertanya kepada kami “Raudhoh?” Kami segera mengangguk. “Duduk, duduk” aksen arabnya yang masih terdengar sedikit lucu bagi saya yang mendengarnya, namun cukup memberi pengertian kepada kami bahwa dia menyuruh kami duduk dengan kumpulan jamaah perempuan lainnya. Untuk mendapatkan keberkahan memasuki raudhoh serta mengikuti aturan yang ada, kami pun menuruti perintah laskar perempuan itu. Duduk bersama jamaah perempuan “kumpulan berbahasa melayu” yang kebanyakan memang diisi oleh orang Indonesia dan orang Malaysia.

Di sebelah kami juga terdapat kelompok jamaah perempuan lain yang dari mukanya saya tebak adalah kelompok orang turki. Cukup lama kami menunggu di sana hingga pintu raudhoh telah dibuka dan terlihat beberapa orang segera berjalan cepat hingga berlari menuju ke dalamnya. Namun, laskar yang memimpin kami tetap menyuruh kami duduk. Terlihat kelompok jamaah perempuan tetangga sudah mulai berdiri dan masuk ke arah lokasi raudhoh.

Rasanya lama sekali menunggu giliran kami maju. Namun alhamdulillah jamaah kumpulan berbahasa melayu ini masih tetap sabar menunggu giliran. Menurut pengamatan saya secara umum jamaah Indonesia adalah jamaah yang paling patuh. Berbeda dengan jamaah lain yang apabila disuruh duduk justru tidak patuh dan memaksa pergi berdiri hingga berani mendorong. Mungkin sekitar setengah jam sampai sejam setelah sholat Isya, akhirnya laskar kami dengan tangannya mengisyaratkan kami untuk berdiri dan memimpin kami berjalan menujut ke dekat raudhoh. Namun, kami tidak langsung masuk ke raudhoh, kami disuruh duduk kembali menunggu giliran lagi untuk dipersilahkan ke raudhoh. “Duduk, duduk” Oke, baik, mari kita duduk lagi.

Keramaian khas raudhoh sudah terdengar dari tempat kami duduk menunggu. Saat kami menunggu, saya melihat seorang perempuan yang jelas-jelas bukan tipe muka kumpulan berbahasa melayu sedang berdoa sambil duduk dengan khusyuk bahkan sambil meneteskan air mata. Adik saya yang duduk tepat bersebelahan dengannya menanyakan asal perempuan ini. Ternyata dia berasal dari Aljazair dan sekarang tinggal di Dubai. Hanya dalam waktu beberapa menit, saya juga sudah ikut mengobrol asik dengannya menggunakan bahasa inggris. Dia bercerita bahwa dia tidak tau di mana letak tepatnya raudhoh makanya dia sudah berdoa terlebih dahulu. Kami yang sudah punya pengalaman ke raudhoh sebelumnya memberitaunya informasi tentang raudhoh serta memberikan tips-tips dari ustadzah yang sebelumnya membimbing kami ke raudhoh.

Obrolan kami lumayan banyak hingga harus diberhentikan dulu karena laskar perempuan di depan kami menyuruh kami berdiri. Menandakan bahwa kami boleh mulai memasuki raudhoh. Seperti biasa, semua orang langsung berdiri dan mulai saling mendorong. Saya, adik saya dan ibu saya langsung berpegangan tangan dan masuk ke raudhoh bersama. Saya berdiri paling depan, mencari jalan menuju shaf pertama di raudhoh. Saat sekilas saya melihat kebelakang untuk memastikan bahwa adik dan ibu saya memang mengikuti, ternyata saya masih melihat sosok muslimah Aljazair itu ikut memegang tangan ibu saya.

Kami pun berada di shaf terdepan, namun kali ini ternyata untuk menunaikan sholat lebih susah dibandingkan saat dibimbing ustadzah. Mencoba mengikuti apa yang dilakukan ustadzah, dengan bahasa terbatas saya meminta kepada seorang jamaah untuk gantian sholat, bilang “insyaAllah qabul”. Kami juga mencoba mengingatkan jamaah yang meratap hingga mengusap dan mencium batas raudhoh laki-laki dan perempuan seakan mengagungkannya secara berlebihan. Di sini ibu saya juga sempat didorong dan dimarahi oleh seorang jamaah perempuan, entah mungkin karena kami memintanya gantian.

Di tengah keramaian untuk mencari spot sholat, Souad, nama perempuan Aljazair itu yang masih ikut bersama kami tadi langsung mengambil inisiatif untuk sholat. Kami yang melihat dia sudah mulai sholat segera membentuk pagar dengan rangkaian tangan kami untuk menghalangi agar orang-orang tidak melewatinya. Setelah selesai sholat, dia menyuruh ibu saya untuk sholat, kami lanjut menahan orang-orang agar tidak melewati Ibu yang sedang sholat. “Sholli sholli” saya ucapakan pada orang yang ingin lewat di depan Ibu. Berbeda dengan Souad, dengan tenaganya yang lebih kuat dia menahan dorongan orang-orang dan bisa menjelaskan dengan kemampuan bahasa arabnya agar orang-orang jangan lewat. “Tell her to make it quick” Souad berbicara kepadaku agar menyuruh ibu sholat lebih cepat. Setelah Ibu sholat kemudian bergantian dengan adik saya dan kemudian saya.

Awalnya, saya berencana untuk segera mengambil jalan keluar dari raudhoh setelah kami semua sholat. Namun, Souad yang memang sangat baik hati mempersilahkan jamaah lain untuk sholat di tempat kami tadi. Kami pun berusaha melindungi perempuan yang sholat itu. Hingga ada 2 orang jamaah Indonesia yang melihat kami membantu jamaah asal negara lain, meminta tolong untuk dia diberikan kesempatan sholat juga. “Bu, nanti jagain saya juga ya” Kami mempersilahkan mereka sholat hingga selesai untuk kemudian kami selesai dan berjalan ke arah exit.

Saya berpisah dengan ibu saya dan adik saya. Kali ini tangan saya digenggam Souad dan dia menuntun saya mencari jalan keluar. Di sini saya merasakan tenaganya yang kuat sehingga kami melewati keramaian jamaah dengan mudah. Kami bertemu kembali di dekat tempat keluar raudhoh. Melihat tempat yang kosong, akhirnya kami melaksanakan sholat lagi di sana. Kali ini 2 orang jamaah Indonesia yang tadi kami bantu, juga membantu kami sholat dengan menghalangi agar orang-orang tak lewat di depan kami. Alhamdulillah kami bisa sholat 2 kali di raudhoh, meski saya hanya sekali karena melihat keramaian yang tak memungkinkan lagi untuk sholat.

Akhirnya kami pun keluar ke arah exit, dan benar-benar berada di luar area raudhoh. Mengucap Alhamdulillah karena bisa diberi kesempatan ke raudhoh (lagi). Perjalanan ke luar Masjid Nabawi kami habiskan dengan mengobrol banyak hal dengan Souad. Sebelum keluar pintu gerbang Masjid Nabawi, kami mencari air zam-zam dulu. Ternyata beberapa tempat air zam-zam sudah habis. Kemudian kami mencari air zam-zam lagi. Alhamdulillah saya menemukan tempat yang masih berisi dan memanggil yang lain ke tempat saya. Saat saya, adik saya, dan ibu saya sudah mengambil air zam-zam, Souad kembali dengan 3 gelas air zam zam yang rencananya akan diberikan kepada kami. Melihat kami sudah memegang gelas zam-zam masing-masing, akhirnya dia dengan baik hatinya memberikan gelas air zam-zam itu kepada orang lain yang terlihat sedang mencari air zam-zam juga.  Ga ngerti lagi, ini orang baiknya kebangetan.

Setelah itu kami pun pulang, namun ternyata Souad meletakkan sandalnya di pintu gerbang yang berbeda dengan pintu gerbang tempat kami keluar. Berbeda dengan kami yang sudah sengaja menyimpan sandal masing-masing di dalam tas kami. Dia mencoba mengingat pintu gerbang yang dia masuki dan kami juga berusaha membantunya mencari gerbang yang dia maksud. Meski akhirnya kami tetap bertanya kepada petugas untuk menuju pintu gerbang tersebut.

Pintu gerbang tempat Souad menaruh sandalnya adalah gerbang Umar bin Khattab, gerbang yang biasa kami masuki untuk melaksanakan sholat. Sayangnya setelah kami sampai di gerbang tersebut, pintu gerbangnya sudah ditutup. Souad pun memutuskan untuk membiarkan sandalnya di sana, dan berjalan ke hotelnya tanpa alas kaki. Dengan ikhlas dia berkata “I will search it tomorrow or I will just tell my husband to buy me another sandal” Dia juga berkata “I hope no one see me without sandal” kami menyakinkannya bahwa sepertinya tidak ada orang yang akan benar-benar memperhatikan dia tanpa sandal, so it’s okay. Sebelum keluar masjid Nabawi, kami tak lupa mengambil foto selfie terlebih dahulu. Dia juga memberikan nomornya agar kami dapat mengirimkan foto tersebut dan menjaga silaturahim.

Di saat itulah dia menyebutkan bahwa dia merasa sangat beruntung bertemu dengan kami. Kami juga berterima kasih kepadanya dan merasa sangat senang bertemu dengannya. Kemudian kami berjalan kembali ke hotel. Souad lebih dulu sampai di hotelnya. Kami mengucapkan salam perpisahan, kemudian cipika cipiki 4x (katanya biar khas orang Arab), berharap semoga bisa ketemu lagi saat sholat Fajar/Subuh keesokan harinya. Namun, ternyata kami tidak bertemu lagi pagi harinya. Dalam pesannya melalui WA, dia mengirimkan pesan yang sangat so sweet…..

It was very nice to meet you yesterday… I had fun and thanks for your help :* :* Hope to see you again and big kisssss to your mum 😉

Oh yea have a nice trip and enjoy your Umrah… us we’re leaving to dubai going back home 😦 I didn’t find my Sandal… I just bought a new one 😉 Talk to you later and this is my emirates number maybe you fly to dubai so you can come over to my house you’re welcome. Have a lovely Umrah ❤ ❤ <3″

PhotoGrid_1494080184189
Thank you Souad 🙂 Hope we can meet again someday (fotonya sengaja di blur)

 

 

Advertisements
Posted in feeling, heart, Self, Sharing, Uncategorized

Dibalik Semua Tentang

Belakangan ini banyak kejadian yang menambah beban pikiran. Tapi yang mau aku share bukan tentang apa aja pikiranku yg riweuh itu tapi tentang beberapa pelajaran yang bisa aku ambil dari beberapa kejadian tersebut:

1. Tentang ga lulus osce kompre. Hari itu aku membuka notif line teman-temanku yang pesannya berisi “eh gimana hasilnya?” Dari pesan itu aku tau bahwa pengumuman osce kompre sudah keluar. Aku langsung membuka grup angkatan dan ternyata memang benar bahwa hasil osce kompre sudah keluar, lengkap dengan gambar pengumumuan hasil osce yang difoto oleh salah satu teman angkatanku. Setiap gambar aku buka, melihat sekilas untuk mencari namaku dan ternyata hasilnya aku tidak lulus. Iya secepat itu. Sepertinya baru saja tadi hidupku penuh dengan harapan dan doa-doa agar lulus osce tapi ternyata dalam waktu semenit harapan itu langsung hilang. Well, namanya juga hidup ya, ga mungkin setiap harapanmu terkabul. Aku masih dengan mekanisme pertahanan menerima dan berusaha menghibur diri. Setelah tau aku tidak lulus, hal yang aku lakukan pertama adalah memberi kabar kepada ibu bapak.

“Bu, aku ga lulus osce. Maaf ya”

Pesanku singkat, karena aku sebenernya tak tega memberi tau kabar tentang ketidaklulusanku. Aku merasa bersalah dan aku takut mengecewakan orang tuaku. Tidak lama dari itu, hapeku berdering, dengan segera aku menarik tombol hijau di layar. Di ujung sana terdengar suara ibuku.

“Yaudah gapapa mbak. Semangat terus. Santai aja, dijalanin semuanya, emang udah ada waktunya masing-masing kan. Jangan lupa doanya dibanyakin terus, tahajudnya juga.”

Seketika rasa bersalah itu berubah menjadi haru. Bagaimana tidak, orang tuaku tidak marah, tidak menyampaikan rasa kecewanya, namun justru menghiburku, membesarkan hatiku. Dan semoga kekosongan waktu menunggu koas bisa aku isi dengan rencana-rencanaku yang pada akhirnya dapat menambah tingkat ketakwaanku kepadaNya.

Selain itu masih ada lagi pelajaran yg bisa diambil dari ketidaklulusanku ini yaitu tentang meremehkan. Jujur, stase osce yang harus aku ulang bisa dibilang stase yang “mudah” karena sejak tahun pertama stase itu selalu ada. Walau memang pemeriksaannya harus lebih lengkap di osce kompre ini. Stase ini selalu menjadi stase favoritku. Aku merasa sudah bisa dan aku tidak mengikuti sesi latihan stase ini. Ya, aku tau, aku terlalu meremehkan. Mungkin karena ini Allah ingin memberikan pelajaran padaku bahwa jangan pernah meremehkan sesuatu. Rasanya masih sakit hati setiap belajar ulang stase ini, dan aku masih saja mengutuk kebodohan diri yang tidak bisa mendiagnosis penyakit dengan benar. Alhamdulillah sekarang sudah bisa menerima rasa sakit hati itu. Jangan pernah meremehkan ilmu, apalagi ilmu ini nantinya akan aku gunakan untuk berhadapan dengan manusia #selfreminder

2. Tentang hakikat melepaskan (dan takdir). Ada suatu peristiwa sederhana yang mengingatkanku tentang hakikat melepaskan. Waktu itu kira-kira 2 bulan yang lalu, aku ninggalin suatu barang milikku di suatu tempat. Waktu mau pulang baru inget kalo aku ninggalin di tempat itu. Karena males ngambilnya, akhirnya aku berencana buat ngambil barang itu keesokan harinya aja, eh terus lupa lagi. Ya udah akhirnya aku melepaskan barang itu. Paling ntar ada yang ngambil atau ada yg buang, pikirku dulu. Beberapa hari yang lalu aku pun ke tempat itu lagi (tempatnya emang jarang aku datengin), dan aku melihat sesuatu yang familiar. Ternyata barang yang aku tinggalin dan sudah aku relakan sejak 2 bulan yang lalu masih ada di situ, di tempat yang persis saat aku ninggalin barang itu. Sederhana banget sih emang hehe. Tapi cukup mengingatkan tentang iman kepada takdir.

“Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.” Umar Bin Khattab .

3. Tentang rasa hampa dan ketenangan. Ada saatnya perasaanmu serasa kosong. Rasanya ada lubang yang membuka lebar di hatimu, tapi kau tak tahu bagaimana menutup kembali lubang itu. Rasanya ada sesuatu yang hilang. Kau tak tau pergi ke mana, kau tak tau apa yang kurang, kau tak tau harus berbuat apa. Dan setiap perasaan itu muncul seperti ada rasa rindu yang menghujam. Setiap kali perasaan itu datang aku mencoba meyibukkan diriku, mendengarkan lagu, mencoba menonton film, mencoba mengobrol, mencoba jalan-jalan namun tetap saja perasaan hampa itu ada. Hingga akhirnya aku mencoba untuk mengunjungi rumahNya. Sudah lama memang sejak terakhir kali aku ke sana. Ternyata memang benar apa yang dikatakan temanku di jepang dulu bahwa saat dia memasuki bangunan suci itu ada rasa ketenangan yang muncul. Padahal dia bukan seorang muslim. Saat langkah pertama memasukinya, aku mencoba mencari rasa yang bisa menutupi lubang di hati ini dan ternyata benar rasa tenang inilah yang aku cari. Padahal aku hanya diam, hanya duduk tenang, entah berfikir tentang banyak hal tapi aku merasa tenang dan aku merasa bersyukur seiring dengan tarikan nafasku. Membasuh muka dan anggota gerak dengan air, bersujud, membaca sabdaNya. Bisa dibilang hanya kegiatan “sederhana” tapi sangat berarti. Dan kini aku tau ke mana harus pergi setiap perasaan hampa itu datang.

4. Tentang manusia dan perasaan. Tenang, ini bukan tentang cinta-cintaan atau perasaan menye-menye yang aku juga ga tau maksudnya gimana perasaan menye-menye itu ._. Ini lebih ke bagaimana berinteraksi dengan makhluk ciptaan Allah yang dianugerakan akal…… dan juga rasa. Bisa juga ini karena efek baca buku How to Win Friends and Influence People atau di versi bahasa Indonesia judulnya Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain karya Dale Carnegie. Bukunya bagus dan seru. Sebenernya kalo dari yang aku tangkep beberapa poin penting dalam buku ini adalah tentang bagaimana cara kita memposisikan diri kita pada orang lain atau menjadikan diri kita sebagai orang lain. Kita selalu boleh melihat sudut pandang dari kita sendiri, tetapi jangan lupa untuk melihat dari sudut pandang orang lain juga. Kenapa mereka berbuat itu? Bagaimana perasaan mereka? Apa yang sebenernya mereka inginkan? Ya, jangan lupakan pikirkan dan rasakan juga tentang mereka. Manusia itu makhluk yang kompleks dan setiap individu punya kompleksitasnya masing-masing. Makanya ilmu tentang berinteraksi dengan manusia adalah ilmu yang sangat penting karena tak bisa kita elakkan bahwa di dalam hidup ini kita akan selalu berinteraksi.

5. Tentang hidup sederhana. Waktu itu lagi dengan Ibu dan random aja ngegosip ngobrolin tentang orang yang bangga karena anaknya bisa hidup sederhana. Nah, konsep hidup sederhana ini juga diajarin Ibu kepada kami, anak-anaknya. “Hidup kaya tuh ga butuh latihan, hidup prihatin yang butuh. Semua orang kalo udah kaya, ya enak, tinggal dengan mudah menikmati semuanya. Kalo dari kaya ke miskin baru susah” Ga persis, tapi kira-kira gitu kata Ibu. Hidup sederhana bukan berarti kamu ga bisa nikmatin apa yang kamu punya, tapi kamu bisa mengoptimalkan apa yang kamu punya dan mensyukurinya (teori sendiri ini mah). Soalnya kita ga tau kapan Allah kasih kita rezeki yang banyak, dana kapan pula kita diuji dengan dikuranginya rezeki kita. Jadi, kalo misalnya kita udah biasa hidup kaya terus tiba-tiba diuji Allah dengan kemiskinan, takutnya kita ga bisa hidup. Tapi kalo misalnya kita udah terbiasa dengan hidup sederhana, terus tiba-tiba dikasih Allah rezeki jadi orang kaya, ya tinggal terserah kita mau hidup sederhana atau mau hidup kaya.

Dah selesai. Iya gitu aja. Sekian dan terimakasih yang sudah merelakan waktunya buat baca sampe sini..

Posted in feeling, heart, Islam

How to keep caring in this selfish world?

How to keep caring in this selfish world?

Aku menulis kalimat tersebut di buku catatan kuliahku setelah kuliah berakhir. Emang random banget dan ga ada nyambung-nyambungnya dengan topik kuliah. Entah kenapa, pertanyaan itu muncul. Aku berpikir tentang bagaimana tetap peduli di dunia yang sangat egois ini? Apakah bisa orang tetap peduli di tengah keegoisan orang lain? Bila memang bisa, apakah ada orang yang tetap istiqomah untuk selalu peduli meski orang lain tak pernah mempedulikannya?

“Dunia ini tempatnya kecewa”

Mungkin setelah membaca kalimat tersebut yang berhasil membuatku berpikir tentang kepedulian. Mungkin juga karena aku pernah merasa kecewa setelah peduli terhadap orang lain. Intinya waktu itu aku (sok) peduli sama orang lain, namun ternyata orang lain itu bahkan ga peduli sama dirinya sendiri, ga ada rasa terima kasih karena udah dipeduliin, apalagi mau balik peduli. Yang ada, dia malah egois, cuma peduli sama urusannya sendiri. Jadinya aku malah kecewa karena udah peduli dengan dia. Terus aku  jadi mikir kalo tau kayak gini, mending aku egois aja, ga usah (sok) peduli, ga usah (sok) baik. Lebih baik pikirin diri sendiri aja. (Duh malah jadi curhat)

Tapi hati kecilku yang lain ga sepaham. Bilang kalo aku seharusnya tetep bisa peduli. Makanya aku bingung gimana caranya bisa tetep peduli di tengah keegoisan orang lain. Yang lebih penting lagi gimana biar ga kecewa karena udah peduli dengan orang lain.

Alhamdulillah dapet pencerahan setelah nonton video Ustad Nouman Ali Khan yang ini (bisa diklik link videonya). Kalo menurut pemahamanku selama ini, kecewa itu muncul karena harapan kita ga sesuai dengan kenyataan. Berarti biar ga kecewa gampang dong. Ga usah berharap aja. Nah menurutku ini juga ga bener, karena harapan itu bisa jadi sumber kekuatan manusia.

Hmm, terus kenapa Allah bikin rasa kecewa itu ada? Karena ternyata Allah cemburu. Allah cemburu sama kita yang udah berharap tapi berharapnya bukan ke Allah, tapi malah ke manusia. Allah juga cemburu sama orang yang ngelakuin sesuatu niatnya bukan karena Allah, tapi karena pengen dapet hal lain. Ini teori dapetnya setelah nonton video tadi. Yang jleb banget itu kalimat ini nih

Don’t tie your contribution to expectation. If you wanna have expectations, have them with Allah.”

Jangan hubungkan kontribusimu dengan harapan/ekspektasi, jika kamu ingin berharap maka berharaplah kepada Allah. Emang bener sih, aku ngerasa kecewa karena berharap dengan orang lain. Aku berharap orang lain itu juga balik peduli.

Jadi sebagai jawaban dari pertanyaan diri sendiri yang pada akhirnya dengan beberapa petunjuk  dijawab oleh diri sendiri juga, aku tau gimana tetep peduli di tengah keegoisan. Pedulilah bukan karena ingin orang lain juga balas peduli dan bukan pula karena ingin dipedulikan orang lain.  Pedulilah karena Allah, karena kau tau Allah akan selalu membalas tindakan kepedulianmu. Pedulilah karena pedulimu adalah untuk dirimu sendiri, karena pedulimu bisa menyelamatkanmu di hari perhitungan nanti. Pedulilah untuk mencapai kemenanganmu.

Well, prakteknya emang ga segampang teori sih, tapi bukan berarti gabisa dilakuin. Yang pasti doa sama Allah biar kalo kita ngelakuin sesuatu niatnya selalu karena Allah dan kalo kita berharap sesuatu, berharapnya juga ke Allah. Nah kalo ternyata kita kecewa, itu berarti Allah lagi ngingetin kita kalo Allah cemburu dan biar kita balik lagi ke Allah. Biar kita benerin niat kita dan benerin harapan kita.

Posted in feeling, heart, Self, Uncategorized

Manusia Tipe Feeling

Capek ya.

Iya capek jadi manusia tipe feeling. Dimana-mana baper, ngeliat sesuatu baper, dengerin sesuatu baper. Duh. Sebenernya masalahnya bukan karena tipe feeling nya sih tapi lebih ke bagaimana mengontrolnya. Contohnya misal lagi ada musibah, respon fisiologisnya ya sedih kan, terus disuruh ga usah sedih, ya ga bisa. Contoh lagi nih abis dapet hadiah dari seseorang, responnya ya bahagia dong, susah buat disuruh ga bahagia.

Belum lagi tentang salah rasa. Si dia ga bales-bales, udah khawatir aja takut dia marah, padahal mungkin emang dia nya lagi ada kerjaan. Si dia sering ngechat, eh malah jadi geer, padahal dia nya biasa aja. Si dia jarang ngechat, malah mikir yang aneh-aneh, “apa aku ga dianggap lagi ya”, “atau mungkin aku udah dilupain”, padahal ngechat duluan apa salahnya sih. Iya serba salah memang.

Ditambah lagi yang namanya perasaan itu ga pernah simpel dan ga pernah bisa didefinisikan. Gara-gara hal yang seharusnya kamu juga tau kalo itu sepele, kamu malah nangis. Mungkin karena sedih tiap orang bisa beda-beda, bahagia tiap orang juga beda-beda. Karena perasaan itu absurd banget.

Manusia tipe feeling itu ingin feelingnya dimengerti, tapi sayangnya feeling sendiri tidak mau dimengerti.

-hanya sebuah coretan random dari seorang manusia tipe feeling.

Posted in feeling, heart, Islam, Self

Tentang Berjuang

Bila kau merasa berjuang sendiri, janganlah berkecil hati.
Jangan merasa kecewa dengan orang lain yang enggan membantumu di jalan perjuangan.
Berjuang bersama terasa lebih baik, tapi bukan berarti merasa sendiri membuatmu enggan berjuang.
Toh, sebenernya kamu tidak pernah sendiri.
Ada Allah yang selalu menemani.

Berjuang itu memang sulit.
Bahkan sekalipun kau sudah berjuang mati-matian, kadang hasilnya tak sesuai harapan.
Karena perjuangan bukan jaminan kau akan mendapatkan apa yang kau harapkan.
Namun, bila berjuang saja belum tentu menjadi jaminan untuk mendekatkanmu pada tujuan, apalagi tidak berjuang.
Karena perjuangan bukan pilihan, itu adalah sebuah keharusan.

Bagaimanapun hasil yang kau dapat.
Perjuangan tak akan pernah sia-sia.
Setidaknya selalu ada pelajaran dari perjuangan.
Akan selalu ada pengalaman baru dari perjuangan.
Akan selalu ada kemudahan dalam sulitnya perjuangan.

Jangan cepat lelah.
Jangan cepat menyerah.
Manfaatkan anugerah waktu untuk memaksimalkan perjuangan.
Berjuanglah dengan rasa yakin.
Bahwa Allah tau kau bisa… dan kau mampu.

Posted in feeling, heart

[heartbreak]

Dan untuk ke sekian kali, aku menyerah tanpa pernah mencoba.

Diam memang menjadi ciriku. Karena aku tak mau kau tau bila aku menyimpan rasa. Mungkin dengan cara ini aku lebih mudah melupakanmu setiap kali aku tau bahwa tatapanmu selama ini tak mengandung arti apapun. Aku juga tau bila aku memang bukan siapa-siapa untukmu meski aku tak bisa memungkiri bahwa kau adalah siapa-siapa untukku.

Kuharap aku bisa membawa pergi semua kepingan milikmu dari dalam hatiku. Biar kubersihkan hatiku lagi. Entah untuk mengulang hal yang sama atau untuk mendapatkan tautan hati yang rela menaruh kepingan milikku di dalam hatinya.

Dan untukmu, semoga bahagia dengan dirinya.


P.S!!
Geli sendiri kalo dibaca sekarang. Entah ini draft tulisan jaman kapan….. Maklumlah dulu masih remaja labil+galau gitu (sekarang berkurang dikit :”). Mungkin ceritanya dulu lagi sedih karena patah hati, terus malah bikin tulisan ini. Padahal sekarang udah lupa patah hatinya sama siapa.. Ya bagus dong udah lupa, berarti emang berhasil membawa semua kepingan miliknya pergi dari hati ini ._.v wkwk apa banget sih san xD

Tapi untungnya setelah patah hati aku tau kalo hati ini tidak selemah yg aku kira, buktinya sekarang udah ga patah lagi hehe

Yes, I’ve trained my heart so it doesn’t break easily.

Posted in feeling, heart, Sharing

When the Tears Come…

I thought everything was over, but no, it was only the beginning. Tears started falling in my eyes, I tried to look up, so it wouldn’t fall down easily. I tried not to have eye contact with people, because I didn’t want others think of something strange as I walked and cried. But as soon as I headed to my bed, I failed to control my tears. It all overflowed. I cried out loud.

I didn’t know why I cried. Maybe it was because after I gave all my efforts, and when I thought I almost reached the final, but suddenly the final sign became far away and told me that I still had to run. It was not over, yet. Or maybe, the fact that I still needed to fight harder made me cry. I felt like I already did all my best, but then why was it still not over? I felt like giving up.

I thought I had been patient, but in fact I failed. Patient is immeasurable. Patient is lifetime. You couldn’t ask how long you should be patient. It’s hard doing the same things over and over again. It’s hard struggling to get what you want. But if you have patience, you will finally get what you’re supposed to get.

And after some moment, I stopped crying. My eyes got swollen, my face looked bad and I thought most people could easily tell that I just cried. But, it was okay. Because this cry made me realize that I could start over again. I couldn’t just give up when I knew that there would be an end over there, right?

So, one day when the tears come, don’t control it. You can cry. You should cry. Crying makes you realize that you need others’ help. Asking for help and giving help, that’s how humans live, anyway. Crying also makes you realize that you’re only such a weak creation. Maybe that’s how God asks you to make dua (pray) for Him, asks from Him, and makes you near with Him.

So, one day when the tears come, accept it, only to realize that you (actually) still have your fight left within you.

“You can’t control your tears, but you should know when to stop”