Posted in Japan, Travelling, trip

Perjalanan ke Osaka-Kyoto (part 3)

Ini bagian terakhir cerita perjalananku ke kyoto-osaka. Bagian sebelumnya bisa dibaca di part 1 dan part 2. Pada postingan kali ini aku mau cerita tentang jalan-jalan di Osaka sebelum keesokan harinya aku harus balik lagi ke Tokyo. Hari itu merupakan hari Minggu, aku bangun jam 6 pagi terus sholat Subuh (fyi karena lagi winter baru masuk waktu subuhnya emang sekitar jam 6). Lanjut tidur lagi terus bangun sekitar jam 9an, aku dan temanku siap-siap untuk pergi ke tujuan pertama kami yaitu Osaka Castle. Sebelum masuk ke Osaka castle, kami jalan-jalan dulu di taman yang saat itu lagi mekar-mekarnya bunga plum. Ternyata ga kalah cantik sama bunga sakura, dan wanginya juga enak banget. Ada seorang bapak yang dengan senang hati menjelaskan ke kami tentang bunga plum ini dan dia bilang kalo musim semi akan lebih indah lagi.

Continue reading “Perjalanan ke Osaka-Kyoto (part 3)”

Posted in experience, Kisah, Travelling, trip

Perjalanan ke Osaka-Kyoto (part 2)

Setelah semalaman menghabiskan waktu dalam perjalanan bus Tokyo-Osaka, akhirnya aku tiba di stasiun bus Umeda di Osaka. Saat itu masih pagi dan matahari masih malu-malu untuk membagikan sinar dan kehangatannya. Cuaca dingin yang segera terasa saat aku turun dari bus membuatku ingin segera masuk ke dalam lounge stasiun bus Umeda. Di dalam lounge, aku memeriksa handphoneku dan ternyata sudah ada sms dari temanku yang isinya memberitahu bahwa dia sudah menungguku di lounge. Aku segera melihat sekitarku dan mencari temanku, namun sepertinya aku tidak menemukan dia di sana. Aku berusaha menelponnya dan saat telponku diangkat, aku melihat seseorang melambaikan tangan padaku dari luar lounge. Tidak salah lagi itu temanku. Sambil menarik koper kecilku, aku segera keluar lounge, menemui temanku sembari memeluknya melepas rindu. Kemudian kami berjalan ke stasiun kereta untuk menuju apartemennya. We talked so much about everything while we’re walking to her apartment.

Continue reading “Perjalanan ke Osaka-Kyoto (part 2)”

Posted in experience, Japan, Travelling, trip

Perjalanan ke Osaka-Kyoto (part 1)

Keluarlah dari zona nyamanmu karena kamu akan belajar banyak hal di luar sana. Di zona nyamanmu, tentu kamu akan merasa nyaman, tapi sayangnya dirimu kurang berkembang. Kamu merasa sudah cukup dengan apa yang kamu punya. Padahal banyak sekali potensi dirimu yang bisa kamu dapatkan jika kamu keluar dari zona nyaman.

Seperti pengalamanku saat pergi ke Osaka dari Tokyo. Sendirian. Literally being a solo traveller. Di negeri yang asing, yang bahasanya hanya sangat sedikit aku mengerti. Jadi ceritanya begini, aku yang saat itu sedang magang di salah satu perusahaan di Tokyo tertarik untuk pergi ke Osaka. Alhamdulillah ada seorang temanku yang sedang kuliah di Osaka sehingga di Osaka nanti aku bisa menumpang di apartemennya. Jarak antara Tokyo ke Osaka kurang lebih seperti jarak Jakarta-Yogyakarta. Begitu juga dengan daerahnya, kalo diibaratkan maka Tokyo itu ibarat Jakarta, ibu kota negara, kota metropolitan yang sangat maju dan padat dengan kesibukan masyarakatnya. Sedangkan Kyoto itu ibarat Yogyakarta, kota yang juga maju namun masih banyak budaya dan bangunan bersejarahnya. Kalo di Yogyakarta masih banyak candi, maka di Kyoto itu masih banyak kuil.

Continue reading “Perjalanan ke Osaka-Kyoto (part 1)”

Posted in experience, Islam, trip

Balasan yang Segera Terlihat

Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan saya dan teman-teman bahwa apa saja yang kita lakukan sebenernya akan mendapatkan balasan yang setimpal. Hanya sebenernya kita tidak tau apakah balasan itu akan langsung diberikan kepada kita di dunia ini baik di waktu yang dekat atau lama, atau balasan tersebut ditunda untuk diberikan di hari pembalasan nanti. Berikut ini beberapa pengalaman saya pribadi, khususnya dalam perjalanan umroh saya, mengenai balasan yang segera terlihat akibat perbuatan saya. Continue reading “Balasan yang Segera Terlihat”

Posted in experience, Sharing, Travelling, trip

Tentang Belanja di Arab

Kalau biasanya cerita perjalanan saya di Arab identik dengan perjalanan spiritual, peningkatan iman, memperbanyak ibadah, maka kali ini saya akan menceritakan sisi yang lainnya yaitu tentang shopping atau belanja di Arab. Namanya juga wanita, kalo ada toko atau mall atau pasar tapi belum belanja rasanya belum afdol. Padahal sebenernya cuma cuci mata dan ga selalu beli juga karena harus inget anggaran negara yang tersedia. Hehe.

Belanja di Arab, khususnya di Mekah, Madinah dan Jeddah bisa dibilang gampang dalam hal komunikasinya karena kebanyakan penjual di sana sudah ahli berbahasa Indonesia. Di Madinah, saat kami berjalan dari hotel menuju Masjid Nabawi maka pemandangan di sebelah kanan-kiri adalah berbagai macam toko mulai dari minimarket, toko oleh-oleh, toko kurma, toko baju gamis, jubah, sajadah, dan lain-lain. Uniknya setiap kami lewat, maka para penjualnya persis seperti para penjual di pasar beringharjo, pasar 16 (di Palembang), pasar tanah abang yaitu mereka mulai menawarkan dagangannya dan karena mereka tau kami orang Indonesia mereka mulai berteriak “Ayo liat-liat dulu, Bu” “Pinarak” “Kadiyek” “Liat sini dulu Bu” “Liat gratis”

Waduh! Ga ngerti lagi mereka belajar gitu dari mana. Bahkan ada lagi celotehan unik dari penjualnya bila melihat kami lewat. “Indonesia bagus, semoga Allah selalu bersama kalian” “Indonesia cantik” “Syahrini” “Ayu ting ting” “Kacamata” (ini mungkin karena saya dan ibu pake kacamata) “Liat-liat dulu Bu, harga tanah abang” “Indonesia pendek” “Hidung pesek” Pernah juga saat saya sedang mengeluarkan hape karena ingin mengambil foto keadaan pasar di Mekah maka si penjual berkata “Indonesia semua selfie” Padahal saya jelas-jelas bukan lagi selfie, ya walau tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia sudah terkenal dengan selfienya :p Gapapa kan ya asal selfie jalan, ibadahnya juga jalan dong, dan insyaAllah lebih lancar ibadahnya daripada selfienya. Selain itu hampir setiap kali saya keluar-masuk dari hotel Mekah, maka penjual di toko sebelah hotel saya selalu bertanya “Indonesia apa kabar? Liat-liat dulu”

Ada lagi pengalaman saat di Madinah, yaitu saat saya, bapak, ibu, dan adik saya melewati toko-toko hendak membeli sajadah, maka penjualnya mulai beraksi menyalami bapak saya. Awalnya bertanya “apa kabar?” yang kemudian genggaman tangan bapak tidak dilepas dan bapak seakan dipaksa serta ditarik ke dalam tokonya sambil berkata “ayo liat-liat dulu pak”. Kebanyakan penjualnya memang laki-laki malah kayaknya ga ada yang perempuan (cuma pernah liat perempuan jadi bagian kasir di supermarket) jadinya berani menarik tangan bapak saya. Soalnya kalo kami kan bukan mahram, jadi ga mungkin ditarik paling cuma bisa dipanggil pake mulut mereka yang senantiasa ngomong “Ayo liat-liat dulu, bu”. Selain itu menurut saya, para penjual di Madinah ini terkesan memaksa, walau ga semua sih. Jadi misalnya kami lagi liat-liat gamis, terus menunjuk suatu gamis yang cukup menarik dan kami bertanya harganya, kemudian dilanjutkan tawar-menawar harga. Nah walau kami belum setuju dengan harganya, si penjualnya ini langsung melipat gamisnya, masukin ke plastik dan sambil bilang harga gamis yang dia deal, misal 80 real, terus bilang “80 real halal”. Lha padahal kami juga belum deal dengan harganya dan belum tentu jadi beli itu. Gimana sih bang, harga belum deal, model baju belum deal, ukuran bajunya belum deal, udah main halal-halal aja -_-“

Kalo tentang harga ternyata belanja di Arab sama saja dengan belanja di pasar-pasar tradisional di Indonesia. Harus pinter-pinter nawar. Untung ada Ibu saya yang memang sudah ahli menawar dan saya yang hanya ikut berperan untuk mengajak Ibu pergi mencari toko lain bila harganya memang tak bisa dikurangi lagi. Pernah suatu kali kami mencari sajadah, setelah berkeliling maka kami tau bahwa harga pasaran sajadah yang ingin kami beli adalah 25 real. Kami berusaha menawar, ada beberapa penjual yang tidak mau harganya turun, tapi ada yang mau turun menjadi 20. Hingga akhirnya kami bertemu dengan penjual yang mau menurunkan harganya menjadi 18 real (itupun sudah dengan tawar-menawar yang sangat heboh). Awalnya dia mau memberikan harga 20 real, tapi karena kami berjalan menjauh akhirnya dia berteriak “18 real halal”. Tapi kami yang gengsi bukannya berbalik badan karena diberi harga murah tapi tetap pergi untuk mencari tempat lain. Siapa tau ada yang lebih murah. Setelah berkeliling ternyata hanya di sana tadi tempat termurah yang mau menurunkan harga menjadi 18 real. Walau sedikit malu karena harus kembali lagi (padahal kan tadi udah dipanggil tapi kami tetap melengos pergi), namun dengan muka tembok kami berjalan lagi dan membeli sajadah di sana. Penjualnya ngomong bahasa Arab sama temennya yang sayangnya tak bisa kami pahami. Karena ada perasaan ga enak kami pun mengira bahwa mereka lagi ngomongin kami “tuh kan apa dibilang, akhirnya balik lagi ke sini juga” Haha gatau sih ngomongin kami atau ga. Lumayan bisa dapet harga 18 real :p

Oh ya ada lagi penjual yang sepertinya kemampuan berhitung dalam bahasa Indonesianya hanya sampai angka 10. Jadi saat kami bertanya berapa harganya, dia menjawab sepuluh dua real. Sempat bingung maksud bapaknya apa nih, apa kalo beli 2 harganya sepuluh real. Ternyata setelah kami berpikir lagi maksud bapaknya adalah harga barang yang dijual itu dua belas real. Iya maksudnya sepuluh dua real itu sama dengan 12 real. Haha ini lucu sih.

Nah itu dia beberapa pengalaman saya berbelanja di Arab. Pesan saya pintar-pintarlah menawar, walau memang sulit karena kita gatau berapa harga pasaran suatu barang, tapi gapapa tawarlah serendah-rendahnya. Karena rasanya ga enak kalo ternyata tau harga di toko lain lebih murah, agak sakit hati karena kemahalan. Merasa tertipu gitu jadinya. Takutnya karena penjualnya tau kita orang Indonesia jadinya harga barangnya dimahalin makanya harus pinter nawar. Selain itu kalo banyak waktu, jalan-jalan dan kunjungi semua tokonya, termasuk toko yang di dalam gedung, buat perbandingan harga. Kami juga baru sadar di hari terakhir di Madinah kalo ternyata bin dawood itu adalah department store yang di dalamnya ada banyak toko-toko. Soalnya kalo dari luar mirip bangunan hotel di sekitarnya. Oh ya, tidak perlu juga berpura-pura jadi orang Arab karena penjualnya udah tau kalo kita dari Indonesia, kecuali kamu emang pinter ngomong bahasa Arab. Soalnya saya mencoba nanya pake bahasa Arab “ini berapa harganya” sama coba menawar pake bahasa Arab seadanya, malah penjualnya jawab pake bahasa Indonesia. Fail banget haha. Mengenai perbandingan harga di Mekah dan Madinah, beberapa orang yang saya tanya berkata bahwa harga di Madinah lebih murah daripada di Mekah. Walau saya tidak sempat membuktikannya sendiri. Selamat berbelanja di Arab. Yang harus diingat adalah belanja boleh lancar, tapi ibadah harus lebih lancar ya!

Posted in experience, Islam, Sharing, Travelling, trip

Jumat di Tanah Suci Mekah

Ada hari di mana semua kebaikan bertebaran. Semua orang berlomba menebar kebaikan bahkan yang belum bisa memberikan barang atau materi berusaha ikut dalam ajang kebaikan. Meski hanya bisa ikut memberi senyum tulus kepada orang lain karena sejatinya dalam hadis disebutkan bahwa “senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah.”

Alhamdulillah saya bisa merasakan hari Jumat di kota Mekah yang menurut saya sangat spesial. Hari Jumat itu adalah pertama kali saya mengikuti sholat Jumat dan menyaksikan kebaikan bertebaran di tanah suci Mekah. Saya, ibu dan adik saya pergi ke Masjidil Haram sekitar pukul 9 pagi. Kami berencana menghabiskan waktu sebelum sholat jumat di Masjidil Haram. Mengingat pahala sholat sekali di Masjidil Haram adalah 100.000x lebih banyak dibandingkan sholat di masjid lain. Jadi sayang sekali, sudah di Mekah kok ga sholat di masjidnya.

Kami mengambil tempat di lantai paling atas, dengan tujuan mencari tempat yang sepi. Seusai melaksanakan sholat dhuha dan mengaji, saya dan adik saya berjalan-jalan sebentar melepas ngantuk, melihat kakbah dari atas, melihat keramaian orang yg tawaf di kakbah, dan tak lupa mencari wifi gratis serta berfoto :p Kemudian kami kembali lagi untuk melanjutkan ibadah kami. Sekitar pukul 10 beberapa orang mulai berdatangan ke tempat kami sholat. Hingga pukul 11 shaf tempat jamaah perempuan sudah ramai. Heran, saya bertanya-tanya pada ibu kenapa banyak sekali jamaah perempuan, padahal kan ini mau sholat jumat. Ibu saya juga kurang tau tetapi mencoba menebak bahwa mereka akan ikut sholat Jumat. Akhirnya saya bertanya pada salah satu teman saya yang pernah ke sini juga. Katanya memang di sana perempuan juga bisa ikut sholat Jumat dan dia juga pernah ikut sholat Jumat di Masjidil Haram.

Kami pun memutuskan untuk tetap berada di tempat kami dan berencana ikut sholat Jumat. Alhamdulillah kami datang lebih awal, jadi kami tidak kesulitan mencari tempat untuk sholat. Beberapa orang bahkan mendatangi kami meminta kami memberikan ruangan agar dia mendapatkan shaf sholat. Seorang perempuan berniqab menghampiri kami dan mengucapkan kalimat dalam bahasa Arab. Saya hanya bisa mengambil satu kata bahasa Arab yang dapat saya mengerti yang artinya “duduk”. Sepertinya dia ingin duduk. Kemudian dia bertanya lagi “Speak English?” Kami menjawab ya, dan dia pun mengambil handphone sembari mengetik seseuatu. Demi melihatnya ingin sekali mendapatkan shaf sholat akhirnya saya beranikan diri dengan kosakata arab yang sangat minim berkata “Ijlis! Ijlis!” untuk mempersilahkannya duduk. Tak lama dia menunjukkan handphonenya dan ternyata dia sedang menerjemahkan tulisan permintaannya agar dia bisa ikut duduk di antara kami dari bahasa Arab ke dalam bahasa Inggris. Kami mempersilahkan dan dia pun duduk di depan adik saya.

Setelah duduk, dia membuka niqabnya, memperlihatkan wajah khas orang Arab. Saat beberapa petugas kebersihan masjid lewat di antara shaf kami, dia segera mencari uang dari dalam tasnya kemudian langsung memberikan uang tersebut kepada petugas tersebut. Hal ini dia lakukan berkali-kali ketika ada petugas kebersihan yang lewat. MasyaAllah, betapa semua orang berlomba-lomba berbuat kebaikan di hari Jumat. Saat saya dan adik saya sibuk mengobrol mencari wifi, tiba-tiba dia bertanya kepada kami “Internet?” Mungkin karena dia menangkap gelagat kami yang terlalu ribut dan sibuk mencari wifi gratis di deretan nama wifi yang tersedia. Kemudian dia memberikan password hotspot handphonenya kepada kami. MasyaAllah bahkan berbagi wifi juga termasuk kebaikan ;p

Tak lama azan terdengar dan semua orang bangkit melaksanakan sholat sunnah (sepertinya sholat sunnah qobliyah), kemudian dimulailah khutbah Jumat yang pertama. Entah kenapa meski khutbah tersebut berbahasa Arab yang sulit saya pahami, namun air mata saya tak tahan untuk mengalir.

“Air mata ini jatuh tak tertahan kala khatib sholat Jumat memulai ceramahnya. Padahal sang khatib menyampaikannya dalam bahasa Arab yg sangat minim saya mengerti. Beberapa kali suara sang khatib terdengar terisak, lalu diam sebentar, untuk kemudian melanjutkannya lagi.

Entah mengapa ternyata saya juga menangis. Seakan jiwa saya mengerti apa yang disampaikan, padahal saya hanya bisa mengerti sedikit kata familiar yg biasa saya temui di dalam Al-Quran atau doa-doa.

Dalam padatnya jamaah sholat Jumat kali ini, saya merasa diri saya sangat kecil. Saya merasa tak ada apa-apanya. Bahkan untuk mengerti isi ceramah yg disampaikan, saya belum bisa. Padahal bahasa arab adalah bahasa Al Quran, kitab umat Islam.

Dalam padatnya jamaah sholat Jumat kali ini, saya merasakan nikmat Allah yang begitu besar, yang tak sebanding dengan syukur saya yang sangat sedikit. Saya justru melakukan dosa yang terus berulang.

Dalam padatnya jamaah sholat Jumat kali ini, saya menyerah. Membiarkan air mata jatuh tak terbendung. Menjadikan kesempatan ini sebagai muhasabah diri untuk semakin dekat padaNya.”

Setelah sholat Jumat, kami kembali ke hotel untuk makan siang. Kemudian kami kembali lagi ke Masjidil Haram untuk menghabiskan waktu menunggu sholat Asar. Lagi-lagi saya diperlihatkan dengan orang-orang yang berlomba melakukan kebaikan pada hari Jumat. Pada saat saya berjalan menuju shaf sholat jamaah perempuan, di depan saya terlihat seorang lelaki yang memberikan tasbih secara cuma-cuma kepada laki-laki lainnya. Random begitu saja. Jadi saat dia melewati laki-laki yang mungkin menurutnya cocok untuk diberi tasbih, maka dia segera memasukkan tangannya ke tasnya, mengenggam tasbih di tangannya dan segera memberikan tasbih tersebut ke orang lain. Begitu berulang saya amati hingga dia dan saya berpisah arah. MasyaAllah begitu banyak cara orang untuk berbagi kepada sesama.

Saat menunggu sholat Asar dan shaf jamaah sholat perempuan mulai penuh, ada seorang perempuan yang membawa galon kecil berisi air zam zam dan gelas kosong, kemudian menawarkan zam-zam kepada jamaah yang menginginkan. Sebenernya zam-zam bisa diambil dengan bebas hampir di setiap sudut Masjidil Haram, namun demi melakukan kebaikan, perempuan tersebut justru mendatangi orang-orang untuk membagikan zam-zam. Setelah sholat Asar, kami pun berencana untuk melakukan tawaf. Lagi-lagi, saat melakukan tawaf saya ditunjukkan oleh Allah kebaikan-kebaikan yang diberikan orang lain. Ada orang yang berdiri diam sambil memegang kotak tisu di tangannya, kemudian beberapa jamaah yang sedang tawaf mulai menarik tisu dari kotak tisu yang dipegangnya. Sesuatu yang simpel sebenernya, namun menjadi sebuah sedekah karena tisu sangat dibutuhkan dalam keadaan Mekah yang saat itu memang sangat panas dan terik.

Begitulah Jumat di tanah Mekah. Semua orang berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Semua orang berusaha memberi apa yang bisa diberi sesimpel apa pun itu untuk bermanfaat bagi orang lain. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa sesimpel apapun perbuatan baik asalkan diniatkan karena Allah dan untuk membantu sesama, maka insyaAllah akan bernilai pahala di hadapanNya.

Posted in experience, feeling, Islam, Sharing, Travelling, trip

Kiriman Allah Menuju Raudhoh, Pertemuan Tak Terduga Dengan Muslimah Aljazair

“رب صدفة خير من ألف ميعاد”

Perkataan ini disebutkannya saat kami hendak keluar dari gerbang pagar Masjid Nabawi. Perkataan yang artinya bahwa suatu kejadian yang tidak direncanakan bisa lebih baik dari seribu pertemuan yang sudah direncanakan. “Coincidence might be better than a thousand of appointments” Saya setuju sembari menambahkan ucapan bahwa memang Allah yang menakdirkan pertemuan kami, bahwa Allah senantiasa mempertemukan orang-orang baik. Dan pertemuan kami dengannya adalah takdir terbaik Allah.

Setelah keluar dari kunjungan pertama ke raudhoh (tulisan tentang ke raudhoh sebelumnya bisa di baca di sini), saya merasa belum puas menyampaikan doa-doa saya. Rasanya saya ingin kembali masuk ke raudhoh. Bahkan saya berniat untuk berlatih mengucapkan doa-doa apa saja yang akan saya sampaikan di raudhoh. Akhirnya saya, ibu saya dan adik saya memutuskan untuk memasuki raudhoh lagi. Hari itu, kami sengaja makan malam setelah maghrib (biasanya setelah isya) kemudian kembali ke Masjid Nabawi dan mengambil shaf sholat isya di daerah dekat raudhoh. Sesudah sholat Isya kami segera menuju tempat raudhoh. Ternyata tempat raudhoh belum dibuka. Mungkin masih diatur dan dikondisikan mengingat raudhoh adalah tempat shaf sholat jamaah laki-laki.

Kami mencari spot untuk duduk menunggu, namun ternyata ada suara yang memanggil ke arah kami “Ibu! Ibu!” Ternyata sumber suara itu adalah dari seorang laskar perempuan yang sedang memegang papan bertuliskan “kumpulan berbahasa melayu” Dia memanggil kami dan bertanya kepada kami “Raudhoh?” Kami segera mengangguk. “Duduk, duduk” aksen arabnya yang masih terdengar sedikit lucu bagi saya yang mendengarnya, namun cukup memberi pengertian kepada kami bahwa dia menyuruh kami duduk dengan kumpulan jamaah perempuan lainnya. Untuk mendapatkan keberkahan memasuki raudhoh serta mengikuti aturan yang ada, kami pun menuruti perintah laskar perempuan itu. Duduk bersama jamaah perempuan “kumpulan berbahasa melayu” yang kebanyakan memang diisi oleh orang Indonesia dan orang Malaysia.

Di sebelah kami juga terdapat kelompok jamaah perempuan lain yang dari mukanya saya tebak adalah kelompok orang turki. Cukup lama kami menunggu di sana hingga pintu raudhoh telah dibuka dan terlihat beberapa orang segera berjalan cepat hingga berlari menuju ke dalamnya. Namun, laskar yang memimpin kami tetap menyuruh kami duduk. Terlihat kelompok jamaah perempuan tetangga sudah mulai berdiri dan masuk ke arah lokasi raudhoh.

Rasanya lama sekali menunggu giliran kami maju. Namun alhamdulillah jamaah kumpulan berbahasa melayu ini masih tetap sabar menunggu giliran. Menurut pengamatan saya secara umum jamaah Indonesia adalah jamaah yang paling patuh. Berbeda dengan jamaah lain yang apabila disuruh duduk justru tidak patuh dan memaksa pergi berdiri hingga berani mendorong. Mungkin sekitar setengah jam sampai sejam setelah sholat Isya, akhirnya laskar kami dengan tangannya mengisyaratkan kami untuk berdiri dan memimpin kami berjalan menujut ke dekat raudhoh. Namun, kami tidak langsung masuk ke raudhoh, kami disuruh duduk kembali menunggu giliran lagi untuk dipersilahkan ke raudhoh. “Duduk, duduk” Oke, baik, mari kita duduk lagi.

Keramaian khas raudhoh sudah terdengar dari tempat kami duduk menunggu. Saat kami menunggu, saya melihat seorang perempuan yang jelas-jelas bukan tipe muka kumpulan berbahasa melayu sedang berdoa sambil duduk dengan khusyuk bahkan sambil meneteskan air mata. Adik saya yang duduk tepat bersebelahan dengannya menanyakan asal perempuan ini. Ternyata dia berasal dari Aljazair dan sekarang tinggal di Dubai. Hanya dalam waktu beberapa menit, saya juga sudah ikut mengobrol asik dengannya menggunakan bahasa inggris. Dia bercerita bahwa dia tidak tau di mana letak tepatnya raudhoh makanya dia sudah berdoa terlebih dahulu. Kami yang sudah punya pengalaman ke raudhoh sebelumnya memberitaunya informasi tentang raudhoh serta memberikan tips-tips dari ustadzah yang sebelumnya membimbing kami ke raudhoh.

Obrolan kami lumayan banyak hingga harus diberhentikan dulu karena laskar perempuan di depan kami menyuruh kami berdiri. Menandakan bahwa kami boleh mulai memasuki raudhoh. Seperti biasa, semua orang langsung berdiri dan mulai saling mendorong. Saya, adik saya dan ibu saya langsung berpegangan tangan dan masuk ke raudhoh bersama. Saya berdiri paling depan, mencari jalan menuju shaf pertama di raudhoh. Saat sekilas saya melihat kebelakang untuk memastikan bahwa adik dan ibu saya memang mengikuti, ternyata saya masih melihat sosok muslimah Aljazair itu ikut memegang tangan ibu saya.

Kami pun berada di shaf terdepan, namun kali ini ternyata untuk menunaikan sholat lebih susah dibandingkan saat dibimbing ustadzah. Mencoba mengikuti apa yang dilakukan ustadzah, dengan bahasa terbatas saya meminta kepada seorang jamaah untuk gantian sholat, bilang “insyaAllah qabul”. Kami juga mencoba mengingatkan jamaah yang meratap hingga mengusap dan mencium batas raudhoh laki-laki dan perempuan seakan mengagungkannya secara berlebihan. Di sini ibu saya juga sempat didorong dan dimarahi oleh seorang jamaah perempuan, entah mungkin karena kami memintanya gantian.

Di tengah keramaian untuk mencari spot sholat, Souad, nama perempuan Aljazair itu yang masih ikut bersama kami tadi langsung mengambil inisiatif untuk sholat. Kami yang melihat dia sudah mulai sholat segera membentuk pagar dengan rangkaian tangan kami untuk menghalangi agar orang-orang tidak melewatinya. Setelah selesai sholat, dia menyuruh ibu saya untuk sholat, kami lanjut menahan orang-orang agar tidak melewati Ibu yang sedang sholat. “Sholli sholli” saya ucapakan pada orang yang ingin lewat di depan Ibu. Berbeda dengan Souad, dengan tenaganya yang lebih kuat dia menahan dorongan orang-orang dan bisa menjelaskan dengan kemampuan bahasa arabnya agar orang-orang jangan lewat. “Tell her to make it quick” Souad berbicara kepadaku agar menyuruh ibu sholat lebih cepat. Setelah Ibu sholat kemudian bergantian dengan adik saya dan kemudian saya.

Awalnya, saya berencana untuk segera mengambil jalan keluar dari raudhoh setelah kami semua sholat. Namun, Souad yang memang sangat baik hati mempersilahkan jamaah lain untuk sholat di tempat kami tadi. Kami pun berusaha melindungi perempuan yang sholat itu. Hingga ada 2 orang jamaah Indonesia yang melihat kami membantu jamaah asal negara lain, meminta tolong untuk dia diberikan kesempatan sholat juga. “Bu, nanti jagain saya juga ya” Kami mempersilahkan mereka sholat hingga selesai untuk kemudian kami selesai dan berjalan ke arah exit.

Saya berpisah dengan ibu saya dan adik saya. Kali ini tangan saya digenggam Souad dan dia menuntun saya mencari jalan keluar. Di sini saya merasakan tenaganya yang kuat sehingga kami melewati keramaian jamaah dengan mudah. Kami bertemu kembali di dekat tempat keluar raudhoh. Melihat tempat yang kosong, akhirnya kami melaksanakan sholat lagi di sana. Kali ini 2 orang jamaah Indonesia yang tadi kami bantu, juga membantu kami sholat dengan menghalangi agar orang-orang tak lewat di depan kami. Alhamdulillah kami bisa sholat 2 kali di raudhoh, meski saya hanya sekali karena melihat keramaian yang tak memungkinkan lagi untuk sholat.

Akhirnya kami pun keluar ke arah exit, dan benar-benar berada di luar area raudhoh. Mengucap Alhamdulillah karena bisa diberi kesempatan ke raudhoh (lagi). Perjalanan ke luar Masjid Nabawi kami habiskan dengan mengobrol banyak hal dengan Souad. Sebelum keluar pintu gerbang Masjid Nabawi, kami mencari air zam-zam dulu. Ternyata beberapa tempat air zam-zam sudah habis. Kemudian kami mencari air zam-zam lagi. Alhamdulillah saya menemukan tempat yang masih berisi dan memanggil yang lain ke tempat saya. Saat saya, adik saya, dan ibu saya sudah mengambil air zam-zam, Souad kembali dengan 3 gelas air zam zam yang rencananya akan diberikan kepada kami. Melihat kami sudah memegang gelas zam-zam masing-masing, akhirnya dia dengan baik hatinya memberikan gelas air zam-zam itu kepada orang lain yang terlihat sedang mencari air zam-zam juga.  Ga ngerti lagi, ini orang baiknya kebangetan.

Setelah itu kami pun pulang, namun ternyata Souad meletakkan sandalnya di pintu gerbang yang berbeda dengan pintu gerbang tempat kami keluar. Berbeda dengan kami yang sudah sengaja menyimpan sandal masing-masing di dalam tas kami. Dia mencoba mengingat pintu gerbang yang dia masuki dan kami juga berusaha membantunya mencari gerbang yang dia maksud. Meski akhirnya kami tetap bertanya kepada petugas untuk menuju pintu gerbang tersebut.

Pintu gerbang tempat Souad menaruh sandalnya adalah gerbang Umar bin Khattab, gerbang yang biasa kami masuki untuk melaksanakan sholat. Sayangnya setelah kami sampai di gerbang tersebut, pintu gerbangnya sudah ditutup. Souad pun memutuskan untuk membiarkan sandalnya di sana, dan berjalan ke hotelnya tanpa alas kaki. Dengan ikhlas dia berkata “I will search it tomorrow or I will just tell my husband to buy me another sandal” Dia juga berkata “I hope no one see me without sandal” kami menyakinkannya bahwa sepertinya tidak ada orang yang akan benar-benar memperhatikan dia tanpa sandal, so it’s okay. Sebelum keluar masjid Nabawi, kami tak lupa mengambil foto selfie terlebih dahulu. Dia juga memberikan nomornya agar kami dapat mengirimkan foto tersebut dan menjaga silaturahim.

Di saat itulah dia menyebutkan bahwa dia merasa sangat beruntung bertemu dengan kami. Kami juga berterima kasih kepadanya dan merasa sangat senang bertemu dengannya. Kemudian kami berjalan kembali ke hotel. Souad lebih dulu sampai di hotelnya. Kami mengucapkan salam perpisahan, kemudian cipika cipiki 4x (katanya biar khas orang Arab), berharap semoga bisa ketemu lagi saat sholat Fajar/Subuh keesokan harinya. Namun, ternyata kami tidak bertemu lagi pagi harinya. Dalam pesannya melalui WA, dia mengirimkan pesan yang sangat so sweet…..

It was very nice to meet you yesterday… I had fun and thanks for your help :* :* Hope to see you again and big kisssss to your mum 😉

Oh yea have a nice trip and enjoy your Umrah… us we’re leaving to dubai going back home 😦 I didn’t find my Sandal… I just bought a new one 😉 Talk to you later and this is my emirates number maybe you fly to dubai so you can come over to my house you’re welcome. Have a lovely Umrah ❤ ❤ <3″

PhotoGrid_1494080184189
Thank you Souad 🙂 Hope we can meet again someday (fotonya sengaja di blur)