Posted in experience, Kisah, Travelling, trip

Perjalanan ke Osaka-Kyoto (part 2)

Setelah semalaman menghabiskan waktu dalam perjalanan bus Tokyo-Osaka, akhirnya aku tiba di stasiun bus Umeda di Osaka. Saat itu masih pagi dan matahari masih malu-malu untuk membagikan sinar dan kehangatannya. Cuaca dingin yang segera terasa saat aku turun dari bus membuatku ingin segera masuk ke dalam lounge stasiun bus Umeda. Di dalam lounge, aku memeriksa handphoneku dan ternyata sudah ada sms dari temanku yang isinya memberitahu bahwa dia sudah menungguku di lounge. Aku segera melihat sekitarku dan mencari temanku, namun sepertinya aku tidak menemukan dia di sana. Aku berusaha menelponnya dan saat telponku diangkat, aku melihat seseorang melambaikan tangan padaku dari luar lounge. Tidak salah lagi itu temanku. Sambil menarik koper kecilku, aku segera keluar lounge, menemui temanku sembari memeluknya melepas rindu. Kemudian kami berjalan ke stasiun kereta untuk menuju apartemennya. We talked so much about everything while we’re walking to her apartment.

Continue reading “Perjalanan ke Osaka-Kyoto (part 2)”

Posted in Kisah, menulis, writing

Karena Itu Pasti

Gadis itu masih diam memandang selempang cumlaude yang baru saja dia dapatkan tadi pagi. Hari ini merupakan hari wisudanya. Dia telah resmi menjadi seorang sarjana teknik dari salah satu universitas ternama. Tentu saja dia senang sekali sudah mencapai salah satu mimpinya. Namun, dia justru teringat pada peristiwa yang benar-benar masih membekas di memorinya dan sampai sekarang masih meninggalkan luka di hatinya.

Satu bulan yang lalu, tepat di hari pernikahan sepupunya, gadis itu dan mamanya mendatangi pesta pernikahan itu. Sudah lama tidak ada kumpul keluarga besar, sehingga apabila ada kesempatan seperti pernikahan kali ini, semua keluarga diharapkan hadir sekaligus untuk reuni keluarga besar. Dia yang berkuliah di luar kota menyempatkan hadir, meski berarti dia harus merelakan seminar internasional yang sangat ingin dia ikuti. “Ayo kapan lagi Ra, sekalian kumpul sama keluarga juga,” kata-kata mamanya di telpon akhirnya membuatnya memesan tiket pulang.

Pesta pernikahan sepupunya bisa dibilang merupakan pesta pernikahan yang sangat megah, berada di gedung yang mewah, dengan tamu undangan yang sangat banyak, serta hidangan makanan yang sangat enak dan jangan lupakan juga sepupunya yang sangat cantik seperti seorang putri raja yang sedang duduk di kursi mempelai wanita.

“Ma, rame banget ya yg datang ke sini. Banyak ucapannya lagi,”ucap Ra kepada mamanya setelah melihat kemegahan pernikahan ini.

“Iya, orang tua pasangan mbakmu itu orang penting. Makanya ini pesta pernikahannya gede banget. Tamu-tamu nya juga orang terkenal. Tapi tau ga apa yang mama pikirin?

“Apa Ma?”

“Ternyata manusia itu banyak banget ya!”

“Eh? Kirain apaan. Wajar manusia pasti banyaklah di dunia. Mama sih sukanya di rumah doang.”

“Bukan gitu Ra, tapi ini bikin mama jadi berpikir lebih dalam. Manusia di dunia ini emang banyak banget dan itu semuanya ciptaan Allah. Dan Allah ga pernah main-main kalo menciptakan manusia, tapi sayangnya manusia masih suka main-main, ga serius ngejalanin hidup di dunia ini. Padahal semua perilaku manusia itu dicatat dan Allah tau semuanya. Makanya kadang mama kepikiran kalo lagi ada acara rame-rame kayak gini, terus ada bencana, semuanya bisa langsung hilang dalam sekejap.”

“Ih, mama pikirannya serem banget. Ini lagi berbahagia jangan ngomongin gitu dong ma!”

“Lah, kenapa? Kan mama mikir doang Ra. Kamu inget ga siapa orang mukmin yang paling cerdas di dunia ini? Pernah mama bilang lho”

“Inget ma, orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik dalam mempersiapkan kematiannya, kan?”

“Bener! Makanya mama harap kamu bisa jadi orang cerdas yang selalu ingat mati dan mempersiapkannya, Ra. Kita emang gatau kapan kita mati, tapi yang kita tau mati itu pasti. Ga ada yang kekal di dunia ini. Jangan sampe kita lalai, kalopun berbahagia secukupnya aja, pun bersedih juga secukupnya aja. Kalo dapet rezeki ya disyukuri, kalo ada masalah harus bersabar dan yakin pasti ada jalan keluarnya. Yang pasti kita harus inget terus tujuan hidup kita apa. Apa coba tujuan hidup kita?”mama memang seperti ini, seringkali mengingatkan Ra dengan petuah-petuahnya.

“Adz-Dzariyat ayat 56, hayo apa ma?”

“Lho malah nanya balik ke mama, inget ga arti ayatnya apa?”

“Haha iya inget kok ma. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu, kan? Ra tau mama ngomong gini kode banget deh, nyuruh sholat ya?”

“Nah tuh pinter, yaudah yok kita solat Zuhur dulu, nanti kalo udah, kita ke sini lagi kumpul sama yang lain”

Azan Zuhur memang baru berkumandang beberap menit yang lalu. Ra dan mamanya menuju mushola yang terletak di sebelah gedung pernikahan. Mengambil wudhu dan sholat zuhur, ikut menjadi makmum dari jamaah yang sedang sholat. Bila dibandingkan dengan jumlah tamu undangan yang hadir, maka yang terlihat sholat di mushola hanya sedikit. Ya tapi mungkin memang beberapa ada yang sholat di rumah mengingat waktu Zuhur masih panjang.

“Enak kan kalo udah sholat. Rasanya tenang,”ucap mama kepada Ra yang sedang memakai sepatu.

Ra tersenyum dan mengangguk setuju. Seusai sholat keduanya kembali ke gedung utama. Beberapa tamu undangan masih membuat antrian untuk bersalaman dan mengucapkan selamat kepada pengantin dan orang tuanya, beberapa ada yang mengantri di tempat hidangan makanan, serta beberapa yang lain duduk menyantap makanan yang telah diambil. Ra dan mamanya menuju ke bagian VIP, ke salah satu meja bundar tempat keluarga lainnya berkumpul. Mamanya mulai mengobrol dengan tante dan pamannya. Sementara Ra ikut duduk, menjawab satu-dua hal bila dirinya ditanya dan lebih tertarik bermain dengan handphonenya.

Tiba-tiba terasa guncangan hebat dan terdengar suara berdebam keras dari sisi kiri ruangan. Semua orang panik, orang-orang di antrian segera kocar-kacir berlarian. Tidak butuh 5 detik untuk Ra menyadari bahwa sedang terjadi gempa. Lampu gantung di ruangan berayun kencang, beberapa bahkan jatuh membuat kerusuhan semakin menjadi-jadi. Tiang besar penyangga gedung yang terlihat kokoh mulai retak dan hancur terbelah. Keadaan semakin tak karuan. Ra sangat panik, mencoba mencari mamanya yang tadi sedang mengantri mengambil makanan. Orang-orang berlarian di sekitarnya. Dalam kepanikannya, dia masih bisa berpikir cepat untuk segera berlindung di bawah meja bundar terdekat.

“La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah”

Masih berlindung di bawah meja, Ra berusaha mengucap syahadat dan istighfar. Duh, apa yang tadi mamanya bilang. Kita memang tidak tau kapan kematian menjemput, tapi yang kita tau mati itu pasti. Ra sangat takut. Apakah sekarang waktunya? Guncangan dahsyat masih terus terasa, hingga ujung matanya menangkap sosok mamanya yang sedang berlari menuntun anak kecil menuju ke orang tua si anak. PRANG. Lampu gantung besar di tengah ruangan jatuh menimpa tubuh mamanya. Seketika pembicaraan Ra dengan mamanya tadi terus mengulang di kepalanya. Tentang kematian yang pasti. Tentang kapan saja Allah bisa mengambil nyawa makhluknya. Tentang bencana yang bisa datang kapan saja dan menghilangkan semuanya dalam sekejap.

Ra berlari menuju mamanya. Berteriak histeris, tapi tak ada jawaban dari mamanya. Anak kecil yang dituntun mamanya tadi juga terkulai di samping tubuh mamanya. Dia tak peduli tentang gempa susulan atau apapun itu. Yang dia tau sekarang tubuh mamanya tergeletak di depannya, tanpa suara. Ya Allah, apakah sekarang waktunya? Ra mulai menguasai diri, teriakannya berkurang, namun dia tak bisa membendung air matanya yang terus mengalir. Ya Allah, apakah memang sekarang waktunya? Dan hari itu resmi dia menjadi seorang yatim piatu.

Satu bulan bukan waktu yang cukup untuk melupakan segala trauma yang dia alami. Meski begitu dia selalu ingat petuah terakhir mamanya. Tentang jangan lalai, jangan melupakan tujuan hidup, tentang berbahagia dan bersedih secukupnya. Meski susah dia berusaha melanjutkan hidupnya, menerima segala takdir Allah. Rasanya ingin sekali dia marah, tapi tak ada gunanya.

Pun saat wisuda hari ini, di mana orang-orang ramai berkumpul dengan perasaan berbahagia, dia justru teringat kematian. Berbicara dengan temannya bagaimana bila sekarang terjadi bencana. Membuat temannya bergidik ngeri. Jangan ngomong gitulah. Memberikan respon yang sama saat mamanya juga berbicara tentang kematian di hari yang seharusnya menjadi hari berbahagia.

Di malam hari wisudanya itu, dia memandang selempang cumlaudenya, beralih ke toga di meja kamarnya lalu beralih lagi memandang ke pigura foto, yang berisi foto dia dan mamanya saat memasuki gedung pernikahan sepupunya. Di foto itu tampak dia dan mamanya tersenyum bahagia, ikut merayakan kebahagiaan hari pernikahan sepupunya, tanpa tau bahwa beberapa menit ke depan, semua kebahagiaan berubah menjadi kesedihan. Tanpa tau ajal mamanya semakin dekat.

“Ma, hari ini Ra lulus.”

Diambilnya pigura foto kecil itu.

“Tapi rasanya hampa, Ma. Ra pengen mama di sini, bangga melihat Ra dengan baju wisuda dan toga.”Air matanya mulai menetes setelah tadi pagi dia berusaha mati-matian menahannya.

“Maafin Ra yang kadang masih belum bisa mengikhlaskan kepergian Mama. Tapi Ra janji, Ra akan selalu mendoakan mama. Terimakasih atas petuah-petuah mama. Terimakasih untuk selalu mengingatkan Ra akan kematian yang pasti. Semoga nanti kita bisa ketemu lagi di surgaNya ya Ma.”

Posted in experience, Kisah, Sharing, Travelling, trip

Perjalanan Ini (Ternyata) Nyata

Ini cerita tentang perjalanan yang tidak biasa. Perjalanan yang memberikan pengalaman baru serta pelajaran berharga darinya. Perjalanan yang rasanya tidak percaya bahwa aku pernah melewatinya. Perjalanan yang menyeramkan, menegangkan, menakutkan dan menyedihkan. Mungkin terkesan lebay dan tidak nyata. Namun, biarlah, agar dapat dikenang sepanjang masa. Mengapa tidak mencoba untuk dibaca?

Cerita ini dimulai dari perjalanan dengan tujuan ke desa tempat KaLAM FK UGM mengadakan Idul Adha, yaitu di desa Plampang 3, Kecamatan Kokap, Kulonprogo. Menurut google maps, desa ini kurang lebih berjarak sekitar 45 km dari daerah UGM. Sesuai dengan rundown acara, semua panitia sudah harus berkumpul di FK hari Rabu, pukul 16.00 untuk naik bus dan pergi bersama ke lokasi. Namun, aku tidak ikut rombongan, aku memilih nebeng salah satu mobil teman. Rencananya kami akan pergi setelah Maghrib karena aku masih ada jadwal praktikum PAI hingga pukul 17.00 hari itu.

Maghrib pun tiba. Aku segera menunaikan solat Maghrib dan pergi ke kosan D, karena temanku, G, yang membawa mobil akan menjemputku di sana. Namun ternyata, mobil temanku “rewel” hingga akhirnya kami baru bisa berangkat kira-kira pukul 20.00. Oh ya, kami di sini maksudnya adalah aku, temenku yang bawa mobil, serta 3 temenku yang nebeng juga, jadi totalnya kami berlima. Di perjalanan, kami menikmati makan malam yang dimasak dan dibawakan oleh G. Menunya cumi, lengkap dengan nasinya. Enak banget, udah lama ga makan cumi :’) G keren banget deh pokoknya, udah baik hati, suka masak, pinter, bisa nyetir mobil (Her awesome driver-skill will be revealed soon).  Selain G, temenku D juga bawa makanan, bawa makaroni schotel, dan rasanya juga enak :9 Terimakasih ya teman-teman yang sudah mengisi perut di saat perut ini membutuhkan. Seeing them make me feels like I’m just a little girl on her twenty so I think I’m not a little girl any more but I still choose to buy food rather than cook by myself. Don’t poor me, please.

Lanjut cerita perjalanan lagi. Awal perjalanan, kami melewati jalan yang normal, lurus, lebar dan masih ada lampu di kanan-kiri jalan. Namun, setelah beberapa lama, kami mulai memasuki jalan yang menyeramkan. Lebih dari mendaki gunung, lewati lembah. Kami juga melewati jalan rusak berkelok-kelok yang menanjak (jalan khas pegunungan), menembus kabut, menanjak jalan berpasir, di sebelah kanan kami tebing dan di sebelah kiri jurang ditambah lagi rumah penduduk yang sangat jarang dan sepi, dan semua ini kami lewati dalam keadaan gelap. Hanya lampu mobil yang menjadi satu-satunya penerang jalan.

Dan ini bagian cerita tentang kehebatan driver-skill temanku. Setelah beberapa lama, akhirnya kami merasa bahwa jalan ini -menanjak, menurun, berkelok- seperti tidak ada habisnya. Sempat beberapa kali kami berniat untuk bertanya kepada penduduk sekitar apakah kami berada di jalan yang benar. Namun, di keadaan gelap malam seperti itu sulit sekali menemukan orang-orang yang masih berada di luar rumah. Kalaupun ada, itu seperti rombongan pemuda atau bapak-bapak yang mungkin memang sedang ada acara malam, seperti rapat kepala keluarga atau apa sajalah kegiatannya. Memilih untuk bertanya sepertinya juga pilihan yang cukup menyeramkan dan berisiko. Akhirnya dengan tetap percaya jalan rekomendasi google maps, kami terus melaju hingga kami menemui kabut. Saat itu sekitar pukul 21.00, mobil kami masuk ke dalam kabut, memandang ke depan hanya terlihat putih. Jalanan di depan mobil tidak terlihat, hanya bisa memperkirakan apakah jalan di depan lurus atau belok. G bahkan sudah menyalakan lampu pijar mobil namun tidak terlalu membantu. Inilah momen menyeramkan dan menegangkan pertama dalam perjalanan ini. Di tengah jalan yang berkelok, menanjak dan menurun, mobil kami berusaha melewati kabut malam tersebut. Rasanya tak ada habisnya hingga kabut mulai menipis.

Alhamdulillah, kabut tersebut mulai berkurang, diiringi dengan jalan yang sekarang kebanyakan menurun. Sepertinya memang saat itu kami sedang berada di puncak gunung, dan mulai menuruni gunung sehingga intensitas kabut mulai berkurang dan akhirnya menghilang. Keesokan kami tahu kalau kami memang melewati gunung, yaitu gunung ijo. Google maps menunjukkan 11 menit lagi perkiraan kami sampai di tempat tujuan. Namun, masalah datang saat D yang menjadi pemandu jalan dengan google maps berkata “Eh, G sepertinya kita harus muter deh, kita udah di luar jalur maps” Sebenernya google maps memang memberi perintah untuk belok kanan, namun kami tidak menemukan belokan ke kanan. Mungkin karena gelap. Akhirnya, kami memutar balik. Untungnya, ada tempat atau lahan di pinggir jalan yang cukup untuk mobil memutar balik.

“Nah, seharusnya ada belokan di sekitar sini,” ucap temanku saat mencocokkan lokasi mobil dengan google maps. Namun, di pinggir jalan kami tidak menemukan belokan yang layak untuk mobil dan sinyal gps mulai menghilang. Memang ada belokan jalan menurun seperti itu, tapi kami ragu untuk terus melaju menuju jalan itu karena kelihatannya jalan itu sempit dan tidak layak untuk dilewati mobil. Akhirnya mobil kami berhenti di pinggir jalan dan mencoba bertanya dengan penduduk. Di pinggir jalan tersebut, memang ada rumah penduduk namun terlihat sepi. Aku, G dan S turun. S melihat seorang pemuda yang kebetulan duduk di depan rumah, dan mencoba bertanya kepadanya. Saat ini pukul 21.30. Kaki mas nya menginjak tanah kok :”

“Mas, tau jalan menuju desa plampang, tidak?”

“Wah, desa plampang, masih jauh mbak, masih sekitar 20 km”

Aku yang mendengar 20 km, rasanya sudah ingin menyerah. Lebih baik kita berhenti saja dulu, tidur di mobil atau mencoba menginap di rumah warga yang ada. Kami berada di pertengahan, ingin kembali ke Jogja tapi kami harus melewati jalan berkabut itu lagi, ingin terus melaju tapi kami tersesat dan tidak tau jalan selanjutnya.

“Kok, bisa mbak jam segini perginya? Ini udah malem sama jalannya susah juga mbak”

“Iya mas, soalnya tadi kami memang perginya ga bareng dengan yang lain”

Mas tersebut juga bertanya kenapa memilih jalan ini. Dia berkata memang bisa sih melewati jalan ini tapi seharusnya ada jalan yang lebih baik lagi dibanding jalan yang kami pilih. Sinyal GPS dari hape G juga sudah hilang total. Menghubungi teman-teman juga tidak bisa karena sinyal yang jelek. Kemudian mas nya mengeluarkan kalimat -membawa secercah harapan “Di sini ada wifi kok mbak” Hal yang sulit dipercaya, di daerah seperti ini masih ada yang punya wifi. Cool! Akhirnya kami menggunakan wifi tersebut. Sampe sekarang pun, aku masih ingat nama wifi dan passwordnya. Nama wifi : Aris. Password : praptosupaswot (Ya, ini emang beneran paswotnya kok ._.v) Siapa tau ada yang mau wifi gratis dateng aja ke rumah Mas (yang kami tidak tahu namanya, tapi melihat dari nama wifi nya, kami beri saja namanya Aris) Mas Aris :p Dengan menggunakan wifi, kami mencari ulang lokasi tujuan dan google maps tetap menunjukkan jalan yang lama bahkan menampilkan waktu untuk mencapai lokasi tujuan tinggal 5 menit lagi. Yak, google maps memang terkadang seringkali menyesatkan. Moral value : jangan percaya sepenuhnya kepada sesuatu atau seseorang apabila kau tak bisa menahan rasa kecewa yang didapat apabila ternyata orang atau sesuatu yang kau percaya itu mengkhianatimu. Memang yang wajib dipercaya sepenuhnya hanya Allah Swt.

“Ini desa plampangnya desa plampang berapa dulu mbak? Kalo yang paling dekat dari sini sih plampang 3. Tapi penduduknya sedikit di sana. Nanti kalo memang benar plampang 3, saya dan teman saya tunjukin jalannya aja” Mas tersebut bertanya, dan mencoba menawarkan solusi.

Waktu itu kami belum tau desa plampang berapa yang menjadi lokasi tujuan kami, kami hanya tau sebatas desa plampang yang ada di kecamatan kokap, kulonprogo. Kami mana tahu kalau desa plampang ada banyak! Setelah M berusaha menscroll chat di grup line akhirnya kami tau desa plampang berapa.

“Nah, iya mas bener plampang 3!” teriakanku terdengar cukup gembira, meski rasa takut masih ada.

“Oh ya udah saya ambil motor dulu, biar saya tunjukin jalannya. Mbaknya bisa tidak bawa mobilnya? Atau mau saya saja yang bawa?”

“InsyaAllah bisa mas” G menjawab.

Menyerahkan mobil untuk dibawa mas tersebut juga agak berisiko dan bukan pilihan yang baik. Melihat kemampuan G yang tadi sudah berhasil melewati jalan berkelok-menanjak-menurun-berkabut, sepertinya G masih bisa membawa mobilnya sendiri. What an awesome-driver, right!

Akhirnya, mas Aris menyalakan motornya dan bersiap di depan mobil kami. Setelah mobil siap, dia dan temannya bermotor di depan dan mobil kami mengikuti mereka. Di sini terjadi momen menyeramkan dan menegangkan yang kedua. Momen yang berada tepat di jalan berkerikil/berpasir yang menanjak dan agak berkelok. Mobil G tidak bisa melewati jalan itu. Ban mobil hanya berputar di tempat tanpa ada progress untuk maju, klakson sudah dibunyikan untuk memberi tanda kepada kedua mas di depan kalau kami ada masalah. Keadaan makin parah dengan keluarnya asap dari bagian depan mobil. Entahlah, sampai sekarang rasanya seperti mimpi, rasanya tidak percaya kami baru saja melewati jalan yang seperti itu. Akhirnya G memilih untuk memundurkan mobilnya sedikit untuk mengambil ancang-ancang lagi agar mobil dapat menanjak jalan tersebut.

“Stop, jangan mundur lagi!”

Aku yang memperhatikan pemandangan di belakang mobil segera berteriak panik. Bayangkan pemandangan di belakang mobil kami adalah satu pohon dan jurang yang entah tak tahu seberapa dalamnya. G mencoba memajukan mobilnya lagi dan menginjak gas. Alhamdulillah, mobil dapat menanjak melewati jalan tersebut. Alhamdulillah. Sungguh rasa syukur yang sebanyak-banyaknya. Saat mengetik ini pun aku masih terbayang pemandangan menyeramkan di belakang mobil. Apa jadinya kalo mobil terus berjalan ke belakang. Naudzubillah min dzalik.

Kejadian menegangkan itu lewat. Mas Aris dan mas Prapto (nama buatan) berhenti di depan kerumunan kecil orang-orang. Kami mencoba mengenali kerumunan kecil tersebut dan setelah mengenali salah satu panitia, kami langsung berteriak gembira. Alhamdulillah. Akhirnya kami bertemu dengan panitia yang lain. Kami menemukan teman-teman panitia ikhwan yang sedang memasang spanduk Qalbu. Ucapan terima kasih kami ucapkan sebanyak-banyaknya kepada Mas Aris dan Mas Prapto yang telah menunjukkan jalan hingga sampai kepada teman-teman panitia. Kami segera memberikan imbalan “terima kasih” kepada mereka, namun mereka menolak dan berkata bahwa mereka ikhlas menolong. Hingga kami agak memaksa, barulah mereka menerima imbalan “terima kasih” kami.

Mungkin imbalan terima kasih kami tidak banyak, dan semoga Allah membalas kebaikan mereka. Dari sini aku belajar bahwa masih banyak orang yang meski mereka tinggal di daerah agak pedalaman namun tidak mengikis rasa peduli mereka. Mereka justru dengan mudahnya mengulurkan tangan mereka, menawarkan solusi, mencoba membantu dengan rasa ikhlas. Tidak seperti beberapa masyarakat perkotaan. Masyarakat yang seharusnya sudah lebih maju tapi justru mundur dalam hal kepedulian. Masyarakat yang semakin individualis, yang semakin tidak peduli dengan keadaan sekitarnya, yang semakin enggan membantu karena merasa tidak mendapat apa-apa dengan membantu. Ya, setidaknya aku mendapat pelajaran dari kejadian ini. Bahwa setiap masalah selalu datang dengan solusinya. Jadi, tetaplah percaya.

Kedua mas tersebut pergi dan kami bertemu dengan panitia. Namun, bukannya diterima, kami justru merasa “diusir” dan disuruh mencari rumah warga terdekat untuk mencari parkiran mobil. Kenapa? Karena menurut mereka mobil kami apabila turun ke desa tidak bisa parkir. Jalanan menuju ke desanya memang menurun ke bawah dan jalan berpasir. Akhirnya karena kami memang tidak tahu bagaimana jalan dan keadaan desanya, kami bukannya turun ke jalan arah desa, tapi justru terus melaju mencoba mencari rumah warga untuk menitipkan mobil. Namun, setelah beberapa lama, kami tidak menemukan rumah warga, kami hanya menemukan pohon-pohon di pinggir jalan. Ada sih rumah kecil, tapi tidak layak parkir juga. Akhirnya mobil maju lagi hingga ada motor dari belakang yang menghentikan kami. Itu motor salah seorang panitia. Menanyakan kami mau pergi ke mana, mungkin dia heran karena kami justru menjauhi desa lokasi idul adha KaLAM. Kami bilang saja kami mencari parkiran. Dia sebenarnya bermotor ingin menjemput mobil lain yang juga baru sampai di lokasi. Akhirnya kami memutuskan untuk memarkirkan mobil kami di sebuah rumah warga sambil menunggu. Saat mobil di parkir, dua buah mobil terlihat melaju di depan kami menuju lokasi desa Idul Adha. Itu adalah dua mobil panitia yang lain.

Tidak lama kemudian, bapak yang rumahnya kami tumpangi parkir, keluar. G yang bisa berbahasa jawa keluar dan menjelaskan keadaan, kenapa sampai bisa mobil kami numpang di rumahnya. Setelah beberapa lama menunggu mungkin bisa setengah jam lebih, tak ada tanda-tanda dari panitia lain. Kami heran karena kedua mobil panitia tadi juga tidak kembali padahal katanya sudah tidak ada parkiran lagi di desanya. S segera mencoba menghubungi panitia yang ada di desa, meminta bantuan, mencoba menghubungi orang-orang yang kira-kira masih punya sinyal. Sinyal memang menjadi masalah tersendiri di sini. Setelah menunggu cukup lama, kami pun dijemput panitia yang lain dan parkiran masih ada. Mungkin memang di bagian halaman masjidnya sudah susah untuk parkir mobil, tapi di depan rumah penduduk tempat akhwat menginap sudah lebih dari cukup untuk sekadar parkir satu mobil kecil. dan lagi menurutku parkir di jalan juga tidak mengapa, tidak menghalangi mobilitas kendaraan lain, mengingat keadaan penduduk yang kebanyakan transportasinya adalah motor dan sekalipun ada yang punya mobil siapa coba yang mau jalan di tengah malam ini. Akhirnya (ini beneran akhir), mobil kami di parkir di depan rumah penduduk yang dijadikan tempat akhwat menginap. Melihat panitia akhwat yang lain rasanya terharu. Setelah perjalanan panjang ini, kami sampai di tujuan.

Sekian dulu cerita perjalanan kali ini.  And fyi, kami pulang dengan jalan yang benar pada hari Kamis, pukul 16.00. Mobil kami bersama dengan 3 mobil lainnya kembali ke Jogja. Jalan yang kami pilih tentu saja bukan jalan kami pergi. Jalan pegunungannya kira-kira hanya 15-20 menit dan itu tidak separah jalan yang kami lewati saat pergi. Kami juga menemukan banyak rumah warga di kanan kiri jalan. Selanjutnya, kami menemukan rel kereta api dan menemukan jalan raya yang lebar, luas, aspal, halus, sangat berbanding terbalik dengan jalan pergi :’) Cukup membuat kami terhibur dan tertawa sepanjang perjalanan pulang mengingat kebodohan kami memilih jalan pergi, padahal ada jalan yang jauh lebih mudah seperti ini. Perjalanan kali ini ditutup dengan makan bareng di bakmi legendaris, bakmi Kadin. What a long story, yet happy ending!

Posted in experience, Kisah, Sharing

Keajaiban itu Sederhana

Ini hanya salah satu cerita di masa SMA. Tepatnya di saat aku menduduki kelas XII dan hampir semua orang yang berada di tingkat ini sedang memasuki fase sibuk, rajin belajar, dan galau-galaunya memilih langkah ke depan untuk hidupnya. Namun, tenang saja postingan kali ini justru bukan tentang itu. Bukan tentang galau langkah hidup ke depan.

Ini tentang suatu keajaiban yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku tidak tahu apakah kalian –yang membaca- setuju bahwa ini adalah keajaiban, mungkin kalian bisa menilai setelah membacanya. Setidaknya bagiku iya ini adalah keajaiban dan aku hanya ingin menuliskan ini untuk berbagi sekaligus sebagai pengingat. Tulisan ini aku edit dari jurnal harianku yang dulu sempat aku tulis dan masih aku simpan hingga sekarang. Mari flashback.

Kamis, 7 Maret 2013.

Apa yang spesial dari hari ini? Mungkin tidak ada. Hari ini hanya ada ujian praktek kesenian. Sebagai siswa kelas XII, sudah menjadi kebiasaan di sekolahku untuk mengambil nilai praktek kesenian dengan cara membuat lagu dan mengaransemen lagu, serta menampilkan lagu tersebut di hari ujian. Ya, tepatnya di hari ini.

Dalam pengambilan nilai ujian praktek kesenian ini, siswa-siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dan satu kelompok terdiri atas 4 siswa. Kelompokku sendiri itu ada aku, F, E, dan B. F menjadi satu-satunya laki-laki di kelompokku. Aku lupa bagaimana sistem pembagian kelompoknya. Namun, aku bersyukur sekelompok dengan mereka meski kami latihan sangat mendadak, yaitu H-1. Memang hari sebelumnya, Rabu, kelompokku baru mulai latihan, padahal kelompok lain sudah ada yang mulai latihan dari hari Senin. Awalnya ide lagu ini dari F yang sedang memainkan nadanya di gitar, kemudian E mulai mencari not angkanya dengan keyboard. Yes, my friends are awesome! Akhirnya not angkanya ketemu dan bisa dibilang cukup mudah, cuma dengan 4 not angka kami sudah bisa memainkan lagu kami yaitu 2/ (angka 2 dicoret miring) 2 1 dan 6/. Not tersebut diulang-ulang dan terciptalah lagu  yang akan kami mainkan.

Melihat not angka yang sangat simpel tersebut, pernah ada pikiran bahwa mungkin sebaiknya kami tambahkan not lain agar tidak terlalu monoton. Masalahnya kami melihat kelompok lain yang konsul dengan guru kesenian, ada yang dikomentari bahwa nada mereka terlalu monoton dan disarankan untuk menambah nada lagi. Namun, saat kami mencari guru kesenian, ternyata kami tidak menemukan beliau dan akhirnya kami memutuskan untuk tetap menggunakan nada “monoton” itu sebagai lagu kami keesokan harinya. Di akhir Rabu ini, kami memutuskan bahwa E bermain keyboard, B bermain pianika, F bermain gitar, dan aku sendiri bermain perkusi sederhana.

Hari ujian pun tiba. Ujian dilaksanakan di aula sekolahku dan setiap kelas sudah dibagi untuk waktu tampilnya. Saat masih persiapan dan untungnya kelas kami bukan kelas pertama yang tampil, kami menyempatkan diri untuk berkonsultasi dengan guru kesenian karena memang kami belum pernah konsultasi sekalipun dengan beliau. Ternyata…………… beliau berkata dengan tenangnya bahwa nada kami itu salah. Beliau berkomentar bahwa tidak ada nada 2/ di C=do dan kami disuruh untuk merevisi secepatnya.

Well, aku sendiri ga ngerti masalah gitu-gituan. Apa maksudnya nada 2/ ga ada di C=do, apa kami harus mengganti nada dasarnya, entahlah. Aku tidak mengerti, yang aku mengerti hanyalah dum dum tak dum dum tak suara perkusi yang memang sudah aku latih. Mendengar komentar beliau rasanya bimbang, sedih, galau, bingsal semuanya bergabung yang akhirnya pecah menjadi satu tangisan. Aku sama E nangis, aku tidak tau B menangis atau tidak. Yang pasti F tidak menangis. Setelah kusadari sekarang rasanya aku juga bingung kenapa hal semacam ini bisa buat nangis. Namun setelah kutelaah ulang, mungkin wajar saja kami menangis. Hari itu ujian, kelas kami tampil beberapa saat lagi, namun usaha yang kami lakukan salah, ditambah lagi komentar guru kesenianku yang berkata “Ini kalau dimainkan, minimal tidak akan benar.” Bagaimana tidak, dalam beberapa jam lagi kami tampil dan semuanya salah.

Setelah melewati masa tangisan itu dan menyadari bahwa tidak ada gunanya kami menangis, akhirnya kelompokku meminta bantuan teman yang lain yang lebih ahli dalam hal permusikan. Kami meminta tolong R dan Ed, minta dicarikan sebenernya nada yang kami gunakan itu do = apa? Alhamdulillah, setelah Ed mencari akhirnya kami berhasil menemukan nada do kami yaitu Eb = do (baca : E mol sama dengan do). Apa-apan itu Eb=do, bahkan kunci Eb saja aku tidak tahu. Sempat kami berpendapat bahwa lebih baik praktikum kimia, berikan semua larutan, akan kami kerjakan dengan baik –dibanding praktek kesenian ini yang kami (khususnya aku) ga ngerti mana yang benar, mana yang salah. Poor me.

Setelah menemukan Eb = do, lagu (melodi) dadakan kami yang baru pun selesai. Penggantian personil untuk memainkan instrumen juga dilakukan. E yang tadinya bermain keyboard jadi bermain pianika, B yang tadinya pianika jadi bermain bel, aku dan F tetap. Aku tetap bermain perkusi dan F tetap gitar. Kami juga sempat konsul dengan teman-teman yang lebih dewa dalam penulisan partitur, karena semua partitur termasuk caraku memainkan perkusi juga harus ditulis dengan kotak yang berarti seberapa besar atau seberapa kuat pukulan perkusi itu. Ya, aku baru tahu ternyata semua ini complicated. Sangat rumit.

Kelas XII PSIA 3 selesai tampil, dan akhirnya giliran kelasku, XII PSIA 7 tampil di depan. Terburu-buru kami melengkapi partitur kami dan tanpa mengecek ulang di metronom kami menuliskan tempo yang kami pakai yaitu 100. Latihan dengan sistem dadakan dan dengan barang pinjaman dari kelompok lain, akhirnya kami dipanggil untuk tampil di panggung aula. Sebelum tampil, kami berdoa terlebih dahulu, semoga penampilan kami bisa semaksimal mungkin. Kami sadar diri dan berlapang dada apabila menerima komentar yang jelek. Intinya kami ingin bermain dengan benar dan setidaknya kami tidak perlu ikut remediasi.

Penampilan kami selesai, dan aku sadar sepertinya aku mengalami beberapa miss. Benar saja komentar yang keluar dari mulut guru kesenianku adalah “Benarnya terpecahkan. Seratus” Ya, sudah kuduga hanya satu bagian dari kami berempat yang benar. Begitu aku berpikir setelah mendengar komentar guruku tersebut. Aku mendengarnya sebagai “benarnya terpecahkan satu” Pardon my pendengaran. Temanku, E, justru berpikir komentar tersebut maksudnya tidak ada yang benar, semua yang benar pecah dan intinya kami semua salah. Penonton bertepuk tangan, menguatkan hati kami.

Aku menunggu komentar lanjutan dari guru kesenianku. Namun beliau hanya diam diiringi dengan tepukan yang makin riuh dari penonton. Hah? Kenapa? Apa maksud semua ini? Ternyata, kelompokku mendapatkan nilai 100. Nilai sempurna. Kelompok pertama yang mendapatkan nilai 100. Rasanya tidak mungkin. Sangat tidak bisa dipercaya. It’s so unbeliaveble! It feels like I suddenly got 1 billion money. Mungkin terlalu berlebihan, tapi rasa senang itu memuncak. We jump and hug to express our happiness. Semua ini memang sebuah keajaiban. Kami yang baru latihan H-1, kami yang ganti nada, kami yang langsung mendadak ganti mainin instrumennya, kami yang baru tau gimana harmoninya, kami yang baru tau gimana perkusinya, kami yang ga punya modal dan hanya bisa pinjem alat dari temen-temen yang lain, kami yang buru-buru menulis partiturnya. Alhamdulillah for everything. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?

Sekian.

Bingung juga mau nulis moral valuenya. Intinya selama kita yakin, selama kita percaya, selama kita berusaha, keajaiban itu insyaAllah pasti akan datang. Terkadang memang tidak di waktu yang kita inginkan, tapi datang di waktu yang tepat dan seringkali tak terduga. Hanya saja itu, tetaplah bersabar dalam keyakinan, kepercayaan, dan selalu berusaha.

Posted in Kisah, Sharing

Kisah Seorang Pemburu (analogi)

Aku ingin bercerita tentang seorang pemburu. Seorang pemburu yang super hebat. Hati-hati saja bila kau masuk ke sarang pemburu itu. Seakan matanya dapat melihat hingga sudut pandang 100 km, hingga ke sudut-sudut jalan, di ketinggian semak, hingga di kegelapan malam dia mampu mendapatkan mangsanya. Satu hal yang bisa kau ambil contoh dari pemburu ini, dia optimis sekali. Dan lihatlah, aduhai keren sekali gayanya berburu. Membawa peralatan lengkap, senapan super canggih, berlari lebih kencang dari mangsanya, yang pasti dia harus mendapatkan setidaknya seekor mangsa dalam masa berburunya. Apapun itu, sekurus apapun daging mangsanya, dia rela untuk meringkus mangsanya, padahal gizi apa yang didapat dari tulang dan kulit mangsanya. Oh ya, mungkin dia bisa menjadikan kulit tersebut sebagai jaket untuk dirinya dalam musim dingin.

Sungguh, dia tak peduli dengan mangsanya. Mau tua, muda, yang baru lahir, hingga yang akan mati pun rela dia tembak semuanya selama peluru masih bertengger di senapannya. Dan lihat kali ini, anak burung yang baru bisa terbang itu ia tembak. Padahal baru beberapa jam yang lalu ibu si anak burung itu memuji kemampuan terbangnya, dan dia ingin sekali menunjukkan teknik terbang terbarunya saat ibunya pulang nanti. Namun, sayang sekali nyawa si burung itu berakhir dalam genggaman si pemburu hebat ini.

Sebenarnya tulisan ini hanya sebuah analogi yang tidak mirip seutuhnya dengan keadaan nyata. Biarlah bila suatu saat nanti aku membaca tulisan ini, aku akan teringat dengan kejadian “itu”. Aku hanya ingin menekankan cerita tentang “si pemburu” ini. Boleh saja salut dengan kegigihan si pemburu ini mencari mangsa, namun apa salahnya bila seharusnya dia melihat mangsanya dulu. Mungkin cita-cita si anak burung tadi bisa tersampaikan. Mungkin bila si pemburu tadi tidak mengambil nyawa si anak burung, ibunya dapat tersenyum melihat anaknya yang begitu antusias untuk belajar terbang. Dan sekarang, lihatlah pemburu itu berkata “Wah, sial! Mangsa yang kutembak masih kecil. Untungnya, masih bisa kujual walaupun dengan harga murah” Ya itulah kisah si pemburu yang hebat berbiadab.