Balasan yang Segera Terlihat

Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan saya dan teman-teman bahwa apa saja yang kita lakukan sebenernya akan mendapatkan balasan yang setimpal. Hanya sebenernya kita tidak tau apakah balasan itu akan langsung diberikan kepada kita di dunia ini baik di waktu yang dekat atau lama, atau balasan tersebut ditunda untuk diberikan di hari pembalasan nanti. Berikut ini beberapa pengalaman saya pribadi, khususnya dalam perjalanan umroh saya, mengenai balasan yang segera terlihat akibat perbuatan saya.

  • Perbuatan: Di bandara Jogja, saat sedang menunggu pesawat yang delay, kami (saya, adik dan orang tua saya) masing-masing diberikan nasi kotak oleh pihak travel sebagai kompensasi kami menunggu delay pesawat yang terlalu lama (awalnya jadwal keberangkatan jam 8 di delay menjadi jam 12). Namun, karena kami sudah sarapan di rumah dan masih merasa kenyang, kami memutuskan memberikan 2 nasi kotak kepada petugas kebersihan bandara. Menjelang masuk ke pesawat (pukul 11) ternyata pihak pesawat juga memberikan kompensasi berupa nasi kotak. Kami pun melakukan hal yang sama terhadap 4 nasi kotak yang kami dapatkan. Sebanyak 2 nasi kotak kami berikan kepada orang lain dan 2 nasi kotak lainnya kami makan bersama.
  • Balasan : Saat itu kami sedang makan malam di hotel Mekah yang kami tempati. Di tempat makannya ternyata dibagi menjadi 2 bagian, yaitu satu tempat untuk jamaah Indonesia sedangkan tempat lainnya untuk jamaah India. Meja jamaah Indonesia terlihat sudah penuh, akhirnya kami memberanikan diri untuk duduk di meja bagian jamaah India (karena saat itu hanya sedikit orang India yang sedang makan dan memang masih ada tempat kosong yang bisa kami tempati). Kami tetap mengambil jatah menu yang sudah disiapkan untuk jamaah Indonesia tetapi hanya membawa makanan tersebut untuk dimakan di meja bagian jamaah India. Saat kami makan, seorang staf dapur asal India memberikan kami sepiring makanan India dan berkata. “Try it! It’s sweet” Dia menyuruh kami untuk mencicipi makanan tersebut. Saya segera mengamati makanan tersebut dan ternyata itu adalah olahan sayur pare. “I know it! It’s not sweet” ucap saya kepadanya. Dia pun tertawa dan sadar bahwa kami tidak terjebak dengan tipuannya. Walaupun begitu, tetap saja bapak saya mencoba makanan tersebut kemudian ekspresi “pahit” segera tergambar di wajahnya yang menyebabkan orang India yang sedang makan di sana tertawa. Setelah itu dia memberikan kami makanan lain yaitu ikan serta kerupuk khas India. Kemudian dia menawarkan kami untuk mencicipi makanan India di lain kesempatan. Keesokan harinya, tepatnya saat makan malam, staf India lainnya juga menyodorkan kami makanan India. Awalnya memberikan kami satu porsi lengkap makanan India. Lalu kami memakannya bersama dan memberikan komentar terbatas dalam bahasa Inggris “It’s good! Nice!” Dia pun menawarkan kami untuk menambah, tetapi kami tolak karena kami sudah kenyang. Hingga hampir setiap malam, kami selalu diberikan “cicipan” menu makanan India. Anehnya dia seakan cuma memberikan makanan itu kepada kami, melewati orang Indonesia yang sedang makan juga di meja yang sama dengan kami dan memberikan makanan India tersebut kepada kami. Alhamdulillah, mungkin ini balasan kami akibat memberi nasi kotak kami kepada orang lain saat kami masih di bandara Jogja. Saat hari kepulangan, kami pun memberikan staf dapur India itu snack kecil yang kami bawa dari Indonesia dan dia segera menerimanya dengan senang hati.

  • Perbuatan : Kebiasaan setiap mendekati waktu azan di bagian jamaah perempuan tepatnya di Masjidil Haram adalah masih banyak jamaah yang berkeliaran untuk mencari shaf solat yang masih kosong. Suatu hari menjelang sholat maghrib, ada 2 orang Ibu yang sibuk berjalan di antara jamaah yang sudah duduk menunggu waktu maghrib. Kelihatannya kedua ibu tersebut sedang mencari shaf kosong. Ibu yang satu mendapatkan satu tempat di sebelah saya sedangkan ibu yang lainnya masih mencari lagi. Namun kemudian ibu lainnya kembali dan meminta saya untuk menggeser duduk agar dia dapat shaf sholat. Saya pun segera bergeser sedikit memberikan tempat agar ibu tersebut dapat shaf. Sebenarnya shaf kami sudah sempit, tapi saya berpikir semoga nanti saat sholat masih bisa bergeser sehingga shafnya tidak terlalu sempit. Si Ibu segera mengucapkan “terima kasih” dengan bahasanya kepada kami.
  • Balasan: Tepat setelah sholat maghrib itu, kami tidak pulang ke hotel untuk sekalian menunggu sholat Isya. Saya yang sudah mencoba untuk tidak tidur, ternyata tidak bisa menahan kantuk dan menyusul adik dan ibu saya yang lebih dulu tertidur. Menjelang waktu Isya, saya dibangunkan oleh Ibu dan kami pun pergi keluar dari shaf untuk mengambil wudhu. Seusai mengambil wudhu kami melihat shaf kami tadi sudah diambil oleh orang lain. Lalu kami berusaha mencari shaf yang lain, hingga terlihat dua orang perempuan berwajah Arab memanggil kami dengan isyarat tangannya, menandakan bahwa kami bisa sholat di dekatnya. Alhamdulillah, setelah memberikan shaf kepada orang lain, kami juga diberikan shaf sholat.

  • Perbuatan : Pintu kamar hotel sebelah kamar kami menginap hampir selalu terbuka. Ibu mengira bahwa dari pintu tersebut memang masih ada pintu lagi menuju pintu kamar hotel. Akhirnya karena penasaran kenapa pintu tersebut selalu terbuka sedangkan kami tau ada orang yang menginap di sana, Ibu mencoba melihat ke dalam pintu tersebut dan ternyata di dalamnya sudah langsung kamar. Adegan itu langsung spontan membuat kami berkomentar “Ih, ini kenapa sih pintunya selalu dibuka gini”
  • Balasan : Beberapa hari kemudian, kunci pintu kamar kami rusak. Hal itu membuat kami harus memanggil petugas setiap kali kami ingin masuk ke kamar. Entah mengapa saya teringat kembali peristiwa pintu kamar sebelah yang sering terbuka pintunya. Oh ya, mungkin saja pintu kamar hotelnya juga rusak sehingga harus selalu dibuka. Mungkin ini juga akibat komentar kami dulu yang sebenernya cuma komentar biasa tanpa maksud apapun, tapi justru lewat ini Allah mengingatkan kami agar lebih menjaga komentar atau ucapan kami dan agar kami senantiasa berhusnudzon dengan segala sesuatu.

  • Perbuatan : Setelah beberapa hari di Masjidil Haram saya pernah bertanya kepada Ibu saya “Bu, di sini pernah ada orang yang pingsan ga sih? Kok kayak semuanya aman terkendali ya” Apa memang di sini semua orang dijaga Allah, pikir saya waktu itu. Ibu saya menjawab “Ya seharusnya pernahlah, apalagi di keramaian seperti ini.”
  • Balasan : Beberapa hari setelah saya bertanya tersebut, Allah pun menunjukkan jawaban atas pertanyaan saya tersebut tepat di depan mata saya. Saat itu saya sedang masuk pintu Masjidil Haram dan di depan saya terlihat seorang perempuan yang tergelatak tak sadarkan diri, dengan ada beberapa petugas yang membantunya dan membubarkan massa yang penasaran. “Tuh, katanya mau liat orang pingsan, akhirnya dilihatin Allah kan” ucap Ibu saya. Wah padahal cuma ngomong asal ternyata langsung dilihatin Allah.

Sekian beberapa pengalaman dari saya. Mungkin teman-teman juga punya beberapa perbuatan yang bisa langsung dilihat balasannya, atau balasannya baru terlihat beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian, atau setelah dipikir-pikir baru sadar ternyata ini balasan dari perbuatan X yang dulu dilakukan. Kalaupun memang belum terlihat balasannya di dunia ini, ingat masih ada balasan di akhirat dan ingatlah bahwa Allah adalah hakim yang seadil-adilnya. Jadi teruslah melakukan perbuatan baik, jangan pernah lelah, jangan pernah iri dengan orang lain, karena yakinlah perbuatan itu pasti akan diberikan balasan yang setimpal bahkan mungkin lebih oleh Allah Swt.

Dari beberapa perbuatan saya di atas juga memberikan pelajaran kepada saya pribadi, bahwa jangan asal bicara, apalagi waktu itu saya sedang berada di tanah suci Mekah. Di sana itu seakan semua ucapan menjadi doa, semua ucapan bisa segera terkabul. Makanya biasanya sebelum berangkat haji/umroh, maka akan disuruh oleh ustadz agar kita dapat mengontrol bicara kita, bicara yang  baik-baik, hindari membicarakan yang jelek. Kalaupun terlintas di hati atau pikiran kita pikiran yang buruk segeralah beristighfar. Kemudian dari sini juga, saya ingat pesan salah seorang ustadz yang saya tonton kajiannya di youtube “Dengan mengeluarkan sesuatu di jalan Allah, malah mendatangkan respon yang baik.” Kalau umumnya jargon orang-orang itu “menabung pangkal kaya” maka untuk umat Muslim kata menabung di sana seharusnya diganti dengan “memberi di jalan Allah”. Iya, memberi di jalan Allah adalah bisnis yang paling menguntungkan. Dengan memberi di jalan Allah, bukan menghilangkan rezeki kita tetapi justru mendatangkan rezeki yang lebih banyak lagi. Makanya kalo memberi, berusahalah memberikan yang terbaik di jalan Allah. Misalnya kita punya uang 1000 sampai 100.000 di dompet kita, biasanya yang kita berikan ke celengan masjid kok yang 1000 rupiah, 1000 rupiah yang sudah lecek dan jelek lagi. Kemudian dengan 1000 yang sudah lecek itu kita berdoa kepada Allah meminta kesuksesan, meminta kesehatan, meminta rezeki yang banyak, dan meminta macam-macam. Duh apa ga malu sama Allah 😦 Makanya yok mulai sekarang kita berlatih untuk memberikan apa saja yang terbaik yang kita miliki di jalan Allah. Dengan keyakinan bahwa apa yang kita berikan kepada orang lain di jalan Allah tak akan pernah sia-sia dan justru akan kembali kepada kita karena Allah sendirilah yang sudah menjaminnya.

Jumat di Tanah Suci Mekah

Ada hari di mana semua kebaikan bertebaran. Semua orang berlomba menebar kebaikan bahkan yang belum bisa memberikan barang atau materi berusaha ikut dalam ajang kebaikan. Meski hanya bisa ikut memberi senyum tulus kepada orang lain karena sejatinya dalam hadis disebutkan bahwa “senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah.”

Alhamdulillah saya bisa merasakan hari Jumat di kota Mekah yang menurut saya sangat spesial. Hari Jumat itu adalah pertama kali saya mengikuti sholat Jumat dan menyaksikan kebaikan bertebaran di tanah suci Mekah. Saya, ibu dan adik saya pergi ke Masjidil Haram sekitar pukul 9 pagi. Kami berencana menghabiskan waktu sebelum sholat jumat di Masjidil Haram. Mengingat pahala sholat sekali di Masjidil Haram adalah 100.000x lebih banyak dibandingkan sholat di masjid lain. Jadi sayang sekali, sudah di Mekah kok ga sholat di masjidnya.

Kami mengambil tempat di lantai paling atas, dengan tujuan mencari tempat yang sepi. Seusai melaksanakan sholat dhuha dan mengaji, saya dan adik saya berjalan-jalan sebentar melepas ngantuk, melihat kakbah dari atas, melihat keramaian orang yg tawaf di kakbah, dan tak lupa mencari wifi gratis serta berfoto :p Kemudian kami kembali lagi untuk melanjutkan ibadah kami. Sekitar pukul 10 beberapa orang mulai berdatangan ke tempat kami sholat. Hingga pukul 11 shaf tempat jamaah perempuan sudah ramai. Heran, saya bertanya-tanya pada ibu kenapa banyak sekali jamaah perempuan, padahal kan ini mau sholat jumat. Ibu saya juga kurang tau tetapi mencoba menebak bahwa mereka akan ikut sholat Jumat. Akhirnya saya bertanya pada salah satu teman saya yang pernah ke sini juga. Katanya memang di sana perempuan juga bisa ikut sholat Jumat dan dia juga pernah ikut sholat Jumat di Masjidil Haram.

Kami pun memutuskan untuk tetap berada di tempat kami dan berencana ikut sholat Jumat. Alhamdulillah kami datang lebih awal, jadi kami tidak kesulitan mencari tempat untuk sholat. Beberapa orang bahkan mendatangi kami meminta kami memberikan ruangan agar dia mendapatkan shaf sholat. Seorang perempuan berniqab menghampiri kami dan mengucapkan kalimat dalam bahasa Arab. Saya hanya bisa mengambil satu kata bahasa Arab yang dapat saya mengerti yang artinya “duduk”. Sepertinya dia ingin duduk. Kemudian dia bertanya lagi “Speak English?” Kami menjawab ya, dan dia pun mengambil handphone sembari mengetik seseuatu. Demi melihatnya ingin sekali mendapatkan shaf sholat akhirnya saya beranikan diri dengan kosakata arab yang sangat minim berkata “Ijlis! Ijlis!” untuk mempersilahkannya duduk. Tak lama dia menunjukkan handphonenya dan ternyata dia sedang menerjemahkan tulisan permintaannya agar dia bisa ikut duduk di antara kami dari bahasa Arab ke dalam bahasa Inggris. Kami mempersilahkan dan dia pun duduk di depan adik saya.

Setelah duduk, dia membuka niqabnya, memperlihatkan wajah khas orang Arab. Saat beberapa petugas kebersihan masjid lewat di antara shaf kami, dia segera mencari uang dari dalam tasnya kemudian langsung memberikan uang tersebut kepada petugas tersebut. Hal ini dia lakukan berkali-kali ketika ada petugas kebersihan yang lewat. MasyaAllah, betapa semua orang berlomba-lomba berbuat kebaikan di hari Jumat. Saat saya dan adik saya sibuk mengobrol mencari wifi, tiba-tiba dia bertanya kepada kami “Internet?” Mungkin karena dia menangkap gelagat kami yang terlalu ribut dan sibuk mencari wifi gratis di deretan nama wifi yang tersedia. Kemudian dia memberikan password hotspot handphonenya kepada kami. MasyaAllah bahkan berbagi wifi juga termasuk kebaikan ;p

Tak lama azan terdengar dan semua orang bangkit melaksanakan sholat sunnah (sepertinya sholat sunnah qobliyah), kemudian dimulailah khutbah Jumat yang pertama. Entah kenapa meski khutbah tersebut berbahasa Arab yang sulit saya pahami, namun air mata saya tak tahan untuk mengalir.

“Air mata ini jatuh tak tertahan kala khatib sholat Jumat memulai ceramahnya. Padahal sang khatib menyampaikannya dalam bahasa Arab yg sangat minim saya mengerti. Beberapa kali suara sang khatib terdengar terisak, lalu diam sebentar, untuk kemudian melanjutkannya lagi.

Entah mengapa ternyata saya juga menangis. Seakan jiwa saya mengerti apa yang disampaikan, padahal saya hanya bisa mengerti sedikit kata familiar yg biasa saya temui di dalam Al-Quran atau doa-doa.

Dalam padatnya jamaah sholat Jumat kali ini, saya merasa diri saya sangat kecil. Saya merasa tak ada apa-apanya. Bahkan untuk mengerti isi ceramah yg disampaikan, saya belum bisa. Padahal bahasa arab adalah bahasa Al Quran, kitab umat Islam.

Dalam padatnya jamaah sholat Jumat kali ini, saya merasakan nikmat Allah yang begitu besar, yang tak sebanding dengan syukur saya yang sangat sedikit. Saya justru melakukan dosa yang terus berulang.

Dalam padatnya jamaah sholat Jumat kali ini, saya menyerah. Membiarkan air mata jatuh tak terbendung. Menjadikan kesempatan ini sebagai muhasabah diri untuk semakin dekat padaNya.”

Setelah sholat Jumat, kami kembali ke hotel untuk makan siang. Kemudian kami kembali lagi ke Masjidil Haram untuk menghabiskan waktu menunggu sholat Asar. Lagi-lagi saya diperlihatkan dengan orang-orang yang berlomba melakukan kebaikan pada hari Jumat. Pada saat saya berjalan menuju shaf sholat jamaah perempuan, di depan saya terlihat seorang lelaki yang memberikan tasbih secara cuma-cuma kepada laki-laki lainnya. Random begitu saja. Jadi saat dia melewati laki-laki yang mungkin menurutnya cocok untuk diberi tasbih, maka dia segera memasukkan tangannya ke tasnya, mengenggam tasbih di tangannya dan segera memberikan tasbih tersebut ke orang lain. Begitu berulang saya amati hingga dia dan saya berpisah arah. MasyaAllah begitu banyak cara orang untuk berbagi kepada sesama.

Saat menunggu sholat Asar dan shaf jamaah sholat perempuan mulai penuh, ada seorang perempuan yang membawa galon kecil berisi air zam zam dan gelas kosong, kemudian menawarkan zam-zam kepada jamaah yang menginginkan. Sebenernya zam-zam bisa diambil dengan bebas hampir di setiap sudut Masjidil Haram, namun demi melakukan kebaikan, perempuan tersebut justru mendatangi orang-orang untuk membagikan zam-zam. Setelah sholat Asar, kami pun berencana untuk melakukan tawaf. Lagi-lagi, saat melakukan tawaf saya ditunjukkan oleh Allah kebaikan-kebaikan yang diberikan orang lain. Ada orang yang berdiri diam sambil memegang kotak tisu di tangannya, kemudian beberapa jamaah yang sedang tawaf mulai menarik tisu dari kotak tisu yang dipegangnya. Sesuatu yang simpel sebenernya, namun menjadi sebuah sedekah karena tisu sangat dibutuhkan dalam keadaan Mekah yang saat itu memang sangat panas dan terik.

Begitulah Jumat di tanah Mekah. Semua orang berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Semua orang berusaha memberi apa yang bisa diberi sesimpel apa pun itu untuk bermanfaat bagi orang lain. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa sesimpel apapun perbuatan baik asalkan diniatkan karena Allah dan untuk membantu sesama, maka insyaAllah akan bernilai pahala di hadapanNya.

Kiriman Allah Menuju Raudhoh, Pertemuan Tak Terduga Dengan Muslimah Aljazair

“رب صدفة خير من ألف ميعاد”

Perkataan ini disebutkannya saat kami hendak keluar dari gerbang pagar Masjid Nabawi. Perkataan yang artinya bahwa suatu kejadian yang tidak direncanakan bisa lebih baik dari seribu pertemuan yang sudah direncanakan. “Coincidence might be better than a thousand of appointments” Saya setuju sembari menambahkan ucapan bahwa memang Allah yang menakdirkan pertemuan kami, bahwa Allah senantiasa mempertemukan orang-orang baik. Dan pertemuan kami dengannya adalah takdir terbaik Allah.

Setelah keluar dari kunjungan pertama ke raudhoh (tulisan tentang ke raudhoh sebelumnya bisa di baca di sini), saya merasa belum puas menyampaikan doa-doa saya. Rasanya saya ingin kembali masuk ke raudhoh. Bahkan saya berniat untuk berlatih mengucapkan doa-doa apa saja yang akan saya sampaikan di raudhoh. Akhirnya saya, ibu saya dan adik saya memutuskan untuk memasuki raudhoh lagi. Hari itu, kami sengaja makan malam setelah maghrib (biasanya setelah isya) kemudian kembali ke Masjid Nabawi dan mengambil shaf sholat isya di daerah dekat raudhoh. Sesudah sholat Isya kami segera menuju tempat raudhoh. Ternyata tempat raudhoh belum dibuka. Mungkin masih diatur dan dikondisikan mengingat raudhoh adalah tempat shaf sholat jamaah laki-laki.

Kami mencari spot untuk duduk menunggu, namun ternyata ada suara yang memanggil ke arah kami “Ibu! Ibu!” Ternyata sumber suara itu adalah dari seorang laskar perempuan yang sedang memegang papan bertuliskan “kumpulan berbahasa melayu” Dia memanggil kami dan bertanya kepada kami “Raudhoh?” Kami segera mengangguk. “Duduk, duduk” aksen arabnya yang masih terdengar sedikit lucu bagi saya yang mendengarnya, namun cukup memberi pengertian kepada kami bahwa dia menyuruh kami duduk dengan kumpulan jamaah perempuan lainnya. Untuk mendapatkan keberkahan memasuki raudhoh serta mengikuti aturan yang ada, kami pun menuruti perintah laskar perempuan itu. Duduk bersama jamaah perempuan “kumpulan berbahasa melayu” yang kebanyakan memang diisi oleh orang Indonesia dan orang Malaysia.

Di sebelah kami juga terdapat kelompok jamaah perempuan lain yang dari mukanya saya tebak adalah kelompok orang turki. Cukup lama kami menunggu di sana hingga pintu raudhoh telah dibuka dan terlihat beberapa orang segera berjalan cepat hingga berlari menuju ke dalamnya. Namun, laskar yang memimpin kami tetap menyuruh kami duduk. Terlihat kelompok jamaah perempuan tetangga sudah mulai berdiri dan masuk ke arah lokasi raudhoh.

Rasanya lama sekali menunggu giliran kami maju. Namun alhamdulillah jamaah kumpulan berbahasa melayu ini masih tetap sabar menunggu giliran. Menurut pengamatan saya secara umum jamaah Indonesia adalah jamaah yang paling patuh. Berbeda dengan jamaah lain yang apabila disuruh duduk justru tidak patuh dan memaksa pergi berdiri hingga berani mendorong. Mungkin sekitar setengah jam sampai sejam setelah sholat Isya, akhirnya laskar kami dengan tangannya mengisyaratkan kami untuk berdiri dan memimpin kami berjalan menujut ke dekat raudhoh. Namun, kami tidak langsung masuk ke raudhoh, kami disuruh duduk kembali menunggu giliran lagi untuk dipersilahkan ke raudhoh. “Duduk, duduk” Oke, baik, mari kita duduk lagi.

Keramaian khas raudhoh sudah terdengar dari tempat kami duduk menunggu. Saat kami menunggu, saya melihat seorang perempuan yang jelas-jelas bukan tipe muka kumpulan berbahasa melayu sedang berdoa sambil duduk dengan khusyuk bahkan sambil meneteskan air mata. Adik saya yang duduk tepat bersebelahan dengannya menanyakan asal perempuan ini. Ternyata dia berasal dari Aljazair dan sekarang tinggal di Dubai. Hanya dalam waktu beberapa menit, saya juga sudah ikut mengobrol asik dengannya menggunakan bahasa inggris. Dia bercerita bahwa dia tidak tau di mana letak tepatnya raudhoh makanya dia sudah berdoa terlebih dahulu. Kami yang sudah punya pengalaman ke raudhoh sebelumnya memberitaunya informasi tentang raudhoh serta memberikan tips-tips dari ustadzah yang sebelumnya membimbing kami ke raudhoh.

Obrolan kami lumayan banyak hingga harus diberhentikan dulu karena laskar perempuan di depan kami menyuruh kami berdiri. Menandakan bahwa kami boleh mulai memasuki raudhoh. Seperti biasa, semua orang langsung berdiri dan mulai saling mendorong. Saya, adik saya dan ibu saya langsung berpegangan tangan dan masuk ke raudhoh bersama. Saya berdiri paling depan, mencari jalan menuju shaf pertama di raudhoh. Saat sekilas saya melihat kebelakang untuk memastikan bahwa adik dan ibu saya memang mengikuti, ternyata saya masih melihat sosok muslimah Aljazair itu ikut memegang tangan ibu saya.

Kami pun berada di shaf terdepan, namun kali ini ternyata untuk menunaikan sholat lebih susah dibandingkan saat dibimbing ustadzah. Mencoba mengikuti apa yang dilakukan ustadzah, dengan bahasa terbatas saya meminta kepada seorang jamaah untuk gantian sholat, bilang “insyaAllah qabul”. Kami juga mencoba mengingatkan jamaah yang meratap hingga mengusap dan mencium batas raudhoh laki-laki dan perempuan seakan mengagungkannya secara berlebihan. Di sini ibu saya juga sempat didorong dan dimarahi oleh seorang jamaah perempuan, entah mungkin karena kami memintanya gantian.

Di tengah keramaian untuk mencari spot sholat, Souad, nama perempuan Aljazair itu yang masih ikut bersama kami tadi langsung mengambil inisiatif untuk sholat. Kami yang melihat dia sudah mulai sholat segera membentuk pagar dengan rangkaian tangan kami untuk menghalangi agar orang-orang tidak melewatinya. Setelah selesai sholat, dia menyuruh ibu saya untuk sholat, kami lanjut menahan orang-orang agar tidak melewati Ibu yang sedang sholat. “Sholli sholli” saya ucapakan pada orang yang ingin lewat di depan Ibu. Berbeda dengan Souad, dengan tenaganya yang lebih kuat dia menahan dorongan orang-orang dan bisa menjelaskan dengan kemampuan bahasa arabnya agar orang-orang jangan lewat. “Tell her to make it quick” Souad berbicara kepadaku agar menyuruh ibu sholat lebih cepat. Setelah Ibu sholat kemudian bergantian dengan adik saya dan kemudian saya.

Awalnya, saya berencana untuk segera mengambil jalan keluar dari raudhoh setelah kami semua sholat. Namun, Souad yang memang sangat baik hati mempersilahkan jamaah lain untuk sholat di tempat kami tadi. Kami pun berusaha melindungi perempuan yang sholat itu. Hingga ada 2 orang jamaah Indonesia yang melihat kami membantu jamaah asal negara lain, meminta tolong untuk dia diberikan kesempatan sholat juga. “Bu, nanti jagain saya juga ya” Kami mempersilahkan mereka sholat hingga selesai untuk kemudian kami selesai dan berjalan ke arah exit.

Saya berpisah dengan ibu saya dan adik saya. Kali ini tangan saya digenggam Souad dan dia menuntun saya mencari jalan keluar. Di sini saya merasakan tenaganya yang kuat sehingga kami melewati keramaian jamaah dengan mudah. Kami bertemu kembali di dekat tempat keluar raudhoh. Melihat tempat yang kosong, akhirnya kami melaksanakan sholat lagi di sana. Kali ini 2 orang jamaah Indonesia yang tadi kami bantu, juga membantu kami sholat dengan menghalangi agar orang-orang tak lewat di depan kami. Alhamdulillah kami bisa sholat 2 kali di raudhoh, meski saya hanya sekali karena melihat keramaian yang tak memungkinkan lagi untuk sholat.

Akhirnya kami pun keluar ke arah exit, dan benar-benar berada di luar area raudhoh. Mengucap Alhamdulillah karena bisa diberi kesempatan ke raudhoh (lagi). Perjalanan ke luar Masjid Nabawi kami habiskan dengan mengobrol banyak hal dengan Souad. Sebelum keluar pintu gerbang Masjid Nabawi, kami mencari air zam-zam dulu. Ternyata beberapa tempat air zam-zam sudah habis. Kemudian kami mencari air zam-zam lagi. Alhamdulillah saya menemukan tempat yang masih berisi dan memanggil yang lain ke tempat saya. Saat saya, adik saya, dan ibu saya sudah mengambil air zam-zam, Souad kembali dengan 3 gelas air zam zam yang rencananya akan diberikan kepada kami. Melihat kami sudah memegang gelas zam-zam masing-masing, akhirnya dia dengan baik hatinya memberikan gelas air zam-zam itu kepada orang lain yang terlihat sedang mencari air zam-zam juga.  Ga ngerti lagi, ini orang baiknya kebangetan.

Setelah itu kami pun pulang, namun ternyata Souad meletakkan sandalnya di pintu gerbang yang berbeda dengan pintu gerbang tempat kami keluar. Berbeda dengan kami yang sudah sengaja menyimpan sandal masing-masing di dalam tas kami. Dia mencoba mengingat pintu gerbang yang dia masuki dan kami juga berusaha membantunya mencari gerbang yang dia maksud. Meski akhirnya kami tetap bertanya kepada petugas untuk menuju pintu gerbang tersebut.

Pintu gerbang tempat Souad menaruh sandalnya adalah gerbang Umar bin Khattab, gerbang yang biasa kami masuki untuk melaksanakan sholat. Sayangnya setelah kami sampai di gerbang tersebut, pintu gerbangnya sudah ditutup. Souad pun memutuskan untuk membiarkan sandalnya di sana, dan berjalan ke hotelnya tanpa alas kaki. Dengan ikhlas dia berkata “I will search it tomorrow or I will just tell my husband to buy me another sandal” Dia juga berkata “I hope no one see me without sandal” kami menyakinkannya bahwa sepertinya tidak ada orang yang akan benar-benar memperhatikan dia tanpa sandal, so it’s okay. Sebelum keluar masjid Nabawi, kami tak lupa mengambil foto selfie terlebih dahulu. Dia juga memberikan nomornya agar kami dapat mengirimkan foto tersebut dan menjaga silaturahim.

Di saat itulah dia menyebutkan bahwa dia merasa sangat beruntung bertemu dengan kami. Kami juga berterima kasih kepadanya dan merasa sangat senang bertemu dengannya. Kemudian kami berjalan kembali ke hotel. Souad lebih dulu sampai di hotelnya. Kami mengucapkan salam perpisahan, kemudian cipika cipiki 4x (katanya biar khas orang Arab), berharap semoga bisa ketemu lagi saat sholat Fajar/Subuh keesokan harinya. Namun, ternyata kami tidak bertemu lagi pagi harinya. Dalam pesannya melalui WA, dia mengirimkan pesan yang sangat so sweet…..

It was very nice to meet you yesterday… I had fun and thanks for your help :* :* Hope to see you again and big kisssss to your mum 😉

Oh yea have a nice trip and enjoy your Umrah… us we’re leaving to dubai going back home 😦 I didn’t find my Sandal… I just bought a new one 😉 Talk to you later and this is my emirates number maybe you fly to dubai so you can come over to my house you’re welcome. Have a lovely Umrah ❤ ❤ <3″

PhotoGrid_1494080184189
Thank you Souad 🙂 Hope we can meet again someday (fotonya sengaja di blur)

 

 

Raudhoh, Menyampaikan Doa di Taman Surga

Ada sebuah tempat mustajab di masjid Nabawi di mana doa-doa yang disampaikan di sana akan dikabulkan oleh Allah Swt. Tempat itu adalah Raudhoh atau Taman Surga atau Taman Nabi. Raudhoh ini luasnya kecil dibandingkan dengan luas masjid Nabawi sekarang, dan lokasinya berada di antara mimbar dan rumah Nabi Muhammad atau bisa dibilang raudhoh ini berada di lokasi bangunan asli masjid Nabawi yang dulu dibangun pada masa Nabi.

Sebagaimana Rasulullah bersabda:

“Antara mimbarku dan rumahku merupakan taman dari taman-taman syurga” (HR. Al Bukhari & Muslim)

Raudhoh ini sangat diminati oleh semua jamaah haji dan umroh karena keistimewaannya tentang terkabulnya doa yang disampaikan di sini. Sebenernya lokasi raudhoh ini merupakan bagian dari shaf laki-laki, sehingga hanya terbuka untuk jamaah perempuan di jam-jam tertentu, yaitu setelah sholat subuh, setelah sholat zuhur dan setelah sholat isya.

Alhamdulillah selama saya di masjid Nabawi, saya bisa menginjakkan kaki 2 kali ke Raudhoh. Tentu dengan izin Allah dan dengan perjuangan yang bukan main. Kali ini saya akan menuliskan tentang kunjungan pertama saya ke raudhoh. Rombongan travel saya bersepakat untuk mengunjungi raudhoh pada hari pertama kami tiba di Madinah tepatnya setelah sholat Isya dengan dipandu oleh seorang ustadzah yang memang sudah lama tinggal di Madinah. Setelah sholat isya dan makan malam, kami berkumpul di lobi hotel untuk bersama-sama pergi ke raudhoh.

Ustadzah yang memandu kami kelihatan sangat profesional. Beliau memberi kami pengarahan terlebih dahulu sebelum ke raudhoh, membimbing kami berdoa dan menjelaskan segala macam tentang raudhoh serta tips-tips bagaimana agar bisa sholat di Raudhoh dan setidaknya tidak terganggu dengan desakan orang lain atau orang lain yang lewat saat kami sedang sholat. Setelah masuk ke masjid Nabawi kami sholat tahiyatul masjid dulu, kemudian menuju ke tempat raudhoh.

Keramaian sudah terlihat saat kami masih berjalan menuju ke arah raudhoh. Beberapa jamaah perempuan duduk menunggu giliran pemanggilan untuk dipersilahkan ke raudhoh. Jangan bayangkan duduk menunggu di sini seperti duduk tertib sedang menunggu iqamah sholat. It’s a big No! Duduk menunggu di sini maksudnya adalah duduk sangat rapat antar jamaah dengan beberapa jamaah yang saling mendorong. Bahkan bila ada yang menyerobot untuk menuju ke depan, semuanya segera ramai melarang dan menghalangi. Kami yang sebenernya juga termasuk pihak yang sedikit menyerobot sempat dimarahi oleh jamaah lainnya, tapi ustadzah kami segera menyuruh kami duduk dan diam menunggu.

Di depan kami, ada laskar perempuan (sebutan saya untuk perempuan pengurus masjid yang bertugas mengatur jamaah perempuan untuk masuk ke raudhoh) yang saling merangkaikan tangannya untuk membuat benteng manusia. Sebab bila tidak seperti ini, ada beberapa jamaah yang mendesak dan memaksa untuk segera masuk ke raudhoh. Padahal di raudhoh sangat ramai dan berdesak-desakan.

Luas raudhoh yang diberikan di bagian perempuan kurang lebih hanya seukuran 5×5 m (ini cuma perkiraan saya). Ukuran yang sempit ini harus bisa menampung beribu-ribu jamaah perempuan yang berebut ingin sholat dan menyampaikan doanya di sana. Oleh karena itu adanya laskar perempuan sangat membantu untuk mengatur jamaah yang masuk dan keluar raudhoh, karena kalau tidak ada, maka aksi dorong-mendorong akan lebih parah lagi demi masuk ke raudhoh. Raudhoh memiliki warna karpet sajadah yang berbeda dengan warna kerpet sajadah di bagian masjid nabawi lainnya. Mungkin memang disengaja agar orang-orang bahwa tempat itu adalah raudhoh, tempat antara mimbar dan rumah Nabi. Apabila umumnya warna karpet sajadah di masjid nabawi adalah merah maka warna karpet sajadah di raudhoh adalah hijau.

Sembari menunggu dalam kerumunan jamaah perempuan yang masih duduk, ustadzah kami membimbing kami untuk membaca doa salam ketika berada di makam Rasulullah Saw, doa salam kepada Abu Bakar As Sidiq dan juga doa salam kepada Umar bin Khattab. Setelah beberapa lama menunggu, laskar perempuan memberi isyarat agar jamaah perempuan berdiri dan mereka pun membuka rangkaian tangan mereka. Isyarat diperbolehkannya menuju raudhoh segera mengundang semangat jamaah perempuan yang sedang duduk dan akhirnya aksi berebutan serta saling mendorong tak bisa dielakkan. Semua orang memaksa menuju raudhoh. Kebanyakan orang yang melakukan pendorongan adalah orang yang memang memiliki perawakan tinggi besar dan kebanyakan orang yang menjadi korban terdorong adalah perawakan pendek kecil, termasuk orang-orang Indonesia.

Dengan mengikuti arahan ustadzah, kami ikut melangkah maju namun tidak langsung menuju raudhoh. Kami menuju spot terdekat raudhoh yang sajadahnya masih berwarna merah dan menunggu di sana. “Sabar ya, kita tunggu dulu kalau keadaannya sudah agak tenang” Ustadzah menyuruh kami  duduk untuk menunggu perintah selanjutnya kapan kami akan masuk ke raudhoh. Dari tempat kami menunggu tedengar teriakan para jemaah perempuan. Bahkan saat itu ada yang teriakannya melengking kesakitan, entahlah mungkin ada yang tak sengaja terinjak atau memang khas perempuan yang ribut saling mendorong untuk mendapatkan tempat sholat di raudhoh.

Melihat keadaan ini justru membawa pikiranku tentang bagaimana Nabi Muhammad melihat umatnya yang seperti ini. Mungkin di satu sisi beliau akan bangga melihat banyak sekali umatnya yang bersemangat mengunjungi taman surga dan ingin menyampaikan doa di sana. Tapi di sisi lain saya  juga berpikir apakah Nabi Muhammad tidak sedih bila melihat umatnya saling dorong-mendorong untuk memasuki taman surga.

Setelah melihat keadaan yang cukup memungkinkan untuk masuk ke raudhoh, ustadzah menyuruh kami bersiap dan berdiri. Tips dari ustadzah adalah jangan solat dulu sebelum sampai di shaf pertama. Karena bila kami sholat tapi bukan di shaf pertama, kemungkinan untuk dilewati dan terinjak orang lain lebih besar dibandingkan bila kami sholat di shaf pertama. Ustadzah memimpinn jalan di depan dengan kami saling berpegangan mengikuti langkah ustadzah melewati keramaian orang-orang di raudhoh. Di perjalanan ke shaf pertama ada seseorang yang mempersilahkan saya sholat, sebenernya saya ingin sholat tapi saya urungkan niat karena tadi kesepakatan dengan ustadzah lebih baik mengambil shaf pertama agar lebih aman. Raudhoh yang diberikan untuk jamaah perempuan memang kecil tapi rasanya jalan menuju ke shaf pertama sangat jauh. Di tengah jalan menuju ke shaf pertama, kami harus terus mengikuti ustadzah, kami harus tahan dengan dorongan dan desakan dari orang lain, kami juga harus mencari jalan lain bila ada yang sedang sholat, kami juga sempat melewati di depan jamaah yang sedang sholat (hal ini biasa terjadi di masjid nabawi, tidak hanya di raudhohnya saja), dan kami juga harus berhati-hati untuk tidak menginjak orang (karena kebanyakan orang yang sujud bisa saja terinjak baik sengaja tau tidak sengaja).

Setelah berjalan melewati keramaian, kami pun tiba di shaf pertama. “InsyaAllah qobul” disebutkan ustadzah kepada jamaah yang sudah sholat tetapi masih berdoa terlalu lama, sekaligus sebagai tanda agar bisa segera gantian sholat dengan kami. Kemudian ustadzah juga berteriak “haram” kepada jamaah yang terlihat terlalu berlebihan dalam berdoa hingga memegangi dan mencium dinding pembatas shaf laki-laki dan perempuan. Mungkin takutnya syirik, padahal kan disuruhnya sholat dan berdoa di raudhoh bukannya berdoa dan malah menciumi dinding pembatas secara berlebihan. Akhirnya kami berhasil mendapatkan 4 tempat di shaf sholat depan. Tentu saja masih dengan keadaan yang sangat ramai, alhamdulillah ustadzah bisa menghalangi orang yang mau lewat di depan kami saat sholat. Kami segera bergantian sholat sekaligus membantu ustadzah untuk menghalangi agar orang-orang tidak lewat di depan kami saat kami sholat. Tips lain dari ustadzah adalah ustadzah menyarankan kami berdoa saat sujud atau setelah salam kami bisa sujud lagi untuk menyampaikan doa-doa kami. Karena bila kami menyampaikan doa-doa dalam duduk, maka kebanyakan jamaah lain segera meminta gantian dan mendorong-dorong kami. Malah lebih baik kami menengadahkan tangan sambil berdiri sembari menyampaikan doa-doa kami.

Akhirnya tiba giliran saya melaksanakan solat. Setelah Allahuakbar tak terasa air mata saya mengalir. Perasaan yang muncul bercampur antara terharu, sedih, bahagia dan bersyukur. Saya melaksanakan solat sunah hajat 2 rakaat di tengah keramian dan desakan orang-orang. Mengikuti tips dari ustadzah maka setelah saya salam, saya segera bersujud kembali dan menyampaikan doa-doa saya serta tak lupa saya menyampaikan titipan doa dari teman-teman saya. Sayangnya saya merasa bahwa saya tidak bisa menyampaikan doa dengan tenang di sana, karena faktor keramaian dan harus segera bergantian dengan orang lain. Berbeda dengan doa yang saya sampaikan setelah sholat wajib atau setelah sholat tahajud, maka doa yang saya sampaikan di sini terkesan tidak teratur. Bila biasanya saya menyebut atau memuji Allah terlebih dahulu sebelum menyampaikan doa, maka sekarang saya segera menyebutkan hajat saya tanpa basa-basi. Rasanya ucapan yang banyak saya sebutkan adalah “Ya Allah, semoga……….” Saya terus mengulang-ulang doa saya untuk kemudian berdiri dan mempersilahkan yang lain untuk solat.

Setelah semua anggota rombongan selesai solat, kami mengambil jalan keluar. Bahkan untuk mengambil jalan keluar saja kami harus berdesak-desakan karena di sepanjang jalan ada yang sholat, ada yang baru mau masuk ke shaf pertama. Suasananya sangat berantakan. Setelah kami keluar dari daerah karpet hijau, kami minggir sebentar dan ustadzah menunjukkan kami tempat mimbar nabi dan serta bekas lokasi rumah nabi. Ustadzah juga menunjukkan makam Abu Bakar dan Umar, tempat bilal azan, serta menunjukkan kubah berwarna hijau yang merupakan tanda kubah awal dibangunnya masjid nabawi. Begitulah perjuangan pertama sayamemasuki raudhoh. Untuk cerita selanjutnya akan saya tuliskan mengenai perjuangan kedua memasuki raudhoh yang lumayan spesial.

Masjid Nabawi, Tempat Mengambil Pelajaran dari Keberagaman Umat Muslim

Kunjungan ke sebuah masjid selalu bisa mendatangkan ketenangan tersendiri bagi seorang hamba yang memang sedang mencari jawaban atas suatu kegelisahan. Namun kunjungan ke Masjid Nabawi memberikan lebih dari itu. Di sana kamu dapat melihat jejak-jejak kehidupan dan perjuangan Rasulullah, belajar mengagumi keberagaman ciptaan Allah, serta menyampaikan doa yang insyaAllah terkabul di taman surga.

Melanjutkan cerita perjalanan sebelumnya, jadi dari bandara Jeddah menuju Madinah menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam. Kami berangkat pukul 3 pagi dan tiba di Madinah pukul 8 pagi. Setibanya di Madinah, kami segera check in hotel, makan kemudian membenahi diri dan pergi ke masjid Nabawi. Masjid yang selalu saya rindukan meski belum pernah mengunjunginya. Mungkin efek karena mendengarkan serunya Sirah Nabawiyah yang disampaikan Ustad Khalid dalam video ceramahnya, bisa membuat diri ini selalu merindukan untuk datang ke masjid ini. Masjid di mana di dalamnya terletak makam Rasulullah Saw.

Jarak dari hotel saya menuju Masjid Nabawi bisa dibilang cukup dekat yaitu sekitar 5-10 menit berjalan kaki. Melihat payung khas Masjid Nabawi dari kejauhan, cukup membuat hati saya tak henti-hentinya menyampaikan rasa syukur karena diberikan kesempatan oleh Allah untuk bisa menginjakkan kaki ini di salah satu masjid mulia. Masjid yang selama ini cuma bisa saya liat lewat gambar, akhinya bisa saya kunjungi secara langsung. Saat itu payung khas masjid sedang terbuka karena memang cuacanya sangat terik dan panas. Tak lupa saya mengambil momen ini bersama ibu, bapak, dan adik saya.

Kemudian bapak berpisah untuk masuk ke masjid bagian laki-laki, sedangkan saya, ibu dan adik saya menuju bagian sholat jamaah perempuan. Kami memasuki pintu gerbang Umar bin Khattab, pemandangan awal saat saya memasuki ini adalah pemandangan masjid yang megah, sejuk dan terlihat barisan tempat air minum zam-zam di sepanjang jalan masuk ke masjidnya. Saat itu masjid masih tidak terlalu ramai, mungkin karena masih pagi, jadi kami dengan leluasa bisa mencari tempat untuk melaksanakan sholat tahiyatul masjid yang kemudian dilanjutkan sholat dhuha. Kami juga segera mengambil segelas air zam-zam untuk diminum.

Menjelang satu jam azan zuhur, jamaah lain mulai berdatangan memenuhi shaf-shaf sholat hingga semua shaf terlihat penuh, dan beberapa jamaah harus sholat di luar atau di teras masjid. Jangan bayangkan teras masjid yang kecil dan terbatas, teras masjid Nabawi itu sangat luas, yaitu area dengan payung khasnya yang terbuka untuk menghalangi panas dan teriknya sinar matahari serta di sana juga sudah disedikan karpet sajadah untuk sholat. Jadi cukup nyaman juga sholat di terasnya walau memang tidak sesejuk di dalam masjidnya yang memang dilengkapi dengan fasilitas pendingin ruangan.

Oh ya tentang keberagaman umat Muslim, di sini benar-benar terlihat segala macamnya perbedaannya, tapi yang penting tujuannya tetap satu yang mengesakan Allah. Dimulai dari model pakaiannya, ada yang pake jubah, ada yang pake rok, ada yang pake cadar/niqab, bahkan sampe nutupin semuanya ga kelihatan apa-apa lagi, ada yang pake mukena, ada yang pake kerudung model langsungan atau bergo, ada yang pashmina, dan lain-lain. Kebanyakan jamaah perempuan di sini langsung sholat dengan pakaian yang sedang dikenakan, jadi tidak seperti di Indonesia yang kebanyakan memakai mukena dulu untuk sholat. Sebenernya ada yang saya heran yaitu ada jamaah perempuan yang sholat namun tidak menutupi kakinya. Bukankah kaki itu aurat ya? Pengen nanya ke orangnya tapi terkendala bahasa dan takut malah salah ngomong. Akhirnya karena melihat lumayan banyak jamaah yang tidak menutupi kakinya saat solat, saya berpikiran mungkin mereka meyakini bahwa kaki memang bukan aurat. Wallahualam (Yang tau tentang ini, please tell me). Selain itu ada juga beberapa perbedaan kecil dalam gerakan sholatnya, namun bisa saya maklumi karena di Indonesia pun bisa saya temukan perbedaan kecil dalam gerakan sholat, misal apakah menggerakkan jari telunjuk saat tasyahud akhir, kemudian tangan yang masih bersedekap saat berdiri setelah rukuk, dan sebagainya.

Dari sini, saya jadi bisa mengambil pelajaran, bahwa kita tidak bisa langsung mengambil atau mengikuti apa yang kita lihat, kita harus menyeleksinya. Kita juga tidak boleh hanya membenarkan apa yang kita lakukan kemudian menyalahkan semua apa yang orang lain lakukan. Dan di sini yang paling saya sadari adalah pentingnya ilmu sebelum beramal. Jadi ngerasa kalo ilmu tentang agama ini masih sangat dangkal. Soalnya kita ga bisa ikut-ikutan aja apa yang dilakuin orang lain. Misal contohnya di kasus saya adalah banyak jamaah yang langsung berdiri sholat lagi setelah sholat wajib. Lantas apakah saya ikut-ikutan berdiri padahal saya tidak tahu kenapa mereka berdiri. Tidak, saya tetap duduk, menjalani apa yang saya tau yaitu tetap duduk dan berdoa setelah sholat. Saya juga tidak menyalahkan apa yang mereka lakukan karena berbeda dengan saya. Saya mencari tau dan ternyata setelah saya bertanya, setelah saya tau ilmunya, saya tau bahwa mereka berdiri untuk melaksanakan sholat jenazah. Makanya penting banget ilmu sebelum beramal. Jangan cuma karena mayoritas orang melakukan itu, maka kita dengan mudah melakukannya juga. Big No!

That’s why dalam Islam diberikan Al Quran dan Sunnah, agar seseorang menjalankan ibadahnya berdasarkan kedua pedoman tersebut, bukan asal-asalan. Selain itu syarat diterimanya amalan seorang muslim ada 2 yaitu niat yang ikhlas karena Allah dan benar. Nah, benar di sini maksudnya kita harus tau ilmunya dulu, kita harus tau kalo itu memang ada di pedoman kita, baru deh kita lakuin.

Setelah sholat Zuhur, kami kembali ke hotel untuk makan siang. Kemudian kembali lagi ke Masjid Nabawi untuk sholat Asar. Sayangnya setelah sholat Asar, rasa kantuk yang begitu hebat mendatangi, mungkin pengaruh jetlag juga. Perbedaan waktu 4 jam di mana Indonesia lebih cepat 4 jam. Jadi kalo dipikir-pikir, saat waktu asar di Madinah, maka sudah waktu Isya di Indonsia atau sudah malam yang wajar bila rasa kantuk mulai menyerang. Ditambah lagi efek lelah perjalanan, akhirnya karena tak sanggup menahan kantuk, setelah sholat Asar kami tidur dulu. Sebenernya tau kalo ga baik tidur setelah asar, tapi semoga tidur ini bisa menjadikan sholat maghrib dan sholat Isya kami nanti ga ngantuk lagi. Apalagi setelah sholat Isya, kami akan ke raudhoh, ke tempat mustajabnya doa, di mana doa-doa yang disampakan di sana akan dikabulkan oleh Allah Swt. Sekian tulisan kali ini, ditunggu tulisan selanjutnya yang akan membahas tentang raudhoh.

A Journey to Jeddah, Awal Melatih Kesabaran

Too many words in mind waiting to be typed, but don’t have chance to write. Now finally the chance has came, so let me start my story. Tulisan ini sekadar untuk bercerita tentang perjalanan saya beberapa hari terakhir yaitu pergi ke kota Nabi Muhammad Saw., Mekah dan Madinah. Dengan tujuan sebagai pengingat untuk diri sendiri agar bisa dibaca lagi di lain waktu dan sebagai tempat sharing pengalaman bagi yang mau membacanya. InsyaAllah bakal nulis tentang topik yang lainnya juga. So, stay tune! :p

Sabtu, 12 April 2017, merupakan hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh kami sekeluarga untuk mengadakan perjalanan ke Arab tepatnya ke Mekah dan Madinah. Sebenernya kami sekeluarga berlima ingin berangkat semua tetapi karena alasan pekerjaan kakak saya yang masih sulit mengambil cuti panjang, akhirnya cuma kami berempat yang berangkat. Doain aja ya semoga kakak saya bisa segera menyusul berangkat ke sana juga. Aamiin. Alhamdulillahnya Jumat malam, kakak saya memang sedang pulang ke Jogja untuk mengikuti lari maraton 21 K hari minggunya, jadi hari Sabtu pagi dia bisa mengantar kami ke bandara.

Nah mengapa judul tulisan ini awal melatih kesabaran? Karena perjalanan kali ini bukan hanya perjalanan kosong, namun adalah perjalanan spesial, perjalanan spiritual menuju ke baitullah. Dan tentu saja di sana nanti, saya harus lebih bisa meningkatkan kesabaran saya dan menahan diri saya untuk melakukan hal yang tidak atau kurang baik. Makanya mungkin dari awal perjalanan ini, Allah sudah memberikan ujian kesabaran untuk kami.

Kami tiba di bandara Jogja pukul 6.30 pagi. Setelah berpamitan dengan kakak saya, kami segera menuju rombongan yang terlihat berpakaian seragam batik hijau terang di depan pintu masuk keberangkatan bandara. Sesampainya di sana, salah satu staf agen tour & travel menghampiri bapak saya dan menyampaikan ujian kesabaran pertama kami. “Pak, pesawatnya di delay menjadi jam 12 nggih” Saya yang mendengar kabar itu langsung speechless. Pesawat kami seharusnya berangkat pukul 8, makanya kami sudah disuruh ke bandara paling tidak pukul 7. Saat mendengar kabar itu, ingin rasanya menelpon kakak saya lagi, meminta dijemput lagi untuk kemudian diantar lagi ke bandara siang nanti. Tapi ya ga mungkin juga kakak saya bolak-balik. Sabar, sabar, bukannya udah biasa juga kuliah diresched mendadak.

Ujian kesabaran kedua adalah kami harus tetap menunggu di luar, di depan pintu keberangkatan karena masih harus menunggu ketua rombongan yang masih belum datang. Beliau ternyata baru datang pukul 11, mungkin beliau memang sudah tau kalo pesawatnya di delay. Agak kesel juga sih, masa anggotanya yang nungguin ketua, panas-panasan lagi. Tapi demi melihat anggota lain yang kelihatannya nurut-nurut aja nunggu di luar, saya juga berusaha menyabarkan diri. Padahal kalo dipikir-pikir sekarang, seharusnya kami bisa saja masuk duluan ke ruang tunggu karena pasport kami sudah dibagikan. Yasudah ambil hikmahnya aja, ternyata dalam menunggu itu saya justru diberi kesempatan untuk sholat dhuha dulu di mushola bandara dan bisa bersedekah makanan (pihak tour and travel memberikan “kompensasi” makanan karena pesawat kami di delay, tapi karena saya sudah kenyang dengan sarapan di rumah, makanannya bisa saya berikan ke orang lain).

Setelah ketua rombongan datang, akhirnya kami masuk bersama ke ruang tunggu dan tak lama kemudian, pukul 12, panggilan pesawat kami pun terdengar. Perjalanan Jogja-Kuala Lumpur menghabiskan waktu 2 jam, namun karena perbedaan waktu 1 jam lebih cepat di KL, kami tiba di sana pukul 4 waktu KL. Kami harus segera bergegas untuk check in pesawat KL ke Jeddah, namun ternyata antrian imigrasi di KLIA tidak bisa bekerja sama. Kami harus bersabar menunggu antrian yang mungkin bisa menghabiskan waktu sekitar setengah sampai satu jam, untuk kemudian berpindah bandara dari KLIA 2 ke KLIA 1 dengan kereta KLIA transit. Untungnya dari pihak tour & travel sudah ada yang membantu mencheck-inkan kami. Pukul 19.30 waktu setempat pesawat kami yaitu Saudi Arabian airline berangkat dari KL menuju Jeddah. Perjalanan menghabiskan waktu sekitar 8 jam, dan kami tiba di bandara Jeddah pukul 23 waktu Jeddah.

Sesampainya di Jeddah ujian kesabaran kembali datang, kami disuruh naik bus untuk berpindah terminal, tetapi bus yang kami naiki berhenti cukup lama di tengah perjalanan. Pintu bus tidak terbuka, namun tidak ada pengumuman yang terdengar. Kami juga tidak bisa bertanya ke supir kenapa kami disuruh menunggu karena ada penghalang kaca antara bagian supir dan penumpang. Jadilah kami disuruh menunggu lagi tanpa kepastian. Setelah menunggu entah berapa lama, bus berjalan lagi dan berhenti. Pintu bus terbuka dan kami digiring kembali menuju ruang tunggu. Dari informasi yang kudengar, kami disuruh menunggu (lagi) di ruang tunggu karena antrian imigrasi masih sangat panjang, jadi dibanding kami mengantri berdiri di imigrasi lebih baik kami menunggu dulu di ruang tunggu.

Pukul 01.30 pagi, akhirnya jamaah Indonesia dipanggil untuk disuruh mengantri di bagian imigrasi. Prosesi imigrasi baru selesai pukul 02.30 (gatau juga kenapa bisa selama ini -_-). Jadi inget kata ustad pembimbing saya, entah kenapa imigrasi di Jeddah tuh sepertinya diusahakan biar bisa cepat tapi jadinya malah lambat. Well, sabar, sabar, yang penting Alhamdulillah selesai juga di bagian imigrasi.

Oh ya, ada peristiwa yang saya ingat yaitu saat kami mengantri (lagi) untuk pengecekan pasport saat ke luar bandara, salah satu petugas bertanya “Indonesia?” Ibu saya yang saat itu sedang ditanya segera mengangguk. “Indonesia pendek” petugas tersebut memberikan pasport ibu saya sembari melihat rombongan Indonesia yang mengantri. Hahaha, sabar- sabar. Lagian petugasnya juga cuma menerangkan fakta yang ada kalo orang Indonesia itu pendek-pendek, dan emang bener sih karena perbandingannya sama orang turki, afrika, pakistan yang emang badannya tinggi besar.

Akhirnya setelah proses mengantri yang tiada habisnya, pukul 03.00 kami masuk ke bus untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Madinah. Alhamdulillah meski banyak ujian kesabarannya tapi kami bisa naik ke bus menuju ke Madinah sudah membuat saya lebih bersyukur lagi. Bersyukur karena ternyata diri ini sudah lebih dekat menuju daerah hijrahnya Nabi Muhammad Saw. dan akan segera tiba di sana. Madinah, here we come 🙂

​Sungguh Aku Masih Sangat Kurang

Hari itu aku baru saja selesai kuliah pukul 3 sore. Aku memutuskan untuk menuju masjid fakultas sembari menunggu azan Asar dan sholat Asar berjamaah. Sudah lama aku tak mengunjungi masjid fakultas, mungkin karena akhir-akhir ini aku sangat disibukkan dengan tugas akhirku. Maklum, mahasiswa tingkat akhir.

“Assalamu’alaykum, Mbak Fatimah. Apa kabar mbak? Udah lama ga ketemu nih”

Suara yang aku kenal membuyarkan lamunanku yang sedang duduk menunggu iqamah sholat Asar.

“Wa’alaykumsalam Husna, Alhamdulillah baik. Iyanih, mbak udah jarang ke masjid sekarang”

Pembicaraanku dengan Husna segera dipotong oleh iqamah salat Asar. Aku, Husna dan jamaah wanita lainnya segera mengambil tempat di shaf pertama dan merapatkan shaf sholat. Seusai sholat Asar aku tidak langsung pulang. Aku sengaja ingin menikmati waktu-waktu di masjid, mengobati rasa rindu serta menemukan ketenangan yang entah mengapa selalu bisa aku temukan di masjid.

Kebanyakan jamaah wanita setelah sholat dan berdoa, akan mematut diri di cermin sebentar kemudian pergi keluar masjid. Namun, ada satu jamaah wanita yang menarik perhatianku. Sudah 30 menit setelah solat Asar selesai, namun dia masih terduduk diam tak berpindah dari tempat sholatnya tadi. Itu Husna, adik tingkatku yang tadi menyapaku. Aku sengaja menunggu Husna, hingga akhirnya dia bangkit dan menggantungkan mukena yang dipakainya. Wajahnya tertunduk dan tak melihatku yang duduk di sisi kanan masjid.

“Husna,”aku memanggilnya sambil tersenyum dan melambaikan tanganku.

“Lama banget doanya, Na. Doain apa sih? Jangan lupa doain skripsi Mbak cepet selesai ya”

“Oh mbak Fatimah masih disini? Doain banyak macem mbak. Hehe. Soalnya ini hari Jumat jadi mau manfaatin waktu-waktu doa di ijabah aja mbak.”

“MasyaAllah, ukhti. Nanti abis solat Maghrib deh, jangan lupa doain ya. Eh doain abis setiap kamu solat juga lebih bagus,”balasku.

“Iya, insyaAllah Husna doain mbak”jawabnya sambil tersenyum kecil.

“Eh Na, emang sekarang lagi sibuk apa? Kok kayak banyak pikiran gitu sih? Cerita sini”

Husna pun mengambil tas nya dan duduk di depanku. Menjawab dengan jawaban mahasiswa pada umumnya bahwa dia sedang sibuk kuliah dan organisasi. Bercerita tentang sulitnya mata kuliah yang dia ambil, laporan yang tak kunjung berhenti, serta banyaknya agenda rapat dari organisasi yang dia ikuti. Kami mengobrol banyak hal, sesekali aku memberikan saran kepadanya bila memang masalahnya dulu pernah aku hadapi. Hingga akhirnya dia bertanya tentang suatu hal.

“Mbak, menurut mbak kontribusi apa yang bisa kita berikan untuk Islam?”

“Eh, kontribusi? Menurutku kamu belajar sungguh-sungguh dan ikut organisasi di fakultas ini sudah bisa jadi kontribusi kok,”jawabku sekenanya.

Ada rona tidak puas di wajahnya saat mendengar jawabanku. Seakan berkata, duh kalo gitu Husna juga tau, mbak. Akhirnya dia bercerita panjang lebar kenapa sampai menanyakan pertanyaan tersebut. Belakangan ini dia rutin mengikuti kajian dengan tema Sirah Nabawiyah. Sudah pertemuan ke tujuh, katanya. Kajiannya sudah mulai membahas dakwah Nabi Muhammad secara terang-terangan. Tentang sabarnya Nabi Muhammad dalam mendakwahi suku Quraisy meski dicaci maki, diperlakukan kasar dan hampir dibunuh. Tentang budak Muslim yang tetap bertahan dalam keimanan kepada Allah meski disiksa dengan sangat keji oleh tuannya. Tentang Abu Bakar yang kadar keimanannya sangat tinggi, langsung percaya apapun yang dikatakan Nabi Muhammad dan langsung menyebarkan dakwah Islam setelah dirinya masuk Islam. Tentang Hamzah yang rela membela Nabi Muhammad saat dikeroyok suku Quraisy dan akhirnya diberikan Allah hidayah untuk masuk Islam. Serta tentang segala perjuangan dakwah Islam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya.

“Iya, mbak. Aku jadi sedih dengan diriku sendiri setelah tau perjuangan Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya dalam mendakwahkan Islam. Sedangkan aku di sini, hidup enak, bisa kuliah, mau ibadah ga ada yang nyiksa, tapi ngelakuin ibadah aja masih kendor.”

Selanjutnya Husna bercerita tentang orang-orang yang kisah hidupnya menginspirasi. Ada seorang ustad yang hidupnya mengabdikan diri di pesantren di daerah terpencil, membimbing anak-anak di daerah tersebut menjadi hafidz dan hafidzah. Ada seorang Ibu yang sangat berprestasi, memilih menjadi ibu rumah tangga, menjadi madrasah pertama untuk anak-anaknya untuk kemudian setelah anaknya sukses masih tetap semangat melanjutkan lagi sekolahnya karena ingin terus memberi manfaat dari ilmunya. Ada seorang pengusaha yang dulunya jatuh bangun mengejar kesuksesan, namun setelah sukses dia tidak egois dan justru membangun panti asuhan di beberapa daerah. Ada seorang dokter yang meski hidupnya sederhana tapi rela membuka klinik gratis di rumahnya untuk orang-orang tidak mampu.

“Husna kagum dengan mereka mbak. Mereka yang kontribusinya bisa memberikan manfaat bagi banyak orang. Husna juga pengen kayak mereka. Tapi Husna belum tau bisa berkontribusi apa. Makanya tadi abis sholat Asar, Husna curhat ke Allah. Minta tolong Allah supaya Husna bisa berkontribusi dalam Islam dan memberikan manfaat bagi banyak orang. Doain ya Mbak, mungkin Husna sekarang belum bisa kasih apa-apa, kontribusi Husna masih sangat kurang tapi semoga nanti ke depannya Allah tunjukkin jalan biar Husna bisa jadi “sesuatu” juga.”jelasnya panjang lebar.

Seakan mendapat pukulan telak, aku hanya bisa terdiam. Husna, adik tingkatku yang sebenarnya tidak biasa-biasa saja, justru mengeluhkan sedikitnya kontribusi yang telah dia berikan. Padahal lihatlah, Husna adalah mahasiswa berprestasi, sering mengikuti olimpiade sejak SMP, sering memenangkan perlombaan karya tulis ilmiah, aktif di beberapa organisasi kampus, relawan di lembaga kemanusiaan, dan tentang ibadahnya, jangan ditanya. Menurutku dia sosok muslimah dengan ibadah dan akhlak yang sangat baik.

“Sungguh, aku masih sangat kurang” adalah kalimat yang justru lebih pantas ditujukan kepadaku. Selama ini aku hanya memikirkan diriku sendiri. Seperti sekarang saja aku berlagak seakan menjadi manusia yang paling menderita hanya karena mengurusi tugas akhir. Aku tak pernah memikirkan kontribusi apa yang bisa aku berikan untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain. Ya Allah, maafkan aku.

Husna, terima kasih telah menyadarkanku dan izinkan aku meminjam doamu.

“Ya Allah, sungguh ibadahku dan kontribusiku dalam Islam masih sangat kurang. Namun aku bersyukur karena Engkau telah menempatkanku pada lingkungan orang-orang hebat yang senantiasa menginspirasi dan memberi manfaat. Maka dari itu Ya Allah, jangan jadikan aku hanya sebagai penikmat saja. Jadikanlah aku sebagai penggerak dan pemberi manfaat. Tunjukkanlah padaku jalan untuk memberikan kontribusi yang bermanfaat dalam rangka beribadah kepadaMu. Aamin”