A Journey to Jeddah, Awal Melatih Kesabaran

Too many words in mind waiting to be typed, but don’t have chance to write. Now finally the chance has came, so let me start my story. Tulisan ini sekadar untuk bercerita tentang perjalanan saya beberapa hari terakhir yaitu pergi ke kota Nabi Muhammad Saw., Mekah dan Madinah. Dengan tujuan sebagai pengingat untuk diri sendiri agar bisa dibaca lagi di lain waktu dan sebagai tempat sharing pengalaman bagi yang mau membacanya. InsyaAllah bakal nulis tentang topik yang lainnya juga. So, stay tune! :p

Sabtu, 12 April 2017, merupakan hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh kami sekeluarga untuk mengadakan perjalanan ke Arab tepatnya ke Mekah dan Madinah. Sebenernya kami sekeluarga berlima ingin berangkat semua tetapi karena alasan pekerjaan kakak saya yang masih sulit mengambil cuti panjang, akhirnya cuma kami berempat yang berangkat. Doain aja ya semoga kakak saya bisa segera menyusul berangkat ke sana juga. Aamiin. Alhamdulillahnya Jumat malam, kakak saya memang sedang pulang ke Jogja untuk mengikuti lari maraton 21 K hari minggunya, jadi hari Sabtu pagi dia bisa mengantar kami ke bandara.

Nah mengapa judul tulisan ini awal melatih kesabaran? Karena perjalanan kali ini bukan hanya perjalanan kosong, namun adalah perjalanan spesial, perjalanan spiritual menuju ke baitullah. Dan tentu saja di sana nanti, saya harus lebih bisa meningkatkan kesabaran saya dan menahan diri saya untuk melakukan hal yang tidak atau kurang baik. Makanya mungkin dari awal perjalanan ini, Allah sudah memberikan ujian kesabaran untuk kami.

Kami tiba di bandara Jogja pukul 6.30 pagi. Setelah berpamitan dengan kakak saya, kami segera menuju rombongan yang terlihat berpakaian seragam batik hijau terang di depan pintu masuk keberangkatan bandara. Sesampainya di sana, salah satu staf agen tour & travel menghampiri bapak saya dan menyampaikan ujian kesabaran pertama kami. “Pak, pesawatnya di delay menjadi jam 12 nggih” Saya yang mendengar kabar itu langsung speechless. Pesawat kami seharusnya berangkat pukul 8, makanya kami sudah disuruh ke bandara paling tidak pukul 7. Saat mendengar kabar itu, ingin rasanya menelpon kakak saya lagi, meminta dijemput lagi untuk kemudian diantar lagi ke bandara siang nanti. Tapi ya ga mungkin juga kakak saya bolak-balik. Sabar, sabar, bukannya udah biasa juga kuliah diresched mendadak.

Ujian kesabaran kedua adalah kami harus tetap menunggu di luar, di depan pintu keberangkatan karena masih harus menunggu ketua rombongan yang masih belum datang. Beliau ternyata baru datang pukul 11, mungkin beliau memang sudah tau kalo pesawatnya di delay. Agak kesel juga sih, masa anggotanya yang nungguin ketua, panas-panasan lagi. Tapi demi melihat anggota lain yang kelihatannya nurut-nurut aja nunggu di luar, saya juga berusaha menyabarkan diri. Padahal kalo dipikir-pikir sekarang, seharusnya kami bisa saja masuk duluan ke ruang tunggu karena pasport kami sudah dibagikan. Yasudah ambil hikmahnya aja, ternyata dalam menunggu itu saya justru diberi kesempatan untuk sholat dhuha dulu di mushola bandara dan bisa bersedekah makanan (pihak tour and travel memberikan “kompensasi” makanan karena pesawat kami di delay, tapi karena saya sudah kenyang dengan sarapan di rumah, makanannya bisa saya berikan ke orang lain).

Setelah ketua rombongan datang, akhirnya kami masuk bersama ke ruang tunggu dan tak lama kemudian, pukul 12, panggilan pesawat kami pun terdengar. Perjalanan Jogja-Kuala Lumpur menghabiskan waktu 2 jam, namun karena perbedaan waktu 1 jam lebih cepat di KL, kami tiba di sana pukul 4 waktu KL. Kami harus segera bergegas untuk check in pesawat KL ke Jeddah, namun ternyata antrian imigrasi di KLIA tidak bisa bekerja sama. Kami harus bersabar menunggu antrian yang mungkin bisa menghabiskan waktu sekitar setengah sampai satu jam, untuk kemudian berpindah bandara dari KLIA 2 ke KLIA 1 dengan kereta KLIA transit. Untungnya dari pihak tour & travel sudah ada yang membantu mencheck-inkan kami. Pukul 19.30 waktu setempat pesawat kami yaitu Saudi Arabian airline berangkat dari KL menuju Jeddah. Perjalanan menghabiskan waktu sekitar 8 jam, dan kami tiba di bandara Jeddah pukul 23 waktu Jeddah.

Sesampainya di Jeddah ujian kesabaran kembali datang, kami disuruh naik bus untuk berpindah terminal, tetapi bus yang kami naiki berhenti cukup lama di tengah perjalanan. Pintu bus tidak terbuka, namun tidak ada pengumuman yang terdengar. Kami juga tidak bisa bertanya ke supir kenapa kami disuruh menunggu karena ada penghalang kaca antara bagian supir dan penumpang. Jadilah kami disuruh menunggu lagi tanpa kepastian. Setelah menunggu entah berapa lama, bus berjalan lagi dan berhenti. Pintu bus terbuka dan kami digiring kembali menuju ruang tunggu. Dari informasi yang kudengar, kami disuruh menunggu (lagi) di ruang tunggu karena antrian imigrasi masih sangat panjang, jadi dibanding kami mengantri berdiri di imigrasi lebih baik kami menunggu dulu di ruang tunggu.

Pukul 01.30 pagi, akhirnya jamaah Indonesia dipanggil untuk disuruh mengantri di bagian imigrasi. Prosesi imigrasi baru selesai pukul 02.30 (gatau juga kenapa bisa selama ini -_-). Jadi inget kata ustad pembimbing saya, entah kenapa imigrasi di Jeddah tuh sepertinya diusahakan biar bisa cepat tapi jadinya malah lambat. Well, sabar, sabar, yang penting Alhamdulillah selesai juga di bagian imigrasi.

Oh ya, ada peristiwa yang saya ingat yaitu saat kami mengantri (lagi) untuk pengecekan pasport saat ke luar bandara, salah satu petugas bertanya “Indonesia?” Ibu saya yang saat itu sedang ditanya segera mengangguk. “Indonesia pendek” petugas tersebut memberikan pasport ibu saya sembari melihat rombongan Indonesia yang mengantri. Hahaha, sabar- sabar. Lagian petugasnya juga cuma menerangkan fakta yang ada kalo orang Indonesia itu pendek-pendek, dan emang bener sih karena perbandingannya sama orang turki, afrika, pakistan yang emang badannya tinggi besar.

Akhirnya setelah proses mengantri yang tiada habisnya, pukul 03.00 kami masuk ke bus untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Madinah. Alhamdulillah meski banyak ujian kesabarannya tapi kami bisa naik ke bus menuju ke Madinah sudah membuat saya lebih bersyukur lagi. Bersyukur karena ternyata diri ini sudah lebih dekat menuju daerah hijrahnya Nabi Muhammad Saw. dan akan segera tiba di sana. Madinah, here we come 🙂

Menghafal Al Qur’an, Masih Belum Terlambat

(Bismillah. Tulisan ini dibuat sebagai pengingat untuk diri sendiri. Alhamdulillah kalo bisa juga memberikan manfaat buat yang lain).

Kisah ini dimulai dari statusku sekarang yaitu sebagai “mahasiwa pengangguran”. Kenapa mahasiswa pengangguran? Karena emang proses perkuliahan pre-klinik sudah selesai, tapi sekarang masih menunggu wisuda dan koas. Menjadi seorang “pengangguran” yang lumayan lama membuatku berpikir tentang beberapa pilihan kegiatan yang bisa aku lakukan. Sempat terbersit beberapa pilihan mulai dari jalan-jalan, nyelesain nonton film yang belum ditonton, baca novel/buku yang belum dibaca, belajar bahasa, belajar jahit, belajar masak, sampe ada keinginan juga buat jadi asisten penelitian, jadi volunteer di kegiatan sosial, jadi pengajar buat anak-anak, mau coba usaha/jualan gitu, pengen ikut rumah tahfidz/qur’an dan lain-lain. Di antara semua pilihan itu, Alhamdulillah Allah kasih jalan buat aku ikut Dauroh Qur’an selama 1 bulan di Rumah Qur’an, yang lokasinya ada di Karanganyar.

Berawal dari info salah satu temen yang sama-sama pengen ikutan program hafalan, akhirnya kami memutuskan buat ikut program 1 bulan di Rumah Qur’an tersebut. Jadilah bulan Maret ini menghabiskan waktu di sana. Serasa tinggal di asrama lagi. Alhamdulillah seneng banget bisa ikutan program ini karena bisa meningkatkan motivasi buat ngafal Al Qur’an dan ketemu temen-temen yg punya tujuan sama yaitu pengen jadi penghafal Al Qur’an. Di antara mereka semua, ada yg baru mulai ngafal (termasuk aku), ada temen-temen yg udah hafal beberapa juz, bahkan udah ada yg hafal 30 juz dan ikut dauroh ini biar hafalannya mutqin, lancar. Latar belakang mereka juga beda-beda, kebanyakan anak kuliahan atau yang udah selesai kuliah, tapi ada juga anak sekolahan. Ada yg emang pernah jadi anak pondok, ada yg ikut ma’had, ada juga yg sekolah umum (termasuk aku). Kalo liat mereka rasanya kagum, ditambah ada rasa iri dengan mereka yang udah punya banyak hafalan. Bikin sedih dengan keadaan diri sendiri yg hafalannya cuma itu-itu aja. Yang bacaan surat-surat pendek pas sholatnya ga jauh-jauh dari 3 Qul #kokmiris Nah tapi daripada terus-terusan menangisi keadaan diri sendiri, lebih baik diikuti dengan tindakan nyata kan ya. Lebih baik dimulai dari sekarang karena emang masih belum terlambat #notetomyself

Emang kadang muncul rasa nyesel kenapa ga mulai dari kecil, kalo dari kecil kayaknya ngafal Al Qur’an bakal lebih mudah. Soalnya semakin tua maka kemampuan seseorang untuk mengingat juga semakin berkurang. Tapi pas inget Nabi Muhammad yang diangkat jadi Nabi aja umurnya 40 tahun (dan otomatis beliau mulai hafalin Al Qur’an juga dari umur 40) berarti umurku yang sekarang justru masih bisa dibilang belum terlambat.

Ditambah lagi dari sini aku seakan diingatkan sama Allah ga peduli setua apapun usiamu, kamu bisa mulai setiap saat, kamu bisa mulai kapanpun buat ngafal Al Qur’an. Jadi ceritanya pernah ada seorang ibu yang umurnya udah 50an, ikut program di sini juga. Kalo ga salah rumah beliau di Bogor. Beliau ikut Rumah Qur’an ini karena kebetulan suaminya lagi dinas di daerah sini. Meski beliau sendirian dan kebanyakan orang yang ikut program ini usianya masih muda (masih kuliah, sekolah) tapi ga menyurutkan niat beliau untuk ikut Dauroh Qur’an ini.

Pernah suatu malam aku lagi murajaah atau mengulang hafalan di balkon, kemudian ibunya ikutan ke balkon buat makan karena katanya kalo di dalem sumuk. Aku mempersilahkan ibunya sambil tetep lanjutin murajaah dan ibunya makan di sebelahku. Waktu aku terdiam karena lupa ayat lanjutan dari surat yang sedang aku murajaah, ibunya justru ngasih clue huruf depan ayatnya. Ibunya juga sekaligus benerin bacaan aku kalo ada yg salah, misal salah makhrajnya, salah tanda baca, salah tajwid, salah panjang pendeknya.

Setelah beliau selesai makan, aku ngobrol deh dengan beliau. Dan tau ga? Ternyata beliau udah hafal 10 juz! MasyaAllah :’) Beliau hafal 10 juz itu dalam waktu 10 tahun. Berarti beliau mulai menghafal Al Quran umur 40an. Beliau justru mengakui kalo sebenernya 10 tahun itu lama, seharusnya bisa lebih banyak lagi hafalannya. Aku yang dibuat lebih banyak terdiam dengerin omongan beliau cuma bisa bales “wah itu juga udah hebat banget kok Bu”.  Aku langsung kagum dengan keistiqomahan beliau buat ngafalin Al Qur’an, padahal mulainya udah tua tapi semangatnya justru terus meningkat buat menghafal. Waktu ditanyain kenapa bisa tetep semangat gitu, jawaban beliau simpel “ya kan udah makin tua, makin dekat dengan kematian, emang wajar harus lebih semangat dong”. Beliau juga sempet ngomong, entah mana yang lebih dulu, selesai hafalan 30 juz atau dipanggil Allah lebih dulu, beliau akan terus ngafalin Al Qur’an.

Setelah ngobrol banyak dan tau kalo aku punya masa nganggur yg lumayan lama beliau malah bilang “wah bisa tuh kamu manfaatin waktunya, malah kalo bisa hafal 30 juz” Aku cuma bisa senyum sambil jawab “hehe iya tapi sulit Bu”. Beliau justru bales dengan cerita yang memotivasi. Tentang seorang anak yg bisa hafal 30 juz dalam waktu 40 hari, padahal sebelumnya belum pernah ngafal dan orang tuanya biasa aja (maksudnya ga mendorong anaknya buat ngafal Al Quran) tapi tekad anaknya memang begitu kuat buat jadi penghafal Al Quran. Dilanjutkan juga dengan cerita tentang seorang profesor IPB yaitu Prof. Dr. Kudang Boro Seminar, M.Sc (bisa di googling sendiri ya) yang semangat belajar Al Qur’an meski di usianya yang udah 40an tahun. Setelah ngobrol lebih banyak lagi ternyata anak-anak beliau juga para penghafal Al Qur’an. Salah satu alasan beliau buat mulai menghafal juga karena melihat anak-anaknya yang menghafal Al Qur’an. Terus yg aku kagum lagi sama beliau, walaupun cuma ikut di sini selama 5 hari, beliau bisa ziadah atau nambah hafalan baru sebanyak setengah juz :’) Berarti kira-kira sehari bisa nambah hafalan 2 halaman. Kalo aku, sehari bisa nambah satu halaman aja udah seneng banget :” Doain semoga bisa lebih baik lagi ke depannya ya.

Selama proses menghafal Al Quran, aku juga ngerasa sulit. Ada beberapa surat yang rasanya kayak susaaaaaah banget buat dihafal. Sampe sedih karena udah diulang-ulang tapi tetep aja lupa terus 😦 Apalagi pas setoran sama ustadzah seringkali udah ngerasa bisa tapi entah kenapa pas setoran jadi ngeblank, hafalannya hilang #malahcurhat

Kalo lagi kayak gini, aku selalu berusaha mengingat ayat Allah, yaitu

“Dan sesungguhnya, telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran.” (QS. 54:17)

Sebenernya Allah sudah memudahkan Al Qur’an untuk dipelajari, untuk dihafal. Tapi kenapa bisa terasa sulit? Karena manusianya sendiri yang bikin sulit. Kalo dipikir-pikir dan sesuai pengalamanku yg sangat awam karena emang masih baru-baru ngafal, ada benernya juga sih. Rasanya tuh ya kalo udah ketemu sama ayat-ayat yang sulit buat dihafal, jadi pengen nyerah, ngerasa bakalan ga bisa dihafal. Padahal ternyata setelah diulang berkali-kali dan berkali-kali lagi akhirnya bisa hafal juga. Jadi setiap kali ketemu ayat ayat sulit, aku bilang ke diri sendiri “kamu pasti bisa kok, Allah sudah memudahkan” dan Alhamdulillah pada akhirnya emang bisa. Kuncinya emang harus sabar dan istiqomah, dan yang pasti niatnya juga harus ikhlas karena Allah. Dalam prosesnya aku juga selalu minta ke Allah buat diluruskan niat, disabarkan serta diistiqomahkan.

Temen-temen yang lain di sini juga saling memotivasi. Dengan mereka baca/ngafal Al Qur’an, rasanya pengen ikutan juga. Emang pengaruh lingkungan itu kerasa banget. Kadang biar ga bosen, aku juga pernah murajaahnya pake cara sambung ayat sama salah satu temenku di sini. Biasanya malem hari kami janjian murajaah bareng, walaupun akhirnya malah ketiduran -_-” #gubrak

“Allah nyuruh kamu baca Al Qur’an juga buat kamu sendiri. Kamu baca atau ga baca Al Qur’an, ga akan ngasih efek apapun ke Allah. Justru itu akan kasih efeknya ke kamu.” Kalo simpelnya mungkin bisa diibaratin kayak dokter yg ngeresepin obat ke pasien, pasiennya mau minum obat atau ga ya terserah pasiennya, ga akan ngaruh ke dokter. Dokter cuma berusaha memberikan yang terbaik tapi keputusan terakhirnya tetap terserah pasien. Allah memberikan petunjuk yaitu Al Qur’an dan menyuruh manusia untuk mempelajari Al Qur’an karena Allah tau itu baik buat manusia. Tapi pada akhirnya terserah manusianya sendiri mau mempelajari Al Quran atau ga.

Aku nulis ini juga bukan karena udah baik, tapi biar sama-sama mengingatkan, terutama buat mengingatkan diriku sendiri. Sesibuk apapun, setua apapun, sesulit apapun, selalu sempetin waktu berinteraksi dengan Al Qur’an, karena ga ada kata terlambat buat belajar Al Qur’an. Bisa dimulai dengan rutin membaca Al Qur’an, kemudian baca terjemahannya juga, bisa juga dengerin murattal, mulai ngafalin Al Qur’an dan yang ga kalah penting juga turut mengamalkan Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita semua dimudahkan dan diistiqomahkan untuk terus berinteraksi dengan Al Qur’an. Aamiin.

Sudah Sampai Mana?

Anak kecil itu terlihat berjalan pelan dengan tas di belakang punggungnya. Berhenti sebentar di depan pagar masjid, terlihat ragu. Mungkin dia heran karena yang terlihat dari depan pagar masjid hanya teman-temannya yang perempuan. Dimana teman yang laki-laki? Dia tak mau sendirian menjadi santri laki-laki. Tak lama, keluar seorang anak laki-laki dari dalam masjid. Anak kecil itu tersenyum, ternyata ada temannya. Dia segera berlari ke dalam pagar masjid menuju temannya tadi.

Sore ini adalah jadwal mengaji di Taman Pendidikan Al- Quran (TPA) masjid. Beberapa anak sudah datang dari tadi. Ada yang berjalan kaki, ada yang bersepeda dan ada juga yang diantar orang tua menggunakan sepeda motor. Semuanya terlihat ceria sambil melangkah masuk ke dalam masjid.

Selang beberapa menit terlihat motor yang dikendarai oleh seorang pria. Keliatannya dia adalah ustad pengajar TPA. Karena saat dia duduk di teras masjid, anak-anak segera datang mengerumuninya. Membawa Al Quran di tangan masing-masing. Mereka segera duduk melingkar menunggu pengajian dimulai. Seketika ada rasa iri melihat mereka yang dari kecil sudah semangat belajar Al Quran.

Ustad membuka dengan salam diiringi oleh jawaban serentak dari anak-anak. Terlihat sang ustad menyampaikan beberapa kalimat. Kemudian masing-masing anak mulai membuka Al Quran. Suara mereka cukup besar hingga terdengar ke luar masjid. Terdengar bacaan taawudz dan basmallah.

“Wad dhuha”

“Wad dhuha”

Sang ustad awalnya memimpin bacaan yang selanjutnya diikuti dengan kompak oleh anak-anak tadi. Terdengar kalimat “Wad dhuha” diulangi beberapa kali oleh mereka. Dilanjutkan dengan beberapa ayat setelahnya, yang juga diulangi beberapa kali. Entahlah, mungkin mereka mengulanginya untuk melancarkan bacaan atau mungkin juga sekaligus agar hafal suratnya. Setelah itu, terdengar bacaan surat At Tin yang juga dibacakan secara bersama-sama.

Mataku seakan tak berkedip melihat anak-anak kecil yang semangat belajar Al Quran itu. Telingaku juga tak bosan untuk mendengarkan ayat-ayat Al Quran yang mereka bacakan. Melihat dan mendengar mereka membuat hatiku terketuk.

Lebih tepatnya bertanya-tanya. Tentang interaksiku dengan Al Quran. Sudah sampai mana?

Selama ini aku selalu sibuk dengan urusan pekerjaanku. Aku yang berstatus karyawan baru di perusahaan bergengsi di kota, sangat semangat untuk bekerja. Kegiatan harianku hanya berfokus pada pekerjaanku. Bangun, kerja, pulang, tidur. Fase yang berulang setiap harinya. Hingga rasa bosan pada pekerjaanku akhirnya datang. Membuatku hari ini mengambil jam kerja lebih cepat. Pulang lebih cepat, padahal tak ada kegiatan khusus yang aku lakukan. Aku hanya ingin beristirahat dari jenuhnya pekerjaanku.

Sore itu aku memilih duduk di balkon rumah kontrakanku. Mengamati sekeliling. Aku tak pernah tau bila ada anak-anak kecil yang mengaji di TPA masjid depan kontrakanku, karena aku selalu tiba maghrib di kontrakan.

Mungkin ini cara Allah mengingatkanku. Membuatku mengamati sekelompok anak kecil yang semangat belajar Al Quran. Ah iya, Al Quran? Sudah sampai mana interaksiku dengannya?

Sungguh, sore itu menjadi titik perenungan hidupku. Memikirkan lagi mau dibawa kemana sebenernya hidupku ini? Mengapa aku terlalu sibuk dengan urusan pekerjaanku? Bahkan tak punya waktu untuk membaca Al Quran. Tak punya waktu untuk belajar ilmu agama. Padahal sebenarnya waktu bukanlah milikku, bahkan aku tak tau sampai kapan waktu yang aku punya di dunia ini.

Mungkin rasa jenuh pada pekerjaanku ini sengaja dikirimkan oleh Allah untuk menyadarkanku. Karena selama ini aku selalu semangat dalam urusan duniaku. Aku selalu berusaha menjadi yang paling baik dalam pekerjaanku. Aku selalu bisa menjawab pertanyaan atasanku bila ditanyai tentang masalah pekerjaan. Namun bila ditanyakan sudah sampai mana perjuanganku untuk menggapai surgaNya. Aku malu. Aku tak tau. Entah sampai mana.

Sore itu, setelah berpikir dan merenungi tentang hidupku, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil wudhu. Aku segera menunaikan solat Asar, dilanjutkan dengan membaca Al Quran dan terjemahannya. Aku memang tak tau sudah sampai mana perjuanganku menggapai surgaNya, tapi aku bertekad dalam hati bahwa aku ingin mulai. Aku ingin mulai belajar ilmu agamaku, belajar Al Quran, aku sungguh ingin memperjuangkan tempatku di surga. Iya mumpung belum terlambat, bisikku pada diri sendiri.

Letak Harapan

Gadis itu menghela napas panjang setelah melihat pengumuman kelulusannya. Bibirnya membentuk lengkung tipis, tersenyum. Dia tak lulus, tapi anehnya ada rasa lega yang muncul. Mengalahkan rasa kecewa yg seharusnya lebih banyak muncul.

Matanya memejam. Membawa dia pada memori lampau beberapa tahun yang lalu. Saat dia teringat kembali dengan doa-doanya di masa lalu. Dulu di setiap akhir solatnya, dia selalu berdoa untuk keinginannya. Apabila keinginanya terkabul, dia berharap hal itu bisa menambah ketakwaannya, bisa membuatnya lebih rajin beribadah, membuatnya menjadi orang yg lebih bermanfaat kepada lingkungan. Dia sadar, karena doa itulah dia berhasil mendapat apa yang diinginkan.

Awalnya memang dia menjalankan seperti apa yang ada dalam doanya. Dia bersyukur, dia meningkatkan ibadahnya, dia semangat membantu orang lain. Tapi ternyata selalu saja ada distraksi pada setiap kebaikan. Setelah beberapa waktu berlalu, fokusnya tak lagi pada doanya itu. Dia kini lebih disibukkan dengan hal lain, yang membuat ibadahnya turun, membuat dia lupa bersyukur.

Jadi kali ini biarlah gadis itu memeluk erat rasa kecewanya. Menerima dengan ikhlas dan lapang dada. Bahwa rasa kecewa tidak selalu untuk ditangisi, tidak selalu untuk disesali. Justru untuk bermuhasabah diri dan bertanya pada diri, sudah benarkah letak harapan selama ini?

Karena Itu Pasti

Gadis itu masih diam memandang selempang cumlaude yang baru saja dia dapatkan tadi pagi. Hari ini merupakan hari wisudanya. Dia telah resmi menjadi seorang sarjana teknik dari salah satu universitas ternama. Tentu saja dia senang sekali sudah mencapai salah satu mimpinya. Namun, dia justru teringat pada peristiwa yang benar-benar masih membekas di memorinya dan sampai sekarang masih meninggalkan luka di hatinya.

Satu bulan yang lalu, tepat di hari pernikahan sepupunya, gadis itu dan mamanya mendatangi pesta pernikahan itu. Sudah lama tidak ada kumpul keluarga besar, sehingga apabila ada kesempatan seperti pernikahan kali ini, semua keluarga diharapkan hadir sekaligus untuk reuni keluarga besar. Dia yang berkuliah di luar kota menyempatkan hadir, meski berarti dia harus merelakan seminar internasional yang sangat ingin dia ikuti. “Ayo kapan lagi Ra, sekalian kumpul sama keluarga juga,” kata-kata mamanya di telpon akhirnya membuatnya memesan tiket pulang.

Pesta pernikahan sepupunya bisa dibilang merupakan pesta pernikahan yang sangat megah, berada di gedung yang mewah, dengan tamu undangan yang sangat banyak, serta hidangan makanan yang sangat enak dan jangan lupakan juga sepupunya yang sangat cantik seperti seorang putri raja yang sedang duduk di kursi mempelai wanita.

“Ma, rame banget ya yg datang ke sini. Banyak ucapannya lagi,”ucap Ra kepada mamanya setelah melihat kemegahan pernikahan ini.

“Iya, orang tua pasangan mbakmu itu orang penting. Makanya ini pesta pernikahannya gede banget. Tamu-tamu nya juga orang terkenal. Tapi tau ga apa yang mama pikirin?

“Apa Ma?”

“Ternyata manusia itu banyak banget ya!”

“Eh? Kirain apaan. Wajar manusia pasti banyaklah di dunia. Mama sih sukanya di rumah doang.”

“Bukan gitu Ra, tapi ini bikin mama jadi berpikir lebih dalam. Manusia di dunia ini emang banyak banget dan itu semuanya ciptaan Allah. Dan Allah ga pernah main-main kalo menciptakan manusia, tapi sayangnya manusia masih suka main-main, ga serius ngejalanin hidup di dunia ini. Padahal semua perilaku manusia itu dicatat dan Allah tau semuanya. Makanya kadang mama kepikiran kalo lagi ada acara rame-rame kayak gini, terus ada bencana, semuanya bisa langsung hilang dalam sekejap.”

“Ih, mama pikirannya serem banget. Ini lagi berbahagia jangan ngomongin gitu dong ma!”

“Lah, kenapa? Kan mama mikir doang Ra. Kamu inget ga siapa orang mukmin yang paling cerdas di dunia ini? Pernah mama bilang lho”

“Inget ma, orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik dalam mempersiapkan kematiannya, kan?”

“Bener! Makanya mama harap kamu bisa jadi orang cerdas yang selalu ingat mati dan mempersiapkannya, Ra. Kita emang gatau kapan kita mati, tapi yang kita tau mati itu pasti. Ga ada yang kekal di dunia ini. Jangan sampe kita lalai, kalopun berbahagia secukupnya aja, pun bersedih juga secukupnya aja. Kalo dapet rezeki ya disyukuri, kalo ada masalah harus bersabar dan yakin pasti ada jalan keluarnya. Yang pasti kita harus inget terus tujuan hidup kita apa. Apa coba tujuan hidup kita?”mama memang seperti ini, seringkali mengingatkan Ra dengan petuah-petuahnya.

“Adz-Dzariyat ayat 56, hayo apa ma?”

“Lho malah nanya balik ke mama, inget ga arti ayatnya apa?”

“Haha iya inget kok ma. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu, kan? Ra tau mama ngomong gini kode banget deh, nyuruh sholat ya?”

“Nah tuh pinter, yaudah yok kita solat Zuhur dulu, nanti kalo udah, kita ke sini lagi kumpul sama yang lain”

Azan Zuhur memang baru berkumandang beberap menit yang lalu. Ra dan mamanya menuju mushola yang terletak di sebelah gedung pernikahan. Mengambil wudhu dan sholat zuhur, ikut menjadi makmum dari jamaah yang sedang sholat. Bila dibandingkan dengan jumlah tamu undangan yang hadir, maka yang terlihat sholat di mushola hanya sedikit. Ya tapi mungkin memang beberapa ada yang sholat di rumah mengingat waktu Zuhur masih panjang.

“Enak kan kalo udah sholat. Rasanya tenang,”ucap mama kepada Ra yang sedang memakai sepatu.

Ra tersenyum dan mengangguk setuju. Seusai sholat keduanya kembali ke gedung utama. Beberapa tamu undangan masih membuat antrian untuk bersalaman dan mengucapkan selamat kepada pengantin dan orang tuanya, beberapa ada yang mengantri di tempat hidangan makanan, serta beberapa yang lain duduk menyantap makanan yang telah diambil. Ra dan mamanya menuju ke bagian VIP, ke salah satu meja bundar tempat keluarga lainnya berkumpul. Mamanya mulai mengobrol dengan tante dan pamannya. Sementara Ra ikut duduk, menjawab satu-dua hal bila dirinya ditanya dan lebih tertarik bermain dengan handphonenya.

Tiba-tiba terasa guncangan hebat dan terdengar suara berdebam keras dari sisi kiri ruangan. Semua orang panik, orang-orang di antrian segera kocar-kacir berlarian. Tidak butuh 5 detik untuk Ra menyadari bahwa sedang terjadi gempa. Lampu gantung di ruangan berayun kencang, beberapa bahkan jatuh membuat kerusuhan semakin menjadi-jadi. Tiang besar penyangga gedung yang terlihat kokoh mulai retak dan hancur terbelah. Keadaan semakin tak karuan. Ra sangat panik, mencoba mencari mamanya yang tadi sedang mengantri mengambil makanan. Orang-orang berlarian di sekitarnya. Dalam kepanikannya, dia masih bisa berpikir cepat untuk segera berlindung di bawah meja bundar terdekat.

“La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah”

Masih berlindung di bawah meja, Ra berusaha mengucap syahadat dan istighfar. Duh, apa yang tadi mamanya bilang. Kita memang tidak tau kapan kematian menjemput, tapi yang kita tau mati itu pasti. Ra sangat takut. Apakah sekarang waktunya? Guncangan dahsyat masih terus terasa, hingga ujung matanya menangkap sosok mamanya yang sedang berlari menuntun anak kecil menuju ke orang tua si anak. PRANG. Lampu gantung besar di tengah ruangan jatuh menimpa tubuh mamanya. Seketika pembicaraan Ra dengan mamanya tadi terus mengulang di kepalanya. Tentang kematian yang pasti. Tentang kapan saja Allah bisa mengambil nyawa makhluknya. Tentang bencana yang bisa datang kapan saja dan menghilangkan semuanya dalam sekejap.

Ra berlari menuju mamanya. Berteriak histeris, tapi tak ada jawaban dari mamanya. Anak kecil yang dituntun mamanya tadi juga terkulai di samping tubuh mamanya. Dia tak peduli tentang gempa susulan atau apapun itu. Yang dia tau sekarang tubuh mamanya tergeletak di depannya, tanpa suara. Ya Allah, apakah sekarang waktunya? Ra mulai menguasai diri, teriakannya berkurang, namun dia tak bisa membendung air matanya yang terus mengalir. Ya Allah, apakah memang sekarang waktunya? Dan hari itu resmi dia menjadi seorang yatim piatu.

Satu bulan bukan waktu yang cukup untuk melupakan segala trauma yang dia alami. Meski begitu dia selalu ingat petuah terakhir mamanya. Tentang jangan lalai, jangan melupakan tujuan hidup, tentang berbahagia dan bersedih secukupnya. Meski susah dia berusaha melanjutkan hidupnya, menerima segala takdir Allah. Rasanya ingin sekali dia marah, tapi tak ada gunanya.

Pun saat wisuda hari ini, di mana orang-orang ramai berkumpul dengan perasaan berbahagia, dia justru teringat kematian. Berbicara dengan temannya bagaimana bila sekarang terjadi bencana. Membuat temannya bergidik ngeri. Jangan ngomong gitulah. Memberikan respon yang sama saat mamanya juga berbicara tentang kematian di hari yang seharusnya menjadi hari berbahagia.

Di malam hari wisudanya itu, dia memandang selempang cumlaudenya, beralih ke toga di meja kamarnya lalu beralih lagi memandang ke pigura foto, yang berisi foto dia dan mamanya saat memasuki gedung pernikahan sepupunya. Di foto itu tampak dia dan mamanya tersenyum bahagia, ikut merayakan kebahagiaan hari pernikahan sepupunya, tanpa tau bahwa beberapa menit ke depan, semua kebahagiaan berubah menjadi kesedihan. Tanpa tau ajal mamanya semakin dekat.

“Ma, hari ini Ra lulus.”

Diambilnya pigura foto kecil itu.

“Tapi rasanya hampa, Ma. Ra pengen mama di sini, bangga melihat Ra dengan baju wisuda dan toga.”Air matanya mulai menetes setelah tadi pagi dia berusaha mati-matian menahannya.

“Maafin Ra yang kadang masih belum bisa mengikhlaskan kepergian Mama. Tapi Ra janji, Ra akan selalu mendoakan mama. Terimakasih atas petuah-petuah mama. Terimakasih untuk selalu mengingatkan Ra akan kematian yang pasti. Semoga nanti kita bisa ketemu lagi di surgaNya ya Ma.”

​Sungguh Aku Masih Sangat Kurang

Hari itu aku baru saja selesai kuliah pukul 3 sore. Aku memutuskan untuk menuju masjid fakultas sembari menunggu azan Asar dan sholat Asar berjamaah. Sudah lama aku tak mengunjungi masjid fakultas, mungkin karena akhir-akhir ini aku sangat disibukkan dengan tugas akhirku. Maklum, mahasiswa tingkat akhir.

“Assalamu’alaykum, Mbak Fatimah. Apa kabar mbak? Udah lama ga ketemu nih”

Suara yang aku kenal membuyarkan lamunanku yang sedang duduk menunggu iqamah sholat Asar.

“Wa’alaykumsalam Husna, Alhamdulillah baik. Iyanih, mbak udah jarang ke masjid sekarang”

Pembicaraanku dengan Husna segera dipotong oleh iqamah salat Asar. Aku, Husna dan jamaah wanita lainnya segera mengambil tempat di shaf pertama dan merapatkan shaf sholat. Seusai sholat Asar aku tidak langsung pulang. Aku sengaja ingin menikmati waktu-waktu di masjid, mengobati rasa rindu serta menemukan ketenangan yang entah mengapa selalu bisa aku temukan di masjid.

Kebanyakan jamaah wanita setelah sholat dan berdoa, akan mematut diri di cermin sebentar kemudian pergi keluar masjid. Namun, ada satu jamaah wanita yang menarik perhatianku. Sudah 30 menit setelah solat Asar selesai, namun dia masih terduduk diam tak berpindah dari tempat sholatnya tadi. Itu Husna, adik tingkatku yang tadi menyapaku. Aku sengaja menunggu Husna, hingga akhirnya dia bangkit dan menggantungkan mukena yang dipakainya. Wajahnya tertunduk dan tak melihatku yang duduk di sisi kanan masjid.

“Husna,”aku memanggilnya sambil tersenyum dan melambaikan tanganku.

“Lama banget doanya, Na. Doain apa sih? Jangan lupa doain skripsi Mbak cepet selesai ya”

“Oh mbak Fatimah masih disini? Doain banyak macem mbak. Hehe. Soalnya ini hari Jumat jadi mau manfaatin waktu-waktu doa di ijabah aja mbak.”

“MasyaAllah, ukhti. Nanti abis solat Maghrib deh, jangan lupa doain ya. Eh doain abis setiap kamu solat juga lebih bagus,”balasku.

“Iya, insyaAllah Husna doain mbak”jawabnya sambil tersenyum kecil.

“Eh Na, emang sekarang lagi sibuk apa? Kok kayak banyak pikiran gitu sih? Cerita sini”

Husna pun mengambil tas nya dan duduk di depanku. Menjawab dengan jawaban mahasiswa pada umumnya bahwa dia sedang sibuk kuliah dan organisasi. Bercerita tentang sulitnya mata kuliah yang dia ambil, laporan yang tak kunjung berhenti, serta banyaknya agenda rapat dari organisasi yang dia ikuti. Kami mengobrol banyak hal, sesekali aku memberikan saran kepadanya bila memang masalahnya dulu pernah aku hadapi. Hingga akhirnya dia bertanya tentang suatu hal.

“Mbak, menurut mbak kontribusi apa yang bisa kita berikan untuk Islam?”

“Eh, kontribusi? Menurutku kamu belajar sungguh-sungguh dan ikut organisasi di fakultas ini sudah bisa jadi kontribusi kok,”jawabku sekenanya.

Ada rona tidak puas di wajahnya saat mendengar jawabanku. Seakan berkata, duh kalo gitu Husna juga tau, mbak. Akhirnya dia bercerita panjang lebar kenapa sampai menanyakan pertanyaan tersebut. Belakangan ini dia rutin mengikuti kajian dengan tema Sirah Nabawiyah. Sudah pertemuan ke tujuh, katanya. Kajiannya sudah mulai membahas dakwah Nabi Muhammad secara terang-terangan. Tentang sabarnya Nabi Muhammad dalam mendakwahi suku Quraisy meski dicaci maki, diperlakukan kasar dan hampir dibunuh. Tentang budak Muslim yang tetap bertahan dalam keimanan kepada Allah meski disiksa dengan sangat keji oleh tuannya. Tentang Abu Bakar yang kadar keimanannya sangat tinggi, langsung percaya apapun yang dikatakan Nabi Muhammad dan langsung menyebarkan dakwah Islam setelah dirinya masuk Islam. Tentang Hamzah yang rela membela Nabi Muhammad saat dikeroyok suku Quraisy dan akhirnya diberikan Allah hidayah untuk masuk Islam. Serta tentang segala perjuangan dakwah Islam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya.

“Iya, mbak. Aku jadi sedih dengan diriku sendiri setelah tau perjuangan Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya dalam mendakwahkan Islam. Sedangkan aku di sini, hidup enak, bisa kuliah, mau ibadah ga ada yang nyiksa, tapi ngelakuin ibadah aja masih kendor.”

Selanjutnya Husna bercerita tentang orang-orang yang kisah hidupnya menginspirasi. Ada seorang ustad yang hidupnya mengabdikan diri di pesantren di daerah terpencil, membimbing anak-anak di daerah tersebut menjadi hafidz dan hafidzah. Ada seorang Ibu yang sangat berprestasi, memilih menjadi ibu rumah tangga, menjadi madrasah pertama untuk anak-anaknya untuk kemudian setelah anaknya sukses masih tetap semangat melanjutkan lagi sekolahnya karena ingin terus memberi manfaat dari ilmunya. Ada seorang pengusaha yang dulunya jatuh bangun mengejar kesuksesan, namun setelah sukses dia tidak egois dan justru membangun panti asuhan di beberapa daerah. Ada seorang dokter yang meski hidupnya sederhana tapi rela membuka klinik gratis di rumahnya untuk orang-orang tidak mampu.

“Husna kagum dengan mereka mbak. Mereka yang kontribusinya bisa memberikan manfaat bagi banyak orang. Husna juga pengen kayak mereka. Tapi Husna belum tau bisa berkontribusi apa. Makanya tadi abis sholat Asar, Husna curhat ke Allah. Minta tolong Allah supaya Husna bisa berkontribusi dalam Islam dan memberikan manfaat bagi banyak orang. Doain ya Mbak, mungkin Husna sekarang belum bisa kasih apa-apa, kontribusi Husna masih sangat kurang tapi semoga nanti ke depannya Allah tunjukkin jalan biar Husna bisa jadi “sesuatu” juga.”jelasnya panjang lebar.

Seakan mendapat pukulan telak, aku hanya bisa terdiam. Husna, adik tingkatku yang sebenarnya tidak biasa-biasa saja, justru mengeluhkan sedikitnya kontribusi yang telah dia berikan. Padahal lihatlah, Husna adalah mahasiswa berprestasi, sering mengikuti olimpiade sejak SMP, sering memenangkan perlombaan karya tulis ilmiah, aktif di beberapa organisasi kampus, relawan di lembaga kemanusiaan, dan tentang ibadahnya, jangan ditanya. Menurutku dia sosok muslimah dengan ibadah dan akhlak yang sangat baik.

“Sungguh, aku masih sangat kurang” adalah kalimat yang justru lebih pantas ditujukan kepadaku. Selama ini aku hanya memikirkan diriku sendiri. Seperti sekarang saja aku berlagak seakan menjadi manusia yang paling menderita hanya karena mengurusi tugas akhir. Aku tak pernah memikirkan kontribusi apa yang bisa aku berikan untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain. Ya Allah, maafkan aku.

Husna, terima kasih telah menyadarkanku dan izinkan aku meminjam doamu.

“Ya Allah, sungguh ibadahku dan kontribusiku dalam Islam masih sangat kurang. Namun aku bersyukur karena Engkau telah menempatkanku pada lingkungan orang-orang hebat yang senantiasa menginspirasi dan memberi manfaat. Maka dari itu Ya Allah, jangan jadikan aku hanya sebagai penikmat saja. Jadikanlah aku sebagai penggerak dan pemberi manfaat. Tunjukkanlah padaku jalan untuk memberikan kontribusi yang bermanfaat dalam rangka beribadah kepadaMu. Aamin”

Dibalik Semua Tentang

Belakangan ini banyak kejadian yang menambah beban pikiran. Tapi yang mau aku share bukan tentang apa aja pikiranku yg riweuh itu tapi tentang beberapa pelajaran yang bisa aku ambil dari beberapa kejadian tersebut:

1. Tentang ga lulus osce kompre. Hari itu aku membuka notif line teman-temanku yang pesannya berisi “eh gimana hasilnya?” Dari pesan itu aku tau bahwa pengumuman osce kompre sudah keluar. Aku langsung membuka grup angkatan dan ternyata memang benar bahwa hasil osce kompre sudah keluar, lengkap dengan gambar pengumumuan hasil osce yang difoto oleh salah satu teman angkatanku. Setiap gambar aku buka, melihat sekilas untuk mencari namaku dan ternyata hasilnya aku tidak lulus. Iya secepat itu. Sepertinya baru saja tadi hidupku penuh dengan harapan dan doa-doa agar lulus osce tapi ternyata dalam waktu semenit harapan itu langsung hilang. Well, namanya juga hidup ya, ga mungkin setiap harapanmu terkabul. Aku masih dengan mekanisme pertahanan menerima dan berusaha menghibur diri. Setelah tau aku tidak lulus, hal yang aku lakukan pertama adalah memberi kabar kepada ibu bapak.

“Bu, aku ga lulus osce. Maaf ya”

Pesanku singkat, karena aku sebenernya tak tega memberi tau kabar tentang ketidaklulusanku. Aku merasa bersalah dan aku takut mengecewakan orang tuaku. Tidak lama dari itu, hapeku berdering, dengan segera aku menarik tombol hijau di layar. Di ujung sana terdengar suara ibuku.

“Yaudah gapapa mbak. Semangat terus. Santai aja, dijalanin semuanya, emang udah ada waktunya masing-masing kan. Jangan lupa doanya dibanyakin terus, tahajudnya juga.”

Seketika rasa bersalah itu berubah menjadi haru. Bagaimana tidak, orang tuaku tidak marah, tidak menyampaikan rasa kecewanya, namun justru menghiburku, membesarkan hatiku. Dan semoga kekosongan waktu menunggu koas bisa aku isi dengan rencana-rencanaku yang pada akhirnya dapat menambah tingkat ketakwaanku kepadaNya.

Selain itu masih ada lagi pelajaran yg bisa diambil dari ketidaklulusanku ini yaitu tentang meremehkan. Jujur, stase osce yang harus aku ulang bisa dibilang stase yang “mudah” karena sejak tahun pertama stase itu selalu ada. Walau memang pemeriksaannya harus lebih lengkap di osce kompre ini. Stase ini selalu menjadi stase favoritku. Aku merasa sudah bisa dan aku tidak mengikuti sesi latihan stase ini. Ya, aku tau, aku terlalu meremehkan. Mungkin karena ini Allah ingin memberikan pelajaran padaku bahwa jangan pernah meremehkan sesuatu. Rasanya masih sakit hati setiap belajar ulang stase ini, dan aku masih saja mengutuk kebodohan diri yang tidak bisa mendiagnosis penyakit dengan benar. Alhamdulillah sekarang sudah bisa menerima rasa sakit hati itu. Jangan pernah meremehkan ilmu, apalagi ilmu ini nantinya akan aku gunakan untuk berhadapan dengan manusia #selfreminder

2. Tentang hakikat melepaskan (dan takdir). Ada suatu peristiwa sederhana yang mengingatkanku tentang hakikat melepaskan. Waktu itu kira-kira 2 bulan yang lalu, aku ninggalin suatu barang milikku di suatu tempat. Waktu mau pulang baru inget kalo aku ninggalin di tempat itu. Karena males ngambilnya, akhirnya aku berencana buat ngambil barang itu keesokan harinya aja, eh terus lupa lagi. Ya udah akhirnya aku melepaskan barang itu. Paling ntar ada yang ngambil atau ada yg buang, pikirku dulu. Beberapa hari yang lalu aku pun ke tempat itu lagi (tempatnya emang jarang aku datengin), dan aku melihat sesuatu yang familiar. Ternyata barang yang aku tinggalin dan sudah aku relakan sejak 2 bulan yang lalu masih ada di situ, di tempat yang persis saat aku ninggalin barang itu. Sederhana banget sih emang hehe. Tapi cukup mengingatkan tentang iman kepada takdir.

“Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.” Umar Bin Khattab .

3. Tentang rasa hampa dan ketenangan. Ada saatnya perasaanmu serasa kosong. Rasanya ada lubang yang membuka lebar di hatimu, tapi kau tak tahu bagaimana menutup kembali lubang itu. Rasanya ada sesuatu yang hilang. Kau tak tau pergi ke mana, kau tak tau apa yang kurang, kau tak tau harus berbuat apa. Dan setiap perasaan itu muncul seperti ada rasa rindu yang menghujam. Setiap kali perasaan itu datang aku mencoba meyibukkan diriku, mendengarkan lagu, mencoba menonton film, mencoba mengobrol, mencoba jalan-jalan namun tetap saja perasaan hampa itu ada. Hingga akhirnya aku mencoba untuk mengunjungi rumahNya. Sudah lama memang sejak terakhir kali aku ke sana. Ternyata memang benar apa yang dikatakan temanku di jepang dulu bahwa saat dia memasuki bangunan suci itu ada rasa ketenangan yang muncul. Padahal dia bukan seorang muslim. Saat langkah pertama memasukinya, aku mencoba mencari rasa yang bisa menutupi lubang di hati ini dan ternyata benar rasa tenang inilah yang aku cari. Padahal aku hanya diam, hanya duduk tenang, entah berfikir tentang banyak hal tapi aku merasa tenang dan aku merasa bersyukur seiring dengan tarikan nafasku. Membasuh muka dan anggota gerak dengan air, bersujud, membaca sabdaNya. Bisa dibilang hanya kegiatan “sederhana” tapi sangat berarti. Dan kini aku tau ke mana harus pergi setiap perasaan hampa itu datang.

4. Tentang manusia dan perasaan. Tenang, ini bukan tentang cinta-cintaan atau perasaan menye-menye yang aku juga ga tau maksudnya gimana perasaan menye-menye itu ._. Ini lebih ke bagaimana berinteraksi dengan makhluk ciptaan Allah yang dianugerakan akal…… dan juga rasa. Bisa juga ini karena efek baca buku How to Win Friends and Influence People atau di versi bahasa Indonesia judulnya Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain karya Dale Carnegie. Bukunya bagus dan seru. Sebenernya kalo dari yang aku tangkep beberapa poin penting dalam buku ini adalah tentang bagaimana cara kita memposisikan diri kita pada orang lain atau menjadikan diri kita sebagai orang lain. Kita selalu boleh melihat sudut pandang dari kita sendiri, tetapi jangan lupa untuk melihat dari sudut pandang orang lain juga. Kenapa mereka berbuat itu? Bagaimana perasaan mereka? Apa yang sebenernya mereka inginkan? Ya, jangan lupakan pikirkan dan rasakan juga tentang mereka. Manusia itu makhluk yang kompleks dan setiap individu punya kompleksitasnya masing-masing. Makanya ilmu tentang berinteraksi dengan manusia adalah ilmu yang sangat penting karena tak bisa kita elakkan bahwa di dalam hidup ini kita akan selalu berinteraksi.

5. Tentang hidup sederhana. Waktu itu lagi dengan Ibu dan random aja ngegosip ngobrolin tentang orang yang bangga karena anaknya bisa hidup sederhana. Nah, konsep hidup sederhana ini juga diajarin Ibu kepada kami, anak-anaknya. “Hidup kaya tuh ga butuh latihan, hidup prihatin yang butuh. Semua orang kalo udah kaya, ya enak, tinggal dengan mudah menikmati semuanya. Kalo dari kaya ke miskin baru susah” Ga persis, tapi kira-kira gitu kata Ibu. Hidup sederhana bukan berarti kamu ga bisa nikmatin apa yang kamu punya, tapi kamu bisa mengoptimalkan apa yang kamu punya dan mensyukurinya (teori sendiri ini mah). Soalnya kita ga tau kapan Allah kasih kita rezeki yang banyak, dana kapan pula kita diuji dengan dikuranginya rezeki kita. Jadi, kalo misalnya kita udah biasa hidup kaya terus tiba-tiba diuji Allah dengan kemiskinan, takutnya kita ga bisa hidup. Tapi kalo misalnya kita udah terbiasa dengan hidup sederhana, terus tiba-tiba dikasih Allah rezeki jadi orang kaya, ya tinggal terserah kita mau hidup sederhana atau mau hidup kaya.

Dah selesai. Iya gitu aja. Sekian dan terimakasih yang sudah merelakan waktunya buat baca sampe sini..