Tokyo Disneyland! (1)

Lagi scrolling foto-foto lama, terus kangen. Berhubung beberapa postingan terakhir di blog ini adalah tentang curhatan perasaan yang ga jelas semua dan kebanyakan memunculkan sisi melankolis yang kalo dibaca ulang, jadinya kok kayak hidup ga ada seneng-senengnya gitu, ya udah sekalian aja posting tentang yang bahagia.

“Where Dreams Come True!” “Where the magic begin!”

Kalo denger kata-kata itu, langsung inget disneyland kan? #padahalenggak #yaudahgapapa

Tapi beneran deh, sekalinya menginjakkan kaki di sana rasanya bahagia banget, kayak tiba-tiba kamu pengen senyum terus, semuanya jadi bahagia gitu (tiba-tiba kepikiran surga, pasti bahagianya berkali-kali lipat saat kamu nginjekin kaki di sana untuk yang pertama kalinya :”). Waktu masih di kereta aja terus udah liat atraksi disneyland, rasanya tuh “waw I’ve never imagined that I will be there soon” gitu.

Terus kamu turun dari kereta, ngeliat tanda panah yang menunjukkan arah ke tokyo disneyland, ngeliat keramaian orang-orang pake atributnya disney mulai dari bando mickey-minnie, topeng pemeran film-film disney, anak-anak pake gaun elsa anna, terus kamu jalan lagi dan ngeliat gerbang dengan tulisan tokyo disneyland, kamu ngelewatin gerbang itu terus jalan lagi dan kamu ngescan tiket kamu buat masuk and…. YES, it’s dream come true! Sebahagia ini mengenang memorinya 🙂

gerbang-tdl
Welcome to Tokyo Disneyland!

Oke jadi ini mau cerita tentang perjalanan di tokyo disneyland (caution: kayaknya ini bakalan panjang, karena lagi mood nulis panjang).  Hari itu kamis, 11 Februari 2016, adalah hari libur nasional di Jepang (hari pembentukan negara). Aku dijemput Ri (nama disingkat) di apartemenku jam 7.30, rencananya kami mau sarapan dulu tapi sayangnya cafe yg biasanya jualan roti belum buka. Akhirnya kami langsung jalan ke stasiun tokyo (jarak apartemenku ke stasiun tokyo deket banget, jalan kaki sekitar 5-10 menit) dan beli onigiri di warung makan di stasiun tokyo. Stasiun Tokyo gede banget, banyak jalur kereta nya, bisa kesasar kalo sendirian untung ada Ri yang dengan sigap jalan menyusuri keramaian manusia menuju Keiyo line. Dari Keiyo line ini keretanya udah bisa langsung nyampe ke stasiun Tokyo Disneyland (TDL). Aku sama Ri langsung naik ke kereta dan ketemuan dengan Sa. Kami bertiga naik kereta menuju ke stasiun TDL.

Sesampainya di stasiun TDL, kami ketemuan dengan Yo, dia udah nunggu kami dari tadi. Kemudian dipimpin Sa yang emang udah berpengalaman dengan TDL (udah sering banget ke TDL, udah hafal jalan-jalannya, letak atraksinya, udah cobain hampir semua atraksinya) kami langsung bergegas menuju gerbang masuk TDL. Kalo kata Sa, harus cepet biar bisa nyobain banyak atraksi. Oke, gas!

kastil
Highlight of Disneyland. Cinderella Castle 🙂

Waktu pertama masuk langsung ada dekorasi frozen karena waktu itu lagi musim dingin dan frozen lagi hits2nya. Langsung ngeliat kastil megah cinderella (ciri khasnya disneyland). Sayangnya hari itu kastilnya ga bisa dimasukin karena ada sesuatu masalah. Aku, Ri, sama Yo langsung menuju atraksi pertama yaitu “Hunny Hunt”. Panjang banget antriannya, waiting time nya sekitar 1 jam dan ternyata waiting time 1 jam itu masih wajar. Karena ada atraksi lain yang bisa sampe 2 jam bahkan 3 jam. Menurutku agak ga sebanding sih, kamu nunggu 3 jam terus atraksinya cuma 10 menit. Tapi ya gitu, namanya juga pengorbanan demi sebuah atraksi favorit.

Waktu aku, Ri sama Yo ngantri di hunny hunt, Sa nanyain ke bagian informasi tentang tempat sholat. Ini yang aku seneng banget sama mereka, toleransinya tinggi, bahkan kalo pergi ke mana-mana mereka selalu mikirin tempat buat aku solat. Akhirnya Sa balik ke tempat kami dan ikut mengantri sekaligus memberikan kabar gembira kalo ada ruangan yang bisa dipake buat aku nanti solat zuhur dan asar.  Alhamdulillah. Setelah lama menunggu, tiba giliran kami menikmati atraksi ini. Jadi di sini kami kayak memasuki dunia Winnie the Pooh, terus ada ceritanya gitu sayangnya pake bahasa Jepang jadi aku ga ngerti -_- but I enjoy the attraction!

hunny hunt.jpg
Hunny Hunt

Setelah itu lanjut ke atraksi selanjutnya “Haunted House” Waiting time nya kurang lebih 30 menit. Untuk seseorang yang anti-horor, denger haunted house udah bikin aku ragu. Tapi ternyata ga serem! Jadi awalnya masuk ke gedung lama yang banyak lukisan2 gitu, terus orang di lukisannya bisa gerak dan mendesah serem (?) Terus kami naik kereta gitu buat menjelajahi haunted house. Narasinya pake bahasa Jepang, ga ngerti tapi Sa bantuin translate narasinya jadi lumayan ngerti. Hantunya kayak di animasi gitu yg pasti bukan hantu manusia (?)

Selesai juga deh haunted house dan waktu keluar dari sana lagi ada parade frozen. Jalanan udah rame sama orang yg duduk lesehan buat menyaksikan parade itu. Aku juga langsung berusaha maju ke depan, meninggikan kepala buat liat paradenya. Waktu keluar lagi bagian Anna terus disusul sama Olaf, si boneka salju dan Elsa. Langsung deh banyak foto-foto.

Sa ngingetin aku karena kita harus segera beranjak. Sa hebat banget deh udah jadi koor acara sekaligus time keeper juga. Okay, say goodbye to Frozen parade. Ternyata tujuan selanjutnya bukan atraksi tapi tempat makan. Padahal itu masih jam 11, tapi kalo kata Sa takut rame kalo makannya di waktu makan siang, jadilah kami early lunch. Kami pergi ke East side cafe dan di sana ada menu vegetarian, jadi aku pilih menu vegetarian, enak sih walaupun awalnya ngerasa kayak makan rumput dan daun doang ._.v Pelayannya di sini pake kostum waitress kayak di anime-anime, dan katanya kalo mau kerja di sini seleksinya ketat banget. Ya iyalah selain bayarannya yg pasti tinggi, kalo kata Ri, itu kayak impian para remaja buat kerja part time di tokyo disneyland! Mungkin bangga pernah kerja di tokyo disneyland.

Setelah itu lanjut sholat, aku ditemenin Ri pergi ke bagian informasi terus aku dipersilahkan masuk ke ruangan yang bisa aku pake buat solat. Kayaknya itu semacam ruang tamu tapi lebih dari cukup, tempatnya proper banget buat sholat. Terus Sa nanyain aku mau lanjut main atraksi apa shopping. Aku yang ga terlalu seneng shopping (kalo shopping ga pake uang, baru deh shopping :p)  jadinya lebih milih buat lanjut main atraksi.

Mulai lelah ngetik, mungkin sekian dulu deh. InsyaAllah nanti bakal dilanjutin ceritanya bagian seterusnya.

moments_0bc0f896-9cab-4246-a730-5e0570505623

Kiriman Bunga

Tenang, tulisan ini bukan kisah romantis antara dua sejoli yang sedang menjalin cinta. Bukan pula cerita tentang hati yang berbunga-bunga mendapat kiriman dari sang kekasih yang nun jauh di sana. Yang penting tulisan ini tidak menumbuhkan rasa baper dan galau tentang si dia #eh Walaupun sebenernya bisa dibilang sedikit sih #ehlagi Oke, kita akhiri saja prolog yang sudah makin tak jelas ini.

Aku ingat hari itu merupakan hari Ahad yang nyaman, karena aku bisa beristirahat di kamar sambil menonton film favoritku ditemani segelas teh hijau yang hangat *lupa sih sebenernya ngapain :p* Cuaca hari itu juga biasa-biasa saja, tidak ada yang spesial. Paling hujan turun lumayan deras, tapi itu biasa saja karena memang sedang musim penghujan. Layar handphoneku berkedip. Segera kupanjangkan tangan meraih handphone yang kira-kira berada setengah meter di sampingku. Notifikasi dari media sosial yang khas dengan warna hijaunya itu hampir memenuhi layar handphoneku. Saaya sent a photo. Aku langsung menekan pilihan view, pertama karena dia temanku yg nun jauh di sana dan dia benar-benar orang spesial saat aku di Jepang, kedua karena aku ingin segera tau foto apa yang dia kirim.

537765377753778

Menunggu loading foto terbuka dan saat melihat bunga favoritku di layar kaca, aku terharu dan bahagia. Meski hanya lewat foto. Sudah lebih dari cukup. Dan yang membuatku bahagia selain foto itu sendiri adalah fakta bahwa Saaya masih ingat kepadaku dan -entah dia tau atau tidak bahwa aku memang suka bunga sakura- dia mengirimiku foto bunga yang indah itu. “Belum mekar semua, aku akan coba lagi minggu depan” Begitu pesan yang dia kirimkan setelah mengirim foto-foto di atas. Aku pun mengucapkan terima kasih dan membalasnya. “Ya, aku yakin itu akan sangat cantik jika semuanya telah mekar” Percakapan pun terhenti.

Negara yang pernah aku kunjungi saat suhunya terasa dingin itu, kini sudah mulai menjadi lebih hangat. Menyapu bersih semua gumpalan putih yang turun dari langit. Mulai membangunkan tumbuhan dari nyenyaknya tidur. Mengajak burung-burung untuk mulai bernyanyi riang. Entahlah, sepertinya musim semi adalah musim favoritku, meski aku belum pernah merasakan musim semi. Tapi membayangkannya saja sudah cukup membuatku bahagia dan ikut bersemangat. Musim semi terasa seperti musim yang penuh semangat. Setelah hawa dingin menyerang, maka musim semi datang seakan menjadi penyelamat dari sedihnya hati.  Dulu, saat aku masih di sana, aku pernah merasakan sehari yang lebih hangat meskipun saat itu masih musim dingin. Orang-orang membuka jaket musim dinginya, bahkan ada beberapa orang yang hanya menggunakan kaos dan celana jeans ke luar rumah. Katanya itu angin musim semi pertama. Itu cuma satu hari, untuk kemudian keesokan harinya udara dingin datang lagi.

Hingga hari ini. Merupakan minggu depan yang dia janjikan. Handphoneku berbunyi dan layarnya berkedip. Saaya sent a photo. Sebenarnya aku sudah menunggunya mengirimkan foto-foto itu. Aku sudah menunggu kiriman bunga darinya. Aku segera membukanya dan menunggu loading foto. Ada total 5 foto yang dia kirimkan padaku. Dua fotonya merupakan foto dia dengan latar belakang bunga sakura dan keramaian orang.

545305453154533

Terima kasih Saaya untuk kiriman bunganya. Kau membantuku berkhayal tentang musim semi. Semoga  kesempatan untuk merasakan musim semi dan melihat bunga favoritku itu secara langsung segera datang.

Sholat di Jepang

Kali ini aku ingin bercerita tentang pengalamanku menjalankan sholat di Jepang khsusunya sholat wajib. Mungkin menjalankan sholat 5 waktu merupakan kegiatan umum dan mudah dilakukan di Indonesia, karena di Indonesia mayoritas muslim yang sudah tau waktu-waktu sholat dan banyak terdapat tempat sholat. Namun hal tersebut menjadi challenge tersendiri apabila berada di negara dengan muslim yang sangat minoritas. Hal ini terjadi padaku saat aku berpergian ke Jepang selama 6 minggu.

Alhamdulillah, sebelum aku pergi ke Jepang, orang Jepang yang bertanggung jawab terhadapku atau bisa dibilang pembimbingku atau orang yang ngeLOin aku selama di Jepang, mengirimkan email kepadaku bertanya seputar tentang sholat dan makanan. Aku langsung terharu melihat isi emailnya yang benar-benar peduli terhadap diriku yang seorang muslim dan berusaha mengetahui aturan Islam. Bahkan rencananya aku akan menjelaskan tentang aturan makan dan sholat saat aku sudah tiba di Jepang. Namun setelah mendapatkan emailnya, aku jadi merasa bersalah, karena kurang peduli dengan diri sendiri. Malah dia yang sudah memperhitungkan segalanya untukku (termasuk menu makanan di kafetaria dan solat ini). Aku segera membalas emailnya dengan semangat, menjelaskan sebisaku tentang waktu sholat dan makanan halal. Hingga akhirnya dia berusaha menyiapkan ruangan khusus untukku agar bisa melakukan ibadah sholat 5 waktu dan menghubungi staf kafetaria tentang makananku. Jadi, untuk weekday (Senin-Jumat), sholat 5 waktu tidak menjadi masalah dan aku bisa dengan mudah melaksanakannya.

Mungkin terlihat remeh hanya sekadar menjalankan sholat 5 waktu, namun untuk berpegang teguh pada semua itu di negara dengan minoritas muslim benar-benar membutuhkan keimanan yang kuat. Dari sini juga muncul rasa kagumku pada muslim yang tinggal di negara minoritas muslim yang selalu berusaha melaksanakan ibadah sholat setiap harinya. Aku juga bisa merasakan betapa nikmatnya solat di tengah-tengah kesibukan program magangku. Dan aku bisa berusaha menjelaskan pada mereka yang bertanya “kamu mau ngapain?” waktu aku mau sholat dan bisa menjelaskan pada mereka waktu-waktu sholat dan cara sholat secara ringkas. Bahkan ada yang bertanya “kamu ga bosen solat terus?” dan dengan mantap aku memberi jawaban “justru dengan solat, aku malah bisa merefresh pikiranku dan mendapatkan energi lagi untuk berpikir dan bekerja”. Semoga penjelasanku yang singkat pada mereka bisa membuat mereka melihat cahaya Islam.

Kemudian bagaimana dengan weekend? Saat weekend tiba justru menjadi kendala tersendiri bagiku. Di sela program magangku, aku tidak bisa melewatkan waktu weekendku hanya berdiam diri di apartemen sementara di sekelilingku tempat wisata melimpah ruah dan terlihat sangat menggoda untuk dikunjungi. Jadi solusinya saat weekend tiba biasanya aku sudah merencanakan tempat yang akan dituju, memperkirakan waktu dan memilih tempat sholat yang sesuai. Di Jepang aku sudah pernah pergi ke Masjid Tokyo Jamii sama Masjid Otsuka, juga ke daerah yang banyak toko dan makanan halalnya yang otomatis di sana ada beberapa toko yang menyediakan tempat sholat. Nah, kalo tempat tujuanku dekat dengan salah satu masjid tersebut maka aku akan sholat di masjid tersebut. Pilihan lain, biasanya aku kembali ke apartemen dulu untuk sholat, baru melanjutkan jalan-jalan. Atau aku pergi jalan-jalan setelah menjamak sholat Zuhur dan Asar.

Malah aku pernah pengalaman sholat di tempat parkir yang terbuka. Jadi, waktu itu aku lagi di Kyoto dan pergi ke Kinkakuji, karena sudah hampir lewat waktu sholat dan khawatir tidak sempat sholat saat pulang di rumah temanku, jadi aku melaksanakan sholat di tempat parkir. Tempat parkirnya luas dan masih ada beberapa mobil serta bus yang parkir. Aku mengambil lahan kosong di bagian pinggir, tepatnya di belakang salah satu mobil dan melaksanakan sholat. Awalnya rasanya aneh sih, tapi Alhamdulillah rasa tenang segera datang setelah melaksanakan sholat. Mungkin saat aku sholat ada beberapa orang yang melihat, namun mereka cuek dan segera berlalu. Jadi ya pede aja, biarin mereka mau mikir apa.

“Udah, ga usah sholat aja, sekali doang kan ninggalin sholat. Ga ada tempat sholatnya juga. Ga ada yang tau juga kalo kamu ninggalin sholat.” Bisikan seperti ini kadang datang dan mempengaruhi jiwa, dan terjadilah perang batin.

“Bener juga ya, buat apa sih solat?” pertanyaan ini juga sempat terlintas dalam pikiran. Astaghfirullah.

“San, sholat itu buat diri kamu sendiri. Buat mempertahankan cahaya lampumu di akhirat nanti biar bisa menerangi jalan masuk ke surga-Nya.”

“Tapi kan sama aja kalo aku sholatnya juga ga bener, cepet-cepet gitu. Mending ga usah sholat sekalian daripada sholatnya juga ga diterima”

“Emangnya kamu tau solatmu yg diterima itu yg gimana? Yg ga diterima yg gimana? Yang tau kan cuma Allah. Bisa jadi, pas kamu sekarang sholat, meski menurutmu ga bener, malah diterima Allah soalnya kamu bisa melawan bisikan setan dan tetap istiqomah buat sholat.”

“Hmm iya sih”

“Nah, ya udah  mending kamu sholat deh. Ga ada ruginya kok. Malah kamu sendiri yg rugi kalo ninggalin sholat.”

“Oke, aku sholat deh”

Hahaha, kurang lebih begitulah. Alhamdulillah, bisikan malaikatnya bisa menang melawan bisikan setan. Yak, intinya Islam itu ternyata tidak pernah menyulitkan, namun seringkali manusia saja yang justru membuatnya tak mudah.

Belajar dari Kakek-Nenek

Hari itu, Selasa, 26 Januari 2016, aku pergi ke head office Eisai Jepang seperti biasa untuk menjalani program internship AIESEC. Sebenernya tidak ada jadwal khusus untukku hari ini, jadi aku bisa bermesraan dengan laptop pinjaman dari Eisai mengerjakan beberapa tugas internship. Ditambah lagi karyawan di departemenku ditempatkan terlihat sangat sibuk membahas beberapa rencana ke depan: meeting tiada henti dari pagi sampe siang. Pagi itu aku mendapat tawaran untuk ikut pergi dengan 2 orang karyawan untuk mengunjungi nursery house for elder (semacam panti jompo gitu) pukul 2 siang. Aku langsung mengiyakan karena memang tidak ada jadwal hari ini dan aku selalu tertarik untuk mencoba hal-hal baru. Lagipula daripada seharian duduk di depan laptop, lebih baik jalan-jalan keluar kan ya 🙂

Kurang lebih pukul 2, kami bertiga berangkat dari head office Eisai. Pertama, kami menaiki taksi setelah itu lanjut kereta dan berjalan menuju lokasi. Anak dari pemilik panti jompo menemui kami di depan stasiun dan memandu kami menuju panti jompo tersebut. Sebelum berkeliling di panti jompo, kami melakukan meeting yang membahas tentang kerjasama Eisai dengan panti jompo. Tentu saja aku hanya terdiam dengan percakapan mereka yang berbahasa Jepang. Meski begitu aku mendengarkan dengan antusias, sesekali ikut mengangguk, tersenyum dan ikut tertawa. Anak dari pemilik panti jompo itu bisa berbahasa Inggris sehingga aku dipersilahkan untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Setelah itu, dia menjelaskan secara singkat tentang panti jomponya itu.

Kemudian kami mulai berkeliling panti jompo. Dimulai dari lantai 1 gedung pertama, terlihat 3 nenek sedang duduk di kursi yang mengitari meja. Anak dari pemilik panti jompo itu mendekati salah satu, mendekatkan mulutnya ke telinga sang nenek dan bertanya “nan sai desuka” Aku masih bisa mengerti, bahwa dia menanyakan umur sang nenek. And guess what?! Umurnya 103 tahun. Subhanallah. Dengan umur segitu, sang nenek masih bisa berjalan sendiri! Lagi-lagi aku hanya bisa mengamati tanpa ikut berkomunikasi. Tapi aku tetap menyesuaikan dengan situasi, mengikuti kedua karyawan lainnya yang menundukkan kepalanya (tau kan ya cara orang Jepang memberi salam) dan mengucapkan konnichiwa dan arigatou gozaimasu sambil memberikan senyuman terbaikku. Semoga mereka tau maksud senyumku. Hahaha, maksudnya walaupun aku diem, ga bisa banyak ngomong Jepang, aku tetep peduli dan mau berinteraksi dengan mereka.

Dilanjutkan ke lantai ke 2 dari gedung pertama. Kami menaiki tangga dan karyawan Eisai memberitahuku bahwa di sini tidak ada elevator, jadi para kakek dan nenek yang ada di sini harus lewat tangga dan yeah, mereka masih bisa! Fyi aja, Jepang itu kota yang ramah dengan orang-orang disabilitas. Di setiap stasiun pasti ada elevator dan disetiap kereta ada tempat khusus untuk orang-orang yang disabilitas, misalnya yang pake kursi roda. Terus aku juga liat sendiri kalo orang yang pake kursi roda mau masuk atau keluar kereta bakal ada petugas kereta yang memasang papan besi untuk menutupi celah antara platform dan kereta biar kursi rodanya bisa lewat. Pokoknya ga bisa berhenti salut dengan negara satu ini. Oh ya, lanjut ke lantai 2. Jadi di lantai 2 ini adalah apartemen kakek dan nenek yang ada di sini. Waktu ngeliat ke dalam apartemennya, wow, bagus banget! Fasilitasnya lengkap, ada AC, TV, kamar mandi dalem, kasur, lemari, beranda di luar (kalo kosan, ini udah yang paling mahal kali wkwk)

Di sini, aku mengunjungi dua kamar. “Ojamashimasu” kami masuk ke dalam kamar seorang nenek dan dengan semangat sang nenek membuka pintu ke luar beranda kamar dan mulai bercerita. Lagi-lagi, aku hanya bisa mendengarkan. Beberapa kata yang bisa aku tangkap adalah “hanabi” dan”mieru”, jadi sepengertianku sang nenek mau menjelaskan kalo dari jendela kamarnya itu pemandangannya bagus dan bisa terlihat kembang api. Kemudian ke kamar nenek yang kedua. Di dalam kamar, sang nenek terlihat sedang menonton TV dan saat kami masuk dia juga mulai berkomunikasi dengan karyawan eisai. Karyawan Eisai dengan baik hati mentranslate apa yang dikatakan sang nenek. Ternyata, sang nenek berkata bahwa dia bangga bisa menjaga toilet di kamarnya selalu bersih. Ups, jadi merasa tersindir. Anak pemilik panti jompo pun mengenalkanku kepada sang nenek, berkata “Indonesia kara kimasu” dan aku mengulanginya. “Hai, Indonesia kara kimasu” Kemudian terjadilah beberapa percakapan singkat aku dengan sang nenek. Karyawan Eisai dengan baik hati menterjemahkan perkataan nenek. Sang nenek bertanya padaku berapa lama di Jepang, bagaimana tinggal di Jepang. Aku menjawab dengan bahasa Jepang sebisaku “roku shukan” “nihon wa sugoi desu” dan neneknya berbicara beberapa kalimat dibalas dengan anggukan dan “hai” yang keluar dari mulutku. Kemudian neneknya bertanya lagi “kamu masih single” Eeeeeeh, kok pertanyaannya hahaha. And at last, this really touch me and I feel like want to shed my tears, ketika karyawan Eisai bilang ke neneknya kalo aku bakalan jadi dokter terus neneknya bilang “ganbatte ne! ganbatte kudasai” Huaaaaaaa, langsung aku nunduk-nunduk bilang “arigatou gozaimasu” Entahlah rasanya sangat sesuatu disemangatin sang nenek :’) Di umurnya yang udah segitu, dia masih terlihat ceria bahkan nyemangatin aku. Huaaaaaaaa, jadi orang tipe “feeling” emang gini sih. Dikit-dikit baper. Terus sempet dijelasin juga kalo sang nenek ini ga ada keluarga, cuma ada saudara perempuan, dan sebelum ke panti jompo ini, sang nenek tinggal sendiri dan ga bisa jalan, jadi cuma bisa berbaring di tempat tidur. Sudah banyak dokter, perawat atau tenaga kesehatan lainnya yang dateng buat bantu dan ngobatin tapi semuanya menyerah sampe akhirnya sang nenek diserakan ke panti jompo ini dan sekarang udah bisa gerakin tubuhnya. Tadi aja dia lagi duduk nonton TV kan :’)

Oke, terus lanjut ke lantai pertama dari gedung kedua. Nah, di sini terlihat sekitar 8 orang lansia. 3 orang duduk di kursi depan TV dan 5 orang lainnya duduk mengitari meja panjang dengan memegang kartu di tangan masing-masing. Aku segera tertarik melihat permainan kartu dan bertanya-tanya mereka lagi main apa ya pake kartu remi? Apa mungkin main cangkul, 41, tepuk nyamuk, poker. Aku segera berdiri di dekat meja mereka bermain, memperhatikan. Menganalisis sebentar apa yang mereka mainkan dan aku langsung tau jenis permainan apa yang mereka mainkan! Jadi, mereka bermain mengurutkan kartu sesuai gambarnya dan angka dari tertinggi ke terendah. Apabila di tangannya ada kartu yang sesuai, mereka mengeluarkannya dan menyusun kartunya di meja. Terlihat salah seorang nenek telah menghabisi kartu di tangannya dan dia bertepuk tangan gembira karena dia telah “menang”. Aku pun ikut bertepuk tangan. Aku mengamati hingga mereka selesai bermain kartu (emang bentar lagi selesai sih) dan ikut bertepuk tangan karena semua kartu sudah tersusun dengan rapi. Nah, di sini baper juga, rasanya pengen nangis. It’s only a small things, yang mungkin bagiku itu bukan mainan, cuma nyusun kartu dari tertinggi sampe terendah terus dikelompokin sesuai gambarnya, but I can feel their happiness. Ya, di sini aku belajar terkadang hal sederhana sudah cukup untuk membuat bahagia.

playing-cards
Nah, gambar ini beneran persis kayak permainan mereka. Iya, mereka mainnya nyusun kartu sesuai gambar dan urutan.

Nenek di dekatku bertanya sesuatu dengan bahasa Jepang, namun aku tak mengerti “sumimasen, nihonggo wa wakarimasen”. Cuma bisa ngomong gitu soalnya kedua karyawan eisai juga sedang berkomunikasi dengan yang lain, jadi tidak ada yang bisa membantuku menterjemahkan perkataan sang nenek. Di kelompok lansia yang main kartu ini, ada seorang lansia yang pernah ke Indonesia. Jadi saat aku dikenalkan, sang kakek langsung bertanya “nan ji desuka” Awalnya heran kenapa dia nanyain jam, terus tiba-tiba kakeknya bilang “Selamat Sore” Waaaaaaah, langsung aku respon selamat sore dan bilang “sugoi!”. “Douzo” Seorang nenek mempersilahkanku duduk di salah satu kursi yang kosong. Aku duduk di samping kakek yang pernah ke Indonesia. Alhamdulillah, saat itu karyawan Eisai sudah selesai mengobrol dan membantuku mentranslate perkataan sang kakek. Kakeknya nanyain aku dari kota apa? “Jakarta?” “Bali” Terus aku cuma bisa bilang jakarta sama bali sambil geleng-geleng. “Jakarta janai?” kakeknya nanya lagi dan aku bales “hai, jakarta janai”. Aku bilang aja aku dari Palembang meski aku tau kayaknya kakeknya juga gatau di mana Palembang. hehe Dia juga cerita kalo dia punya rumah di Bali dan suka ngambil foto-foto di Bali. Yes, Bali is really that famous!

Terus lanjut ke lantai 2 ya. Jadi di sini juga ada beberapa kamar. Masuk ke salah satu kamar seorang kakek. “Ojamashimasu” Di dalem kamarnya, bersih dan barang-barang tersusun rapi. Bahkan di kamar yang aku kunjungi ini, ada satu kotak khusus buat origami bentuk burung. Pokoknya semua kamar di sini bersih dan rapi banget. Kalo inget kamar sendiri, ya udah jelas sih bersih dan rapinya. Jelas kalah.

Akhirnya, kunjungan kami hari itu berakhir. Kami kembali ke tempat meeting pertama tadi dan mengambil foto bersama. Seneng banget berkesempatan mengunjungi salah satu panti jompo di Jepang dan sedikit berinteraksi dengan orang-orang di sana. Meski ga bisa bahasa Jepang, tapi komunikasi masih bisa berjalan. Bahkan saat kami pamit, salah seorang kakek melambaikan tangannya dan aku membalasnya dengan lambaian tangan juga. Banyak belajar lagi dari pengalaman hari ini. Dukungan lingkungan, termasuk keluarga, teman-teman, atau kelompok sangat dibutuhkan dan memang bisa memberi pengaruh dalam hal kesehatan, terutama kepada lansia. Entahlah, rasanya juga kagum sama orang yang buat rumah untuk lansia yang bisa memfasilitasi para lansia itu untuk melakukan kegiatan bersama, bermain bersama. At least mereka ga bakal ngerasa kesepian, apalagi kalo yang ga ada keluarga. Pesan yang bisa diambil dari sini juga selalu hormati dan sayangi orang tua kita. Bukan cuma kita yang tumbuh dewasa, tapi orang tua kita juga! Kemudian pesan lain yang juga ga kalah penting adalah tentang kebahagiaan. Bahagia itu sederhana. Bahkan dari hal-hal kecil di dalam hidup kita, kita bisa bahagia, sepanjang kita mensyukurinya.

20160126_163306
This is our picture 🙂

Sakura

In this post, I just want to share some pictures taken by me. This is about my favourite flower and the story how I can see it directly and unexpectedly!

It started on Saturday, when I was planning to go to Tokyo Imperial Palace. It was a big place and I was kinda confused with the direction but Alhamdulillah I found the entrance to East Garden of Imperial Palace. I walked around it, enjoyed the environment. It felt so fresh and quiet. I loved it so much. Although it was winter and most of the tree lost it leaves, but still it looked beautiful.

Until then I walked and see a familiar tree. A familiar tree with its beautiful flower. At first, I didn’t believe that it was my favourite flower that I have always been dreamed to see. For all this time, I only could see through pictures. Then I came closer. I look at the small board attached to the branch of the tree ”カンザクラ” That’s what written on the small board.

20160116_111731

カンザクラ - Kanzakura. This is a species of sakura that bloom throughout winter!

Some people came. I heard they also talked something like “is it Sakura?” “Kireii” “Ah this is Kanzakura” Then I was sure that it was Sakura. It looked more beautiful than in the picture. Peoples took picture there, as for me I also took many pictures.

20160116_111840
It was beautiful. Can you see the bird playing with the flower? 🙂

There were 2 trees and both of them were beautiful. I took the pictures from many angles and distance. I didn’t know how to describe my feeling. But, it felt like miracle! You didn’t plan to see your dream flower, but Allah made you to see it. Yes, Allah plan will always be the best plan.

20160116_112215
Close up of Sakura.

My camera was full of Sakura photos, but I love it. I didn’t know how long I spent my time to capture the picture of Sakura.

20160116_111758.JPG
Look! A perfect combination with clear blue sky.

Then, on my way back to the entrance gate to go out from East Garden of Imperial Palace, I saw another beautiful tree with pink flower. I just realized when I reviewed the pictures in my camera that it’s also a kind of Sakura.

20160116_113957
This was also Sakura (or plum blossom?). Beautiful!

I really didn’t expect to see Sakura on Winter. I thought that on this season I wouldn’t have chance to see it, but as I said before Allah’s plan is always the best plan. Alhamdulillah, another dream has achieved!

20160116_115420
Finally, it just me and Sakura~

 

Apartemen di Jepang

Halooo, sebenernya udah lama mau sharing pengalaman di Jepang, tapi kadang sulit cari waktu yang tepat. Jadi sekarang menggunakan waktu di tengah-tengah “ngantor” dan tiba-tiba muncul mood buat nulis di blog ini lagi, so let me write about something here. Ada sedikit rasa bersalah nulis ini di waktu kerja, tapi emang lagi ga ada jadwal dan aku hanya duduk terdiam di depan laptop pinjaman jadi lebih baik aku menulis, walaupun ada beberapa “pekerjaan” yang seharusnya aku lakukan, tapi bosennya udah dateng, jadi izinkan dan maafkan diriku yang menggunakan waktu ini malah untuk menulis blog ._.v

Kali ini aku mau cerita tentang apartemen di Jepang. Aku tinggal di salah satu apartemen di daerah Kyobashi, Tokyo. Lingkungan apartemenku ini bisa dibilang cukup elit, karena hanya 10-15 menit berjalan dari stasiun Tokyo, stasiun besar dengan banyak tempat perbelanjaan, department store dan toko-toko terkenal lainnya. Selain itu, daerah ini juga dekat dengan Ginza, jadi Ginza itu juga daerah buat shopping tapi sayangnya buat para penduduk high class, so for me only sightseeing is enough :p

Hari itu, Jumat tengah malam, pertama kali aku tiba di apartemen, dengan keadaan lelah dan jetlag 2 jam. Aku mencoba membaringkan diri di atas kasur yang sebenernya empuk dengan selimut yang tebal dan cuaca dingin khas winter yang sangat cocok untuk berlama-lama di balik selimut. Namun, sayangnya aku tidak bisa tidur, meski sudah berusaha memejamkan mata cukup lama. Akhirnya aku memilih untuk menyalakan lampu, unpacking koper dan melihat-lihat fasilitas apartemen.

Hal pertama yang aku lakukan adalah menghampiri buku tentang informasi apartemen. Di sana tertulis beberapa petunjuk menggunakan fasilitas yang ada di apartemen dan alhamdulillah ada versi bahasa inggrisnya. Jadi, apartemen ini kalo menurutku bener-bener apartemen yang minimalis tapi semuanya lengkap. Jadi saat melangkahkan kaki masuk ke dalam apartemen, ada tulisan di lantai yang menyuruh penghuni untuk melepaskan alas kaki. Well, not really different with Indonesia, so I’m not surprised at all. Kemudian di dinding sebelah kanan ada cermin yang bisa menangkap bayanganmu dari kepala sampe kaki, jadi sebelum keluar apartemen selalu liat cermin ini dulu. Di sebelah kiri, ada tombol lampu untuk lampu depan dan lampu dapur.

 

Setelah cermin ada celah atau ruangan kecil, nah ini adalah dapur. Jadi di dapurnya itu ada kulkas, microwave, kitchen set sederhana tapi lengkap, kompor, rice cooker, coffee-maker, kuali, panci, ketel buat masak air, sendok, garpu, pisau, mangkuk, gelas, sabun dan sponge cuci piring (lengkap kan!) Jadi, di dapur mini ini aku bisa nyimpen makanan di kulkas, masak (meski cuma masakan instan tapi yg penting yakin kalo itu halal, dan aku juga bawa beberapa makanan dan bumbu instan dari Indonesia), pake microwave, masak nasi dan melakukan hal-hal dapur lainnya. Pokoknya keren banget deh. Yang unik itu coffee-makernya meski belum pernah aku pake sih, terus rice cookernya juga punya banyak pilihan menu dalam bahasa jepang (tapi dengan dibantu kertas guide yang berbahasa inggris, I could understand what it means). Terus di sini ada tombol buat ngatur air panas dan air dingin (yang berfungsi juga buat ngatur air di kamar mandi).

 

Setelah dari dapur, paralel dengan pintu masuk, ada pintu masuk lagi ke kamar tidur dan ruangan utama. Jadi di kamar ini, ada barang-barang yang memang seharusnya di kamar. Liat di gambar aja ya hehe. Kasurnya yang gede jadi puas banget kalo tidur, selimutnya juga tebel banget cocok buat winter. Selain benda-benda yang terlihat di luar, di dalem lemari ternyata ada setrika sama mejanya, terus ada loker buat nyimpen barang-barang penting. Yang unik itu setrikanya, soalnya perlu ribet gulung kabelnya, tinggal di klik tombolnya terus kabelnya ketarik dan kegulung sendiri deh.

Oke, sekarang pindah ke toilet dan kamar mandi. Jadi kalo jalan lurus terus dari pintu masuk sampe mentok, belok ke kiri dan disitulah kamar mandi berada. Pintu kamar mandinya pake sistem pintu geser gitu. Di dalem kamar mandi ini, ada mesin cuci, toilet, hair dryer, 2 handuk, satu kotak deterjen kecil, handuk kecil. Nah terus dari masuk ke kamar mandi tadi di sebelah kanannya ada kamar mandi dengan sistem pintu lipat. Di sana ada shower, ofuro (bak buat berendam), wastafel, gantung handuk kecil dan ada gantungan buat jemur baju. Jadi abis cuci baju, bisa jemur baju di sana (ada tombol khusus buat jadiin kamar mandi jadi tempat mengeringkan baju).

Oh ya, satu lagi ada beranda apartemen, jadi pemandangan dari luar beranda terlihat beberapa bangunan, yang sepertinya juga apartemen. From here, I can reach out my hands to feel the snow on Monday, Jan 18. Yes, the first snow of Tokyo in 2016 as well as the first snow of my life. Ada fasilitas mail box juga di bawah, tapi selama ini ngecek isinya cuma brosur iklan produk gitu.

Yak, sekian sharing tentang apartemennya. Nyaman banget deh, jadi mikir kalo kosan gini sejahtera banget ya hidup gue, tapi pasti harganya juga selangit. Intinya hidup dinikmatin dan disyukurin aja mau gimanapun keadaannya. Keep grateful! 🙂

Perjalanan ke Jepang

Jumat, 8 Januari 2016 menjadi hari yang bersejarah bagiku. Karena dalam hari itu ada beberapa hal yang pertama kali aku lakukan dalam hidupku. Hari ini aku pertama kali pergi ke luar negeri (fyi, sejak dari di kandungan sampai sekarang aku belum pernah pergi ke luar negeri meski itu negara tetangga sekalipun, baik malaysia atau singapura). Aku pergi ke luar negeri sendirian :’) mencicipi rasanya naik pesawat internasional, solat di bandara kuala lumpur dan masih banyak lagi hal-hal yang aku lakukan pertama kali di hari ini. Jadi lebih baik aku mulai bercerita. *Peringatan! Ceritanya panjang, jangan bosen bacanya ya ._.v

Pukul 05.00 pagi aku diantar om dan tanteku dari Depok ke Bandara dan perjalanan pagi itu memakan waktu 1,5 jam. Setelah mengantarku sampai ke depan pintu bandara, om dan tanteku pulang dan aku masuk untuk check in. Keadaan bandara pagi itu cukup ramai (kayaknya bandara emang selalu ramai deh), ditambah lagi terlihat rombongan (seperti rombongan umroh) berseragam oren cerah. Setelah check in, aku segera menuju ruang tunggu keberangkatan internasional. Saat itu pukul 07.00 dan aku masih harus menunggu 1,5 jam lagi untuk berangkat ke kuala lumpur. Dengan fasilitas free wifi aku menginformasikan kepada orang tuaku dan mengabari teman-temanku via line bahwa hari ini aku akan berangkat ke Jepang.

Sekitar pukul 08.15, panggilan untuk masuk ke pesawat mulai terdengar. Terlihat rombongan umroh tadi juga bersiap-siap. Mereka juga berada di pesawat yang sama denganku. Keadaan di dalam pesawat sama saja dengan pesawat domestik yaitu dalam satu baris ada 6 kursi yang dipisah oleh tempat berjalan. Penerbangan berlangsung sekitar 2 jam, namun waktu di Malaysia saat aku tiba sudah menunjukkan pukul 11.30 karena perbedaan waktu antara Malaysia dan Indonesia adalah 1 jam.

20160108_082227
Ini pesawat yang aku naiki untuk transit dulu ke Kuala Lumpur

Setelah turun dari pesawat, aku dan penumpang lainnya berjalan cukup jauh untuk menuju ke tempat pengambilan bagasi atau loket penerbangan transit. Setibanya di depan loket, aku segera memberikan boarding pass dan ternyata gerbang keberangkatanku adalah gerbang P10. Saat hendak menutup pintu lift, terlihat seorang wanita yang juga ingin naik lift sehingga aku menahan pintu lift. Di sanalah, aku berkenalan dengan wanita itu. Namanya Marni, nama asli Indonesia kan? Ternyata dia lahir di Jogja dan punya rumah di Bantul tapi dia sudah terbiasa berbahasa Inggris, jadi aku dan dia berdialog dengan bahasa Inggris. Kami saling bertanya tujuan masing-masing dan ternyata dia berencana untuk pergi ke Hongkong.

S : Are you alone?

M : Yes, I’m alone. But I’m not lonely *laugh*

S : *laugh too* Ah yes, me too!

Hanya dengan percakapan sederhana sudah cukup untuk membuat kami tertawa. Ternyata berpergian sendirian memang mampu mengenalkanmu pada orang-orang baru. Kemudian dia menawarkan untuk berfoto dan tentu saja aku segera menyetujuinya.

20160108_110604
Foto di depan salah satu toko yang ada di Kuala Lumpur International Airport

Setelah berfoto kami pergi ke tempat money changer, aku memang belum sempat menukarkan uangku di Indonesia. Di dekat tempat money changer terlihat tanda kubah masjid dan tanda panah, pasti itu tanda musholla. Aku menyuruh Marni untuk duluan dan berkata kalau aku ingin solat terlebih dahulu. Musholla di KLIA keren banget! Iyasih, Malaysia juga mayoritas muslim jadi mencari musholla bukan hal yang susah.

Sesampainya di musholla aku ingin menunaikan sholat Zuhur, but wait! Aku segera mengambil handphone membuka aplikasi muslim pro dan merubah tempat menjadi Kuala Lumpur. Ternyata saat itu belum masuk waktu Zuhur. Azan Zuhur masih pukul 13.30. Alhasil, aku tidak jadi solat Zuhur dan aku segera keluar dan berencana untuk menunggu terlebih dahulu di ruang tunggu P10. Alhamdulillah dalam perjalananku menuju P10, aku sempat melewati musholla yang berarti aku bisa solat di sana. Tidak perlu ke musholla awal yang tadi aku masuki.

Sekitar pukul 12.30, aku sudah berada di depan pintu ruang P10, namun ternyata ruangannya belum dibuka. Akhirnya aku menunggu di kursi yang disediakan di depan ruang 10. Kira-kira pukul 13.15, aku pergi ke musholla yang tadi aku lewati. Mushollanya cukup kecil dibandingkan mushoola yang aku masuki pertama kali tadi. Namun bagusnya tetap sama dan ruangannya serta tempat wudhunya benar-benar dipisah antara pria dan wanita.Jadi ga cuma toilet aja yang dipisah, musholla pun juga dipisah disini. Cool!

Setelah sholat, aku membeli roti untuk mengisi perut dan kemudian kembali lagi ke ruang P10. Ruangannya sudah dibuka dan di sini dilakukan pengecekan pasport. Petugas yang melihat-lihat pasportku bertanya kabar baik? Mungkin dia bertanya karena aku menggunakan hijab dan wajahku terlihat wajah asia, jadi aku jawab saja Alhamdulillah baik. Nah, di sini sempat terjadi sedikit masalah. Petugasnya bertanya padaku

P : Do you have alien card?

S: Alien card? What is it? I only have Indonesian ID card.

P: No, it’s alien card from Japan

Akhirnya percakapan terjadi cukup panjang dan alhamdulillah tanpa menunjukkan alien card atau apapun itu, aku segera dipersilahkan lewat. Mungkin karena antrian di belakangku juga sudah cukup ramai. Di sini, aku sempat cemas dan terpikirkan bagaimana bila aku tidak diizinkan masuk Jepang karena tidak punya alien card yang membuatku langsung googling tentang alien card segera setelah aku duduk. Dari hasil pencarianku alien card Japan itu diberikan kepada orang yang menetap cukup lama di Jepang, tapi aku tidak menemukan penjelasan yang lebih dalam sehingga aku berharap aku memang tidak butuh alien card. I’m not an alien, I’m a human! HAHA

Aku menunggu kurang lebih selama 1 jam dan sekitar pukul 14.20 terdengar pengumuman pemanggilan penumpang yang akan berangkat ke bandara Haneda. Oh ya, di ruang tunggu ini berkumpul segala macam jenis manusia mulai dari wajah asia hingga wajah kaukasian. Mulai dari yang pendek hingga  tinggi menjulang. Mulai dari yang rambutnya hitam hingga pirang ataupun menggunakan hijab sepertiku. Bahasa yang terdengar juga bermacan macam. Aku pun mengantri menuju pintu masuk pesawat, dan ternyata tipe pesawat yang aku naiki berbeda. Ini pesawat dengan kapasitas besar, jadi satu baris ada 9 kursi, 3 kursi di kiri, di tengah, dan di kanan. Nah, ini dia pesawat internasional! Penumpang di belakangku adalah dua orang gadis Jepang dan mereka dengan lancarnya berbicara bahasa Jepang, paling yang aku mengerti hanya beberapa patah kata seperti nani, soudesuka, arigatou dan lain-lain. And I felt like getting closer to Japan.

Perjalanan Kuala Lumpur ke Tokyo memakan waktu kira-kira 7 jam dengan perbedaan waktu KL dan Tokyo 1 jam. Selama perjalanan memang terasa membosankan, saat melihat jam tangan baru beberapa menit berlalu, namun untungnya aku menyiapkan buku, handphone, laptop untuk digunakan. Awalnya aku membaca, kemudian melihat handphone juga untuk membaca. Semua jendela pesawat sudah ditutup kecuali jendelaku. Aku masih membutuhkan penerangan alamai dari luar jendela untuk membaca. Penumpang di sampingku terlihat sudah tertidur dan aku juga mencoba untuk tidur setelah cukup lama membaca. Namun, aku tidak bisa tidur hingga yang dapat aku lakukan hanyalah mengamati ke luar jendela. Keindahan langit biru dan awan putih di udara dengan ketinggian yang entahlah berapa sangat aku kagumi dan tak lupa aku mengucap Alhamdulillah untuk semua itu. Langit pun mulai berubah warna. Sang matahari memberikan tanda kepada bulan untuk bergantian bekerja. Sunset dari jendela pesawat benar-benar mengagumkan. Bahkan setiap 5-10 menit sekali aku mengabadikan foto-foto itu dan alhasil aku gabungkan fotonya seperti di bawah ini.

PhotoGrid_1452282945224
Bagus banget, kan?!

Meski terasa lama, waktu tetap berjalan, hingga akhirnya pengumuman kenakan sabuk pengaman dan pemberitahuan pesawat akan segera mendarat terdengar dari speaker. Waktu menunjukkan pukul 21.45. Jendela pesawat segera aku buka dan seketika rasa lelah dan bosan duduk selama 7 jam semuanya hilang setelah melihat indahnya gemerlap lampu dari atas pesawat. Masih dengan rasa tidak percaya, aku akhirnya bisa segera menuju ke salah satu negara yang memang sudah lama ingin aku kunjungi. Jarak pesawat semakin dekat dengan daratan, dan semakin bagus dan meriah pula gemerlap lampu yang terlihat. MasyaAllah

You have arrived in Tokyo International airport, the time shown 22.00, and the temperature is 9 degree Celsius ……………………

Terdengar pengumuman dari speaker dan mataku tak bisa beranjak dari jendela pesawat. Terlihat tulisan berhiaskan lampu merah yaitu Tokyo International Airport. Ya Allah, terima kasih. Pesawat pun berhenti sempurna, semua penumpang segera beranjak dari tempat duduk masing-masing dan mengambil barang di bagasi kabin. Aku juga segera beranjak dan mengambil tas punggungku, berjalan ke luar pintu pesawat. Sayangnya aku langsung dihubungkan dengan bagian dalam bandara Haneda jadi tidak sempat mengambil foto dengan latar belakang Tokyo International Airport atau dengan latar pesawat yang aku naiki, seperti foto yang sedang hits sekarang ini. Namun, apalah arti foto hits itu , yang penting aku bersyukur bisa sampai dengan selamat di negeri sakura ini.

Setelah berjalan cukup lama, aku tiba di tempat pengecekan pasport. Dan yang aku kagumi lagi dari bandara Jepang, kita tidak perlu meletakkan barang bawaan kita, mengeluarkan hp dari saku celana, melepaskan jam dan menaruhnya ke dalam tempat pengecekan barang-barang. Kita hanya tinggal berjalan biasa dan semuanya (termasuk barang bawaanmu) sudah terekam semua lewat mesin canggih. Memang Jepang sangat pantas disebut negara dengan teknologi yang paling maju. Pengecekan pasport berjalan lancar, kecemasan tentang alien card yang sempat dipermasalahkan di KLIA tadi ternyata tidak dipermasalahkan di sini. Setelah itu aku menunggu bagasi dan mengambil bagasi. Kemudian aku berusaha menggunakan free wifi haneda airport untuk menghubungi panitia AIESEC jepang yang berencana untuk menjemputku di bandara. Namun, ada sedikit masalah saat menyambungkan wifi dan sedikit memakan waktu lama walau akhirnya handphoneku tetap tersambung dengan wifi.

Aku putuskan untuk segera keluar dan menemui panitia AIESEC di luar. Terlihat beberapa orang menunggu di depan pintu kedatangan dengan memegang kertas putih bertuliskan nama, namun aku tak melihat namaku di sana. Akhirnya aku menghubungi via line, dan aku mengenali seseorang di sana yang aku perkirakan adalah panitia AIESEC jepang. Akhirnya aku menghampiri kedua orang dari AIESEC tersebut dan mereka juga berjalan mendekat ke arahku. Aku berbasa-basi bertanya apakah sudah lama menunggu, dan meminta maaf (ini minta maaf beneran kok, ga basa-basi) karena sudah membuat mereka lama menunggu.

Hmm ternyata ceritanya panjang, tapi sebentar lagi selesai kok. Oke lanjut! Mereka membelikanku tiket pasmo untuk menaiki kereta menuju apartemenku. Beberapa kali berganti kereta dan aku sadar sepertinya bila sendirian mungkin aku bisa tersesat karena tulisan di sekitarku semuanya kanji. Aku masih bisa membaca hiragana dan katakana, namun kanji? Aku menyerah. Hanya beberapa kata kanji yang aku tau. Baik mari skip perjalanan selama di kereta dan segera buat cerita ini berakhir. Waktu menujukkan hampir tengah malam dan aku tiba di apartemen dengan selamat. Alhamdulillah. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan.

Sekian cerita perjalanan Jepang, ternyata panjang juga ya. Hahaha. Nantikan cerita yang lain (if I have time to write another story).