Karena Itu Pasti

Gadis itu masih diam memandang selempang cumlaude yang baru saja dia dapatkan tadi pagi. Hari ini merupakan hari wisudanya. Dia telah resmi menjadi seorang sarjana teknik dari salah satu universitas ternama. Tentu saja dia senang sekali sudah mencapai salah satu mimpinya. Namun, dia justru teringat pada peristiwa yang benar-benar masih membekas di memorinya dan sampai sekarang masih meninggalkan luka di hatinya.

Satu bulan yang lalu, tepat di hari pernikahan sepupunya, gadis itu dan mamanya mendatangi pesta pernikahan itu. Sudah lama tidak ada kumpul keluarga besar, sehingga apabila ada kesempatan seperti pernikahan kali ini, semua keluarga diharapkan hadir sekaligus untuk reuni keluarga besar. Dia yang berkuliah di luar kota menyempatkan hadir, meski berarti dia harus merelakan seminar internasional yang sangat ingin dia ikuti. “Ayo kapan lagi Ra, sekalian kumpul sama keluarga juga,” kata-kata mamanya di telpon akhirnya membuatnya memesan tiket pulang.

Pesta pernikahan sepupunya bisa dibilang merupakan pesta pernikahan yang sangat megah, berada di gedung yang mewah, dengan tamu undangan yang sangat banyak, serta hidangan makanan yang sangat enak dan jangan lupakan juga sepupunya yang sangat cantik seperti seorang putri raja yang sedang duduk di kursi mempelai wanita.

“Ma, rame banget ya yg datang ke sini. Banyak ucapannya lagi,”ucap Ra kepada mamanya setelah melihat kemegahan pernikahan ini.

“Iya, orang tua pasangan mbakmu itu orang penting. Makanya ini pesta pernikahannya gede banget. Tamu-tamu nya juga orang terkenal. Tapi tau ga apa yang mama pikirin?

“Apa Ma?”

“Ternyata manusia itu banyak banget ya!”

“Eh? Kirain apaan. Wajar manusia pasti banyaklah di dunia. Mama sih sukanya di rumah doang.”

“Bukan gitu Ra, tapi ini bikin mama jadi berpikir lebih dalam. Manusia di dunia ini emang banyak banget dan itu semuanya ciptaan Allah. Dan Allah ga pernah main-main kalo menciptakan manusia, tapi sayangnya manusia masih suka main-main, ga serius ngejalanin hidup di dunia ini. Padahal semua perilaku manusia itu dicatat dan Allah tau semuanya. Makanya kadang mama kepikiran kalo lagi ada acara rame-rame kayak gini, terus ada bencana, semuanya bisa langsung hilang dalam sekejap.”

“Ih, mama pikirannya serem banget. Ini lagi berbahagia jangan ngomongin gitu dong ma!”

“Lah, kenapa? Kan mama mikir doang Ra. Kamu inget ga siapa orang mukmin yang paling cerdas di dunia ini? Pernah mama bilang lho”

“Inget ma, orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik dalam mempersiapkan kematiannya, kan?”

“Bener! Makanya mama harap kamu bisa jadi orang cerdas yang selalu ingat mati dan mempersiapkannya, Ra. Kita emang gatau kapan kita mati, tapi yang kita tau mati itu pasti. Ga ada yang kekal di dunia ini. Jangan sampe kita lalai, kalopun berbahagia secukupnya aja, pun bersedih juga secukupnya aja. Kalo dapet rezeki ya disyukuri, kalo ada masalah harus bersabar dan yakin pasti ada jalan keluarnya. Yang pasti kita harus inget terus tujuan hidup kita apa. Apa coba tujuan hidup kita?”mama memang seperti ini, seringkali mengingatkan Ra dengan petuah-petuahnya.

“Adz-Dzariyat ayat 56, hayo apa ma?”

“Lho malah nanya balik ke mama, inget ga arti ayatnya apa?”

“Haha iya inget kok ma. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu, kan? Ra tau mama ngomong gini kode banget deh, nyuruh sholat ya?”

“Nah tuh pinter, yaudah yok kita solat Zuhur dulu, nanti kalo udah, kita ke sini lagi kumpul sama yang lain”

Azan Zuhur memang baru berkumandang beberap menit yang lalu. Ra dan mamanya menuju mushola yang terletak di sebelah gedung pernikahan. Mengambil wudhu dan sholat zuhur, ikut menjadi makmum dari jamaah yang sedang sholat. Bila dibandingkan dengan jumlah tamu undangan yang hadir, maka yang terlihat sholat di mushola hanya sedikit. Ya tapi mungkin memang beberapa ada yang sholat di rumah mengingat waktu Zuhur masih panjang.

“Enak kan kalo udah sholat. Rasanya tenang,”ucap mama kepada Ra yang sedang memakai sepatu.

Ra tersenyum dan mengangguk setuju. Seusai sholat keduanya kembali ke gedung utama. Beberapa tamu undangan masih membuat antrian untuk bersalaman dan mengucapkan selamat kepada pengantin dan orang tuanya, beberapa ada yang mengantri di tempat hidangan makanan, serta beberapa yang lain duduk menyantap makanan yang telah diambil. Ra dan mamanya menuju ke bagian VIP, ke salah satu meja bundar tempat keluarga lainnya berkumpul. Mamanya mulai mengobrol dengan tante dan pamannya. Sementara Ra ikut duduk, menjawab satu-dua hal bila dirinya ditanya dan lebih tertarik bermain dengan handphonenya.

Tiba-tiba terasa guncangan hebat dan terdengar suara berdebam keras dari sisi kiri ruangan. Semua orang panik, orang-orang di antrian segera kocar-kacir berlarian. Tidak butuh 5 detik untuk Ra menyadari bahwa sedang terjadi gempa. Lampu gantung di ruangan berayun kencang, beberapa bahkan jatuh membuat kerusuhan semakin menjadi-jadi. Tiang besar penyangga gedung yang terlihat kokoh mulai retak dan hancur terbelah. Keadaan semakin tak karuan. Ra sangat panik, mencoba mencari mamanya yang tadi sedang mengantri mengambil makanan. Orang-orang berlarian di sekitarnya. Dalam kepanikannya, dia masih bisa berpikir cepat untuk segera berlindung di bawah meja bundar terdekat.

“La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah”

Masih berlindung di bawah meja, Ra berusaha mengucap syahadat dan istighfar. Duh, apa yang tadi mamanya bilang. Kita memang tidak tau kapan kematian menjemput, tapi yang kita tau mati itu pasti. Ra sangat takut. Apakah sekarang waktunya? Guncangan dahsyat masih terus terasa, hingga ujung matanya menangkap sosok mamanya yang sedang berlari menuntun anak kecil menuju ke orang tua si anak. PRANG. Lampu gantung besar di tengah ruangan jatuh menimpa tubuh mamanya. Seketika pembicaraan Ra dengan mamanya tadi terus mengulang di kepalanya. Tentang kematian yang pasti. Tentang kapan saja Allah bisa mengambil nyawa makhluknya. Tentang bencana yang bisa datang kapan saja dan menghilangkan semuanya dalam sekejap.

Ra berlari menuju mamanya. Berteriak histeris, tapi tak ada jawaban dari mamanya. Anak kecil yang dituntun mamanya tadi juga terkulai di samping tubuh mamanya. Dia tak peduli tentang gempa susulan atau apapun itu. Yang dia tau sekarang tubuh mamanya tergeletak di depannya, tanpa suara. Ya Allah, apakah sekarang waktunya? Ra mulai menguasai diri, teriakannya berkurang, namun dia tak bisa membendung air matanya yang terus mengalir. Ya Allah, apakah memang sekarang waktunya? Dan hari itu resmi dia menjadi seorang yatim piatu.

Satu bulan bukan waktu yang cukup untuk melupakan segala trauma yang dia alami. Meski begitu dia selalu ingat petuah terakhir mamanya. Tentang jangan lalai, jangan melupakan tujuan hidup, tentang berbahagia dan bersedih secukupnya. Meski susah dia berusaha melanjutkan hidupnya, menerima segala takdir Allah. Rasanya ingin sekali dia marah, tapi tak ada gunanya.

Pun saat wisuda hari ini, di mana orang-orang ramai berkumpul dengan perasaan berbahagia, dia justru teringat kematian. Berbicara dengan temannya bagaimana bila sekarang terjadi bencana. Membuat temannya bergidik ngeri. Jangan ngomong gitulah. Memberikan respon yang sama saat mamanya juga berbicara tentang kematian di hari yang seharusnya menjadi hari berbahagia.

Di malam hari wisudanya itu, dia memandang selempang cumlaudenya, beralih ke toga di meja kamarnya lalu beralih lagi memandang ke pigura foto, yang berisi foto dia dan mamanya saat memasuki gedung pernikahan sepupunya. Di foto itu tampak dia dan mamanya tersenyum bahagia, ikut merayakan kebahagiaan hari pernikahan sepupunya, tanpa tau bahwa beberapa menit ke depan, semua kebahagiaan berubah menjadi kesedihan. Tanpa tau ajal mamanya semakin dekat.

“Ma, hari ini Ra lulus.”

Diambilnya pigura foto kecil itu.

“Tapi rasanya hampa, Ma. Ra pengen mama di sini, bangga melihat Ra dengan baju wisuda dan toga.”Air matanya mulai menetes setelah tadi pagi dia berusaha mati-matian menahannya.

“Maafin Ra yang kadang masih belum bisa mengikhlaskan kepergian Mama. Tapi Ra janji, Ra akan selalu mendoakan mama. Terimakasih atas petuah-petuah mama. Terimakasih untuk selalu mengingatkan Ra akan kematian yang pasti. Semoga nanti kita bisa ketemu lagi di surgaNya ya Ma.”

​Sungguh Aku Masih Sangat Kurang

Hari itu aku baru saja selesai kuliah pukul 3 sore. Aku memutuskan untuk menuju masjid fakultas sembari menunggu azan Asar dan sholat Asar berjamaah. Sudah lama aku tak mengunjungi masjid fakultas, mungkin karena akhir-akhir ini aku sangat disibukkan dengan tugas akhirku. Maklum, mahasiswa tingkat akhir.

“Assalamu’alaykum, Mbak Fatimah. Apa kabar mbak? Udah lama ga ketemu nih”

Suara yang aku kenal membuyarkan lamunanku yang sedang duduk menunggu iqamah sholat Asar.

“Wa’alaykumsalam Husna, Alhamdulillah baik. Iyanih, mbak udah jarang ke masjid sekarang”

Pembicaraanku dengan Husna segera dipotong oleh iqamah salat Asar. Aku, Husna dan jamaah wanita lainnya segera mengambil tempat di shaf pertama dan merapatkan shaf sholat. Seusai sholat Asar aku tidak langsung pulang. Aku sengaja ingin menikmati waktu-waktu di masjid, mengobati rasa rindu serta menemukan ketenangan yang entah mengapa selalu bisa aku temukan di masjid.

Kebanyakan jamaah wanita setelah sholat dan berdoa, akan mematut diri di cermin sebentar kemudian pergi keluar masjid. Namun, ada satu jamaah wanita yang menarik perhatianku. Sudah 30 menit setelah solat Asar selesai, namun dia masih terduduk diam tak berpindah dari tempat sholatnya tadi. Itu Husna, adik tingkatku yang tadi menyapaku. Aku sengaja menunggu Husna, hingga akhirnya dia bangkit dan menggantungkan mukena yang dipakainya. Wajahnya tertunduk dan tak melihatku yang duduk di sisi kanan masjid.

“Husna,”aku memanggilnya sambil tersenyum dan melambaikan tanganku.

“Lama banget doanya, Na. Doain apa sih? Jangan lupa doain skripsi Mbak cepet selesai ya”

“Oh mbak Fatimah masih disini? Doain banyak macem mbak. Hehe. Soalnya ini hari Jumat jadi mau manfaatin waktu-waktu doa di ijabah aja mbak.”

“MasyaAllah, ukhti. Nanti abis solat Maghrib deh, jangan lupa doain ya. Eh doain abis setiap kamu solat juga lebih bagus,”balasku.

“Iya, insyaAllah Husna doain mbak”jawabnya sambil tersenyum kecil.

“Eh Na, emang sekarang lagi sibuk apa? Kok kayak banyak pikiran gitu sih? Cerita sini”

Husna pun mengambil tas nya dan duduk di depanku. Menjawab dengan jawaban mahasiswa pada umumnya bahwa dia sedang sibuk kuliah dan organisasi. Bercerita tentang sulitnya mata kuliah yang dia ambil, laporan yang tak kunjung berhenti, serta banyaknya agenda rapat dari organisasi yang dia ikuti. Kami mengobrol banyak hal, sesekali aku memberikan saran kepadanya bila memang masalahnya dulu pernah aku hadapi. Hingga akhirnya dia bertanya tentang suatu hal.

“Mbak, menurut mbak kontribusi apa yang bisa kita berikan untuk Islam?”

“Eh, kontribusi? Menurutku kamu belajar sungguh-sungguh dan ikut organisasi di fakultas ini sudah bisa jadi kontribusi kok,”jawabku sekenanya.

Ada rona tidak puas di wajahnya saat mendengar jawabanku. Seakan berkata, duh kalo gitu Husna juga tau, mbak. Akhirnya dia bercerita panjang lebar kenapa sampai menanyakan pertanyaan tersebut. Belakangan ini dia rutin mengikuti kajian dengan tema Sirah Nabawiyah. Sudah pertemuan ke tujuh, katanya. Kajiannya sudah mulai membahas dakwah Nabi Muhammad secara terang-terangan. Tentang sabarnya Nabi Muhammad dalam mendakwahi suku Quraisy meski dicaci maki, diperlakukan kasar dan hampir dibunuh. Tentang budak Muslim yang tetap bertahan dalam keimanan kepada Allah meski disiksa dengan sangat keji oleh tuannya. Tentang Abu Bakar yang kadar keimanannya sangat tinggi, langsung percaya apapun yang dikatakan Nabi Muhammad dan langsung menyebarkan dakwah Islam setelah dirinya masuk Islam. Tentang Hamzah yang rela membela Nabi Muhammad saat dikeroyok suku Quraisy dan akhirnya diberikan Allah hidayah untuk masuk Islam. Serta tentang segala perjuangan dakwah Islam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya.

“Iya, mbak. Aku jadi sedih dengan diriku sendiri setelah tau perjuangan Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya dalam mendakwahkan Islam. Sedangkan aku di sini, hidup enak, bisa kuliah, mau ibadah ga ada yang nyiksa, tapi ngelakuin ibadah aja masih kendor.”

Selanjutnya Husna bercerita tentang orang-orang yang kisah hidupnya menginspirasi. Ada seorang ustad yang hidupnya mengabdikan diri di pesantren di daerah terpencil, membimbing anak-anak di daerah tersebut menjadi hafidz dan hafidzah. Ada seorang Ibu yang sangat berprestasi, memilih menjadi ibu rumah tangga, menjadi madrasah pertama untuk anak-anaknya untuk kemudian setelah anaknya sukses masih tetap semangat melanjutkan lagi sekolahnya karena ingin terus memberi manfaat dari ilmunya. Ada seorang pengusaha yang dulunya jatuh bangun mengejar kesuksesan, namun setelah sukses dia tidak egois dan justru membangun panti asuhan di beberapa daerah. Ada seorang dokter yang meski hidupnya sederhana tapi rela membuka klinik gratis di rumahnya untuk orang-orang tidak mampu.

“Husna kagum dengan mereka mbak. Mereka yang kontribusinya bisa memberikan manfaat bagi banyak orang. Husna juga pengen kayak mereka. Tapi Husna belum tau bisa berkontribusi apa. Makanya tadi abis sholat Asar, Husna curhat ke Allah. Minta tolong Allah supaya Husna bisa berkontribusi dalam Islam dan memberikan manfaat bagi banyak orang. Doain ya Mbak, mungkin Husna sekarang belum bisa kasih apa-apa, kontribusi Husna masih sangat kurang tapi semoga nanti ke depannya Allah tunjukkin jalan biar Husna bisa jadi “sesuatu” juga.”jelasnya panjang lebar.

Seakan mendapat pukulan telak, aku hanya bisa terdiam. Husna, adik tingkatku yang sebenarnya tidak biasa-biasa saja, justru mengeluhkan sedikitnya kontribusi yang telah dia berikan. Padahal lihatlah, Husna adalah mahasiswa berprestasi, sering mengikuti olimpiade sejak SMP, sering memenangkan perlombaan karya tulis ilmiah, aktif di beberapa organisasi kampus, relawan di lembaga kemanusiaan, dan tentang ibadahnya, jangan ditanya. Menurutku dia sosok muslimah dengan ibadah dan akhlak yang sangat baik.

“Sungguh, aku masih sangat kurang” adalah kalimat yang justru lebih pantas ditujukan kepadaku. Selama ini aku hanya memikirkan diriku sendiri. Seperti sekarang saja aku berlagak seakan menjadi manusia yang paling menderita hanya karena mengurusi tugas akhir. Aku tak pernah memikirkan kontribusi apa yang bisa aku berikan untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain. Ya Allah, maafkan aku.

Husna, terima kasih telah menyadarkanku dan izinkan aku meminjam doamu.

“Ya Allah, sungguh ibadahku dan kontribusiku dalam Islam masih sangat kurang. Namun aku bersyukur karena Engkau telah menempatkanku pada lingkungan orang-orang hebat yang senantiasa menginspirasi dan memberi manfaat. Maka dari itu Ya Allah, jangan jadikan aku hanya sebagai penikmat saja. Jadikanlah aku sebagai penggerak dan pemberi manfaat. Tunjukkanlah padaku jalan untuk memberikan kontribusi yang bermanfaat dalam rangka beribadah kepadaMu. Aamin”

Writing Challenge

Found some interesting topic, so I decide to write about these topics:

1. Why do you blog
2. Why am I doing this challenge?
3. How have you changed in the past 2 years?
4. Talk about your siblings
5. Your favourite childhood toys
6. How you hope your future will be like
7. A picture of something you want to do before die
8. The meaning behind your blog name
9. Dream travel destination
10. If the world were to end tomorrow, what would you do with your remaining time on earth
11. What is your dream job and why
12. A collection you have
13. Talk about your siblings
14. Write something that someone tolf you about yourself that you never forget
15. Write about someone who inspires you
16. Share something you struggle with
17. Post some words of wisdom that speak to you
18. Write about five blessings in your life
19. Think of any word. Search it on google images. Write something inspired by the 11th image
20. Write about an area in your life that you’d like to improve
21. Tell us your three favourite colors
22. Your favourite season, and why
23. Travel back in time to an event that has significance to your life right now
24. Share one moment from the day
25. Tell story from your childhood
26. The best part about being you
27. Personality Test Result
28. An random person you meet today
29. My college experience so far
30. Food you don’t like

Nah, biasanya kan kalo writing challenge ini ada deadline gitu. Sebenernya ini fleksibel sih, kalo aku sendiri kayaknya berusaha menuhin one week one post aja tentang salah satu topik di atas. Semoga bisa istiqomah. Yang mau request topik tertentu juga boleh (emang ada san -_-“), yang mau ikutan wiriting challenge ini juga boleh hehe. Happy writing! 🙂

Why did I write?

I started to write blog since I was 14. I forgot why I was interested in blogging. Probably because I started to learn about internet and there was a task to make a blog in my junior high school (If I’m not mistaken) so I had to make a blog. Or maybe I was inspired from my brother. Yeah, I admit that my brother inspires me in many things though I don’t know what are the things that I did simply because I was inspired by him.

Then, I started to make a journal about myself. (I wouldn’t say it was a diary, because diary sound childish, but I know that diary and journal are kinda same hehe). Journal sounds more mature, right? When I was a 10th grader, my English teacher asked the students to write a diary everyday using English. It was a way to improve our English skills. Sometimes, I only wrote about 2 or 3 sentences and sometimes If I was in the mood to write or If I had something interesting to tell, I could write 1 page full. That’s what inspired me to write about my own journal, not because it was a task, but purely because I wanted it.

Now, looking back to some year ago. I look at my old blog (I didn’t use this blog when I started writing blog) and my journal. It brought memory back for me. How bad I was at writing (although I know maybe until now, it’s still bad, but at least it has improved because I can say that my old writing is so childish). Writing makes me remember things. I remember when I write this post or that post. I remember when I was being scolded by a teacher because I was late. and so on.

Yes, writing brings back memory. It’s like you have a power of time machine. To go back to where you have been before. To open your memory in your brain. I know that I write for myself. So, if people out there mock at my writing, I just let them be, cause it doesn’t effect me at all. And if people out there are inspired by my writing, then I will be happy 🙂 At least I can give benefits to other. Let’s write! Inspire and be inspired! 🙂

Untukmu yang Masih Meragu

Aku ingin menulis indah, seperti seorang penyair saat menuliskan lirik-lirik syairnya. Aku ingin menulis indah, seperti seorang penulis yang menggerakkan jari-jemarinya dengan lincah di atas keyboard demi merangkai kata demi kata. Namun, aku hanyalah aku, yang akan menulis dengan gaya bahasaku sendiri. Meski mungkin tak sebagus dan semenarik mereka, niatku hanya ingin berbagi, hanya ingin memberi tau pada orang yang mungkin juga mengalami hal yang sama denganku bahwa sebenarnya mereka tidak sendiri.

Ini tulisan tentang suatu rasa yang kerap kali datang saat manusia diberikan beberapa pilihan. Ragu. Ya, rasa ragu sering kali menghantui saat aku diharuskan mengambil keputusan. Ragu apakah aku bisa mengambil amanah ini? Ragu apakah aku bisa bertanggung jawab? Ragu apakah aku memang pantas berada di sini? Ragu apakah suatu hal itu memang lebih baik bagiku sehingga akhirnya harus aku pilih? Ragu apakah jalan yang telah kuambil benar? Hingga akhirnya meski keputusan sudah diambil aku masih berada dalam keraguan.

Seiring waktu, keputusan yang dulu aku ambil meski dalam keadaan ragu ternyata bisa aku jalani. Aku tak membicarakan tentang bagaimana hasil keputusan yang aku ambil, apakah bagus atau jelek. Karena bila manusia sudah berusaha semaksimal mungkin, maka seharusnya bertawakal terhadap hasil adalah langkah selanjutnya. Seiring berjalannya waktu, ada banyak sekali pelajaran yang bisa kuambil, banyak pengalaman baru yang aku alami, aku berlatih tanggung jawab, aku berlatih untuk memberikan yang terbaik, aku memperbanyak jaringan di sekelilingku, dan aku lebih mengetahui tentang banyak hal.

Intinya, rasa ragu yang datang saat diberikan suatu keputusan bukan selalu berarti kau tidak bisa atau kau seharusnya tidak mengambil pilihan yang membuatmu ragu. Rasa ragu tersebut justru bisa membangun diri kita lebih positif salah satunya dengan cara melatih diri kita untuk keluar dari zona nyaman, melatih mengambil risiko dan bertanggung jawab dengannya.

‘If somebody offers you an amazing opportunity but you are not sure you can do it, say yes – then learn how to do it later!’ — Richard Branson 
Bagaimana pendapat kalian dengan quote di atas? Saat membaca quote tersebut pertama kali, komentar yang keluar dariku adalah nah, bener juga nih. Jika seseorang menawarkan kesempatan yang bagus tetapi saya ragu untuk melakukan hal itu maka katakan saja bahwa kau bisa, baru kemudian setelah itu seiring berjalannya waktu kau belajar melakukannya. Karena setiap keputusan apapun yang kita ambil, pada akhirnya akan selalu ada risikonya. Jadi, sekalipun kau tak mengambil keputusan akan tetap ada risiko yang kau dapatkan.
Pikirkan secara matang apakah ragumu itu membawa ke jalan yang salah atau bisa membawamu ke jalan yang benar. Bila kau tau ragumu itu berada di jalan yang benar, maka yakinlah dan hilangkan keraguan itu.  Jalanilah sekuat mungkin, ikhlaskanlah tanpa beban, dan yang paling penting mintalah selalu petunjuk pada Allah agar kau tetap selalu berada di jalan yang benar, yang membawamu menuju ke surgaNya. InsyaAllah.

Tentang Zona Nyaman

Sebenarnya apa itu zona nyaman? Menurut pengertian yang saya buat sendiri zona nyaman adalah zona di mana seseorang sudah terbiasa dengan kegiatan atau apapun yang ada di dalamnya sehingga dia merasa nyaman dan tidak ingin berpindah/bergerak. Zona nyaman ini sebenernya emang nyaman, ya iyalah namanya juga zona nyaman. Hahaha maafkan ketidak jelasan ini. Baik, lanjutkan.

Zona nyaman berhasil membuat saya tidak ingin bergerak dan membuat saya menutup mata dari zona-zona yang lain terutama dengan tantangan-tantangan baru. Saya nyaman dengan zona nyaman saya, saya tidak ingin keluar dari zona ini dan yang saya tahu saya aman berada di sini. Di jalan yang memang sudah ditentukan, oleh zona nyaman saya sendiri.

Bahayanya zona ini terus menggali lubang lebih dalam, sehingga membuat saya lebih jauh dari permukaan, membuat saya lebih jarang terpapar sinar matahari, membuat saya makin ke dalam dan tidak ingin memanjat keluar dari zona nyaman ini. Padahal hidup tidak hanya tentang zona nyaman. Hidup justru lebih tentang usaha dan pergerakan untuk terus menjadi lebih baik. Hidup itu tentang kebermanfaatan untuk orang lain. Bukan hanya diam pada satu titik tempat di mana saya merasa nyaman.

Hal ini sedang terjadi pada saya. Saya sudah terlanjur berada pada palung yang dalam dari zona nyaman saya. Sehingga, saat saya ingin mulai memanjat, perasaan yang muncul justru perasaan negatif. Takut. Cemas. Was-was. Khawatir. Bingung. Malas. Untuk sekadar melihat keluar, melihat cahaya matahari, zona nyaman ini terus menghalangiku. Membuatku terkapar lemah di dalamnya.

Mungkin saat inilah saya seharusnya mengumpulkan semua energi positif itu. Energi positif untuk pergerakan yang lebih baik. Rasa berani, percaya diri, kuat, tangguh dan semangat. Untuk keluar dari zona nyaman saya. Mengenal zona-zona lain yang tentunya ada. Mungkin zona pergerakan, zona perjuangan, atau zona kebermanfaatan.

Mind Power

My eyes caught an object, a white thick book on the white table and when I came nearer I knew that it was the book that always attracted me everytime I came to a bookstore. Whenever I saw that book in a bookstore, I held it and I really wanted to buy it but I think too much. Yes, I spent much time just to think before buying something. As the result, I left that book in a bookstore and didn’t bought it.

Found that book in my cousins’ home brought me back to the memories where I held that book in the bookstore. But, this time I could read it leisurely without being caught or being ashamed because I stayed too long in the bookstore trying to read the book. Am I pathetic? Nope, I just tried to be realistic because I still didn’t make my own money yet and there were many other things that I should spent my money on. By the way, do you want to know what book was it?

An Indonesian version from Dr. Ibrahim Elfiky’s book titled Terapi Berpikir Positif. I just started to read it the second day I stayed in my cousins’ home. It’s already night about 8 p.m when I arrived at my cousins’ home. After taking a bath, I grabbed that book and started to read it from the first page.

At first chapter, the book told about how our mind can be related with many things. Our mind related with our soul, body, physic, feelings, attitude and many others. There were descriptions and example of real cases in the book so it was well explained for the reader. When we thought about something it would become our mind, then it made us focus and concentrated with it. Our concentration then would become feelings. Then, from the feelings, it would  become attitude. From our attitude, it would give us the result. Briefly, our mind –> concentration –> feelings –> attitude –> result. Our mind could decide what the result will be. Our mind could control many other things.

At about 10 p.m (I just estimate this), I felt sleepy and I placed my book on the bed side, placing my handphone in the middle of the book, making it as the bookmark and I started to fall into a deep sleep. Yea, reading a book on the bed will always make me want to sleep. Then, I woke up and I started searching my handphone to see what time it was and it still 2.30 a.m. On that silent night, I decided to continue reading that book, turned the light on and without I realize, time passed by, the cock started crowing and it means morning has arrived. I stopped at the end of sub-chapter on pages 128.

After doing my morning activites, I continued to read that book. Unfortunately, I had to left my cousins’ home this morning about 8 a.m, so I needed to finish reading that book. I thought I couldn’t read all entire pages and finished that book. So, I just jumped into the last chapter. The chapter titled “Sepuluh Wasiat Berpikir Positif” I will share it based on what written on the book. Because the book is in bahasa Indonesia so I’ll just write it on bahasa Indonesia ^^v

Sepuluh Wasiat berpikir Positif

  1. Keinginan yang menggebu
  2. Keputusan yang Kuat
  3. Bertanggung Jawab Penuh
  4. Persepsi yang disadari
  5. Menentukan Tujuan
  6. Waktu yang Positif
  7. Penegasan yang bisa dipertanggungjawabkan
  8. Pengembangan diri
  9. Ketenangan dan renungan harian
  10. Perhatian individual dan kegiatan harian

There were explanation for each strategies, accompanied with example from real situation. I remember the example from strategies bertanggung jawab penuh. The book told the story about a girl who really want to be a swimmer. Unfortunately, in her childhood she had an accident and lost her foot. But, she didn’t give up. She still wanted to achieve her dream. She still wanted to be a swimmer. Then, her mother brought her to a teacher and ask the teacher to taught her how to swim. The teacher asked the girl that if she really want to be a swimmer she has to be responsible with her choice. She had to give her time everyday to train, she had to be discipline, and the girl took that responsible for sure. She trained every day and tried hard to be a swimmer. Then, she got a chance to follow some competition. After becoming a winner of competition, she didn’t stop her dream. She had another big dream. She wanted to swim from one island to another island through the sea (sorry, I forgot what sea it is). Everyone around her didn’t believe that she could do it, but she was stubborn. She really wanted to fulfil her dream, and she believed that she could achieve it, so she didn’t care with people’s opinion that oppose her dream. Despite all other people thinking, finally she succeed to achieve her dream. She could swim through the sea. After achieving this dream, people started to talk about her, people praised them, and they gave big appreciation to her.

Well, that’s just an example from the book (forgive me if it’s not really same with the book or maybe I improvise the story a bit). There are many other examples that reader could get from the book. I haven’t finished read that book yet. InsyaAllah someday I will, if I have a chance, whether by buying it by myself, borrowing from library or anyone (tell me if you have this, because I will be pleased to borrow it from you) or you could give me the book, I’ll receive it happily :p