Posted in Japan, Travelling

Perjalanan ke Osaka-Kyoto (part 3)

Ini bagian terakhir cerita perjalananku ke kyoto-osaka. Bagian sebelumnya bisa dibaca di part 1 dan part 2. Pada postingan kali ini aku mau cerita tentang jalan-jalan di Osaka sebelum keesokan harinya aku harus balik lagi ke Tokyo. Hari itu merupakan hari Minggu, aku bangun jam 6 pagi terus sholat Subuh (fyi karena lagi winter baru masuk waktu subuhnya emang sekitar jam 6). Lanjut tidur lagi terus bangun sekitar jam 9an, aku dan temanku siap-siap untuk pergi ke tujuan pertama kami yaitu Osaka Castle. Sebelum masuk ke Osaka castle, kami jalan-jalan dulu di taman yang saat itu lagi mekar-mekarnya bunga plum. Ternyata ga kalah cantik sama bunga sakura, dan wanginya juga enak banget. Ada seorang bapak yang dengan senang hati menjelaskan ke kami tentang bunga plum ini dan dia bilang kalo musim semi akan lebih indah lagi.

Continue reading “Perjalanan ke Osaka-Kyoto (part 3)”

Advertisements
Posted in Experience, Japan, Travelling

Perjalanan ke Osaka-Kyoto (part 1)

Keluarlah dari zona nyamanmu karena kamu akan belajar banyak hal di luar sana. Di zona nyamanmu, tentu kamu akan merasa nyaman, tapi sayangnya dirimu kurang berkembang. Kamu merasa sudah cukup dengan apa yang kamu punya. Padahal banyak sekali potensi dirimu yang bisa kamu dapatkan jika kamu keluar dari zona nyaman.

Seperti pengalamanku saat pergi ke Osaka dari Tokyo. Sendirian. Literally being a solo traveller. Di negeri yang asing, yang bahasanya hanya sangat sedikit aku mengerti. Jadi ceritanya begini, aku yang saat itu sedang magang di salah satu perusahaan di Tokyo tertarik untuk pergi ke Osaka. Alhamdulillah ada seorang temanku yang sedang kuliah di Osaka sehingga di Osaka nanti aku bisa menumpang di apartemennya. Jarak antara Tokyo ke Osaka kurang lebih seperti jarak Jakarta-Yogyakarta. Begitu juga dengan daerahnya, kalo diibaratkan maka Tokyo itu ibarat Jakarta, ibu kota negara, kota metropolitan yang sangat maju dan padat dengan kesibukan masyarakatnya. Sedangkan Kyoto itu ibarat Yogyakarta, kota yang juga maju namun masih banyak budaya dan bangunan bersejarahnya. Kalo di Yogyakarta masih banyak candi, maka di Kyoto itu masih banyak kuil.

Continue reading “Perjalanan ke Osaka-Kyoto (part 1)”

Posted in Experience, Japan, Travelling

Tokyo Disneyland! (1)

Lagi scrolling foto-foto lama, terus kangen. Berhubung beberapa postingan terakhir di blog ini adalah tentang curhatan perasaan yang ga jelas semua dan kebanyakan memunculkan sisi melankolis yang kalo dibaca ulang, jadinya kok kayak hidup ga ada seneng-senengnya gitu, ya udah sekalian aja posting tentang yang bahagia.

“Where Dreams Come True!” “Where the magic begin!”

Kalo denger kata-kata itu, langsung inget disneyland kan? #padahalenggak #yaudahgapapa

Tapi beneran deh, sekalinya menginjakkan kaki di sana rasanya bahagia banget, kayak tiba-tiba kamu pengen senyum terus, semuanya jadi bahagia gitu (tiba-tiba kepikiran surga, pasti bahagianya berkali-kali lipat saat kamu nginjekin kaki di sana untuk yang pertama kalinya :”). Waktu masih di kereta aja terus udah liat atraksi disneyland, rasanya tuh “waw I’ve never imagined that I will be there soon” gitu.

Terus kamu turun dari kereta, ngeliat tanda panah yang menunjukkan arah ke tokyo disneyland, ngeliat keramaian orang-orang pake atributnya disney mulai dari bando mickey-minnie, topeng pemeran film-film disney, anak-anak pake gaun elsa anna, terus kamu jalan lagi dan ngeliat gerbang dengan tulisan tokyo disneyland, kamu ngelewatin gerbang itu terus jalan lagi dan kamu ngescan tiket kamu buat masuk and…. YES, it’s dream come true! Sebahagia ini mengenang memorinya 🙂

gerbang-tdl
Welcome to Tokyo Disneyland!

Oke jadi ini mau cerita tentang perjalanan di tokyo disneyland (caution: kayaknya ini bakalan panjang, karena lagi mood nulis panjang).  Hari itu kamis, 11 Februari 2016, adalah hari libur nasional di Jepang (hari pembentukan negara). Aku dijemput Ri (nama disingkat) di apartemenku jam 7.30, rencananya kami mau sarapan dulu tapi sayangnya cafe yg biasanya jualan roti belum buka. Akhirnya kami langsung jalan ke stasiun tokyo (jarak apartemenku ke stasiun tokyo deket banget, jalan kaki sekitar 5-10 menit) dan beli onigiri di warung makan di stasiun tokyo. Stasiun Tokyo gede banget, banyak jalur kereta nya, bisa kesasar kalo sendirian untung ada Ri yang dengan sigap jalan menyusuri keramaian manusia menuju Keiyo line. Dari Keiyo line ini keretanya udah bisa langsung nyampe ke stasiun Tokyo Disneyland (TDL). Aku sama Ri langsung naik ke kereta dan ketemuan dengan Sa. Kami bertiga naik kereta menuju ke stasiun TDL.

Sesampainya di stasiun TDL, kami ketemuan dengan Yo, dia udah nunggu kami dari tadi. Kemudian dipimpin Sa yang emang udah berpengalaman dengan TDL (udah sering banget ke TDL, udah hafal jalan-jalannya, letak atraksinya, udah cobain hampir semua atraksinya) kami langsung bergegas menuju gerbang masuk TDL. Kalo kata Sa, harus cepet biar bisa nyobain banyak atraksi. Oke, gas!

kastil
Highlight of Disneyland. Cinderella Castle 🙂

Waktu pertama masuk langsung ada dekorasi frozen karena waktu itu lagi musim dingin dan frozen lagi hits2nya. Langsung ngeliat kastil megah cinderella (ciri khasnya disneyland). Sayangnya hari itu kastilnya ga bisa dimasukin karena ada sesuatu masalah. Aku, Ri, sama Yo langsung menuju atraksi pertama yaitu “Hunny Hunt”. Panjang banget antriannya, waiting time nya sekitar 1 jam dan ternyata waiting time 1 jam itu masih wajar. Karena ada atraksi lain yang bisa sampe 2 jam bahkan 3 jam. Menurutku agak ga sebanding sih, kamu nunggu 3 jam terus atraksinya cuma 10 menit. Tapi ya gitu, namanya juga pengorbanan demi sebuah atraksi favorit.

Waktu aku, Ri sama Yo ngantri di hunny hunt, Sa nanyain ke bagian informasi tentang tempat sholat. Ini yang aku seneng banget sama mereka, toleransinya tinggi, bahkan kalo pergi ke mana-mana mereka selalu mikirin tempat buat aku solat. Akhirnya Sa balik ke tempat kami dan ikut mengantri sekaligus memberikan kabar gembira kalo ada ruangan yang bisa dipake buat aku nanti solat zuhur dan asar.  Alhamdulillah. Setelah lama menunggu, tiba giliran kami menikmati atraksi ini. Jadi di sini kami kayak memasuki dunia Winnie the Pooh, terus ada ceritanya gitu sayangnya pake bahasa Jepang jadi aku ga ngerti -_- but I enjoy the attraction!

hunny hunt.jpg
Hunny Hunt

Setelah itu lanjut ke atraksi selanjutnya “Haunted House” Waiting time nya kurang lebih 30 menit. Untuk seseorang yang anti-horor, denger haunted house udah bikin aku ragu. Tapi ternyata ga serem! Jadi awalnya masuk ke gedung lama yang banyak lukisan2 gitu, terus orang di lukisannya bisa gerak dan mendesah serem (?) Terus kami naik kereta gitu buat menjelajahi haunted house. Narasinya pake bahasa Jepang, ga ngerti tapi Sa bantuin translate narasinya jadi lumayan ngerti. Hantunya kayak di animasi gitu yg pasti bukan hantu manusia (?)

Selesai juga deh haunted house dan waktu keluar dari sana lagi ada parade frozen. Jalanan udah rame sama orang yg duduk lesehan buat menyaksikan parade itu. Aku juga langsung berusaha maju ke depan, meninggikan kepala buat liat paradenya. Waktu keluar lagi bagian Anna terus disusul sama Olaf, si boneka salju dan Elsa. Langsung deh banyak foto-foto.

Sa ngingetin aku karena kita harus segera beranjak. Sa hebat banget deh udah jadi koor acara sekaligus time keeper juga. Okay, say goodbye to Frozen parade. Ternyata tujuan selanjutnya bukan atraksi tapi tempat makan. Padahal itu masih jam 11, tapi kalo kata Sa takut rame kalo makannya di waktu makan siang, jadilah kami early lunch. Kami pergi ke East side cafe dan di sana ada menu vegetarian, jadi aku pilih menu vegetarian, enak sih walaupun awalnya ngerasa kayak makan rumput dan daun doang ._.v Pelayannya di sini pake kostum waitress kayak di anime-anime, dan katanya kalo mau kerja di sini seleksinya ketat banget. Ya iyalah selain bayarannya yg pasti tinggi, kalo kata Ri, itu kayak impian para remaja buat kerja part time di tokyo disneyland! Mungkin bangga pernah kerja di tokyo disneyland.

Setelah itu lanjut sholat, aku ditemenin Ri pergi ke bagian informasi terus aku dipersilahkan masuk ke ruangan yang bisa aku pake buat solat. Kayaknya itu semacam ruang tamu tapi lebih dari cukup, tempatnya proper banget buat sholat. Terus Sa nanyain aku mau lanjut main atraksi apa shopping. Aku yang ga terlalu seneng shopping (kalo shopping ga pake uang, baru deh shopping :p)  jadinya lebih milih buat lanjut main atraksi.

Mulai lelah ngetik, mungkin sekian dulu deh. InsyaAllah nanti bakal dilanjutin ceritanya bagian seterusnya.

moments_0bc0f896-9cab-4246-a730-5e0570505623

Posted in Experience, Feeling, Japan

Kiriman Bunga

Tenang, tulisan ini bukan kisah romantis antara dua sejoli yang sedang menjalin cinta. Bukan pula cerita tentang hati yang berbunga-bunga mendapat kiriman dari sang kekasih yang nun jauh di sana. Yang penting tulisan ini tidak menumbuhkan rasa baper dan galau tentang si dia #eh Walaupun sebenernya bisa dibilang sedikit sih #ehlagi Oke, kita akhiri saja prolog yang sudah makin tak jelas ini.

Aku ingat hari itu merupakan hari Ahad yang nyaman, karena aku bisa beristirahat di kamar sambil menonton film favoritku ditemani segelas teh hijau yang hangat *lupa sih sebenernya ngapain :p* Cuaca hari itu juga biasa-biasa saja, tidak ada yang spesial. Paling hujan turun lumayan deras, tapi itu biasa saja karena memang sedang musim penghujan. Layar handphoneku berkedip. Segera kupanjangkan tangan meraih handphone yang kira-kira berada setengah meter di sampingku. Notifikasi dari media sosial yang khas dengan warna hijaunya itu hampir memenuhi layar handphoneku. Saaya sent a photo. Aku langsung menekan pilihan view, pertama karena dia temanku yg nun jauh di sana dan dia benar-benar orang spesial saat aku di Jepang, kedua karena aku ingin segera tau foto apa yang dia kirim.

537765377753778

Menunggu loading foto terbuka dan saat melihat bunga favoritku di layar kaca, aku terharu dan bahagia. Meski hanya lewat foto. Sudah lebih dari cukup. Dan yang membuatku bahagia selain foto itu sendiri adalah fakta bahwa Saaya masih ingat kepadaku dan -entah dia tau atau tidak bahwa aku memang suka bunga sakura- dia mengirimiku foto bunga yang indah itu. “Belum mekar semua, aku akan coba lagi minggu depan” Begitu pesan yang dia kirimkan setelah mengirim foto-foto di atas. Aku pun mengucapkan terima kasih dan membalasnya. “Ya, aku yakin itu akan sangat cantik jika semuanya telah mekar” Percakapan pun terhenti.

Negara yang pernah aku kunjungi saat suhunya terasa dingin itu, kini sudah mulai menjadi lebih hangat. Menyapu bersih semua gumpalan putih yang turun dari langit. Mulai membangunkan tumbuhan dari nyenyaknya tidur. Mengajak burung-burung untuk mulai bernyanyi riang. Entahlah, sepertinya musim semi adalah musim favoritku, meski aku belum pernah merasakan musim semi. Tapi membayangkannya saja sudah cukup membuatku bahagia dan ikut bersemangat. Musim semi terasa seperti musim yang penuh semangat. Setelah hawa dingin menyerang, maka musim semi datang seakan menjadi penyelamat dari sedihnya hati.  Dulu, saat aku masih di sana, aku pernah merasakan sehari yang lebih hangat meskipun saat itu masih musim dingin. Orang-orang membuka jaket musim dinginya, bahkan ada beberapa orang yang hanya menggunakan kaos dan celana jeans ke luar rumah. Katanya itu angin musim semi pertama. Itu cuma satu hari, untuk kemudian keesokan harinya udara dingin datang lagi.

Hingga hari ini. Merupakan minggu depan yang dia janjikan. Handphoneku berbunyi dan layarnya berkedip. Saaya sent a photo. Sebenarnya aku sudah menunggunya mengirimkan foto-foto itu. Aku sudah menunggu kiriman bunga darinya. Aku segera membukanya dan menunggu loading foto. Ada total 5 foto yang dia kirimkan padaku. Dua fotonya merupakan foto dia dengan latar belakang bunga sakura dan keramaian orang.

545305453154533

Terima kasih Saaya untuk kiriman bunganya. Kau membantuku berkhayal tentang musim semi. Semoga  kesempatan untuk merasakan musim semi dan melihat bunga favoritku itu secara langsung segera datang.

Posted in Experience, Japan, Travelling

Sholat di Jepang

Kali ini aku ingin bercerita tentang pengalamanku menjalankan sholat di Jepang khsusunya sholat wajib. Mungkin menjalankan sholat 5 waktu merupakan kegiatan umum dan mudah dilakukan di Indonesia, karena di Indonesia mayoritas muslim yang sudah tau waktu-waktu sholat dan banyak terdapat tempat sholat. Namun hal tersebut menjadi challenge tersendiri apabila berada di negara dengan muslim yang sangat minoritas. Hal ini terjadi padaku saat aku berpergian ke Jepang selama 6 minggu.

Alhamdulillah, sebelum aku pergi ke Jepang, orang Jepang yang bertanggung jawab terhadapku atau bisa dibilang pembimbingku atau orang yang ngeLOin aku selama di Jepang, mengirimkan email kepadaku bertanya seputar tentang sholat dan makanan. Aku langsung terharu melihat isi emailnya yang benar-benar peduli terhadap diriku yang seorang muslim dan berusaha mengetahui aturan Islam. Bahkan rencananya aku akan menjelaskan tentang aturan makan dan sholat saat aku sudah tiba di Jepang. Namun setelah mendapatkan emailnya, aku jadi merasa bersalah, karena kurang peduli dengan diri sendiri. Malah dia yang sudah memperhitungkan segalanya untukku (termasuk menu makanan di kafetaria dan solat ini). Aku segera membalas emailnya dengan semangat, menjelaskan sebisaku tentang waktu sholat dan makanan halal. Hingga akhirnya dia berusaha menyiapkan ruangan khusus untukku agar bisa melakukan ibadah sholat 5 waktu dan menghubungi staf kafetaria tentang makananku. Jadi, untuk weekday (Senin-Jumat), sholat 5 waktu tidak menjadi masalah dan aku bisa dengan mudah melaksanakannya.

Mungkin terlihat remeh hanya sekadar menjalankan sholat 5 waktu, namun untuk berpegang teguh pada semua itu di negara dengan minoritas muslim benar-benar membutuhkan keimanan yang kuat. Dari sini juga muncul rasa kagumku pada muslim yang tinggal di negara minoritas muslim yang selalu berusaha melaksanakan ibadah sholat setiap harinya. Aku juga bisa merasakan betapa nikmatnya solat di tengah-tengah kesibukan program magangku. Dan aku bisa berusaha menjelaskan pada mereka yang bertanya “kamu mau ngapain?” waktu aku mau sholat dan bisa menjelaskan pada mereka waktu-waktu sholat dan cara sholat secara ringkas. Bahkan ada yang bertanya “kamu ga bosen solat terus?” dan dengan mantap aku memberi jawaban “justru dengan solat, aku malah bisa merefresh pikiranku dan mendapatkan energi lagi untuk berpikir dan bekerja”. Semoga penjelasanku yang singkat pada mereka bisa membuat mereka melihat cahaya Islam.

Kemudian bagaimana dengan weekend? Saat weekend tiba justru menjadi kendala tersendiri bagiku. Di sela program magangku, aku tidak bisa melewatkan waktu weekendku hanya berdiam diri di apartemen sementara di sekelilingku tempat wisata melimpah ruah dan terlihat sangat menggoda untuk dikunjungi. Jadi solusinya saat weekend tiba biasanya aku sudah merencanakan tempat yang akan dituju, memperkirakan waktu dan memilih tempat sholat yang sesuai. Di Jepang aku sudah pernah pergi ke Masjid Tokyo Jamii sama Masjid Otsuka, juga ke daerah yang banyak toko dan makanan halalnya yang otomatis di sana ada beberapa toko yang menyediakan tempat sholat. Nah, kalo tempat tujuanku dekat dengan salah satu masjid tersebut maka aku akan sholat di masjid tersebut. Pilihan lain, biasanya aku kembali ke apartemen dulu untuk sholat, baru melanjutkan jalan-jalan. Atau aku pergi jalan-jalan setelah menjamak sholat Zuhur dan Asar.

Malah aku pernah pengalaman sholat di tempat parkir yang terbuka. Jadi, waktu itu aku lagi di Kyoto dan pergi ke Kinkakuji, karena sudah hampir lewat waktu sholat dan khawatir tidak sempat sholat saat pulang di rumah temanku, jadi aku melaksanakan sholat di tempat parkir. Tempat parkirnya luas dan masih ada beberapa mobil serta bus yang parkir. Aku mengambil lahan kosong di bagian pinggir, tepatnya di belakang salah satu mobil dan melaksanakan sholat. Awalnya rasanya aneh sih, tapi Alhamdulillah rasa tenang segera datang setelah melaksanakan sholat. Mungkin saat aku sholat ada beberapa orang yang melihat, namun mereka cuek dan segera berlalu. Jadi ya pede aja, biarin mereka mau mikir apa.

“Udah, ga usah sholat aja, sekali doang kan ninggalin sholat. Ga ada tempat sholatnya juga. Ga ada yang tau juga kalo kamu ninggalin sholat.” Bisikan seperti ini kadang datang dan mempengaruhi jiwa, dan terjadilah perang batin.

“Bener juga ya, buat apa sih solat?” pertanyaan ini juga sempat terlintas dalam pikiran. Astaghfirullah.

“San, sholat itu buat diri kamu sendiri. Buat mempertahankan cahaya lampumu di akhirat nanti biar bisa menerangi jalan masuk ke surga-Nya.”

“Tapi kan sama aja kalo aku sholatnya juga ga bener, cepet-cepet gitu. Mending ga usah sholat sekalian daripada sholatnya juga ga diterima”

“Emangnya kamu tau solatmu yg diterima itu yg gimana? Yg ga diterima yg gimana? Yang tau kan cuma Allah. Bisa jadi, pas kamu sekarang sholat, meski menurutmu ga bener, malah diterima Allah soalnya kamu bisa melawan bisikan setan dan tetap istiqomah buat sholat.”

“Hmm iya sih”

“Nah, ya udah  mending kamu sholat deh. Ga ada ruginya kok. Malah kamu sendiri yg rugi kalo ninggalin sholat.”

“Oke, aku sholat deh”

Hahaha, kurang lebih begitulah. Alhamdulillah, bisikan malaikatnya bisa menang melawan bisikan setan. Yak, intinya Islam itu ternyata tidak pernah menyulitkan, namun seringkali manusia saja yang justru membuatnya tak mudah.

Posted in Experience, Japan

Belajar dari Kakek-Nenek

Hari itu, Selasa, 26 Januari 2016, aku pergi ke head office Eisai Jepang seperti biasa untuk menjalani program internship AIESEC. Sebenernya tidak ada jadwal khusus untukku hari ini, jadi aku bisa bermesraan dengan laptop pinjaman dari Eisai mengerjakan beberapa tugas internship. Ditambah lagi karyawan di departemenku ditempatkan terlihat sangat sibuk membahas beberapa rencana ke depan: meeting tiada henti dari pagi sampe siang. Pagi itu aku mendapat tawaran untuk ikut pergi dengan 2 orang karyawan untuk mengunjungi nursery house for elder (semacam panti jompo gitu) pukul 2 siang. Aku langsung mengiyakan karena memang tidak ada jadwal hari ini dan aku selalu tertarik untuk mencoba hal-hal baru. Lagipula daripada seharian duduk di depan laptop, lebih baik jalan-jalan keluar kan ya 🙂

Kurang lebih pukul 2, kami bertiga berangkat dari head office Eisai. Pertama, kami menaiki taksi setelah itu lanjut kereta dan berjalan menuju lokasi. Anak dari pemilik panti jompo menemui kami di depan stasiun dan memandu kami menuju panti jompo tersebut. Sebelum berkeliling di panti jompo, kami melakukan meeting yang membahas tentang kerjasama Eisai dengan panti jompo. Tentu saja aku hanya terdiam dengan percakapan mereka yang berbahasa Jepang. Meski begitu aku mendengarkan dengan antusias, sesekali ikut mengangguk, tersenyum dan ikut tertawa. Anak dari pemilik panti jompo itu bisa berbahasa Inggris sehingga aku dipersilahkan untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Setelah itu, dia menjelaskan secara singkat tentang panti jomponya itu.

Kemudian kami mulai berkeliling panti jompo. Dimulai dari lantai 1 gedung pertama, terlihat 3 nenek sedang duduk di kursi yang mengitari meja. Anak dari pemilik panti jompo itu mendekati salah satu, mendekatkan mulutnya ke telinga sang nenek dan bertanya “nan sai desuka” Aku masih bisa mengerti, bahwa dia menanyakan umur sang nenek. And guess what?! Umurnya 103 tahun. Subhanallah. Dengan umur segitu, sang nenek masih bisa berjalan sendiri! Lagi-lagi aku hanya bisa mengamati tanpa ikut berkomunikasi. Tapi aku tetap menyesuaikan dengan situasi, mengikuti kedua karyawan lainnya yang menundukkan kepalanya (tau kan ya cara orang Jepang memberi salam) dan mengucapkan konnichiwa dan arigatou gozaimasu sambil memberikan senyuman terbaikku. Semoga mereka tau maksud senyumku. Hahaha, maksudnya walaupun aku diem, ga bisa banyak ngomong Jepang, aku tetep peduli dan mau berinteraksi dengan mereka.

Dilanjutkan ke lantai ke 2 dari gedung pertama. Kami menaiki tangga dan karyawan Eisai memberitahuku bahwa di sini tidak ada elevator, jadi para kakek dan nenek yang ada di sini harus lewat tangga dan yeah, mereka masih bisa! Fyi aja, Jepang itu kota yang ramah dengan orang-orang disabilitas. Di setiap stasiun pasti ada elevator dan disetiap kereta ada tempat khusus untuk orang-orang yang disabilitas, misalnya yang pake kursi roda. Terus aku juga liat sendiri kalo orang yang pake kursi roda mau masuk atau keluar kereta bakal ada petugas kereta yang memasang papan besi untuk menutupi celah antara platform dan kereta biar kursi rodanya bisa lewat. Pokoknya ga bisa berhenti salut dengan negara satu ini. Oh ya, lanjut ke lantai 2. Jadi di lantai 2 ini adalah apartemen kakek dan nenek yang ada di sini. Waktu ngeliat ke dalam apartemennya, wow, bagus banget! Fasilitasnya lengkap, ada AC, TV, kamar mandi dalem, kasur, lemari, beranda di luar (kalo kosan, ini udah yang paling mahal kali wkwk)

Di sini, aku mengunjungi dua kamar. “Ojamashimasu” kami masuk ke dalam kamar seorang nenek dan dengan semangat sang nenek membuka pintu ke luar beranda kamar dan mulai bercerita. Lagi-lagi, aku hanya bisa mendengarkan. Beberapa kata yang bisa aku tangkap adalah “hanabi” dan”mieru”, jadi sepengertianku sang nenek mau menjelaskan kalo dari jendela kamarnya itu pemandangannya bagus dan bisa terlihat kembang api. Kemudian ke kamar nenek yang kedua. Di dalam kamar, sang nenek terlihat sedang menonton TV dan saat kami masuk dia juga mulai berkomunikasi dengan karyawan eisai. Karyawan Eisai dengan baik hati mentranslate apa yang dikatakan sang nenek. Ternyata, sang nenek berkata bahwa dia bangga bisa menjaga toilet di kamarnya selalu bersih. Ups, jadi merasa tersindir. Anak pemilik panti jompo pun mengenalkanku kepada sang nenek, berkata “Indonesia kara kimasu” dan aku mengulanginya. “Hai, Indonesia kara kimasu” Kemudian terjadilah beberapa percakapan singkat aku dengan sang nenek. Karyawan Eisai dengan baik hati menterjemahkan perkataan nenek. Sang nenek bertanya padaku berapa lama di Jepang, bagaimana tinggal di Jepang. Aku menjawab dengan bahasa Jepang sebisaku “roku shukan” “nihon wa sugoi desu” dan neneknya berbicara beberapa kalimat dibalas dengan anggukan dan “hai” yang keluar dari mulutku. Kemudian neneknya bertanya lagi “kamu masih single” Eeeeeeh, kok pertanyaannya hahaha. And at last, this really touch me and I feel like want to shed my tears, ketika karyawan Eisai bilang ke neneknya kalo aku bakalan jadi dokter terus neneknya bilang “ganbatte ne! ganbatte kudasai” Huaaaaaaa, langsung aku nunduk-nunduk bilang “arigatou gozaimasu” Entahlah rasanya sangat sesuatu disemangatin sang nenek :’) Di umurnya yang udah segitu, dia masih terlihat ceria bahkan nyemangatin aku. Huaaaaaaaa, jadi orang tipe “feeling” emang gini sih. Dikit-dikit baper. Terus sempet dijelasin juga kalo sang nenek ini ga ada keluarga, cuma ada saudara perempuan, dan sebelum ke panti jompo ini, sang nenek tinggal sendiri dan ga bisa jalan, jadi cuma bisa berbaring di tempat tidur. Sudah banyak dokter, perawat atau tenaga kesehatan lainnya yang dateng buat bantu dan ngobatin tapi semuanya menyerah sampe akhirnya sang nenek diserakan ke panti jompo ini dan sekarang udah bisa gerakin tubuhnya. Tadi aja dia lagi duduk nonton TV kan :’)

Oke, terus lanjut ke lantai pertama dari gedung kedua. Nah, di sini terlihat sekitar 8 orang lansia. 3 orang duduk di kursi depan TV dan 5 orang lainnya duduk mengitari meja panjang dengan memegang kartu di tangan masing-masing. Aku segera tertarik melihat permainan kartu dan bertanya-tanya mereka lagi main apa ya pake kartu remi? Apa mungkin main cangkul, 41, tepuk nyamuk, poker. Aku segera berdiri di dekat meja mereka bermain, memperhatikan. Menganalisis sebentar apa yang mereka mainkan dan aku langsung tau jenis permainan apa yang mereka mainkan! Jadi, mereka bermain mengurutkan kartu sesuai gambarnya dan angka dari tertinggi ke terendah. Apabila di tangannya ada kartu yang sesuai, mereka mengeluarkannya dan menyusun kartunya di meja. Terlihat salah seorang nenek telah menghabisi kartu di tangannya dan dia bertepuk tangan gembira karena dia telah “menang”. Aku pun ikut bertepuk tangan. Aku mengamati hingga mereka selesai bermain kartu (emang bentar lagi selesai sih) dan ikut bertepuk tangan karena semua kartu sudah tersusun dengan rapi. Nah, di sini baper juga, rasanya pengen nangis. It’s only a small things, yang mungkin bagiku itu bukan mainan, cuma nyusun kartu dari tertinggi sampe terendah terus dikelompokin sesuai gambarnya, but I can feel their happiness. Ya, di sini aku belajar terkadang hal sederhana sudah cukup untuk membuat bahagia.

playing-cards
Nah, gambar ini beneran persis kayak permainan mereka. Iya, mereka mainnya nyusun kartu sesuai gambar dan urutan.

Nenek di dekatku bertanya sesuatu dengan bahasa Jepang, namun aku tak mengerti “sumimasen, nihonggo wa wakarimasen”. Cuma bisa ngomong gitu soalnya kedua karyawan eisai juga sedang berkomunikasi dengan yang lain, jadi tidak ada yang bisa membantuku menterjemahkan perkataan sang nenek. Di kelompok lansia yang main kartu ini, ada seorang lansia yang pernah ke Indonesia. Jadi saat aku dikenalkan, sang kakek langsung bertanya “nan ji desuka” Awalnya heran kenapa dia nanyain jam, terus tiba-tiba kakeknya bilang “Selamat Sore” Waaaaaaah, langsung aku respon selamat sore dan bilang “sugoi!”. “Douzo” Seorang nenek mempersilahkanku duduk di salah satu kursi yang kosong. Aku duduk di samping kakek yang pernah ke Indonesia. Alhamdulillah, saat itu karyawan Eisai sudah selesai mengobrol dan membantuku mentranslate perkataan sang kakek. Kakeknya nanyain aku dari kota apa? “Jakarta?” “Bali” Terus aku cuma bisa bilang jakarta sama bali sambil geleng-geleng. “Jakarta janai?” kakeknya nanya lagi dan aku bales “hai, jakarta janai”. Aku bilang aja aku dari Palembang meski aku tau kayaknya kakeknya juga gatau di mana Palembang. hehe Dia juga cerita kalo dia punya rumah di Bali dan suka ngambil foto-foto di Bali. Yes, Bali is really that famous!

Terus lanjut ke lantai 2 ya. Jadi di sini juga ada beberapa kamar. Masuk ke salah satu kamar seorang kakek. “Ojamashimasu” Di dalem kamarnya, bersih dan barang-barang tersusun rapi. Bahkan di kamar yang aku kunjungi ini, ada satu kotak khusus buat origami bentuk burung. Pokoknya semua kamar di sini bersih dan rapi banget. Kalo inget kamar sendiri, ya udah jelas sih bersih dan rapinya. Jelas kalah.

Akhirnya, kunjungan kami hari itu berakhir. Kami kembali ke tempat meeting pertama tadi dan mengambil foto bersama. Seneng banget berkesempatan mengunjungi salah satu panti jompo di Jepang dan sedikit berinteraksi dengan orang-orang di sana. Meski ga bisa bahasa Jepang, tapi komunikasi masih bisa berjalan. Bahkan saat kami pamit, salah seorang kakek melambaikan tangannya dan aku membalasnya dengan lambaian tangan juga. Banyak belajar lagi dari pengalaman hari ini. Dukungan lingkungan, termasuk keluarga, teman-teman, atau kelompok sangat dibutuhkan dan memang bisa memberi pengaruh dalam hal kesehatan, terutama kepada lansia. Entahlah, rasanya juga kagum sama orang yang buat rumah untuk lansia yang bisa memfasilitasi para lansia itu untuk melakukan kegiatan bersama, bermain bersama. At least mereka ga bakal ngerasa kesepian, apalagi kalo yang ga ada keluarga. Pesan yang bisa diambil dari sini juga selalu hormati dan sayangi orang tua kita. Bukan cuma kita yang tumbuh dewasa, tapi orang tua kita juga! Kemudian pesan lain yang juga ga kalah penting adalah tentang kebahagiaan. Bahagia itu sederhana. Bahkan dari hal-hal kecil di dalam hidup kita, kita bisa bahagia, sepanjang kita mensyukurinya.

20160126_163306
This is our picture 🙂
Posted in Experience, Japan, Travelling

Sakura

In this post, I just want to share some pictures taken by me. This is about my favourite flower and the story how I can see it directly and unexpectedly!

It started on Saturday, when I was planning to go to Tokyo Imperial Palace. It was a big place and I was kinda confused with the direction but Alhamdulillah I found the entrance to East Garden of Imperial Palace. I walked around it, enjoyed the environment. It felt so fresh and quiet. I loved it so much. Although it was winter and most of the tree lost it leaves, but still it looked beautiful.

Until then I walked and see a familiar tree. A familiar tree with its beautiful flower. At first, I didn’t believe that it was my favourite flower that I have always been dreamed to see. For all this time, I only could see through pictures. Then I came closer. I look at the small board attached to the branch of the tree ”カンザクラ” That’s what written on the small board.

20160116_111731

カンザクラ - Kanzakura. This is a species of sakura that bloom throughout winter!

Some people came. I heard they also talked something like “is it Sakura?” “Kireii” “Ah this is Kanzakura” Then I was sure that it was Sakura. It looked more beautiful than in the picture. Peoples took picture there, as for me I also took many pictures.

20160116_111840
It was beautiful. Can you see the bird playing with the flower? 🙂

There were 2 trees and both of them were beautiful. I took the pictures from many angles and distance. I didn’t know how to describe my feeling. But, it felt like miracle! You didn’t plan to see your dream flower, but Allah made you to see it. Yes, Allah plan will always be the best plan.

20160116_112215
Close up of Sakura.

My camera was full of Sakura photos, but I love it. I didn’t know how long I spent my time to capture the picture of Sakura.

20160116_111758.JPG
Look! A perfect combination with clear blue sky.

Then, on my way back to the entrance gate to go out from East Garden of Imperial Palace, I saw another beautiful tree with pink flower. I just realized when I reviewed the pictures in my camera that it’s also a kind of Sakura.

20160116_113957
This was also Sakura (or plum blossom?). Beautiful!

I really didn’t expect to see Sakura on Winter. I thought that on this season I wouldn’t have chance to see it, but as I said before Allah’s plan is always the best plan. Alhamdulillah, another dream has achieved!

20160116_115420
Finally, it just me and Sakura~